25 August, 2010


Peneliti Jepang, Dr. Masaru Emoto membuktikan bahwa air sanggup membawa pesan dan informasi positif. Sudah banyak kejaiban itu ditunjukkan ole para leluhur Jawa, tapi kita jarang mensyukurinya.Bahkan mengolok - olok itu adalah kesesatan( yg menamakan diri Agama) namun ilmu pengetahuan meberikan pembelaan Air dengan jampi - jampu kesembuhan.

Instrument penciptaan menjadi alat bagi anda untuk menciptakan pengalaman apapun yang anda inginkan, dan saya telah membahas dua dari empat instrument penciptaan yang ada, dan kini saatnya untuk membahas kedua instrument penciptaan lainnya.

Instrumen ketiga : Kata-kata

Kata – kata memiliki daya yang juga luar bisa dalam proses penciptaan, dimana kata-kata mampu mempengaruhi situasi dan kondisi yang akan anda alami. Bahkan seorang tokoh spiritual pernah mengatakan “Kau dilahirkan dengan kekuatan kreatif alam semesta di ujung lidahmu.”

Hal ini terjadi karena sesungguhnya kata-kata memiliki Daya ! dan peryataan ini telah dibuktikan secara ilmiah. Di dalam bukunya “The True Power of Water” Masaru Emoto telah membuktikan bahwa kata apapun baik yang diucapkan atau tidak diucapkan akan mempengaruhi molekul air.

Melalui metode fotografi Kristal ia membuktikan bahwa air yang diberi tulisan “Hope” akan membentuk Kristal Heksagonal yang indah, sedangkan air yang diberi tulisan “You fool” akan merusak dan menghancurkan Kristal air tersebut.

Water - Masaru emoto

Inilah bukti ilmiah tentang kekuatan kata – kata, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya efek dari kekuatan kata – kata tidak hanya berlaku pada air, tetapi juga pada; segalanya!

Kata – kata memiliki daya yang akan memancarkan dayanya, sesuai sifat dari kata – kata tersebut. Inilah rahasia yang tidak diketahui oleh banyak orang.

Ingatlah ini : Setiap kata yang keluar adalah daya; kekuatan untuk menciptakan pengalaman yang akan terjadi pada anda.

Mulai sekarang berhati –hatilah dengan apa yang anda katakan. Belajarlah untuk mengontrol apa yang akan anda katakan, karena kata-kata yang keluar dari mulut yang tak terkontrol, cenderung hanya mengeluarkan kata-kata yang tidak berguna.

Lalu sekarang coba anda bayangkan jika setiap kata yang keluar dari mulut anda yang berjumlah antara 12.000 – 50.000 kata/perharinya hanyalah kata yang tak berguna? Maka tentu saja ini hanya akan merusak hidup anda.

Dan bayangkanlah bagaimana jika kata yang keluar dari mulut anda hanyalah kata-kata yang baik dan berguna ? jika hal ini terjadi, maka tunggulah keajaiban yang akan terjadi di dalam hidup anda !

Jadi mulai sekarang katakanlah, dan hanya katakan kata yang baik dan berguna. jika tidak, sesungguhnya diam jauh lebih baik dari pada anda harus mengeluarkan kata – kata negatif seperti, hujatan, makian, penghakiman, dan kata-kata negatif lainnya.

Instrumen keempat : Tindakan

Inilah instrument penciptaan yang paling diketahui oleh banyak orang, namun sayangnya instrument inilah yang memiliki daya penciptan yang paling rendah, sehingga seberapa keraspun anda berusaha, anda tak akan merubah apapun sampai anda merubah apa yang ada di dalam diri anda; hati dan pikiran anda (mental). karena kedua instrument inilah yang memiliki kekuatan terbesar dalam proses penciptaan.

Meskipun memiliki daya yang paling rendah dalam proses penciptaan, sebesar apapun daya yang dipancarkan oleh hati dan pikiran (mental), tak akan menghasilkan penciptaan apapun jika anda tidak pernah menindakinya.

Ketiga instrument lain akan menciptakan kesempatan untuk meraih pengalaman yang ingin anda ciptakan lalu tindakanlah yang memutuskan segalanya. Inilah instrumen penciptaan yang paling menentukan dalam hal terjadi atau tidaknya suatu penciptaan pengalaman. Tindakan !


Percaya atau tidak, air ternyata dapat merespon lingkungan yang ada disekitarnya. Bahasa yang ditunjukkan oleh air ini di tunjukkan dengan perubahan kristal air. Dr Masaru Emoto yang melakukan penelitian dan mengungkap rahasia dibalik air ini, menjelaskan bahwa kristal yang dimiliki air dapat berubah-ubah tergantung dari perlakuan yang diberikan kepadanya.


Secara kasat mata kita dapat melihat kualitas air berdasarkan warnanya. Selain itu kita dapat mendiagnosa air yang tercemar berdasarkan bau yang dikeluarkan. Cara lain ditemukan oleh Dr. Emoto untuk mengetahui kualitas air, yaitu dengan melihat susunan kristal yang ada didalamnya. Air yang masih jernih dan berkualitas memiliki susunan kristal yang indah dan bersinar. Sedangkan Air yang telah tercemar atau telah terkontaminasi susunan kristalnya menjadi tidak teratur dan warnanya pun cenderung gelap. Sampel air yang diambil dari berbagai daerah tersebut menjadi bukti bahwa kristal yang ada didalam air dipengaruhi oleh lingkungan yang ada disekitarnya. Jika Lingkungannya masih bersih maka air akan menunjukkan susunan kristal yang indah, sedangkan jika air berasal dari daerah yang tercemar maka susunan kristalnya menjadi tidak teratur.

Selain itu, perlakuan yang diberikan pada air juga dapat merubah susunan kristal yang ada didalamnya. Air yang dibacakan doa diatasnya akan membentuk kristal yang indah. Mungkin ini adalah jawaban dari mitos-mitos yang ada di Indonesia. Seperti air sakti dari ponari, Air yang dibacakan doa oleh para kyai untuk media penyembuhan, dan lain-lain.


Air yang tampak pada gambar diatas menunjukkan bentuk kristal yang tidak beraturan sebelum dibacakan doa, dan setelah dibacakan doa bentuk kristalnya menjadi indah. Oleh karena itu kita seharusnya bersyukur pada setiap tetes air yang kita minum, karena sugesti yang kita berikan kepada air akan memberikan dampak kepada tubuh kita sendiri.



Ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan “peace” di depan sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan doa kebaikan terbentuk kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan



Dr. Emoto akhirnya berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, Prancis, Palestina, dan kemudian di undang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuan pada bulan Maret 2005 lalu. Ternyata air bisa “mendengar” kata-kata, bisa “membaca” tulisan, dan bisa “mengerti” pesan.

Dalam bukunya ” The Hidden Message in Water”, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk. Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain.

Temuan ini menjelaskan air putih yang didoakan bisa menyembuhkan si sakit. Dulu, hal ini kita anggap musrik, atau paling sedikit kita anggap sugesti, tetapi ternyata molekul air itu menangkap pesan doa kesembuhan, menyimpannya, lalu vibrasinya merambat kepada molekul air lain yang ada di tubuh si sakit. Tubuh manusia memang 75% terdiri dari air. Otak 74.5%, Darah 82% air. Tulang yang keras pun mengandung 22% air.

Temuan ilmuwan Jepang ini membuktikan khasiat doa yang ditransfer melalui air memang nyata. Meksi sejak ribuan tahun sudah dipraktikkan, temuan ini membangunkan kembali kesadaran umat manusia.

Orang yang belum mengerti hakikat dan karakteristik air sering mengira bahwa pengobatan alternative dengan cara meminum air yang telah diberi doa sebelumnya, merupakan suatu cara yang tidak ilmiah. Karena itu maka “layak” disebut sebagai cara yang tidak rasional. Namun, seorang peneliti Jepang terkenal, Dr. Masaru Emoto berhasil membuktikan bahwa air sanggup membawa pesan atau informasi dari apa yang diberikan kepadanya. Bahkan air yang diberi respon positif, termasuk doa, akan menghasilkan bentuk kristal heksagonal yang indah.

Hasil penelitian Masaru Emoto yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “The True Power Of Water” [Hikmah Air dalam Olahjiwa], (MQS Publishing, 2006), merupakan pengalaman menakjubkan karena membuktikan bahwa air ternyata “hidup” dan dapat merespon apa yang disampaikan manusia.


Temuan Masaru memrupakan hasil kerja kerasnya sebagai wujud kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Ia bahkan melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin dan Prancis. Temuannya itu kemudian ia bawa ke markas Besar PBB di New York bulan Maret 2005 lalu.

Dr. Masaru Emoto melakukan penelitian selama 2 bulan bersama sahabatnya Kazuya Ishibashi (seorang ahli sains yang mahir menggunakan mikroskop). Masaru yang menyelesaikan pendidikannya di Yokohama Municipal University Departemen Kemanusiaan dan Sains jurusan Hubungan Internasional berhasil mendapatkan foto kristal air dengan membekukan air pada suhu -25 derajat Celsius dan menggunakan alat foto berkecepatan tinggi. Lalu ditelitilah air dengan menggunakan respon kata-kata, gambar, serta suara. Hasilnya luar biasa, sebagaimana yang sudah dibaca banyak orang. Air, katanya, bisa menerima pesan.

Bahkan dalam bukunya yang lain, “The Hidden Message in Water”, Masaru mengatakan, air seperti pita magnetik atau compact disk.

Kata-Kata

Air mengenali kata tidak hanya sebagai sebuah desain sederhana, tetapi air dapat memahami makna kata tersebut. Saat air sadar bahwa kata yang diperlihatkan membawa informasi yang baik maka air akan membentuk kristal. Jika kata positif yang diberikan, maka kristal yang terbentuk akan merekah luar biasa laksana bunga yang sedang mekar penuh, seakan ingin menggambarkan gerakan tangan air yang sedang mengekspresikan kenikmatannya.

Sebaliknya, jika kata-kata negative yang diberikan, maka akan menghasilkan pecahan kristal dengan ukuran yang tidak seimbang. Mungkin juga air dapat merasakan perasaan orang yang menulis kata tersebut. Jadi bisa dibayangkan bagaimana jika air diberi kumpulan kata yang merupakan do’a?

Dr. Masaru sendiri menggunakan kekuatan air untuk pengobatan dengan menemukan efek gelombang energi yang dia sebut sebagai HADO (energi atau kumpulan getaran yang ada pada sebuah benda). Lalu dengan HADO inilah Dr.Masaru bisa memformat efek energi air untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Pengobatan dengan HADO ini merupakan salah satu cara pengobatan alternative.

Menurut Masaru, banyak peneliti saat ini mulai mempelajari berbagai pengobatan alternative karena merasakan beberapa kekurangan dalam obat konvensional Barat, yang hanya mampu mencapai level sel yang menyebabkan gejala penyakit. Sedang air HADO mampu mengobati penyakit hingga ke dalam partikel sub atom terkecil. Sudah ada beberapa pasien Dr.Masaru yang sembuh setelah meminum air HADO.

Penerima Informasi

Berdasarkan penelitian Dr.Masaru, semakin jelas terlihat bahwa kualitas air dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk, bergantung pada informasi yang diterimanya. Hal ini membuat kita yakin bahwa kita, manusia, juga dipengaruhi oleh informasi yang kita terima karena 70% tubuh manusia dewasa adalah air.

Konsekuensi logisnya adalah manusia, sebagai makhluk yang sebagian besarnya terbentuk dari air, sudah seharusnya diberikan informasi yang baik. Jika kita melakukan hal ini, pikiran dan tubuh kita akan menjadi sehat. Di pihak lain, jika kita menerima informasi yang buruk, kita akan merasakan sakit.

Ambil contoh begini; Sebagian orang mengatakan bahwa mereka merasa lebih baik hanya dengan berbicara kepada dokter. “Efek placebo” ikut berperan saat dokter yang mereka percayai berkata, “ini cuma flu biasa, Anda hanya perlu banyak istirahat. Jangan khawatir, Anda akan segera sembuh.”

Dengan mendengarkan kata-kata dokter tersebut, rasa cemas dan takut dalam diri mereka benar-benar hilang. Kata-kata tersebut membangunkan kekuatan untuk menyembuhkan diri sendiri, yang memang sudah ada dalam tubuh manusia.

Pada zaman dahulu seorang dokter adalah orang yang juga ahli dalam bidang agama, seperti pendeta atau tabib sehingga dia tidak hanya memberikan solusi secara konvensional, namun sekaligus memberikan “efek placebo” lewat kata-kata positif berupa doa atau motivasi yang sarat nilai spiritual.

Hal ini juga berlaku bagi konselor yang harus mempunyai kemampuan untuk mengirim gelombang yang baik agar bentuk gelombang abnormal pada pasien dapat diperbaiki.

Efek kata-kata juga bisa menimbulkan perilaku negative. Orang acapkali melakukan bunuh diri setelah membaca informasi tentang materi bunuh diri. Sekitar dua puluh tahun lalu seorang idola remaja di Jepang melakukan bunuh diri. Dengan cepat berita tersebut menyebar, banyak remaja-remaja lain mengikuti jejaknya. Kejadian tentang hantu pembunuh di Jepang juga mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Nikmat yang mana lagi?

Mari kita ingat kembali bahwa air yang diberikan kata-kata positif akan menyusun kristal-kristal yang indah. Air mempersembahkan kepada kita makna yang mengagumkan bahwa kita seharusnya menjalani hidup dengan cara yang baik, serta tetap menjaga kesehatan pikiran dan tubuh kita serta berikan kata-kata yang positif (informasi) yang baik kepada manusia, yang 70% tubuhnya adalah air.
Sebagai penutup, dalam sebuah karya ilmiah yang ditulis Dr. Akiko Sugara dari Jurusan Ilmu Kesehatan Universitas Tokyo tentang HADO dalam makanan membuktikan efek buruk daging babi pada orang yang memakannya.

Bersandar pada Dr. Masaru Emoto dan Dr.Akiko Sugara kita dapat memahami betapa luar biasa yang diberikan Allah kepada manusia, meski terkadang otak kita tidak sampai kepadanya. Pertanyaanya, lalu nikmat yang mana selain kita senantiasa bersyukur kepadaNya?

Gambar beberapa jenis kristal Air (dari atas ke bawah)


(1) Kristal Air sebelum diberi jampi-jampi kesembuhan

(2) Kristal Air setelah diberi jampi-jampi kesembuhan

(3) Kristal Air ketika kita mengatakan “kamu bodoh”

(4) Kristal Air ketika kita mengatakan perkataan yg baik (cinta, terima kasih dll)

ALAM SEMESTA TIDAK MENGKOTAK - KOTAKKAN AJARAN KEBAIKAN NAMUN MEMBERIKAN KESELAMATAN PADA SELURUH UMAT MANUSIA. ORANG BERAGAMA TERMASUK KEJAWEN SUDAH RIBUAN TAHUN MELAKUKAN, INI, NAMUN DIPANDANG RENDAH OLEH BANGSANYA SENDIRI, INDONESIA. Air diberikan jampi-jampi dan mantra kesembuhan sering dianggap sesat oleh agama timur tengah. Namun Emoto Masaru telah memberikan pembelaan dengan ilmu pengetahuan membuktikan kebenaran nilai air dalam adat Kejawen. Air sebagai sumber kehidupan.


20 August, 2010


ORGANISASI PEMERSATU SOSOK SUPLEMENTER DIBUTUHKAN
Ratusan Paranormal Sepakat Bersatu

Tanggal: Saturday, 22 September 2001 19:08
Topik: No 25 TH 54 Minggu IV September 2001

BEBERAPA tahun lalu, Yayasan Parapsikologi Semesta (YPS) yang dimotori Permadi SH dan Sabdono Surohadikusumo mengalami ‘post vulkanik’, sehingga kegiatan macet. Termasuk lenyapnya media yang diterbitkan organisasi. Setelah secara perseorangan dirembug, baru awal millenium 3 ini ratusan paranormal dan pengobat alternatif sepakat menghidupkan kembali organisasi yang sangat membantu kebutuhan masyarakat tersebut. Perkembangannya cukup pesat dan Niesby Sabakingkin mengabarkan untuk dimanfaatkan.

WARISAN nenek moyang, bila hanya diingat dan diketahui keberadaannya, mubazir rasanya. Padahal, kemampuan yang pernah dimiliki Prabu Jayabaya, Raden Ngabehi Ronggo Warsito, Drs Sosrokartono, bahkan Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dan para resi lain, ada kemungkinan untuk diteruskan dan dipraktikkan manusia modern yang berminat dan bersungguh-sungguh belajar.


Melihat publikasi di mediamassa, ternyata di Indonesia terdapat ratusan atau bahkan ribuan orang pintar yang sayang sekali kalau tidak didayagunakan. Padahal, akurasi konseling tentang kehidupan, membaca nasib, mengobati penyakit, menemukan sumber air atau orang hilang dan lainnya cukup teruji, sehingga layaklah kalau masyarakat dapat menikmati praktik kepiawaian mereka.


Setelah beberapa kali berembug dan saling mengirim informasi, 27 Januari 2001 lalu, di Hotel Kebayoran Jakarta telah diresmikan berdirinya Forum Komunikasi Paranormal dan Penyembuh Alternatif Indonesia (FKPPAI) yang dihadiri ratusan paranormal. Berdasar kesepakatan, Sabdono Surohadikusumo terpilih sebagai Ketua Umum dan Drs Sunarto MCC sebagai Sekretaris Jenderal.


Pada kesempatan itu pula telah ditunjuk para koordinator perwakilan daerah, misalnya paranormal Entien Harahap SH sebagai koordinator wilayah Bogor, Sonia Soema untuk Bandung, Ki Hudoyo Daryodipuro untuk Semarang, wilayah Solo diserahkan Drs Adiarso, DIY dipasrahkan Ir RMH Gembong Danudiningrat, untuk Surabaya dipegang Dra Tjintariani dan Bali diserahkan Wisnu Murti.


Dibentuknya FKPPAI tentunya bukan sekadar mencipta organisasi baru. “Tujuan kami untuk mendayagunakan pengetahuan parapsikologi dan metafisika serta para pengobat alternatif untuk kepentingan masyarakat banyak, sekaligus mendayagunakan pengetahuan untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan menjalin persaudaraan antar insan, termasuk upaya mewariskan kemampuan nenek moyang untuk dikaji dan dikembangkan generasi muda”, tutur Ki Sunarto, Sekretaris Jenderal FKPPAI.


Sebagai tanggungjawab organisasi dan pelestariannya, organisasi merancang pertemuan berkala setiap bulan, bakti sosial dengan mengumpulkan dana untuk disumbangkan kepada korban bencana alam serta bakti sosial pengobatan dan konsultasi kehidupan untuk umum.
FKPPAI akan berusaha menginvetarisasi paranormal dan pengobat alternatif seluruh Indonesia untuk dimasukkan katalog dan disebarkan kepada masyarakat, sehingga orang dapat memilih spesialisasi yang dikehendaki.

Untuk itulah, “Paranormal dan pengobat alternatif yang ingin dikenal masyarakat dan resmi diakui sebagai praktikan prifesional Indonesia, diharapkan mendaftar dengan menyerahkan identitas komplet”, ajak Ki Sunarto.


Renca-nanya, FKPPAI juga akan menerbitkan majalah atau tabloid tentang dunia paranormal dan pengobat alternatif serta membuat buku putih yang berisi Kode Etik Paranormal Indonesia. Untuk itu, karena lembaga besar yang sejenis sudah lebih dulu lahir, maka organisasi baru ini tidak ada jeleknya bekerjasama dengan lembaga yang sudah dikenal masyarakat seperti Yapas (Madiun), PPI/PATI (Pati), ITI (Jakarta), LIPPI (Yogya) dan lainnya.


Pada kesempatan pertama, dewan penasihat yang diusulkan terdiri atas Permadi SH, Drs K Permadi SH, J Sujanto, KHM Sutrisno Aryo Muntaha, Brigjen Purn. H Sumarsono Wiryo Wijoyo SH, Prof Dr Luh Ketut Suryani Spj, Prof Dr Tubagus Ronny Nitibaskoro SH dan Ir RMH Gembong Danudiningrat.


Dengan dimintanya Pak Gembong pada posisi penasihat, “Untuk kawasan DIY akan kami tunjuk koordinator yang berpengalaman mengelola organisasi paranormal”, ungkap Ki Sunarto yang notabene, pengalola yang ditunjuk memiliki alamat jelas, komplet dengan telepon atau ponsel sebagai syarat kelancaran komunikasi.


Pada perkembangannya nanti, FKPPI akan menerbitkan kartu anggota sebagai legalitas keparanormalan atau keterlibatan pengobat alternatif sebagai kelengkapan birokrasi dengan pengujian. Sehingga, untuk menjaga nama baik organisasi, penerimaan anggota harus lewat perwakilan daerah yang nantinya juga berhak mengusulkan pemilikan sertifikat legalisasi praktik.


Diharapkan, pelecehan terhadap profesi paranormal dan pengobat alternatif pelan-pelan akan tertepis, termasuk hadirnya paranormal palsu yang berorientasi menipu masyarakat atau memperkaya diri dengan dalih ilmu gaib. Kalau perlu, “Organisasi akan mengirim surat teguran kepada lembaga atau perorangan yang terbukti melakukan penyimpangan atas laporan pengurus daerah masing-masing”, tandas Ki Sunarto menutup perbincangan.

Artikel ini diambilkan dari situs Minggu Pagi Online
hxxp://www.minggupagi.com
PAYUNG HUKUM PERMEN TTG KEPENDUDUKAN :



UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 23 TAHUN 2006
TENTANG
ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:
a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada hakikatnya berkewajiban memberikan
perlindungan dan pengakuan terhadap penentuan status pribadi dan status hukum atas
setiap Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting yang dialami oleh Penduduk
Indonesia yang berada di dalam dan/atau di luar wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
b. bahwa untuk memberikan perlindungan, pengakuan, penentuan status pribadi dan status
hukum setiap Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa Penting yang dialami oleh Penduduk
Indonesia dan Warga Negara Indonesia yang berada di luar wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia, perlu dilakukan pengaturan tentang Administrasi Kependudukan;
c. bahwa pengaturan tentang Administrasi Kependudukan hanya dapat terlaksana apabila
didukung oleh pelayanan yang profesional dan peningkatan kesadaran penduduk, termasuk
Warga Negara Indonesia yang berada di luar negeri;
d. bahwa peraturan perundang-undangan mengenai Administrasi Kependudukan yang ada
tidak sesuai lagi dengan tuntutan pelayanan Administrasi Kependudukan yang tertib dan
tidak diskriminatif sehingga diperlukan pengaturan secara menyeluruh untuk menjadi
pegangan bagi semua penyelenggara negara yang berhubungan dengan kependudukan;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c,
dan huruf d, perlu membentuk undang-undang tentang Administrasi Kependudukan.
Mengingat:
1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), ayat (2) dan ayat (4), Pasal 26, Pasal 28 B ayat (1),
Pasal 28 D ayat (4), Pasal 28 E ayat (1) dan ayat (2), Pasal 28 I, Pasa129 ayat (1), Pasal 34
ayat (1) dan ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3019);
3. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi Konvensi Penghapusan Segala
Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984
Nomor 29, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 32);
4. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1992 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3474);
5. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1999 tentang Pengesahan International Convention On
The Elimination Of All Forms Of Racial Discrimination 1965 (Konvensi Internasional tentang
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial 1965) (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3852);
6. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 156, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3882);
PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI
NOMOR 12 TAHUN 2010
TENTANG
PEDOMAN PENCATATAN PERKAWINAN DAN
PELAPORAN AKTA YANG DITERBITKAN OLEH NEGARA LAIN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI DALAM NEGERI,
Menimbang :
bahwa untuk melaksanakan tertib administrasi kependudukan terhadap pelaporan dan pencatatan peristiwa penting sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Pasal 4, Pasal 34 ayat (1), dan Pasal 35 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Pencatatan Perkawinan dan Pelaporan Akta yang Diterbitkan oleh Negara Lain;Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019);
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhsr dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tontang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Repubiik Indonesia Nomor 4674);
4. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4916);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentangPeraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1975 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3050);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4674);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
8. Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil;


MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PEDOMAN PENCATATAN
PERKAWINAN DAN PELAPORAN AKTA YANG DITERBITKAN OLEH NEGARA LAIN.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan:
1. Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan
dokumen dan Data Kependudukan melalui Pendaftaran Penduduk Pencatatan Sipil, Pengelolaan
Informasi Administrasi Kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan
pembangunan sektor lain.
2. Penduduk adalah Warga Negara Indonesia dan Orang Asing yang bertempat tinggal di Indonesia.
3. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri
dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa.
4. Pencatatan Sipil adalah Pencatatan Peristiwa Penting yang dialami oleh seseorang dalam register
Pencatatan Sipil pada Instansi Pelaksana.
5. Pelaporan Perkawinan Melampaui Batas Waktu adalah pelaporan perkawinan yang sah
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang melampaui 60 (enam puluh) hari sejak tanggal
perkawinan.
6. Unit Pelaksana Teknis Dinas Instansi Pelaksana, selanjutnya disingkat UPTD Kependudukan dan
Pencatatan Sipil, adalah satuan kerja di tingkat kecamatan yang melaksanakan pelayanan
Pencatatan Sipil dengan kewenangan menerbitkan akta.
BAB II
RUANG LINGKUP
Pasal 2
Ruang Lingkup pencatatan perkawinan dan pelaporan akta pencatatan sipil yang diterbitkan oleh negara
lain meliputi:
a. perkawinan yang melampaui batas waktu;
b. perkawinan yang ditetapkan pengadilan;
c. perkawinan Warga Negara Asing; dan
d. akta yang diterbitkan oleh negara lain.
BAB III
PELAPORAN DAN PENCATATAN PERKAWINAN
MELAMPAUI BATAS WAKTU
Pasal 3
Pelaporan dan pencatatan perkawinan yang melampaui batas waktu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 2 huruf a, dilaporkan oleh penduduk kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau
UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di tempat terjadinya perkawinan.
Pasal 4
(1) Persyaratan pencatatan atas pelaporan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, bagi
Penduduk Warga Negara Indonesia dilakukan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Surat Keterangan telah terjadinya perkawinan dari pemuka agama/pendeta atau Surat Perkawinan Penghayat Kepercayaan yang ditandatangani oleh Pemuka Penghayat Kepercayaan;
b. Kartu Keluarga;
c. KTP Suami dan Isteri;
d. Pas Photo Suami dan Isteri berdampingan, ukuran 4x6 sebanyak 5 lembar;
e. Kutipan Akta kelahiran Suami dan Isteri; dan
f. Akta Perceraian bagi yang telah bercerai atau Akta Kematian atau Surat Keterangan kematian
bagi yang pasangannya telah meninggal dunia.
(2) Surat Keterangan telah terjadinya perkawinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a harus mendapatkan legalisasi dari pemuka agama/pendeta atau penghayat kepercayaan di tempat terjadinya perkawinan.
(3) Legalisasi atas Surat Keterangan telah terjadinya perkawinan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku paling lama 1 (satu) minggu.

Pasal 5
Pencatatan atas pelaporan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, bagi orang asing
yang memiliki Izin Tinggal Tetap, selain persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, dilengkapi
dengan:
a. paspor bagi suami atau isteri orang asing;
b. izin kedutaan bagi suami atau isteri orang asing;
c. izin dari Kedutaan Besar; dan
d. dokumen keimigrasian.
Pasal 6
Pencatatan atas pelaporan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a, bagi orang asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas dilakukan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Surat Keterangan telah terjadinya perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 pada ayat (2) dan ayat (3);
b. Surat Keterangan Tempat Tinggal;
c. Pas Photo Suami dan Isteri;
d. Kutipan Akta kelahiran Suami dan Isteri;
e. Paspor bagi Suami atau Isteri orang asing; dan
f. Izin kedutaan bagi Suami atau Isteri orang asing atau Akta Perceraian bagi yang telah bercerai atau Akta Kematian atau Surat Keterangan kematian bagi yang pasangannya telah meninggal dunia.
Pasal 7
(1) Pelaporan dan pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, dilakukan dengan tata
cara:
a. pasangan suami dan isteri mengisi formulir pencatatan perkawinan pada Dinas Kependudukan
dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan melampirkan persyaratan;
b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melakukan verifikasi dan validasi kebenaran data;
c. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Perkawinan dan menerbitkan
Kutipan Akta Perkawinan;
d. Kutipan Akta Perkawinan sebagaimana dimaksud pada huruf b diberikan kepada masing-masing suami dan isteri;
e. suami atau istri berkewajiban melaporkan hasil pencatatan perkawinan kepada Dinas
Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
tempat domisilinya.
(2) Pencatatan perkawinan bagi orang asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap dan Izin Tinggal Terbatas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6, dilakukan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan tata cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 8
Penduduk yang telah melaporkan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasa! 3 harus mengajukan perubahan dokumen kependudukan di tempat domisili.

Pasal 9
Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Perkawinan, pencatatan perkawinan
dilakukan setelah adanya penetapan pengadilan.
BAB IV
PENCATATAN PERKAWINAN
YANG DITETAPKAN PENGADILAN
Pasal 10
(1) Pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b, dilaporkan oleh penduduk kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil tempat diterbitkannya penetapan pengadilan.
(2) Pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan memenuhi syarat berupa:
a. Salinan Penetapan Pengadilan yang dilegalisir;
b. KTP suami dan isteri;
c. Pas foto suami dan isteri;
d. Kutipan Akta Kelahiran suami dan isteri; dan
e. Paspor bagi suami atau isteri Orang Asing.

Pasal 11
Tata cara pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10, dilakukan sebagai berikut:
a. pasangan suami dan isteri mengisi formulir pencatatan perkawinan dengan melampirkan
persyaratan;
b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melakukan verifikasi dan validasi kebenaran data;
c. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Perkawinan dan menerbitkan
Kutipan Akta Perkawinan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal dipenuhinya semua persyaratan;
d. Kutipan Akta Perkawinan sebagaimana dimaksud pada huruf c diberikan kepada masing-masing suami dan isteri.
BAB V
PENCATATAN PERKAWINAN WARGA NEGARA ASING

Pasal 12
(1) Perkawinan Warga Negara Asing yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat dicatatkan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil.
(2) Pencatatan perkawinan Warga Negara Asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan memenuhi persyaratan:
a. Surat Keterangan telah terjadinya perkawinan dari pemuka agama/pendeta atau SuratPerkawinan Penghayat Kepercayaan yang ditandatangani oleh Pemuka PenghayatKepercayaan;
b. Kutipan Akta Kelahiran suami dan isteri;
c. izin dari Perwakilan Negara yang bersangkutan bagi suami dan isteri;
d. Paspor bagi suami dan isteri;
e. KK dan KTP bagi Warga Negara Asing yang telah menjadi penduduk; dan
f. Surat Keterangan Tempat Tinggal untuk Warga Negara Asing pemegang KITAS.

Pasal 13
Tata cara pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, dilakukan sebagai berikut:
a. pasangan suami dan isteri mengisi formulir pencatatan perkawinan dengan melampirkan
persyaratan;
b. Pejabat Pencatatan Sipil melakukan verifikasi dan validasi kebenaran data;
c. Pejabat Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Perkawinan dan menerbitkan Kutipan Akta Perkawinan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal dipenuhinya semua persyaratan;
d. Kutipan Akta Perkawinan sebagaimana dimaksud pada huruf c diberikan kepada masing-masingsuami dan isteri.
BAB VI
PELAPORAN AKTA PENCATATAN SIPIL
YANG DITERBITKAN OLEH NEGARA LAIN

Pasal 14
(1) Penduduk WNI yang mempunyai Akta Pencatatan Sipil yang diterbitkan oleh Negara lain, setelah kembali ke Indonesia melaporkan kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di tempat domisili yang bersangkutan.
(2) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan memenuhi persyaratan:
a. KK dan KTP;
b. Bukti pelaporan dari Perwakilan Rl setempat; dan
c. Kutipan Akta Pencatatan Sipil.

Pasal 15
(1) Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan Surat Keterangan Pelaporan
berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 paling lambat 14 (empat belas) hari
sejak tanggal dipenuhinya semua persyaratan.
(2) Kutipan Akta Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud daiam Pasal 14 ayat (2) huruf c, tidak
dilakukan penambahan catatan.
(3) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), digunakan sebagai dasar pemutakhiran data
kependudukan.

BAB VII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 16

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.


Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 26 Januari 2010
MENTERI DALAM NEGERI,
Ttd
GAMAWAN FAUZI

19 August, 2010

Para penganut aliran/penghayat kepercayaan kini semakin mendapat ruang di mata hukum. Belum lama ini Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menerbitkan Peraturan Menteri (Permendagri) No. 12 Tahun 2010 yang antara lain memungkinkan penghayat aliran kepercayaan mencacatkan dan melaporkan perkawinan mereka ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil sekalipun perkawinan mereka dilangsungkan di luar negeri. Bagi penghayat kepercayaan WNA juga dimungkinkan mencatatkan perkawinan dengan menyertakan surat keterangan terjadinya perkawinan dari pemuka penghayat kepercayaan.

Permendagri itu bukan satu-satunya regulasi yang memberi legitimasi hukum aliran/penghayat kepercayaan. Tahun lalu, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) telah menandatangani Peraturan Bersama Menteri No. 43/41 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelayanan Kepada Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Peraturan administrasi kependudukan yang lebih tinggi tingkatannya seperti Perpres No. 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran dan Pencatatan Sipil, Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 2007 dan UU yang menjadi payungnya, yakni UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (UU Adminduk), juga memberikan legitimasi bagi penghayat kepercayaan. Legitimasi hukum ini berbeda sekali dengan perlakuan yang diterima para penghayat kepercayaan selama Orde Baru. Lembar sejarah hukum Indonesia mencatat kasus sengketa pencatatan perkawinan penghayat kepercayaan yang bermuara hingga ke Mahkamah Agung.

Direktur Eksekutif Indonesian Legal Resource Center (ILRC), Uli Parulian Sihombing, memberikan apresiasi atas pengakuan hukum terhadap para penghayat kepercayaan, khususnya dalam administrasi kependudukan. Namun penulis buku “Menggugat Bakor Pakem, Kajian Hukum Terhadap Pengawasan Agama dan Kepercayaan di Indonesia” (2009) ini menilai pengakuan hukum tersebut belum benar-benar dilakukan. Dalam praktik, status agama para penghayar dalam KTP masih belum diisi sebagai konsekuensi hanya enam agama yang diakui resmi oleh negara.

Demikian pula soal pencatatan perkawinan. Peraturan perundang-undangan memang memberi ruang bagi penganut aliran/penghayat kepercayaan untuk mencatatan perkawinan mereka di Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil. Tetapi seringkali penghayat kesulitan karena perkawinan mereka harus lebih dahulu dicatatkan pemimpin penghayat kepercayaan. Dan pemimpin yang diakui adalah yang yang sudah tercatat di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Menurut Uli Parulian, para penghayat kepercayaan banyak ditemukan pada masyarakat adat yang belum terbiasa dengan dokumentasi peristiwa kependudukan. Karena itu, legitimasi hukum penghayat kepercayaan belum bisa diartikan sebagai pengakuan penuh terhadap eksistensi mereka.

Penodaan Agama

Di tempat terpisah, Ketua Komnas Perempuan Yunianti Chuzaifah mengakui jaminan terhadap penghayat kepercayaan dalam UU Adminduk sudah lebih maju dibanding sebelumnya. Namun, ia mencatat masih ada UU yang tidak ramah terhadap penghayat kepercayaan, yakni UU No. 1/PNPS/1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. “Banyak perkawinan perempuan penganut penghayat kepercayaan yang tidak dicatat gara-gara UU ini,” jelas Yunianti dalam pengujian UU Penodaan Agama di Mahkamah Konstitusi, akhir pekan lalu.

Penjelasan Pasal 1 UU tersebut memang hanya mengakui enam agama di Indonesia, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu. Sedangkan empat agama lain -Yahudi, Zarazustrian, Shinto dan Thaoism- tidak dilarang beredar di Indonesia sepanjang pelaksanaannya tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketentuan ini yang sering digunakan para birokrat di Indonesia untuk tidak mencatat warga negara penganut penghayat kepercayaan. Para penghayat kepercayaan pun tak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang berakibat sulitnya para penghayat kepercayaan itu mencatat perkawinannya. “Ini jelas merugikan perempuan,” tegas Yunianti.

Munarman dari Front Pembela Islam (FPI) mempertanyakan tidak dicatatnya perkawinan para penghayat kepercayaan memang karena UU Penodaan Agama atau karena birokrasi yang salah memahami. Ia menilai tak ada hubungannya UU Penodaan Agama dengan tidak dicatatnya perkawinan penghayat kepercayaan, karena keduanya berada di ranah hukum yang berbeda.

Hakim Konstitusi M Alim juga memiliki pertanyaan yang sama. Menurutnya, bila memang ada perkawinan penghayat kepercayaan yang tidak dicatat oleh para pejabat pemerintah maka telah terjadi pelanggaran UU Adminduk. “Seharusnya tindakan seperti itu digugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Bukan dipersoalkan ke MK,” tuturnya.

Konstitusi jelas menyatakan, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya masing-masing. Namun ini ternyata tak berlaku di kampung Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat.

Para penganut kepercayaan Sunda Wiwitan di kampung ini tak dijamin kemerdekaannya untuk menjalankan keyakinan. Anak-anak yang terlahir dari penganut kepercayaan, bahkan tak diakui oleh negara.

Di sekolah, mereka terpaksa mengakui dan mempelajari agama lain, supaya nilai pelajaran agama tak kosong di rapor. Reporter KBR68H Suryawijayanti berbincang dengan remaja Sunda Wiwitan yang tak sudi jadi pengkhianat kepercayaan mereka.

Takut FPI
Setahun lalu gerombolan beratribut Front Pembela Islam menyerbu Aliansi Keberagaman di Tugu Monas Jakarta. Deis, Irma, Rini dan Enci saat itu ada di sana. Di kepala mereka, masih terekam jelas peristiwa beringas di hari jadi Pancasila itu.

Anak-anak: "Takut, kayak dilempar-lempar batu, takut saja ... Ya tegang terus, pokoknya takut aja, ngumpet di mobil ... takut diserang. Soalnya khan pake baju adat, takutnya pas FPI liat langsung diserang, kita langsung pake jaket lalu masuk mudik. Sadis ah. Kenapa sih sampai begitu, meski kita beda. Apa sih salah kita ... IyaTeh, apa salah kita sih ..."

Ya, apa salahnya? Anak-anak yang belum genap berusia tujuh belas tahun itu bertanya. Tak pernah terbayang, mereka harus menjadi saksi kejadian beringas. Mereka adalah anak-anak penghayat kepercayaan Sunda Wiwitan yang tinggal di Kampung Cireundeu, Cimahi, Jawa Barat.

Di kampung Cireundeu ada sekitar 800an warga yang masih memegang teguh ajaran Sunda Wiwitan. Kepercayaan ini dikembangkan oleh Pangeran dari Cigugur, Kuningan. Kepercayaan ini dikenal juga sebagai Cara Karuhun Urang atau tradisi nenek moyang. Mereka percaya pada Tuhan, dan teguh menjaga kepercayaan serta menjaga jatidiri sebagai orang Sunda.

Saling menghargai
Menurut Abah Emen, Ketua Kampung Adat Cireundeu ajaran ini menekankan manusia harus saling menghargai dan berdampingan dengan makhluk hidup lainnya.

Abah Emen: "Tekad, ucap dan perilaku. Yang penting adalah bagaimana perilaku kita, bukan apa yang keluar dari mulut. Yang diucapkan harus benar, semua tak boleh berdusta dan berbohong, jangan dilakukan semua larangan. Itu saja kok prinsipnya. Kita harus berbuat baik sesama manusia, tolong menolong, jangan menyakiti manusia, perkataan hati-hati, jangan asal saja."

Selain itu masyarakat Cireundeu menghormati leluhur mereka dengan tidak memakan nasi melainkan singkong. Bagi warga, tak makan nasi berarti menjalankan ajaran leluhur untuk mempertahankan apa yang mereka sebut, jati diri yang asli. Yana, pemuka Masyarakat Adat Kampung Cireundeu.

Yana: "Kami pun dalam kehidupan keseharian selalu menerapkan filosofi leluhur, dan selalu diingatkan inilah garis hidup yang harus kita jaga, mengemban sampai akhir hayat hidup kita."

Didikskriminasi
Sebagai penganut kepercayaan, Yana kenyang dengan perlakuan diskriminatif dari negara.

Yana: "Kami kesulitan untuk mencatatkan data sipil, pernikahan, kependudukan lah, semuanya. Dan kami di sekolah juga kebingungan, harus mengikut ke mana. Walaupun kami sudah mengaku sebagai penganut, tapi sekolah tak mau ngasih soal dan nilai, karena bukan agama resmi. Kami pernah datang ke sekolah, kami seperti ini, tapi katanya tak ada Undang Undang dan dasar hukumnya."

Maka, anak-anak Sunda Wiwitan mau tak mau harus mencantumkan salah satu agama yang diakui oleh pemerintah ketika berada di sekolah. Itu kalau tak ingin nilai agama di rapor kosong.

Rini baru saja lulus SMA. Pelajaran agama Islam ia pilih karena mayoritas siswa di sekolahnya adalah Muslim.

Rini: "Rini ikut agama Islam, Dari SD sampai SMA ikut agama Islam, kalo Rini bisa ngerjain, nurutin agama lain, yak bisa sih."
KBR68H: "Di satu kelas ada berapa penganut penghayat Rin?"
Rini: "Rini aja Teh."

Rini mengaku pertanyaan aneh kerap dilontarkan teman-temannya atas pilihan keyakinan yang dianutnya.

KBR68H: "Suka ditanyain ama temen-temen?"
Rini: "Suka sih, paling ditanya apa sih agamanya, bagaimana cara doanya, Rini sih jawab."
KBR68H: "Trus apa yang Rini jawab?"
Rini: "Yah Rini bilang sih kalo sama aja ama agama kalian, Cuma beda cara doanya."
KBR68H: "Trus gimana temen menyikapinya?"
Rini: "Ada sih yang bilang penghayat sih apaan. Khan agama cuma lima doank."

Irma Gusriani, baru saja naik kelas 3 SMA Warga Bhakti, Cimahi. Di sekolah, ia menjadi satu-satunya penghayat kepercayaan. Di rapor tercantum nilai 80 untuk pelajaran agama Islam.

Irma: "Di sekolah ikut agama Islam."
KBR68H: "Susah gak?"
Irma: "Gampang-gampang susah."
KBR68H: "Dapat nilai berapa?"
Irma: "80."
KBR68H: "Apa sih yang dipelajari?"
Irma: "Ya baca Al Qur'an, sholat, teori dan praktek-praktek, khan di situ mayoritas agama Islam, jadi yang dipelajari agama Islam."
KBR68H: "Suka ditanya ama teman-teman?"
Irma: "Iya, yah soal kitab-kitab dan cara doanya. Kadang dijawab kadang juga tidak."

Meski harus mempelajari dan bergelut dengan keyakinan lain selama bertahun-tahun, Irma dan Rini tak goyah memegang teguh keyakinan Sunda Wiwitan.

Irma: "Karena khan ini agama dari nenek moyang, jadi harus tetap dipertahankan."
Rini: "Karena Rini sudah yakin dengan agama ini, yang lain tak percaya."

Belajar aksara Sunda
Lalu bagaimana anak-anak ini tetap yakin memeluk Sunda Wiwitan, di tengah gempuran ayat-ayat suci agama lain. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Belasan anak-anak Sekolah Dasar masih asyik bermain petak umpet di sekitar Balai Kampung Cireundeu.

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Empat remaja sudah tiba di Balai, akan mengajarkan aksara Sunda. Ada sekitar 15an anak usia Sekolah Dasar yang ikut belajar mengeja aksara Sunda. Tak ketinggalan lagu-lagu dengan lirik aksara Sunda kuno juga diajarkan ke anak-anak ini.

Ini kelas rutin, seminggu sekali, tiap akhir pekan. Meskipun tak ada paksaan, namun kursi-kursi di ruangan yang bersebelahan dengan Balai Kampung Cireundeu selalu penuh. Pengajarnya adalah anak-anak muda Cireundeu.

KBR68H: "Kenapa sih pingin tetap ngajari bahasa Sunda?"
Rini: "Rini pingin ngembangin aksara Sunda, Rini khan bisa maka ngajari aksara Sunda."
KBR68H: "Tapi ini khan hari minggu, yang harusnya harus santai, trus mesti ngajari, hari gini?"
Rini: "Yah sudah kewajiban sih Mbak. Dulu memang kita juga diajari ... ada sih yang suka bilang anak muda koq mau-maunya ngajari, khan gengsi ..."

Melestarikan warisan
Bagi penduduk Cireundeu, sekecil apapun warisan karuhun itu harus dilestarikan. Termasuk dalam urusan bahasa dan aksara. Melalui aksara dan lagu inilah keyakinan Sunda Wiwitan diturunkan dan dilestarikan. Yana, seorang pemuka Masyarakat Adat Kampung Cireundeu.

Yana: "Kami sebagai satu bangsa mempunyai, cara dan ciri, rupa, bahasa, aksara, adat budaya, itu adalah ciri, yang harus dipertahankan."

Anak-anak inilah yang nantinya menjadi penerus ajaran Sunda Wiwitan agar tetap bertahan di Bumi Cireundeu. Meskipun berbagai persoalan sudah membentang di depan mata, bahkan sejak mereka dilahirkan dari orangtua penghayat.

Anak-anak penghayat yang tak diakui negara, bukan cerita baru lagi. Akibat perkawinan orangtuanya yang tak didaftarkan di Catatan Sipil, anak-anak ini ikut-ikutan tak mendapatkan pengakuan negara. Tak satu pun dari anak-anak ini yang punya Akte Kelahiran, dokumen resmi pertama yang mestinya dimiliki setiap anak.

Salah seorang warga Cireundeu, Sudrajat, bercerita bagaimana susahnya penghayat kepercayaan harus berurusan dengan birokrasi yang diskriminatif. Negara menganggap para penghayat kepercayaan tidak menganut salah satu agama yang diakui pemerintah. Karenanya, tak dianggap sebagai warga negara.

Sudrajat: "Kita dituntut harus punya KTP, padahal untuk bikin KTP harus punya KK. Nah untuk punya KK harus punya akte nikah. Nah orang tua saya mah tak punya KTP,maka saya tak punya akte kelahiran. Saya juga prihatin, menjadi anak tiri di negeri sendiri."

Sudrajat dengan senyum getir, mengaku terpaksa mengucap kalimat syahadat, agar perkawinannya diakui di lembar negara. Tujuannya hanya satu, agar anaknya nanti tak dicap sebagai anak haram jadah hasil kumpul kebo.

Sudrajat: "Terpaksa berbohong memeluk agama Islam, pdahal saya bukan Islam biar saya bisa mendapatkan surat nikah. Karena surat ini menjadi syarat untuk mendapatkan akte kelahiran anak saya. Saya sih intinya hanya ingin anak saya punya akte, jangan seperti saya yang tak punya akte nikah, karena orangtua dulu nikah adat."

Himpunan Penghayat Kepercayaan
Kasus Sudrajat hanyalah satu dari sekian banyak yang dialami para penghayat kepercayaan. Sekretaris Jenderal, Himpunan Penghayat Kepercayaan, A.A. Sudirman menyatakan hingga kini sedikitnya ada 10 juta penghayat kepercayaan yang bergabung dalam organisasi Himpunan Penghayat Kepercayaan.

Dalam perkembangannya, kelompok penghayat kepercayaan ini masih saja terbentur dengan tetek bengek urusan birokrasi.

Sudirman: "Tak tahu, lalu urusan komputer yang katanya gak ada formnya. Nah itu berlanjut ntar pas nikah, lalu Kantor Catatan Sipil menolak. Mereka tak tahu apa-apa, saya pikir mereka menganggap para penghayat ini bukan warga negara."

Di dunia pendidikan, ternyata negara masih gagap untuk menyusun kurikulum untuk anak-anak penghanyat. Akibatnya, anak-anak dipaksa untuk mengkhianati keyakinan sendiri.

Sudirman: "Kasihan anak dipaksa, terpaksa belajar yang berbeda hati nurani, tapi soalnya kalo di sekolah diajar keyakinan lain. Ini khan mereka menjadi pembohong-pembohong semua. Bagi saya ini menyedihkan dan ironi."

Garis hidup sebagai anak penghayat kepercayaan semestinya tak membuat anak-anak penghayat sulit meraih mimpi dan menggapai cita-cita mereka.

Hanacaraka atau dikenal dengan nama carakan atau cacarakan (bahasa Sunda) adalah aksara turunan aksara Brahmi yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Sunda, bahasa Bali, dan bahasa Sasak.

Aksara Jawa modern adalah modifikasi dari aksara Kawi dan merupakan abugida. Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili dua buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". Aksara Na yang mewakili dua huruf, yakni N dan A, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi". Dengan demikian, terdapat penyingkatan cacah huruf dalam suatu penulisan kata apabila dibandingkan dengan penulisan aksara Latin.

Klasifikasi

Aksara Jawa Hanacaraka termasuk ke dalam kelompok turunan aksara Brahmi, sebagaimana semua aksara Nusantara lainnya. Aksara ini memiliki kedekatan dengan aksara Bali. Aksara Brahmi sendiri merupakan turunan dari aksara Assyiria.

Kelompok aksara

Pada bentuknya yang asli, aksara Jawa Hanacaraka ditulis menggantung (di bawah garis), seperti aksara Hindi. Namun demikian, pengajaran modern sekarang menuliskannya di atas garis.
Aksara Jawa Hanacaraka memiliki 20 huruf dasar, 20 huruf pasangan yang berfungsi menutup bunyi vokal, 8 huruf "utama" (aksara murda, ada yang tidak berpasangan), 8 pasangan huruf utama, lima aksara swara (huruf vokal depan), lima aksara rekan dan lima pasangannya, beberapa sandhangan sebagai pengatur vokal, beberapa huruf khusus, beberapa tanda baca, dan beberapa tanda pengatur tata penulisan (pada).

Huruf dasar (aksara nglegena)

Pada aksara Jawa hanacaraka baku terdapat 20 huruf dasar (aksara nglegena), yang biasa diurutkan menjadi suatu "cerita pendek":
• ha na ca ra ka
• da ta sa wa la
• pa dha ([dha]) ja ya nya ([ɲa])
• ma ga ba tha ([ʈa]) nga ([ŋa])

Berikut ini adalah aksara nglegena:


Huruf pasangan (Aksara pasangan)

Pasangan dipakai untuk menekan vokal konsonan di depannya. Sebagai contoh, untuk menuliskan mangan sega akan diperlukan pasangan untuk "se" agar "n" pada mangan tidak bersuara. Tanpa pasangan "s" tulisan akan terbaca manganasega.
Tatacara penulisan Jawa Hanacaraka tidak mengenal spasi, sehingga penggunaan pasangan dapat memperjelas kluster kata.

Berikut ini adalah daftar pasangan:


Huruf utama (aksara murda)


Huruf Vokal Mandiri (aksara swara)


Huruf tambahan (aksara rèkan)


Huruf Vokal tidak Mandiri (Sandhangan)


Tanda-tanda Baca (pratandha)


Gaya Penulisan (Style, Gagrag) Aksara Jawa
Berdasarkan Bentuk aksara Penulisan aksara Jawa dibagi menjadi 3 yakni:
• Ngetumbar


• Mbata Sarimbag


• Mucuk eri

Berdasarkan Daerah Asal Pujangga/Manuskrip, dikenal gaya penulisan aksara Jawa :
• Jogjakarta


• Surakarta


• Lainnya


Aturan baku penggunaan hanacaraka

Penggunaan (pengejaan) hanacaraka pertama kali dilokakaryakan pada tahun 1926 untuk menyeragamkan tata cara penulisan menggunakan aksara ini, sejalan dengan makin meningkatnya volume cetakan menggunakan aksara ini, meskipun pada saat yang sama penggunaan huruf arab pegon dan huruf latin bagi teks-teks berbahasa Jawa juga meningkat frekuensinya. Pertemuan pertama ini menghasilkan Wewaton Sriwedari ("Ketetapan Sriwedari"), yang memberi landasan dasar bagi pengejaan tulisan. Nama Sriwedari digunakan karena loka karya itu berlangsung di Sriwedari, Surakarta. Salah satu perubahan yang penting adalah pengurangan penggunaan taling-tarung bagi bunyi /o/. Alih-alih menuliskan "Ronggawarsita" (bentuk ini banyak dipakai pada naskah-naskah abad ke-19), dengan ejaan baru penulisan menjadi "Ranggawarsita", mengurangi penggunaan taling-tarung.

Modifikasi ejaan baru dilakukan lagi tujuh puluh tahun kemudian, seiring dengan keprihatinan para ahli mengenai turunnya minat generasi baru dalam mempelajari tulisan hanacaraka. Kemudian dikeluarkanlah Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga gubernur (Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur) pada tahun 1996 yang berusaha menyelaraskan tata cara penulisan yang diajarkan di sekolah-sekolah di ketiga provinsi tersebut.

Tonggak perubahan lainnya adalah aturan yang dikeluarkan pada Kongres Basa Jawa III, 15-21 Juli 2001 di Yogyakarta. Perubahan yang dihasilkan kongres ini adalah beberapa penyederhanaan penulisan bentuk-bentuk gabungan (kata dasar + imbuhan).

Perubahan Aksara Pallawa ke Aksara-Aksara Nusantara


Untuk integrasi aksara jawa ke sistem informasi teknologi silahkan baca disini.
http://banditgelen.blogspot.com/2010/01/hanacaraka-akasara-jawa-dan-seluk.html

18 August, 2010


Ketika Brawijaya Raja Majapahit Terakhir Trowulan masuk Islam karena Keratonnya Hancur di Serang Patah/Jimbun Bupati Demak Bintoro yang didukung Walisongo, Hingga Sabdopalon berhenti Ngemong Brawijaya yang masuk Islam, dan Sabdopalon membuat Ramalan akan kembali 500 tahun lagi. 1478 M Kerajaan Majapahit Trowulan diserang Raden Patah, Brawijaya dan Sabdopalon Noyogenggong Mundur menuju Bali , Raden Gugur lari ke Gunung Lawu [Buku Tan Koen Swie Sejarah Kota Kadiri] masa itu Daha, Jenggala dan Kadiri diperintah Sri Wilatikta Brahmaraja V. Bahkan sangat disayangkan Brawijaya lari jalan darat kearah barat tujuannya Bali, untuk mencapai Kadiri tidak ada jalan darat tapi harus melalui Sungai Brantas dengan naik Perahu, sedang Kesamben/Betro Pelabuhan paling selatan diblokir Tentara Islam Demak Jadi Brawijaya untuk selamatnya lewat jalan darat ke Sengguruh Pasuruan terus ke Blambangan.
Setelah Trowulan dikuasai Adipati Terung dan Bupati Nyo Lay Hwa Ipar Raden Patah sejak 1478 M , Pada 1479 setahun kemudian Pasukan Kadiri dibawah Sri Wilatikta Brahmaraja V menyerang Trowulan yang dikuasai Pasukan Islam Demak, Serangan Dilakukan melalui Sungai Brantas dengan Perahu sisa Angkatan Laut Majapahit dan juga Pasukan Trowulan yang lolos ke Kadiri, Nyo Lay Hwa berhasil di bunuh juga Arya Terung yang berhianat kepada Brawijaya.[Keraton Terung dihancurkan sekali rata tanah sekarang di sebut Pecah Tondo di Krian]
Tapi Trowulan keadaannya Hancur dan banyak yang sudah dijarah ke Demak seperti Pintu Keraton dll. Kenapa serangan ini berhasil? Demak tidak memiliki Angkatan Laut hanya mikir numpas didarat Strategi Para Wali dari Arab. Terbukti Sunan Bonang Ke Kadiri Jalan kaki tidak naik Perahu [Buku Tan koen Swi]. Juga Pasukan Portugis ikut ambil bagian dimana dengan bebasnya keliyaran di Sungai Brantas, bahkan menulis Tentang Majapahit yang masih ada di Kadiri. Demak Bintoro jauh dijawa Tengah membutuhkan waktu 20 hari untuk mencapai Trowulan, karena Trowulan sudah kondisi hancur Pasukan Kadiri pulang dan Trowulan hanya dipegang tokoh setempat Tan Bi Lau / Arya Beloh yang kini masih ada Pundennya di desa Beloh kebanyakan Penduduknya Kejawen, Saptodarmo.
Barulah 1503 Pasukan Demak berusaha menyerang Kadiri inipun membutuhkan 44 tahun untuk menguasai Kadiri karena sulitnya medan dan harus punya Angkatan Laut. Barulah setelah Pabrik Perahu di semarang diaktip kan dan selama 30 tahun akhirnya Demak memiliki Perahu, dan Raden Trenggono Putra Patah meneruskan Menaklukkan Kadiri 1522. Jadi ada sedikit Rancu antara Brawijaya dan Jayasabha VIII / Sri Wilatikta Brahmaraja V Raja Kadiri. Karena waktu itu keadaan perang dan Eksisnya Tentara Islam di pesisir Utara, dan dibunuhnya para Pujangga penulis Aksara Jawa maka penulisan fakum, Islam tidak butuh sejarah dan minim tulisan Jawa, karena sibuk menerapkan tulisan Arab/Qur'an, jadi mencari sumber harus kenegara Penulis seperti Portugis, Cina dll.
Juga islam tidak Pemuja Leluhur tapi langsung Allah. Rumah Nabi Muhamad di Arab dihancurkan dibolduser untuk Mal/Pusat Perbelanjaan karena Khawatir dikultuskan/Musrik. ini contoh lha wong Nabi nya saja dihilangkan Sejarahnya, apalagi Leluhur Jawa?
Untung Tan Koen Swie Cucu Tan Bi Lau Bupati Trowulan yang dibawah Majapahit Kadiri masih menulis Buku tentang Majapahit. Sri Wilatikta Brahmaraja akhirnya terdesak juga dan Rak'yat Utara Jawa sudah masuk islam Ujung Galuh dikuasai Sunan Ampel, akhirnya bersiasat nyamar jadi Cina, sedang yang berkulit agak hitam Resi, Brahmana dll disuruh menyelamatkan diri ke Bali, Karena Rajanya Masih Keturunan Majapahit,[sistem Bali masih tatacara Mpu Kuturan] jadi Banyak Bangsawan Lari ke Bali termasuk Resi Dwijendra Dahyang Wawu Rawoh Ring Bali.

Keluarga Brahmaraja menyusup ke Ujung Galuh, bila ada Kapal Cina mereka dilindungi dan sampai keturunannya mengaku Cina, bahkan Ngontrak rumah ke Orang Arab yang menguasai Pesisir Utara,terbukti didaerah Kapasan, Kembang Jepun, Kapasari Surabaya Milik orang Arab, Cina nya Ngontrak, Belakangan 1980 an, Orang Cina mulai membeli Rumah-Rumah milik Arab ini, Di Notaris Keluarga Arab ini sampai 20 Orang menandatangani jual beli.[Jangkwok 2009 minta restu membeli rumah orang arab yang disewa untuk gudang sejak lama]

Kehidupan Trah Brahmaraja
ini Contoh Ilmiah, Ketika Kerajaan Cing Memerintah Cina abad 17 dianjurkan Orang Cina untuk Memuja Leluhur cukup pakai Klenteng saja tidak perlu Candi karena bermotip Majapahit jadi membuat marah penduduk islam, (buktinya Candi Pura Majapahit Trowulan masa kini mau dihancurkan Karyono, dan akhirnya di tutup Camat/muspika. )
Trah Brahmaraja Masih Eksis sering Riuni/Kumpul tapi sudah di cap Cina Kelenteng muja Pek Kong.D an Tetap dianggap Asing, lha Arab nya ngaku Pribumi karena Agama islam Mayoritas, Bahkan 1966-2000 Kegiatan Klenteng dilarang Orde Baru sampai Barongsai pun dilarang, untung di Bali kalau Odalan Pakai Uang Kepeng Cina, ini membuktikan Cina Lebih dulu datang ketimbang arab, terbukti uang arab tidak ada, Galian di Kadiri, Trowulan, Jember, bahkan seluruh Nusantara banyak ditemukan Uang Kepeng/Gobok/Cina bahkan ada yang berumur 3000 tahun. Yang hebat Brahmaraja sampai detik ini masih muja Leluhur berupa Candi, biarpun dilarang, mau dihancurkan, bahkan di Bom, Candi di Puri Surya Majapahit Trowulan utuh, tapi tidak boleh diupacarai, lha akhirnya bikin lagi di Puri Gading Jimbaran agar tetap bisa Upacara.

Kembali Trah Brahmaraja, Mbah Gede Ngadri [Brahmaraja IX] Blitar Suami Mbah Putri Gading Ludoyo masih eksis beliau meninggal 1956 tinggal di Gebang Lor Blitar sebrang rumah Bu Wardoyo Kakak Bung Karno. 1983 RM. Tjokrohadiningrat dan Bapak Herman [1963 promosi mobil Mazda ke Bali] penjaga rumah Bung Karno mengakui kenal Mbah Gede yang disebut Mbah Nganten atau Banteng tuwo [PNI Banteng untung tewas 1956 coba hidup terus bisa di cap PKI] Hyang Suryo lahir di Rumah Mbah Gede Blitar dari Ibunya Soepinah istri II Suryo Hadiprodjo Putra tertua Mbah Gede Ngadri.
Istri Pertama di Jombang, Hyang Suryo banyak Kerabat di Jombang, dan karena ketidak tahuan masa lalu Maka Banyak Kiyai Jombang mengakui Saudara hingga Hyang Suryo Eksis dipedesaan dan bisa hidup berbaur didaerah Santri, Terbukti Gus Lukman Rektor Universitas Darul Ulum Jombang sering datang ke Pura Hyang Suryo bahkan Mahasiswa/wi nya sering Tumpengan, Era Rektor Gus Mudjib Kecak Pura Majapahit Trowulan unjuk kebolehan di UNDAR Waktu itu Damai dalam Seni Mempersatukan Umat th.1999[Sekarang Rektor UNDAR Gus Dur] Kyai Suhadak Katami Pondok Pesantren Moderen Jombang suka datang nyumbang Tumpeng, Umar Bin Alkatiri juga sering datang ngirim Gule, dan Kerowotan untuk Anjing Hyang Suryo, Karena menurut orang Arab ini seperti Umar, Anjing tidak diharamkan, :"Coba cari ayat Qur'an, Fikih-fikih tentang anjing haram, itu tidak ada" jadi aneh nya Islam Jawa mengharamkan anjing, padahal ada Orang Arab surabaya berkata kalau Anjing dibilang Haram, supaya Orang Jawa tidak pelihara anjing, agar rumahnya gampang di Malingi, buktinya Lurah Sapuan Trowulan motor nya hilang dicuri itupun dalam Kamar, karena tidaK PELIHARA ANJING.[anjing Pura Majapahit gonggong terus tapi malingnya dari arah barat tidak kelihatan dari Pura]
Tamu Ke Puro/Pura/Griyo/Rumah Hyang Suryo dari segala Golongan, Agama, suku sampai Turis Mancanegara, ini membuat Karyono iri, dan Ketua GP Ansor Koirul Huda yang juga Guru SMP Islam Trowulan Hyang Suryo dituduh Menghindukan Orang, Hingga Karyono dan Pasukan nya Menyerbu mau merobohkan Candi tapi gagal. Akhirnya Karyono memerintah Camat untuk menutup Pura, bahkan Orang Bali ada yang diseret keluar rumah ketika berkunjung. Jadi inilah Sejarahnya, RM. Tjokrohadiningrat [Putra Jendral pertama Indonesia OERIPSOEMOHARDJO, dipakai nama jalan di Surabaya] sangat dekat dengan Hyang Suryo sayang Beliau sudah Meninggal beberapa tahun yang lalu dan di SARE kan di Kuto Gede Jogjakarta, hingga Hyang Suryo pun dekat dengan Kerabat Jogja, Bahkan Hyang Suryo ketua IX Budaya Spiritual/Religi Asli Nusantara dengan SK Pfop. DR. RM Wisnuwardhana Suryadiningrat Jogja [untuk mengurusi kerabat Majapahit] Sedang Mbah Putri Gading Ludaya [Nenek Hyang Suryo] juga terkenal Putri Sakti yang melegenda di Blitar sebagai Putri yang bisa berubah Jadi Macan Gadungan bila berjungkir balik 3X dan Tongkat menjadi Ekornya [di Mengui Bali Pura di jaga macan banyak di Bali Patung Macan dua menjaga Pura] Beliau Trah Majapahit, bahkan Tongkat itu malah diwariskan Hyang Suryo, ada bukti Waktu Mbah Prayogining Jagat [masih dinas di Polda Jatim dengan nama Suprayogi SH] bersama gurunya melihat Tongkat lalu dlosor Sungkem Keraohan nangis Gero2 nyembah Hyang Suryo dan mengakui Junjungannya.[Hyang Suryo tidak berani jungkir balik dengan tongkat takut tulah/kuwalat, tongkat disakralkan dan diupacarai, sekarang di Puri Gading Diberi sesaji, di Odali] ini bisa ditanyakan Mbah Prayogi Sesepuh Polda Jatim masih Aktip. Juga Turunan Gajahmada dari Sumatra orangnya Tinggi besar menakutkan Ketika melihat Tongkat langsung Keraohan Roh Gajahmada,minta sirih dan marah-marah atas ditutupnya Pura.[saksinya banyak ada fotonya].
Juga Keris Naga Warisan BRAHMARAJA IX [Mbah Gede Ngadri] ketika di foto keluar Naga nya, foto awalnya tidak diketahui, barulah Wartawan Liberty Semar Soewito Mengundang Hyang Suryo Pameran Budaya Majapahit menyambut tahun Mistik 2000, meminta kalau ada foto kuno Hyang Suryo akan dimuat Majalah Liberty ketika melihat foto itu langsung Geblak keraohan sambil nuding-nuding foto, baru ketahuan Hyang suryo megang Keris belum dihunus tapi ada Naga Bermahkota keluar dari Keris memang berupa asap Dupa tapi bila diperhatikan berbentuk Naga pakai Mahkota, Pameran Budaya 2006 di Hotel Satelit menyongsong Mistik 2000.[ Om Hongci memegang sendiri Keris ditempelkan Neon, Neon nya hidup orangnya masih ada]Bahkan Keris Hyang Suryo yang nyuci tukang cuci Kerisnya Bung Karno di Pameran Mistik 2000, Inilah sebuah Cerita Aneh Tapi Nyata dan Foto Keris Keluar Naga ada di Puri Gading Jimbaran bisa disaksikan setiap saat [asalnya foto kecil kuno, kini diperbesar] jadi Bukti sebuah Keris ada Roh nya yang hanya Orang tertentu yang percaya, kalau kena Aliran Arab dibilang Musrik dan Arab tidak produksi Keris. Brahmaraja generasi IX Meninggal Dunia 1956, Didahului Bapak Hyang Suryo meninggal Mei 1956 Generasi X, Hyang Suryo Generasi XI, Satu-satu yang Ngelakoni dan Melestarikan dengan gigih Ular-Ular Kakek dan Orang Tuanya serta Leluhurnya. Satu-Satunya yang diandalkan Keluarga Besar Majapahit yang bisa melestarikan Adat, kebetulan masa kecilnya berada di Bali [1956] mempelajari Majapahit sebelum Hindu Lahir. Inilah sedikit Sejarah Brahmaraja, Saudara Mbah Gede Ngadri ada 12 Orang diantaranya Dalang Ruwatan Surakarta/Solo Mbah Koencoro bila Ngewayang Cakra Kresna dari Kulit dilempar bisa Nancap di Pendopo Orang-Orang disuru nyabut tidak bisa, lha dengan enak Beliau mencabut sendiri,[Terakhir mendalang di Pasuruan ditanggap Bupati Sutran] Dalang ini meninggal Dunia 1980 an. Salah satu Saudara Mbah Gede kalau tidak salah di Surabaya, tentu banyak keturunannya, tapi sudah hidup sendiri-sendiri dikota besar tentunya sangat minim pelajaran budayanya yang memang kurang disenangi Agama mayoritas. Ambil contoh Bung Karno Penggali Pancasila Pendiri R.I Pengikut nya di tumpas sampai akarnya, dan Mati dalam status tahanan R.I yang didirikan, ironis, Bahkan Ajaran nya dilarang Pemerintah Orba, Sampai Buku Tan Koen Swie pun dilarang,tapi semua itu tentu ada akhir nya. Ternyata Buku Ramalan Sabdopalon, Joyoboyo sangat Ampuh dan terbukti kebenarannya, biarpun Arab tidak percaya, malah di TV Orang arab ditangkap sebagai pendana Teroris, ironis.Kisah Nyata ini akan diungkap terus menerus agar generasi muda bangga pada Bangsanya, Tanah Airnya, Budayanya, Ilmunya dll milik Leluhur sendiri bukan import. Untung di Bali Tidak sempat dihancurkan Kerajaan Islam Demak, Bali lestari, hingga ada bukti duplikat Pelinggih Brahmaraja/Brahma Wisesa/Hyang Wisesa/Jayasaba ada di Besakih juga Permaisurinya [diceritakan di Blog lain] oleh GRP. Noko Prawiradipura.
Masih banyak dikumpulkan cerita dari saksi hidup, diantaranya Para Juru Kunci Makam Keramat daerah Ngadri masih Kenal Mbah Gede yang teman dekat Mbah Jugo, Mbah Gede adalah yang Mbabat desa Samben, dulu bersama Macunnaga Orang Jepang Mbah Gede nanam Sayur dan pohon Kapas untuk Export, Ketika Jepang masuk Pasukan Payungnya mendarat di Samben Utara Blitar,melihat tanaman sawi yang berhuruf jepang, kode Macun naga untuk pesawat Jepang, belanda tidak tahu, konsentrasi diarahkan ke Pelabuhan Tanjung Perak dikira Belanda Jepang datang pakai Kapal laut, ternyata mendarat di Selatan pakai Payung terjun dari pesawat, Ketika Jaman Jepang Macun naga sudah berseragam Militer Jepang, ternyata Beliau Pasukan Jepang Yang disusupkan dan menjadi sahabat Mbah Gede Kakeknya Hyang Suryo, belakangan Mbah Gede Kasir di Hotel Yamato yang di Mortir Soepriyadi Tentara PETA Blitar, Mbah Gede aman-aman saja hingga 1956 meninggal dengan tenang di Blitar. Putra Mbah Gede Pertama Bapak nya Hyang Suryo, Ada anak Perempuan di Kadiri Daerah Tan Koen Swie, ada Lagi di Surabaya !930 agen / Diler Mobil Pakar di Alun-Alun Tjontong, Hingga kini Turunan nya berkecimpung di Automotip Bahkan Cucu nya bersama Mr. Honda pernah ke Puri Gading Beliau Direktur Mobil Honda Jawa Timur dan Bali. Ada yang menetap di London kawin sama Orang Inggris, ada di Australi pilot Pesawat Tempur, dan Amerika. Keluarga besar Majapahit tersebar seluruh Dunia bukan Brahmaraja saja tentu Keluarga Lain yang dicatat masing-masing keluarga silsilahnya, ya kalau Arab tidak di catat silsilahnya kecuali Nabi Muhamad itu pun masa mudanya tidak jelas, Bahkan di Nanking ada Makam Muhammad, mangkanya Beliau memerintahkan Tuntutlah ilmu ke Negri Cina, mungkin beliau ikut Pamannya Berdagang Karpet ke Cina dan melihat Kehebatan Cina hingga menganjurkan Orang menuntut ilmu ke Cina [Hyang Suryo pun terpengaruh lalu pergi ke Cina] tapi Orang Jawa tidak memperhatikan malah cukup ke Arab naik haji, bahkan anti Cina karena Beda Agama,[1998 Orang Cina banyak dibunuh dan diperkosa] Untung Bali dengan Cina Rukun sebab kalau Orang Bali Odalan masih pakai Uang Leluhur dari Cina, memang kita satu Trah Bangsa Indocina dimana Fosil Pithecan Tropos erectus Homoneanderthalensis Trinil/Solo sama denan Peking/Beijing China Fakta Tak terbantahkan, sedang Leluhur Arab kan Lain? tidak makan beras [Maap ukuran Kemaluan saja beda Orang Arab sangat Panjang, sedang kita dengan Cina sama] Karena beda Agama satu turunan saling tumpas contoh: 1965 Orang yang tidak ke mesjit di cap PKI dan di bunuh sampai bayi nya, padahal saudara sendiri arab nya lalu menguasai Tanah Jawa subur makmur, negara nya Padang Pasir Kering, buktinya Teroris dibiayai Arab ditangkap Polisi [Siaran TV], Arab sedikit tapi punya Pasukan Orang jawa yang otak arab, contoh Karyono Orang Jawa Nyerbu, ngebom Pura Majapahit tempat Leluhur Orang Jawa dan Bali hingga Camat Trowulan yang Lulusan Unuversitas Airlangga ikut nutup ngelarang mengupacarai Leluhur sendiri, sampai Struk 3 tahun dirumah sakit dan tewas dikubur di Mojokerto Tanah Majapahit bukan Arab

http://purisuryamajapahit.blogspot.com/2009/09/sri-wilatikta-brahmaraja-v-raja-kadiri.html
Print PDF
Disbudpar(newsroom): Pesona Gunung Arjuna seakan tak pernah habis untuk dieksplorasi. Ya.. gunung api tua dan sudah tidak aktif ini menyimpan berbagai keindahan mulai dari wisata alam, budaya, hingga wisata arkeologi. Yang terakhir disebut merupakan salah satu pesona peninggalan budaya zaman kerajaan Majapahit.
Penemuan terbesar yang menandai eksplorasi pesona majapahit diawali pada Juni 1988. Secara berturut-turut, misteri lereng Arjuna mulai terungkap dengan ditemukannya bangunan persajian, batu perdupaan, bangunan berundak, arca batu, wadah batu dan gua pertapaan, yang diperkirakan dibuat pada 1400-an.
Hal ini ditunjukkan dengan angka tahun 1364 Saka atau 1442 Masehi yang terpahatkan di balok batu Candi Laras atau Candi Gambir di ketinggian kurang lebih 1400 m.dpl. (koordinat 7°45''53"S 112°35''26"E). Umumnya arca-arca yang tersebar di sekitar lereng hanya menggambarkan manusia biasa dan tidak mengikuti pedoman Ikonografi Hindu, dan tokoh-tokoh wayang tidak ditemukan di sini. Diperkirakan, peninggalan ini berasal dari jaman Majapahit, pada masa pemerintahan Prabu Sri Suhita (1429 - 1447),cucu dari Rajasanagara atau Bhre Hyang Wekasing Sukha Hayam Wuruk.
Untuk menyelamatkan penemuan ini, maka sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Kaliandra menggagas apa yang disebut MATA (Mount Arjuna Tourism Area). Kaliandra mengembangkan pariwisata yang bertanggung jawab (responsible tourism) di kawasan Arjuna. Gagasan ini muncul sebagai lanjutan dari aksi konservasi yang dilakukan Kaliandra bersama warga desa penyangga hutan Arjuna, khususnya di wilayah Kabupaten Pasuruan. Tahap awal pengembangan MATA menggandeng dukungan dari IUCN The Netherlands
Kini Kaliandra memiliki kepedulian dalam pengelolaan, terbukti sejumlah 20% dari keuntungan aktivitas wisata disisihkan untuk pelestarian kawasan; 20% digunakan untuk peningkatan kapasitas warga lokal. Sisanya digunakan untuk dana cadangan dan pembiayaan operasional demi menunjang keberlanjutan usaha.(mata)

Foto: embrio Studio

http://disbudpar.jatimprov.go.id/wisata-wana/eksplorasi-pesona-majapahit-di-kaki-arjuna

Untuk pertama kalinya sejak 500 tahun Keruntuhan Majapahit Pura Majapahit Pimpinan Hyang Suryo mengadakan Waisak di Candi Gayatri Bayalangu: Berita PAMOR JG Edisi 12 , 4 juli 2000. Liputan Khusus:
Meski hujan gerimis meliputi desa/kecamatan Boyolangu, Tulung Agung, tapi tidak membuat peserta do’a peringatan hari Waisak, Kamis 18/5, lalu mengurungkan niatnya. Bahkan pesertanya bertambah semangat dan acara ini bukan diikuti oleh penganut agama Hindu/Budha yang berada di Tulung Agung saja namun juga beberapa kota di jatim dan pulau Bali, Ketika mencapai puncak acara yang disebut dengan Ritual, Roh Dewi Gayatri dan Roh Gajah Mada datang ditempat itu. Para pengnut agama tersebut mengaku merasa puas, sebab meski berbagai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan yang maha esa diundang ternyata semua datang di Candi Gayatri. Dengan demikian Do’a bersama Waisak itu untuk mwmulai acaranya do’anya bukan hanya disampaikan oleh agama Budha saja tetaoi berbagai agama lain juga menyampaikan. Mereka kelihatan menyatu dalam tujuan Pancasila. Hujan menurut mereka merupakan berkah. sehingga meski ditengah-tengah lokasi acaranya diguyur hujan namun mereka tetap saja duduk bersila ditempatnya masing-masing.

“Hujan bukan merupakan hambatan, tapi merupakan Berkah, adanya hujan pertanda do’a bersama peringatan Waisak terkabul niatnya.” ujar Eyang Suryo, Ketua Pura Majapahit Pusat Trowulan kepada Pamor JG. Upacara Waisak di Candi Gayatri yang dinamai oleh penganut Budha sebagai Pura Majapahit Jenggala di Tulung Agung berlangsung cukup sakral. Sambutan acara dibacakan Fransiska Tanuwijaya selaku ketua Panitia merangkap sebagai Ketua Parisada Hindu Kabupaten Tulungagung dan dipandu oleh Eyang Suryo yang dikenal juga sebagai Pendita Majapahit Hyang Wilwatikta Pusat Trowulan. selanjutnya diisi dengan acara diantaranya, Do’a masing-masing agama, Pemotongan Tumpeng, acara Ritual dan acara hiburan Jaranan Majapahit Jaya dari Trowulan Mojokerto.

Dalam acara yang cukup sakral dan mengadung mistis ini, diantaranya dihadiri oleh M. Djoko Soemono Soemodisastro [Ketua Dewan Daerah Badan Koordinasi Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa / BKOK , Jawa Timur], Eyang Soeryo [Ketua Pura Majapahit Pusat Trowulan], Wasito [Ketua PDIP Tulungagung], Lukman djuhara (Ketu YPS Poerbojagat Tulungagung), Sudiro Utomo [ Ketua Kep. Perjalanan Tulungagung], Soegito [Ketua Jawa Dwipa Trenggalek], Ki Moebadi [Ketua Hardo Poesoro], Soemali BBA [Ketua Sumarah], Ema Koesmdi [ Pangestu], Hong Tjie [Pengurus Klenteng Boen Bio], Giyatno [LDII Boyolangu] Bukan hanya peserta dari wilayah Jawa Timur saja namun acara sakral Waisak juga dihadiri dari Bali Rombongan dari Pulau Dewata dipimpin Anak Agung Ngurah Darmaputra [Kepala rumah tangga dan Kepala bidang Hukum Pura Majapahit Bali], AA Putra dan juga PHDI pusat Jakarta.

ROH DEWI GAYATRI DAN GAJAHMADA datang: Diiringi do’a-do’a dan bau dupamenyengat hidung acara Ritual yang bertepatan hari Kamis, Malam jum’at Kliwon di bulan Purnama acara berlangsung cukup sakral. Ritual dimulai pukul 20.00 WIB, peserta duduk bersila ditikar mengelilingi Candi Gayatri. Peserta diam dengan suasana hening, dan yang terdengar hanya doa-doa mantra. Dalam suasana malam yang dingin acara selanjutnya pemanggilan Arwah para Leluhur. Bertepatan dengan acara tersebut sekitar pukul 21.00 WIB, secara tiba-tiba ada dua peserta kesurupan/keraohan. Mereka kemasukan Roh Dewi Gayari dan Roh Gajahmada, yakni Dewi Gayatri datang dengan meminjam raga dari Dyah Swastika Wisnuwardani, putri Ketua PDIP Tulungagung Wasito. dan Mahapatih Majapahit Gajah Mada datang dengan meminjam raga Mananda dari Bali. Dengan kedatangan Roh Leluhur itu tempat tersebut bukan hening lagi namun menjadi sebaliknya Para peserta beramai ramai menuju kedua orng yang mengalami Keraohan [Darmaputra menanyai Gajah Mada yang menyatakan gembira atas upacara ini dan teruslah galang persatuan] sedang Leluhur Gayatri menangis berkata Hauuus, hauuus [memang selama 500 tahun baru pertama kali diupacarai jadi tidak perna disuguh air, canang dll] Adanya pemandangan yang ganjil yang keraohan/kesurupan dan dibarengi gerakan yang meronta ronta dan berkata haus ini, para peserta sempat kawatir, Namun dengan cekatan Eyang Suryo tangannya menggandeng keduanya menuju depan arca Dewi Gayatri sambil mulutnya komat kamit membacakan doa doa dan tangannya mengambil air suci dan di percik-percikan ketubuh kedua orang yang keraohan tersebut, tidak seberapa lama keduanya sadar, Dengan kedatangan Roh Leluhur itu menandakan bahwa doa-doa Waisak dapat diterima Leluhur.

Kami cukup gembira ternyata berlangsungnya acara tidak sia-sia ujar Fransiska Tanuwijaya, Ketua Parisada Hindu Tulungagung yang juga Ketua Panitia didampingi suaminya Gauw Kay Fat, Penyungsung Pura Majapahit Trowulan. Sementara itu peserta dan masyarakat sekitar yang ikut menghadiri itu menuturkan bahwa sebelum kedua orang itu keraohan ada tanda-tandanya , Berupa ada sinar warna Putih bercampur Biru dari langit yang turun kebawah menuju kearah kedua orng yang keraohan/kapeselang. “Ternyata , sinar itu setelah menghilang keduanya berlaku aneh layaknya orang kesurupan,” ujar Winardi warga setempat yang diakui juga oleh peserta yang hadir ditempat itu. Setelah acara ritual berakhir, acara selanjutnya berupa hiburan, yaitu, para peserta dan masyarakat setempat dihibur dengan kesenian tradisional berupa Jaranan campursari”Majapahit Jaya” Seperangkat gamelan yang sudah disiapkan ditabuh dengan rancak dan para penari jaranan keluar menuju arena sambil meliuk-liukan badannya seirama gamelan yang mengiringinya. Acara ini mendapat sambutan meriah penonton, sebab penari dan penabuh gamelan melakukan tugasnya dengan cukup serasi Dengan Dupa yang selalu dibakarnya keluarlah asap yang berbau menyengat menambah hidup kesenian itu. Lebih lebih ketika penari kuda lumping itu kesurupan/keraohan, maka penonton bersorak-sorak gembira, anehnya, yang kesurupan ini tidak sadarkan diri meski kupingnya dibisiki dengan doa-doa.

Namun setelah oleh Eyang Suryo yang kesurupan dibawa kedepan patung Dewi Gayatri[kepalanya hilang dan candinya hancur] dan diperciki dengan air suci dan doa-doa maka mereka langsung sadarka diri. Ketua panitia acara Waisak Fransiska Tanuwijaya mengatakan acara Waisak berlangsung hingga pukul 21.30 WIB. meski lokasi diguyur hujan, namun para peserta tidak ada yang meninggalkan tempat duduknya, selain itu meski mereka kehujanan, ternyata dari para peserta tidak ada yang jatuh sakit, ini merupakan kejadian yang aneh tapi nyata, tambahnya. [Bondan]. ditambahkan bahwa memang acara ini baru pertamakalinya, kebetulan reformasi. Eyang Suryo untuk bisa upacara harus ngurus ijin ke Jakarta dengan lisensi Dinas Purbakala Trowulan. Karena sangat sulit bisa upacara di Candi milik Purbakala. Jadi suatu keajaiban acara ini bisa sukses karena keadaan Negara sibuk reformasi’. belakangan awal 2009 Puri Surya Majapahit Jimbaran dapat copy Sloka Negarakertagama, ternyata Candi Boyolangu ini tercantum sebagai Paramithapuri. jadi sangat beruntung yang bisa hadir acara ini, sekarang keadaan tenang jangan mimpi bisa upacara di Candi Asli Majapahit. ijinnya sangat sulit.

Pada Kirap Suro 2008 bisa minjam Batu Surya Majapahit itu sudah untung, meminjam Candi sulit, biarpun Kepala Purbakala Trowulan orang Bali dan Mentri Budpar Jero Wacik. Waktu itu memang Eyang Suryo dapat Surat Keterangan dari Dinas Purbakala Trowulan sudah ngurus ijin ke Jakarta, padahal tidak keburu karena Waisak kurang 5 hari dan untungnya PDIP, DPRD Tulungagung dukung, jadi Bondo Nekat acara Waisak malah didatangi semua umat Agama, Kepercayaan yang lagi mimpi bisa upacara di Leluhur Majapahit, Akibat perjuangan bikin Upacara Leluhur harus dibayar mahal, yaitu Pura Majapahit Trowulan ditutup Muspika[kena SKB] tapi semua ini perjuangan hingga bisanya Leluhur Gayatri di Candikan di Puri Surya Majapahit yang akan di Plaspas, Ngenteg linggih, berbarengan Odalan Pura Ibu Majapahit Jimbaran 9-9-’09 nanti. Sesuai Negarakertagama yang baru dapat copy nya awal 2009, disana tercantum Raja Hayam Wuruk pun menghormat Ibu dengan membuat upacara Srada dan membuat Candi Boyolangu yang secara tak sengaja Eyang Suryo berhasil meng Upacarai pada Waisak 2000. dan nanti 9-9-2009 di Puri Gading Jimbaran. Semoga Leluhur Paramithapuri berkenan Memberikan Kejayaan kepada Narendra utama dan pengikutnya selama Surya dan Bulan bersinar [Negarakertagama].

http://iyeng.dagdigdug.com/index.php/2009/09/04/waisak-pura-majapahit-trowulan/
 

Copyright 2010 Kejawen New religion in New World.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.