Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Wayang

Kalimasada bukan Kalimat Syahadat

Wayang merupakan hasil karya seni budaya masyarakat Indonesia yang sudah diakui oleh UNESCO. Di dalamnya tersimpan banyak mutiara-mutiara kehidupan yang bisa dijadikan sebagai hiasan dalam peradaban budaya bangsa. Banyak ajaran-ajaran luhur yang dapat dijadikan sebagai pedoman bagi kehidupan umat manusia (pandam pandoming dumadi). Lebih-lebih bagi masyarakat Jawa sebagai pendukung budaya tersebut. Tak dapat dipungkiri bahwa sastra lakon yang menjadi sumber cerita dalam pementasan pewayangan banyak diambil dari kisah-kisah kepahlawanan dalam epos Mahabharata dan Ramayana. Semua dalang yang ada di tanah Jawa ini tentu sepakat bahwa epos dalam Itihasa tersebut merupakan sumber utama dalam sastra lakon pewayangan. Akan tetapi yang sangat disayangkan adalah masih banyak terjadi pemutarbalikan fakta terhadap substansi ajaran yang ada dalam sastra lakon tersebut. Salah satunya adalah soal senjata jamus ‘Kalimasada’ milik Puntadewa atau Yudhistira yang dianggap sebagai ‘Kalimat Sy

Asal Usul dan Pengubahan Cerita Wayang Jawa Hindu ke versi Jawa Islam

WAYANG salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang. Budaya wayang, yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan. Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama Hindu masuk ke Pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia. Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhada

MEMBANGUNKAN WAYANG KERAMAT

Oleh Pandu Radea Senja merangkak kelam. Suasana di TMII terlihat sepi. Pasalnya ini hari kerja. Orang-orang kurang berminat untuk bertamnasya. Namun lain bagi turis asing. Kesempatan menikmati TMII terasa lebih leluasa dihari-hari sepi seperti ini. Mangkanya beberapa rombongan turis lebih sering terlihat lalu lalang ketimbang wisatawan domestik. Seperti hari ini, 15 Februari 2010. Suasana jalan sekitar Sasana Adirasa Pangeran Samber Nyawa terlihat lengang. Serombongan turis Korea tertarik melihat kesibukan kecil yang terjadi dihalaman gedung. Mereka menghampiri dan sedikit sungkan mengintip dari celah-celah dinding yang dipenuhi ornamen ukiran. Sasana Adirasa merupakan tempat ibadah kaum penghayat aliran kepercayaan dan kebatinan. Sedangkan nama Samber Nyawa diambila dari tokoh bernama Pangeran Samber Nyawa yang merupakan tokoh bangsawan dari Surakarta. Tokoh ini terkenal sakti dan ahli strategi perang yang tidak mau bekerjasama dengan VOC. Nama aslinya Raden Mas Said,