04 April, 2008

PAMBUKO REMBUG
Kejawen adalah agama yang menyelaraskan pemurnian diri dengan kedekatan alam sebagai kunci hubungan yang suci.Dalam Kejawen sebagai religion(agama) yang suci sudah banyak terpengaruh dengan agama Timur tengan yang masuk ke Indonesia maka Agama Kejawen perlu di hidupkan kembali sebagai pemurnian jati diri Indonesia yang mengacu pada wawasan Nusantara, wawasan Gajah Mada yang menyatukan sebagian Asia Tenggara.Agama kejawen pada awalnya tidak ada Aliran Islam Kejawen namun dalam perjalanan karena tidak ada panduan tertulis(karena belum mengenal budaya menulis di Nusantara) maka banyak sekali penyimpangan.


Ilmu Gaib
Sebelum membahas Ilmu Gaib Aliran Islam Kejawen, kita akan memperjelas dulu pengertian Ilmu Gaib yang kita pakai sebagai istilah di sini. Ilmu Gaib adalah kemampuan melakukan sesuatu yang tidak wajar melebihi kemampuan manusia biasa, sering juga disebut sebagai Ilmu Metafisika, Ilmu Supranatural atau Ilmu Kebatinan karena menyangkut hal-hal yang tidak nampak oleh mata. Beberapakalangan menganggap Ilmu Gaib sebagai hal yang sakral, keramat dan terlalu memuliakan orang yang memilikinya, bahkan menganggap wali atau orang suci.
Perlu saya terangkan, bahwa keajaiban atau karomah yang ada pada Wali (orang suci kekasih Tuhan) tidak sama dengan Ilmu Gaib yang sedang kita pelajari. Wali tidak pernah mengharap mempunyai keajaiban tersebut. Karomah itu datang atas kehendak Allah karena mereka adalah orang yang sangat saleh dan rendah hati. Sementara kita adalah orang yang meminta kepada Allah agar melimpahakankekuasaan-Nya untuk keperluan kita.
Dalam hasanah perkembangan Ilmu Gaib di Indonesia, kita mengenal dua aliran utama yaitu Aliran Hikmah dan Aliran Kejawen. Aliran Hikmah berkembang di kalangan pesantren dengan ciri khas doa/mantra yang murni berbahasa Arab (kebanyakan bersumber dari Al-Quran).Sedangkan aliran Kejawen yang ada sekarang sebetulnya sudah tidak murni kejawen lagi, melainkan sudah bercampur dengan tradisi islam. Mantranya pun kebanyakan diawali dengan basmalah kemudian dilanjutkan dengan mantra jawa. Oleh kerena itu, saya menyebutnya Ilmu Gaib Aliran Islam Kejawen.
Aliran Islam Kejawen
Ilmu Gaib Aliran Islam Kejawen bersumber dari alkulturasi (penggabungan) budaya jawa dan nilai-nilai agama islam. Ciri khas aliran ini adalah doa-doa yang diawali basmalah dan dilanjutkan kalimat bahasa jawa, kemudian diakhiri dengan dua kalimat sahadad. Aliran Islam Jawa tumbuh syubur di desa-desa yang kental dengankegiatan keagamaan (pesantren yang masih tradisional).
Awal mula aliran ini adalah budaya masyarakat jawa sebelum islam datang yang memang menyukai kegiatan mistik dan melakukan ritual untuk mendapatkan kemampuan suparantural. Para pengembang ajaran islam di Pulau Jawa (Wali Songo) tidak menolak tradisi jawa tersebut, melainkan memanfaatkannya sebagi senjata dakwah.
Para Wali menyusun ilmu-ilmu Gaib dengan tatacara lelaku yang lebih islami, misalnya puasa, wirid mantra bahasa campuran arab-jawa yang intinya adalah do’a kepada Allah. Mungkin alasan mengapa tidak disusun mantra yang seluruhnya berbahasa Arab adalah agar orang jawa tidak merasa asing dengan ajaran-ajaran yang baru mereka kenal.
Di Indonesia, khususnya orang jawa, pasti mengenal Sunan Kali Jaga (Raden Said). Beliau inilah yang paling banyak mewarnai paham islam-kejawen yang dianut orang-orang jawa saat ini. Sunan Kali jaga menjadikan kesenian dan budaya sebagai kendaraan dakwahnya. Salah satu kendaran Sunan Kali Jaga dalam penyebaran ajarannya adalah melalu tembang / kidung. Kidung-kidung yang diciptakannya mengandung ajaran ketuhanan dan tasawuf yang sangat berharga. Ajaran islam yangluwes dan menerima berbagai perbedaan.
Bahkan Sunan Kali Jaga juga menciptakan satu kidung “Rumeksa Ing Wengi” yang menurut saya bisa disebut sebagai Ilmu Gaib atau Ilmu Supranatural, karena ternyata orang yang mengamalkan kidung ini memiliki berbagai kemampuan supranatural.
Konsep Aliran Islam Kejawen
Setiap perilaku manusia akan menimbulkan bekas pada jiwa maupun badan seseorang. Perilaku-perilaku tertentu yang khas akan menimbulkan bekas yang sangat dasyat sehingga seseorang bisa melakukan sesuatu yang melebihi kemampuan manusia biasa. Perilaku tertentu ini disebut dengan tirakat, ritual, atau olah rohani.Tirakat bisa diartikan sebagai syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan suatu ilmu. Penabungan Energi. Karena setiap perilaku akan menimbulkan bekas pada seseorang maka ada suatu konsep yang khas dari ilmu Gaib Aliran Islam Jawa yaitu Penabungan Energi. Jika badan fisik anda memerlukan pengisian 3 kali sehari melalui makan agar anda tetap bisa beraktivitas dengan baik, begitu juga untuk memperoleh kekuatan supranatural, Anda perlu mengisi energi. Hanya saja dalam Ilmu Gaib pengisian energi cukupdilakukan satu kali untuk seumur hidup. Penabungan energi ini dapat dilakukan dengan cara bermacam-macam tergantung jenis ilmu yang ingin dikuasai. Cara-cara penabunganenergi lazim disebut Tirakat. Tirakat. Aliran Islam Kejawen mengenal tirakat (syarat mendapatkan ilmu) yang kadang dianggap kontroversial oleh kalangan tertentu. Tirakat tersebut bisa berupa bacaan doa. wirid tertentu, mantra, pantangan, puasa atau penggabungan dari kelima unsur tersebut. Ada puasa yang disebut patigeni (tidak makan, minum, tidur dan tidak boleh kena cahaya), nglowong, ngebleng dan lain-lain. Biasanya beratnya tirakat sesuai dengan tingkat kesaktian suatu ilmu. Seseorang harus banyak melakukan kebajikan dan menjaga bersihnya hati ketika sedang melakukan tirakat. Khodam. Setiap Ilmu Gaib memiliki khodam. Khodam adalah mahluk ghaib yang menjadi “roh” suatu ilmu. Khodam itu akan selalu mengikuti pemilik ilmu. Khodam disebut juga Qorin, ialah mahluk ghaib yang tidak berjenis kelamin artinya bukan pria dan bukan wanita, tapi juga bukan banci. Dia memang diciptakan semacam itu oleh Allah dan diajuga tidak berhasrat kepada manusia. Hal ini berbeda dengan Jin yang selain berhasrat kepada kaum jin sendiri kadang juga ada yang “suka” pada manusia.
Macam-macam Ilmu Aliran Islam Kejawen
Berikut adalah klasifikasi ilmu gaib berdasarkan fungsinya menurut saya. Mungkin orang lain membuat klasifikasi yang berbeda dengan klasifikasi menurut saya. Hal tersebut bukan masalah karena memang tidak ada rumusan baku tentang klasifikasi ilmu Gaib.
1. Ilmu kanuragan.
Ilmu kanuragan adalah ilmu yang berfungsi untuk bela diri secara supranatural. Ilmu ini mencakup kemampuan bertahan (kebal) terhadap serangan dan kemampuan untuk menyerang dengan kekuatan yang luar biasa. Contohnya ilmu Asma’ Malaikat, Hizib Kekuatan Batin, Sahadad Pamungkas dll.
2. Ilmu Kawibawaan dan Ilmu Pengasihan
Inilah ilmu supranatural yang fungsinya mempengaruhi kejiwaan dan perasaan orang lain. lmu Kewibaan dimanfaatkan untuk menambah daya kepemimpinan dan menguatkan kata-kata yang diucapkan. Orang yang menguasai Ilmu Kewibawaan dengan sempurna akan disegani masyarakat dan tidak satupun orang yang mampu melawan perintahnya apalagi berdebat. Bisa dikatakan bila Anda memiliki ilmu ini Anda akan mudah mempengaruhi dan membuat orang lain nurut perintah Anda tanpaberpikir panjang.Sedangkan Ilmu Pengasihan atau ilmu pelet adalah ilmu yang berkaitan dengan masalah cinta, yakni membuat hati seseorang yang Anda tuju menjadi simpati dan sayang. Ilmu ini banyak dimanfaatkan pemuda untuk membuat pujaan hati jatuh cinta padanya.Ilmu ini juga dapat dimanfaatkan untuk membuat lawan yang berhati keras menjadi kawan yang mudah diajak berunding dan memulangkan orang yang minggat.
3. Ilmu Trawangan dan Ngrogosukmo
Jika Anda ingin tahu banyak hal dan bisa melihat kemana-mana tanpa keluar rumah, maka kuasailah ilmu trawangan. Ilmu trawangan berfungsi untuk menajamkan mata batin hingga dapat menangkap isyarat yang halus, melihat jarak jauh, tembus pandang dan lain-lain.Sedangkan Ilmu Ngrogosukmo adalah kelanjutan dari Ilmu Trawagan.Dalam ilmu trawangan hanya mata batin saja yang berkeliaran kemana-mana, sedangkan jika sudah menguasai ilmu ngrogosukmo seseorang bisa melepaskan roh untuk melakukan perjalanan kemanapun dia mau. Baik Ilmu Trawangan maupaun Ngrogosukmo adalah ilmu yang tergolong sulit dipelajari karena membutuhkan keteguhan dan kebersihan hati.Biasanya hanya dikuasi oleh orang yang sudah tua dan sudah tenang jiwanya.
4. Ilmu Khodam
Seseorang disebut menguasai ilmu khodam bila orang yang tersebut bisa berkomunikasi secara aktif dengan khodam yang dimiliki. Khodam adalah makhluk pendamping yang selalu mengikuti tuannya dan bersedia melakukan perintah-perintah tuannya. Khodam sesungguhnya berbeda dengan Jin / Setan, meskipun sama-sama berbadan ghaib. Khodam tidak bernafsu dan tidak berjenis kelamin.
5. Ilmu Permainan (Atraksi)
Ada ilmu supranatural yang hanya bisa digunakan untuk pertunjukan di panggung. Sepintas ilmu ini mirip dengan ilmu kanuragan karena bisa memperlihatkan kekebalan tubuh terhadap benda tajam, minyak panas dan air keras. Namun ilmu ini tidak bisa digunakan untuk bertarung pada keadaan sesungguhnya. Contoh yang sering kita lihat adalah ilmunya para pemain Debus.
6. Ilmu Kesehatan
Masuk dalam kelompok ini adalah ilmu gurah (membersihkan saluran pernafasan), Ilmu-ilmu pengobatan, ilmu kuat seks, dan ilmu-ilmu supranatural lain yang berhubungan dengan fungsi bilologis tubuh manusia.
Tiga Cara Penurunan Ilmu Ghaib
Ada tiga hal yang menyebabkan seseorang memiliki kemampuansupranatural. Yaitu: Menjalankan Tirakat. Tirakat adalah bentuk olah rohani khas jawa yang tujuannya untuk memperoleh energi supranatural atau tercapainya suatu keinginan.Tirakat tersebut bisa berupa bacaan doa, mantra, pantangan, puasa atau gabungan dari kelima unsur tersebut. Inilah yang disebut belajar ilmu gaib sesungguhnya, karena berhasi atau tidaknya murid menjalankan tirakat hingga menguasai ilmu, tergantung sepenuhnya pada dirinya sendiri. Dalam hal ini guru hanya memberi bimbingan. Pengisian. Seseorang yang tidak mau susah payah juga bisa mempunyai kemampuan supranatural, yaitu dengan cara pengisian. Pengisian adalah pemindahan energi supranatural dari Guru kepada Murid. Dengan begitu murid langsung memiliki kemampuan sama seperti gurunya. Pengisian (transfer ilmu) hanya bisa dilakukan oleh Guru yang sudah mencapai tingkatan spiritual yang tinggi. Warisan Keturunan. Seseorang bisa mewarisi ilmu kakek-buyutnya yang tidak ia kenal atau ilmu orang yang tidak dikenal secara otomatis tanpa belajar dan tanpa sepengetahuannya. Maka ada yang menyebutnya “ilmu tiban” yang artinya datang tanpa disangka-sangka.
Mitos Tentang Efek Samping
Beberapa orang masih menyakini bahwa pemilik Ilmu Gaib akan mengalami kesulitan hidup dan mati, susah dapat rezeki, bisa sakit jiwa (gila), menderita saat akan mati dll. Saya membantah mentah- mentah argument tersebut. Bukankah masalah rizqi dan nasib adalah Allah SWT yang menentukan.
Memang ada banyak pemilik ilmu gaib adalah orang yang tak punya uang alias miskin, tapi saya yakin itu bukan disebabkan oleh ilmunya, melainkan karena dia malas bekerja dan bodoh. Kebanyakan orang yang memiliki ilmu gaib menjadi sombong dan malas bekerja, hanya mengharapkan orang datang meminta pertolongannya lalu menyelipkan beberapa lembar rupiah ketika bersalaman. Jadi bukan karena Ilmunya.
Sebetulnya baik buruk efek Ilmu Gaib tergantung pemiliknya. Bisa saja Allah menghukum dengan cara menyulitkan rezeki, menyiksa saat datangnya ajal atau hukuman lain karena orang tersebut sombong dan suka menindas orang lain dengan ilmunya, bukankah kita selalu dalam kekuasaan Allah.( Dari berbagai sumber ).

By: Sastravardana - Spiritofchi
SHARETHIS.addEntry({
title: "Aliran Ilmu Gaib yang Berkembang di Indonesia",
url: "http://blog.wer1family.com/spirituality-esoteric-metaphysical/aliran-ilmu-gaib-yang-berkembang-di-indonesia"
});
Perkembangan dan pemikiran dalam aliran-aliran kebatinan :dengan mengacu pada studi agama baru Jepang
penulis : ISHIZAWA Takeshi

(Kemarin saya mengatur isinya hard disk, ketemu makalah lama.
Ini 7 tahun lalu saya tulis sebagai ikhtisaar tesis MA.
Saya malu tidak maju penelitian saya sesudah itu.)(Minggu, 17 Desember 2000)

Ikhtisar tesis untuk mendapatkan gelar S II di Universitas Tokyo Program Pasca Sarjana Jurusan Studi Wilayah nomor mahasiswa:16302ISHIZAWA Takeshi
Tema tesis ini adalah perkembangan dan pemikiran dalam aliran-aliran kebatinan.
Dan tujuan tesis ini adalah, mendalami pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan Indonesia pada zaman sekarang dengan melalui studi aliran-aliran kebatinan.
Tesis ini terdiri dari 4 bab sebagai berikut:
Bab 1: metodologi dan titik tolak permasalahan.
Bab 2; kebangkitkan dan perkembangan aliran-aliran kebatinan�basis dan sebab.
Bab 3: Pemikiran dan praktek aliran kebatinan �dengan mengambil contoh Sapta Darma. Bab 4: aliran-aliran kebatinan pada masa sekarang.

Dalam bab 1, pertama-tama, ditetapkan obyek penelitian. Kepercayaan dan praktek kebatinan kejawen sudah lama hidup di Jawa. Tetapi, timbulnya aliran-aliran kebatinan sebagai suatu sistem terorganisasi adalah fenomena yang baru. Di lain pihak, zaman yang menjadi obyek tesis ini zaman modern, karena itu hal yang diteliti bukan kepercayaan kejawen pada umumnya di Jawa, tetapi aliran-aliran kebatinan atau kepercayaan yang telah terorganisasi. Sebagai pendekatan, tesis ini menggunakan hasil-hasil studi agama baru Jepang. Mengingat adanya hubungan dengan masalah bagaimana menilai sifat Islam dalam masyarakat dan kebudayaan Jawa. Cliford Geertz menitikberatkan sifat non-Islam yaitu sifat Hindu, Budha, dan animisme masyarakat dan kebudayaan Jawa. Tetapi baru-baru ini, Geertz dikritik, oleh misalnya Mark Woodward dan Nakamura Mitsuo, yang mengatakan bahwa masyarakat dan kebudayaan Jawa, pada dasarnya, adalah masyarakat dan kebudayaan Islam. Para kritikus mengritik bahwa Geertz mempunyai konsep Islam yang picik dari reformis Islam. Penulis sependapat dengan para kritikus Geertz. Tetapi kalau penulis menerima pendapat para kritikus tersebut, aliran-aliran kebatinan cenderung dilihat sebagai Islam yang sesat, dan sifat khas aliran-aliran kebatinan diabaikan. Bagaimana mengatasi dilema ini?
Menurut hasil-hasil studi agama baru Jepang, apabila agama baru dapat berdiri sendiri, secara organisasi dan ajaran, dari agama yang telah terbentuk sejak lama, agama baru ini dinilai sebagai sebuah agama yang berdiri sendiri. Dan pada ajaran agama tersebut perlu terbentuk / adanya suatu konsep penyelamatan. Dalam studi agama-agama baru Jepang, dapat dilihat suatu konsep penyelamatan yang khas di dalam agama-agama baru Jepang, yang disebut dengan istilah, "konsep penyelamatan hidup-isme". Sifat khas "konsep penyelamatan hidup-isme" ini mementingkan penyelamatan di dunia ini. Sebaliknya bagi konsep penyelamatan agama yang telah terbentuk sejak lama, misalnya Islam, Budha, dan Kristen, penyelamatan diberi di akhirat. Penulis menggunakan metode studi agama baru Jepang ini untuk mengfahami sifat khas aliran-aliran kebatinan. Lagipula, hasil-hasil studi agama baru Jepang banyak sekali, dan konsep serta istilah untuk analisa cukup sempurna. Hal itu adalah karena agama-agama baru Jepang memulai berkembang sejak akhir zaman Edo sampai sekarang, di Jepang ada ribuan agama-agama baru, dengan pengikut kira-kira 10 sampai 20 % dari penduduk orang Jepang. Aliran-aliran kebatinan tidak dilihat sebagai agama di Indonesia, tetapi kalau di Jepang akan dilihat sebagai agama. Dari sudut ilmu pengetahuan, bukan sudut administrasi, aliran-aliran kebatinan perlu diteliti sebagai agama.

Dalam bab 2, pertama-tama dijel askan secara singkat sejarah perkembang Islam di Indonesia dan peranannya dalam gerakan Kemerdekaan. Dalam hal ini, penulis mememfokuskan pada kritik terhadap sinkretisme Jawa oleh reformis Islam. Kemudian, proses kebangkitkan dan perkembangan aliran-aliran kebatinan dari gerakan Samin sampai terjadinya "Orde Baru" dan pembersihan diantara aliran-aliran yang berinfiltrasi PKI. Menurut inventaris yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Departmen P dan K, penulis menduga aliran-aliran kebatinan mulai berkembang sejak 1930-an dan timbul serentak dan secara tiba-tiba sejak Kemerdekaan.Selanjutnya, dijelaskan secara singkat kepercayaan dan praktek kebatinan kejawen sebagai basis atau sumber aliran-aliran kebatinan. Misalnya semadi, perdukunan dan jiarah, dan lain-lain. Agama-agama baru Jepang juga mempunyai basis atau sumber yang sinkretik seperti itu, misalnya kelompok untuk jiarah ke candi yang terkenal dan gunung yang suci, perdukunan. Kemudian, penulis meneliti hal-hal yang menjadi sebab perkembangan aliran-aliran kebatinan. Perkembangan itu mengikuti gerakan Kemerdekaan. Dan pada waktu itu, reformis Islam, misalnya Muhamadiyah, juga berkembang. Mereka mengritik kuat sinkretisme Jawa, sehingga terjadi proses purifikasi Islam maju. Tetapi orang-orang yang melaksanakan kepercayaan dan praktek kebatinan kejawen dikritik oleh reformis Islam, sehingga mereka melawan reformis Islam dengan mengorganisasikan diri sendiri dan mensistematisasikan kepercayaan dan praktek sendiri. Dengan demikian, aliran-aliran kebatinan mulai timbul. Setelah Kemerdekaan pun, penentangan orang kejawen terhadap reformis Islam berlanjut, baik dalam aspek kepercayaan maupun dalam aspek politik, bahkan lebih hebat. Oleh Karena itu aliran-aliran kebatinan berkembang lebih hebat. Dengan demikian sebab perkembangan aliran-aliran kebatinan, dari sudut agama, adalah serangan reformis Islam kepada orang kejawen sinkretisme.Bersamaan dengan itu, pada zaman modern Indonesia, masyarakat, kubudayaan, dan moral yang kuno dalam keadaan kacau. Pemikiran-pemikiran baru, nasionalisme, komunisme, dan Islam modern, masuk ke Jawa. Sehingga orang Jawa perlu mencari identitas yang sesuai dengan zaman ini, dari warisan kebudayaan mereka. Itulah sebab perkembangan aliran-aliran kebatinan, yang dilihat dari sudut masyarakat.
Dalam bab 3, diteliti pemikiran dan praktek aliran kebatinan, dengan mengambil contoh Sapta Darma. Alasan Sapta Darma diambil sebagai contoh adalah aliran ini mempunyai pungikut banyak dari kalangan rakyat biasa yaitu buruh dan petani, tidak seperti Pangestu, Sumarah dan lain-lain, yang aliran-aliran itu mumiliki pengikut terutama dari klas menengah. Sapta Darma lebih mirip dengan agama-agama baru Jepang. Pertama-tama, dijelaskan secara singkat ajaran dan praktek Sapta Darma. Kemudian, ajaran dan prakteknya dibandingkan dengan "konsep penyelamatan hidup-isme" agama-agama baru Jepang. Dalam ajaran Sapta Darma, hidup-isme tidak ditemukan. Dalam ajaran agama-agama baru Jepang, tuhan adalah hidup, semua mahluk mempunyai hidup yang saling berhubungan. Tetapi konsep tuhan Sapta Darma terlalu sederhana dan abstrak. "Konsepsi penyelamatan hidup-isme" mementingkan penyelamatan di dunia ini. Dalam hal ini, Sapta Darma sama dengan "Konsep penyelamatan hidup-isme". Dalam konsep penyelamatan Sapta Darma, pengikutnya mendapat penyelamatan di dunia ini. Sapta Darma sebetulnya mengabaikan konsep akhirat dan penyelamatan yang diberikan di akhirat. Dipentingkan daya mengobati sakit dan budi luhur yang didapat dengan etika dan moral sehari-hari. Hal itu juga sama dengan agama-agama baru Jepang.

Dalam bab 4, pertama-tama, dijelaskan secara singkat proses diakuinya kedudukan legal aliran kebatinan dalam "Orde baru" oleh pemerintah. Pada tahun 1973, Sidang Umum MPR menetapkan GBHN. Dalam GBHN ini, termasuk bagian yang mengakui kedudukan aliran-aliran kebatinan. Selanjutnya, di Sidang Umum MPR 1978, meskipun ada perlawanan dari PPP, kedudukan legal aliran-aliran kebatinan diakui kembali.Dalam pidato kenegaraan tgl.16 Agustus 1978,
Presiden mengatakan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam kenyataannya memang merupakan bagian dari kebudayaan nasional Bangsa Indonesia. Dalam GBHN 1983 pun, ditulis bahwa perikehidupan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah selaras dengan penghayatan dan pengamalan Pancasila. Mengapa aliran-aliran kebatinan mulai diakui dan dibina seperti itu oleh pemerintah? Penulis menduga bahwa pembinaan terhadap aliran-aliran kebatinan sebagai pengekangan terhadap kelompok Islam. Bagi Presiden, setelah PKI dihapuskan, lawan politiknya adalah kelompok Islam saja. Setelah PPP menerima Pancasila pada tahun 1984, PPP tidak menjadi lawan terhadap Presiden. Pada saat ini, Presiden berusaha menjaga keseimbangan.
Misalnya dengan mengakui kelompok inteligensia Islam yang dikutuai oleh Ir.Habibi, dan turun tangan dalam peristiwa majalah "Monitor".
Sedangkan mengenai aliran-aliran kebatinan, menurut Niels Mulder, pada saat ini orang kejawen tidak begitu masuk dan giat dalam kegiatan aliran-aliran kebatinan seperti dahulu.
Sekarang, orang kejawen mungkin lepas dari organisasi aliran dan kembali pada kepercayaan dan praktek pribadi. Kecenderungan bahwa agama menjadi kepercayaan dalam hati pribadi ini, dapat dilihat pula di Jepang.
Agama baru Jepang yang terbaru mempunyai kecenderungan tersebut. Kini serangan dari kelompok Islam terhadap aliran-aliran kebatinan telah melemah, karena itu aliran-aliran kebatinan kembali bentuk awal, yaitu kepercayaan dan praktek pribadi orang kejawen sebelum terorganisasinya aliran kebatinan.


http://www.02.246.ne.jp/~semar/tesis.html
"Agama ageming aji" sing banjur nyinggung babagan Cipta Jati – Rasa Jati lan munggahe marang Sukma Sejati iku klebu kawruh sing sinengker. Pancene mono iya mangkono, wacana ciptasejati tumekane sukma sejati mlebu ing babagan teologi Panekunan Aliran Kepercayaan Jawa.
Nanging perlu uga dimangerteni menawa Panekunan Jawa iku alirane akeh. Mangka ing antarane siji lan sijine ana prabedane.
Mula banjur ewuh aya anggone para-parakang winasis arsa paring komentar. Salah-salah marahi dredah lan bisa diarani klenik lho !

Ora kok arep kemlunthu utawa pamer kawruh, nanging luwih dening pangangkah bisowa urun bawarasa kanggo marisake Kawruh Kejawen, Mangga para kadang kersowa mbawarasa sing kepenak. Cocok diagem, dene kurang sarujuk ya dilalekake bae.

Ana ing tulisanku bab "Wahyu Dyatmika", tak aturakebab wirid 8 (wolung pangkat) sing (manut panemuku)dadi dhasar kanggo mangerteni teologi Jawa.
Ing andaranku tak aturake menawa Ingsun (Pangeran, Gusti) iku derivate Hyang Agung (Sang Hyang Wenang) sing "tan kena kinayangapa. Ingsun iku "Dzat Urip" utawa "Sejatining Urip" katelah ing panekunan sinebut "Sukma Sejati".

Anane "Sukma Sejati" kang mapan manggon ana ing "uripemanungsa" (tak aturi mirsani wirid no. 2 lan no. 3),
mahanani manungsa iku setemene duwe cipta lan rasa sejati. Cipta sejati katerangake ana ing wejangan bab "Purbawasesaning Pangeran (Sukma Sejati) marang ciptane (nalare) manungsa" (wirid no. 4).
Dene rasa sejati katerangake ana ing wejangan "PurbawasesaningPangeran (Sukma Sejati) marang rasa pangrasane manungsa" (wirid nomer 5).
Wejangan werna loro iku nerangake menawa anane manungsa bisa duwe nalar lan duwe rasa pangrasa jalaran saka purbawasesaning Gusti (Pangeran, Sukma Sejati). Nanging yen mung tekan semono pangertene, banjur tuwuhpitakonan, kepriye larah-larahe ana nalar lan rasa pangrasa sing cengkah karo bebener (ala utawa jahat) ?Apa ya saka Sukma Sejati (Ingsun, Pangeran) ? Lha ya ing bab iki sing nganti saiki isih umyekdigagas dening para filsuf lan ahli pikir sajagad.
Menawa saka pangerten agama-agama sing saka Timur Tengah (Yahudi, Kristen, lan Islam), umume menawa nalar lan rasa pangrasa ala (jahat) iku saka daya pengaruhe setan lan iblis. Mangka manut pangerten Jawa sing sabenere ora ana diskripsi bab setan lan iblis iku. Malah diskripsine, menawa sakabehing titah dumadi (mahluk) iku sedulure manungsa. Dadi yen ana mahluksetan utawa iblis ya sedulure manungsa. Lha apa ora ngewuhake !
Mangga dibawarasa maneh wirid nomer 3, wejangan gegelaran kahananing Pangeran : "Sejating manungsa ikub rahsaning-Sun, lan Ingsun iki rahsaning manungsa, karana Ingsun anitahake wiji kang cacamboran dadi saka karsa lan panguwasaning-Sun, yaiku sasamaning geni bumi angin lan banyu. Ingsun panjingi limang prakara, yaiku :
cahya, cipta, suksma (nyawa), angen-angen, lan budi.
Iku kang minangka embanan panuksmaning-Sun sumrambah ana ing dalem badaning manungsa".
Ana ing wirid nomer 3 iki diterangake menawa badaning manungsa iku dumadi saka unsur alam sing dipanjingi "dayaning urip" (cahya, cipta, suksma, angen-angen, lan busi) minangka "embanan" panuksmaning Sukma Sejati. Emban utawa cangkok iki sing antarane manungsa siji lan sijine ora padha. Gumantung akehsithike "komposisi sasamaning anasir alam".
Watak wantu sasamaning anasir alam iku beda-beda.Semono uga sawise cacamboran (campur) dadi siji (komposisine saben manungsa ora padha) mahanani watak wantu sing uga beda-beda. Wondene watak wantu mau sing njalari bedaning cahya, cipta, suksma (nyawa), angen-angen, lan budine manungsa.
Kanthi mangkono banjur bisa dimangerteni menawa Cipta Sejati lan Rasa Sejati iku sing asli saka Dzat Urip (Suksma Sejati). Pangudi ngoperasionalake Cipta Sejati lan Rasa Sejati iku sing ditindakake para-para ahli panekunan kanthi lakubrata. Amarga ya operasionale Cipta Sejati lan Rasa Sejati iku sing njalari manungsabisa nindakake kewajibaning urip kanthi bener, pener, lan slamet.

Kewajiban iku ora liya kejaba "melu memayu hayuning bawana", sabanjure bisa nggayuh titising pati. Sing disebut titising pati iku mati sing sampurna. Sampurna bisa ngulihake kabeh gadhuhan(sesamaning unsur alam lan peparing "dayaning urip") marang sing kagungan, yaiku Hyang Agung. Dene sing wujud tinggala jeneng sing bisa tinulad dening anak turun.

http://asia.geocities.com/jawijowo/kejawen.html
sulis2000
23-04-2007, 11:35 AM
Sebelumnya mohon maaf, saya mau menanyakan apabila ada yang mengetahui keberadaan atau lokasi aliran kejawen dengan nama Buda Budi Buda Tama.Sekedar sejarahnya aliran ini berasal dari Solo tepatnya saya lupa. Dulu yang di aliran ini pertama kali hanya 5 orang saja pada penjajahan Belanda, trus pada waktu dikepung Belanda semua melarikan diri menyebar entah kemana. Dari sini ada yang menetap di barat pasar Wedi klaten, tetapi sekarang udah meninggal.penerus dari beliu sudah tidak ada yang komplit (sempurna) dan tidak bisa lagi diturunkan/diajarkan kepada orang lain.GAris besar ajaran ini dibagi menjadi 3 bagian, purwa = kawitan = permulaan, madya = pertengahan, wusana = akhir.purwa sendiri mengajarkan tentang masa2 sebelum kahir di world, kemudian madya ajran tentang manusia di world, sedang wusono ajaran tentang kematian.Kalo dalam tataran wusana ini ajarannya ada 12 bab, tetapi bila sampai bab 6 orang yang diajari akan mengalami mati suri, begitu juga bila yang mengajarkan ilmu itu tidak sempurna yang mengajar juga akan mati. Makanya tataran wusana ini di Wedi sudah tidak ada yang komplit lagi, paling cuma tinggal 4 bab saja yang masih ada. Yang paling banyak ditemui sekarang di jawa adalah yang purwa dan madya saja, tetapi yang wusana saya belum mengetahuinya. Mungkin ada sesepuh disini yang mengetahuinya atau mendalami ajaran ini mohon diberi tahu agar saya dapat belajar lagi. Mungkin ada dari para sesepuh yang merupakan murid dari 4 sumber yang lain yang saya sendiri sampai sekarang tidak mengetahuinya.Mohon maaf para sesepuh :shakehanddan terimakasih.
Rizkyka
23-04-2007, 11:44 AM
Mohon izin pada @Ts untuk duduk turut menyimak..:shakehand
Bathara semar
23-04-2007, 07:39 PM
move.....>>>>>
sulis2000
24-04-2007, 03:16 PM
Saya kira hilang, ndak taunya dipindah sama mbah Semar :DBuat mas Rizkyka :shakehand duluTentang ajaran ini memang bukan ajaran kedigdayaan/ kaburagan, tetapi lebih mengarah ke hal 2 spiritual Ketuhanan. Sama seperti ajaran SJJ dalam tread lain, maka ajaran ini mengupayakan bersatunya manusia dengan Tuhannya dengan konsep jawa (buda) bukan Budha(agama), yaitu sebuah kepercayaan sebelum agama masuk di Jawa. Adapun bila sudah mumpuni akan timbul suatu ilmu seperti kanuragan yang merupakan efek samping dari ajaran ini, dan ini bukan yang dicari.Orang terakhir di Wedi Klaten yang menguasai ilmu ini dengan sempurna sampai tataran wusana (akhir) plus ada 4 tambahan lagi untuk cadangan adalah mbah buyut saya yang telah meninggal +/- tahun 1998. Adik seperguruan beliau tidak ada satu pun yang menguasai sampai sedetil itu.Kata mbah saya dulu sebelum meninggal bahwa kemampuan beliau masih dibawah jauh dari gurunya. Amatlah sayang bila ajaran sebaik ini akan hilang ditelan zaman, suatu ajaran kejawen yang teramat dalam, bukan saja dari ilmu kanuragan saja, melainkan justru jauh kedalam spiritual jawa asli.Oleh karena itu sekali lagi saya mohon bantuan kepada para sesepuh disini yang mengetahuinya atau bahkan merupakan penerus untuk memberi tahu saya dimana terdekat (saya di DIY) yang masih eksis aliran ini.Terima kasih :shakehand
emiay_aquilani
24-04-2007, 04:58 PM
bingungggggggggggggggggggggggg
jatidiri
24-04-2007, 05:04 PM
siapa bisa bantu....... agak aneh emang.. tapi patut disimak..
Sunan Kali Bata
25-04-2007, 12:54 PM
siapa bisa bantu....... agak aneh emang.. tapi patut disimak..Aku nuggu aja Mas, mo ngikut nyimak..:malu:
Suzaku Musha
28-04-2007, 03:16 PM
saya di Solo tp blom pernah dengar aliran itu, klo yg ajarannya sama sih tahu.............:ngacir:
rio123
29-04-2007, 12:01 PM
baru dengar ada kejawen itu..............simak ahhhhhhh:bigo:
sulis2000
30-04-2007, 09:41 AM
saya di Solo tp blom pernah dengar aliran itu, klo yg ajarannya sama sih tahu.............:ngacir:Mas Suzaku Musha :shakehand dulu masMungkin bisa dijabarkan intinya mas Suzaku Musha :DMengenai nama dari aliran ini memang tidak tercantum dalam aliran/ aliran ini tidak secara langsung menyebut aliran yang mereka anut dengan nama ini. Nama ini saya peroleh dari mbah saya ketika saya tanyakan nama dari aliran ini.Lalu masalah ajarannya memang ada banyak kesamaannya walaupun mungkin bahasa yang digunakan berbeda. Contoh ada taman saya yang dari Bantul yang mengatakan ilmu perjalanan hidup., setelah saya lihat memang yang dipelajari sama \(hampir sama) dengan aliran mbah saya tetapi cenderung dibahas lebih Islami, dengan istilah2 islam. Tetapi pertanyaannya apakah sampai pada tahap akhir atau wusana itu yang belom diketahui, karena pada tahap ini memang betul2 berbahaya, bisa bisa si pelaku maupun gurunya akan meninggal betulan.Seorang guru yang telah bisa mengajarkan tahap akhir ini secara sempurna bila guru itu telah bisa mengetahui mimpi muridnya dan bisa masuk ke alam mimpi muridnya secara sadar (melalui tidur maupun tidak dalam keadaan tidur).Lalu bagaimana bila syarat itu belom bisa terpenuhi oleh sang guru, maka tahap ini bisa diajarkan tetapi tidak sempurna, karena sang guru tidak bisa mengasih petunjuk pada alam lain, dan menghindari mengajarkan bab 1 sampai 6 secara sekaligus, yang seharusnya diajarkan dlm waktu semalam diajarkan 3 malam, ini untuk menghindari tahap mati tersebut.Kemampuan untuk mengajarkan ini didapat bukan dari seorang guru manusia, tetapi oleh sang Pencipta sendiri (Tuhan YME), kalo dari manusia mungkin mbah saya dulu sudah diajarkan oleh gurunya, tetapi ternyata oleh sang guru dikatakan bukan dari guru manusia, tetapi oleh Tuhan sendiri, ini yang memang sampai meninggal mbah saya tidak menerima petunjuk tersebut.Dan memang mbah saya juga mengakuinya, bahwa sampai beliau dapat tahapan akhir ilmu tersebut secara komplit memang bukan dari gurunya, tetapi dari Tuhan sendiri. Karena bila lewat manusia (guru) pada saat tahap mati (meninggal) ajaran tersebut tidak bisa diberikan lagi, tetapi bila Tuhan sendiri yang memberi, maka pada tahap meninggal ajaran tersebut tetap bisa di ajarkan ( dikutip dari cerita pengalam pribadi mbah saya).Terima kasih atas segala perhatiannya, ada kurang lebihnya saya mohon maaf.
Rizkyka
02-05-2007, 07:25 PM
Saya kira hilang, ndak taunya dipindah sama mbah Semar :DBuat mas Rizkyka :shakehand duluTentang ajaran ini memang bukan ajaran kedigdayaan/ kaburagan, tetapi lebih mengarah ke hal 2 spiritual Ketuhanan. Sama seperti ajaran SJJ dalam tread lain, maka ajaran ini mengupayakan bersatunya manusia dengan Tuhannya dengan konsep jawa (buda) bukan Budha(agama), yaitu sebuah kepercayaan sebelum agama masuk di Jawa. Adapun bila sudah mumpuni akan timbul suatu ilmu seperti kanuragan yang merupakan efek samping dari ajaran ini, dan ini bukan yang dicari.Orang terakhir di Wedi Klaten yang menguasai ilmu ini dengan sempurna sampai tataran wusana (akhir) plus ada 4 tambahan lagi untuk cadangan adalah mbah buyut saya yang telah meninggal +/- tahun 1998. Adik seperguruan beliau tidak ada satu pun yang menguasai sampai sedetil itu.Kata mbah saya dulu sebelum meninggal bahwa kemampuan beliau masih dibawah jauh dari gurunya. Amatlah sayang bila ajaran sebaik ini akan hilang ditelan zaman, suatu ajaran kejawen yang teramat dalam, bukan saja dari ilmu kanuragan saja, melainkan justru jauh kedalam spiritual jawa asli.Oleh karena itu sekali lagi saya mohon bantuan kepada para sesepuh disini yang mengetahuinya atau bahkan merupakan penerus untuk memberi tahu saya dimana terdekat (saya di DIY) yang masih eksis aliran ini.Terima kasih :shakehand:shakehand Salam hangat:shakehandMenanti dengan penuh penantian..:):):)
rio123
02-05-2007, 07:42 PM
sampai segitu tataran kejawen.................ada yang pnah punya teman/orang lain yang masih hidup yang bisa jelasin ttg kejawen (seorang praktisi)?
denging
02-05-2007, 08:53 PM
alhamdulillah, kebetulan saya juga sudah subud mas (dibilang kejawen bukan, dibilang bukan kok rasanya jowo gicu)
Kh4l1f4h
02-05-2007, 10:07 PM
alhamdulillah, kebetulan saya juga sudah subud mas (dibilang kejawen bukan, dibilang bukan kok rasanya jowo gicu)Hi..hi..:hi:berdenging telingaku kala ku baca ketikan Abang, takut rasanya Aku bacanya..:malu::shakehand Lam kenal Bang :shakehand
denging
02-05-2007, 11:32 PM
halah mas khalif bisa aja.. buat mas sulis, saya pernah membaca artikel di gatra ttg 'naskah merapi' berupa naskah pada rontal ttg ajaran 'budho' ditulis dgn aksara 'budho' pula. ajaran ini keknya mirip dgn yg mas sulis 'terima,' penyebarannya di sekitar merapi merbabu complex (selo dan sekitarnya)
vBulletin® v3.6.8, Copyright ©2000-2008, Jelsoft Enterprises Ltd.


http://www.kaskus.us/archive/index.php/t-517659.html
Ngelmu Kejawen
Banyak orang Jawa terpengaruh oleh kebatinan. Mereka memandang agama sebagai Ngelmu= ilmu, yaitu pengetahuan “kekeran” (rahasia) yang memberi kekuatan batin kepada yang memilikinya. Dan iman Kristen biasa disebut juga sebagai “ngelmu tua” , karena merupakan ngelmu yg paling tuwa daripada segala ilmu. Dlm “Serat Damogandhul” ditamsilkan sebagai “wohing kawruh” = buah pengetahuan.Pada jaman dahulu itu banyak sekali "pencari ngelmu". Mereka berkumpul disekeliling guru dan kiainya supaya dgn demikian bisa memperoleh pengetahuan tentang hidup sejati dan kekuatan untuk mendapat selamat serta kesejahteraan. Diantara mereka terdapat pertapa2 yg ber-bulan2 bahkan ber-tahun2 lamanya hidup sendirian di-kaki2 atau di-lereng2 gunung terutama digunung Kelud. Para kiai dan guru itu saling berkonkurensi juga. Dalam perdebatan yg sering terjadi mereka saling mencoba meyakinkan kebenaran serta kekuatan ajaran2nya. Sering terjadi bahwa guru yg kalah sesudah perdebatan demikian menjadi pengikut dari sang guru itu yg ternyata memiliki ngelmu yg lebih kuat. Dgn sendirinya para pengikutnya akan diserahkannya juga kepada sang pemenang.Agama Kristen dlm lidah Jawa biasa dipersingkat menjadi agama Serani diambil dari kata Nasrani. Menurut Mpu Tantular; Kejawen & Kristen itu adalah dua agama, tetapi sebenarnya satu “rwa bhinneka (keduanya beda), bhinneka tunggal ika (ber-beda2 tetapi satu), loro-loroning atunggil (keduanya adalah satu).Puncak atau final dari ngelmu dalam Kejawn disebut “Manunggaling kawula-Gusti” bersatunya hamba dgn Tuhan merupakan asal dan tujuan dari segala yg ada “sangkan paraning dumadi”.Keinginan dan kerinduan kawula ialah menyatu dgn Gusti dlm keabadian, prinsipnya sama seperti juga kerinduan dlm iman Kristen untuk menemukan dan menyatu diri dgn Tuhan, hal yg sama sebenarnya sdh diungkapkan juga oleh rasul Paulus ketika ia berada di Atena: “supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing” Kis 17:27Pandangan filsafat Jawa, menekankan bahwa inti terdalam dari manusia adalah bersatu dgn Allah, jadi mirip seperti bawang yg terdiri dari beberapa lapisan dimulai dgn lapisan pertama ditingkatkan ke tahapan yg lebih halus dimulai dari sembah raga, sembah cipta, sembah kalbu dan sembah rasa. Penggambaran tahapan pendakian mistik ini bisa dilacak mulai dari berbagai peninggalan sejarah di Jawa sebagai contoh stupa Borobudur, bangunan yg paling bawah disebut kamadatu (alam keinginan), rupadatu (alam rupa), dan sebagai stupa teratas adalah arupadatu (alam tanpa rupa) yg dibuat kosong menggambarkan keabadian alam Buddha (sunya). Hal yg sama bisa dilihat juga pada bangunan Mesjid Demak yg terdiri dari tiga susun yg melambangkan syari’ah, tariqah dan haqiqah sedangkan tujuan tertinggi dilambahkan sebagai mahkuta di ujung atas mesjid.Ranggawarsita sanggup mengintegrasikan iman Kristiani dengan alam pikiran Jawa, tetapi sekaligus agama tersebut didandani sesuai dengan selera alam piker priayi. Agama Kristen, menurut pandangan Ranggawarsita, menitikberatkan roh, budi, sebuah elmu yang melepaskan diri dari dunia, manusia meninggalkan dunia secara sempurna. Hal itu identik dengan mistisme Jawa, ngelmu kasampurnan, ajaran kesempurnaan.Yesuit pertama yang berkarya di wilayah Indonesia adalah Santo Fransiskus Xaverius. Pada pertengahan abad XVI ia tiba di Maluku dan membaptis ribuan umat setempat dan sekitarnya. Sedangkan gereja di Jawa di mulai baru dimulai pada abad ke-19. Sekitar tahun 1815, penganut-penganut agama Kristen hanya terdapat dalam golongan orang yang bukan Jawa Sekitar tahun 1815, orang Jawa atau Sunda yang beragama Kristen boleh dikatakan tidak ada. Penganut2 agama Kristen hanya terdapat dlm golongan orang yg bukan-Jawa; orang2 Belanda serta keturunan mereka. Bahkan anggota2nya dilarang untuk bergaul dgn penduduk desa2 atau tetangga yg non Kristen. Tokoh2 perintis Jawa yg giat mengabarkan Injil di tengah teman2 sebangsanya, a.l. Paulus Tosari (1813-1882), Tunggul Wulung (± 1803-1884) dan Sadrach (1840-1924). Bahkan pada saat perang di Jawa (1825-1830) melawan Diponegoro pemerintah Belanda merasa khawatir adanya setiap gangguan yg bisa menyusup sebagai undercover ke pihak Belanda oleh sebab itulah hingga tgh 1850 pemerintah VOC melarang penginjilan terhadap orang Jawa. Demi kepentingan politik pada saat itu Gubernur Jendral Baud (1833) notabene seorang Kristen, telah memberikan perintah untuk menyita dan membakar seluruh Alkitab dlm bhs Jawa yg beredar pada saat tsb. Pada saat itu Gereja Gervormd (Geredja Gubernemen) – Belanda adalah satu2nya Gereja yg diakui oleh pemerintah (V.O.C.) dan yg mendapatkan izin untuk menjalankan aktivitas2nya di Indonesia. Orang pertama yg berjasa besar menyebar luaskan Firman Allah adalah Herr Gottlob Bruckner, ia itu bukannya orang Belanda ataupun orang Portugis melainkan orang Jerman yg lahir di Saksen pada th. 1783 dia adalah penterjemah Alkitab pertama dlm bhs Jawa. Dengan bantuan beberapa orang Jawa, mulailah dia menterjemahkan Kitab Perjanjian Baru; di th 1819 keempat Injil selesai diterjemahkan; dan di 1821 seluruh Perjanjian Baru selesai. Konon, jumlah bahasa daerah di Indonesia itu banyak sekali. Berdasarkan laporan Lembaga Alkitab Indonesia di th 1977 saja, tidak kurang dari 500 bahasa daerah yg sekarang ada di tanah air kita.MaranathaMang UcupEmail: mangucup@wanadoo.nlHomepage: www.mangucup.org
Jumat, 15 September 2006Menghadapi Orang Tua Kejawen
Assalamu'alaikum wr wb,Ada dua masalah yang ingin saya utarakan kepada Aa Gym. Orangtua saya Muslim, mereka melakukan ibadah harian seperti shalat fardhu, kadang shalat sunnah, menjalankan puasa dan berzakat. Tapi mereka belum bisa meninggalkan kegiatan kejawen, seperti menggelar sesajen dsb. Saya sedih melihat kondisi orangtua saya ini. Saya ingin mengubah ajaran kejawen mereka, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Sepertinya sulit memberi masukan kepada orangtua, orang yang jelas-jelas lebih tahu asam garam kehidupan, apalagi kalau ajaran mereka sudah terjadi turun-temurun dari kekek-nenek dulu. Bagaimana mengubah kegiatan kejawen orangtua saya tanpa membuat mereka tersinggung?
Kedua, saya mempunyai teman yang suka bermuka dua, kalau di depan saya ia bersikap manis, tapi di belakang ia suka menjelek-jelekkan saya. Bagaimana menyikapi teman yang seperti ini Aa? Saya akan berterima kasih sekali kepada Aa kalau mau menjawab surat saya ini.
Wassalam,Mardi di Bandung
Jawab:Wa'alaikumussalam wr wb,Saudaraku, perbuatan seseorang itu sangat dipengaruhi latar belakang masa lalu dan pengetahuannya. Kalau kakek-nenek Sahabat selalu menjalankan ritual kejawen, wajar bila orang tua Sahabat Mardi pun mengikuti kegiatan tersebut. Meski mereka mengaku Muslim serta menjalankan shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Apalagi kalau kemudian tidak ada yang memberi input bahwa perbuatan itu dilarang agama dan tidak membawa manfaat sama sekali.
Bersyukurlah, Allah SWT memberi hidayah kepada Sahabat Mardi sehingga menyadari kalau perbuatan itu dosa. Namun kalau kita ingin mengubah orang lain, termasuk perbuatan syirik orangtua kita, bukanlah dengan melarang. Tapi dengan memberikan input yang dapat mereka pahami. Kalau kita langsung memvonis, Ini perbuatan syirik dan dosa besar, orang tua mungkin akan marah. Sebab, umumnya orang tua merasa dirinya lebih tahu dari anaknya.
Kita harus mencari teknik tepat agar orangtua semakin paham. Lakukan pendekatan secara baik dengan tutur bahasa dan akhlak yang baik pula. Tunjukkan prestasi kita, agar kita memiliki kesan baik di mata orang tua. Kalau orang tua sudah menyukai kita, biasanya mereka akan lebih mau mendengarkan kita. Kalau orang tua suka membaca, bisa diberi bacaan yang berkaitan dengan masalah kejawen. Kalau tidak bisa, maka bisa memakai jasa orang ketiga, orang yang disegani orangtua kita untuk memberi masukan tentang hal ini. Atau ajak orang tua ke pengajian, mendengarkan radio atau televisi yang menyiarkan tentang ilmu keislaman. Mohon pula kepada Allah agar orangtua dikaruniai hidayah. Wallaahu a'lam.( )


http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=7&id=264725&kat_id=105&kat_id1=232&kat_id2=235
Tuhan Dalam Pandangan Orang Jawa [Ditinjau dari Hinduism dan Kejawen]
Posted on August 16, 2007 Filed Under 9uBr4K5 si Pelajar Abadi, Pancasila, Renungan, Umum, Tulisan, Artikel
;;
Tuhan adalah “Sangkan Paraning Dumadi”. IA adalah sang Sangkan sekaligus sang Paran, karena itu juga disebut Sang Hyang Sangkan Paran. Ia hanya satu, tanpa kembaran, dalam bahasa Jawa dikatakan Pangeran iku mung sajuga, tan kinembari . Orang Jawa biasa menyebut “Pangeran” artinya raja, sama dengan pengertian “Ida Ratu” di Bali. Masyarakat tradisional sering mengartikan “Pangeran” dengan “kirata basa”. Katanya pangeran berasal dari kata “pangengeran”, yang artinya “tempat bernaung atau berlindung”, yang di Bali disebut “sweca”. Sedang wujudNYA tak tergambarkan, karena pikiran tak mampu mencapaiNYA dan kata kata tak dapat menerangkanNYA. Didefinisikan pun tidak mungkin, sebab kata-kata hanyalah produk pikiran hingga tak dapat digunakan untuk menggambarkan kebenaranNYA. Karena itu orang Jawa menyebutnya “tan kena kinaya ngapa” ( tak dapat disepertikan). Artinya sama dengan sebutan “Acintya” dalam ajaran Hindu. Terhadap Tuhan, manusia hanya bisa memberikan sebutan sehubungan dengan perananNYA. Karena itu kepada NYA diberikan banyak sebutan, misalnya: Gusti Kang Karya Jagad (Sang Pembuat Jagad), Gusti Kang Gawe Urip (Sang Pembuat Kehidupan), Gusti Kang Murbeng Dumadi (Penentu nasib semua mahluk) , Gusti Kang Maha Agung (Tuhan Yang Maha Besar), dan lain-lain.Sistem pemberian banyak nama kepada Tuhan sesuai perananNYA ini sama seperti dalam ajaran Hindu. “Ekam Sat Viprah Bahuda Vadanti” artinya “Tuhan itu satu tetapi para bijak menyebutNYA dengan banyak nama”.
.
Hubungan Tuhan dengan Ciptaannya.
.
Tentang hubungan Tuhan dengan ciptaanNYA, orang Jawa menyatakan bahwa Tuhan menyatu dengan ciptaanNYA. Persatuan antara Tuhan dan ciptaannya itu digambarkan sebagai “curiga manjing warangka, warangka manjing curiga”, seperti keris masuk ke dalam sarungnya, seperti sarung memasuki kerisnya. Meski ciptaannya selalu berubah atau “menjadi” (dumadi), Tuhan tidak terpengaruh oleh perubahan yang terjadi pada ciptaanNYA. Dalam kalimat puitis orang Jawa mengatakan: Pangeran nganakake geni manggon ing geni nanging ora kobong dening geni, nganakake banyu manggon ing banyu ora teles dening banyu. Artinya, Tuhan mengadakan api, berada dalam api, namun tidak terbakar, mencipta air bertempat di air tetapi tidak basah. Sama dengan pengertian wyapi, wyapaka dan nirwikara dalam agama Hindu. Oleh karena itu Tuhan pun disimbolkan sebagai bunga “teratai” atau “sekar tunjung”, yang tidak pernah basah dan kotor meski bertempat di air keruh. Ceritera tentang Bima bertemu dengan “Hanoman”, kera putih lambang kesucian batin, dalam usahanya mencari “tunjung biru” atau “teratai biru’ adalah sehubungan dengan pencarian Tuhan. Menyatunya Tuhan dengan ciptaanNYA secara simbolis juga dikatakan “kaya kodhok ngemuli leng, kaya kodhok kinemulan ing leng”, seperti katak menyelimuti liangnya dan seperti katak terselimuti liangnya. Pengertiannya sama dengan istilah immanen sekaligus transenden dalam filsafat modern, yang dalam Bhagavad Gita dikatakan “DIA ada padaKU dan AKU ada padaNYA”.
.
Dengan pengertian demikian maka jarak antara Tuhan dan ciptaannya pun menjadi tak terukur lagi. Tentang hal ini orang Jawa mengatakan: “adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan”, artinya jauh tanpa batas, dekat namun tak bersentuhan. Dari keterangan di atas jelaslah bahwa pada hakekatnya filsafat Jawa adalah Hinduisme, yang monotheisme pantheistis. Karena itu pengertian Brahman Atman Aikyam, atau Tuhan dan Atman Tunggal, juga dinyatakan dengan kata-kata “Gusti lan kawula iku tunggal”. Di sini pengertian Gusti adalah Tuhan yang juga disebut Ingsun, sedang Kawula adalah Atman yang juga disebut Sira, hingga kalimat “Tat Twam Asi” pun secara tepat dijawakan dengan kata kata “Sira Iku Ingsun” atau “Engkau adalah Aku”, yang artinya sama dengan kata-kata “Atman itu Brahman”. Pemahaman yang demikian itu tentunya memungkinkan terjadinya salah tafsir, karena menganggap manusia itu sama dengan Tuhan. Untuk menghindari pendapat yang demikian, orang Jawa dengan bijak menepis dengan kata-kata “ya ngono ning ora ngono”, yang artinya “ya begitu tetapi tidak seperti itu”. Mungkin sikap demikian inilah yang menyebabkan sesekali muncul anggapan bahwa pada dasarnya orang Jawa penganut pantheisme yang polytheistis, sebab pengertian keberadaan Tuhan yang menyatu dengan ciptaannya ditafsirkan sebagai Tuhan berada di apa saja dan siapa saja, hingga apa saja dan siapa saja bisa diTuhankan. Anggapan demikian tentulah salah, sebab Brahman bukan Atman dan Gusti bukan Kawula walau keberadaan keduanya selalu menyatu. Brahman adalah sumber energi, sedang Atman cahayanya. Kesatuan antara Krisna dan Arjuna oleh para dalang wayang sering digambarkan seperti “api dan cahayanya”, yang dalam bahasa Jawa “kaya geni lan urube”
.
Upaya mencari Tuhan
.
Berdasar pengertian bahwa Tuhan bersatu dengan ciptaanNYA itu, maka orang Jawa pun tergoda untuk mencari dan membuktikan keberadaan Tuhan. Mereka menggambarkan usaha pencariannya dengan memanfaatkan sistim simbol untuk memudahkan pemahaman. Sebagai contoh pada sebuah kidung dhandhanggula, digambarkan sebagai berikut: Ana pandhita akarya wangsit, kaya kombang anggayuh tawang, susuh angin ngendi nggone, lawan galihing kangkung, watesane langit jaladri, tapake kuntul nglayang lan gigiring panglu, dst. Di sini jelas bahwa “sesuatu” yang dicari itu adalah susuh angin (sarang angin), ati banyu (hati air), galih kangkung (galih kangkung), tapak kuntul nglayang (bekas burung terbang), gigir panglu (pinggir dari globe), wates langit (batas cakrawala), yang merupakan sesuatu yang “tidak tergambarkan” atau “tidak dapat disepertikan” yang dalam bahasa Jawa “ tan kena kinaya ngapa” yang pengertiannya sama dengan “Acintya” dalam ajaran Hindu.
.
Dengan pengertian “acintya” atau “sesuatu yang tak tergambarkan” itu mereka ingin menyatakan bahwa hakekat Tuhan adalah sebuah “kekosongan”, atau “suwung”, Kekosongan adalah sesuatu yang ada tetapi tak tergambarkan. Semua yang dicari dalam kidung dhandhanggula di atas adalah “kekosongan” Susuh angin itu “kosong”, ati banyu pun “kosong”, demikian pula “tapak kuntul nglayang” dan “batas cakrawala”. Jadi hakekat Tuhan adalah “kekosongan abadi yang padat energi”, seperti areal hampa udara yang menyelimuti jagad raya, yang meliputi segalanya secara immanen sekaligus transenden, tak terbayangkan namun mempunyai energi luar biasa, hingga membuat semua benda di angkasa berjalan sesuai kodratnya dan tidak saling bertabrakan. Sang “kosong” atau “suwung” itu meliputi segalanya, “suwung iku anglimputi sakalir kang ana”. Ia seperti udara yang tanpa batas dan keberadaannya menyelimuti semua yang ada, baik di luar maupun di dalamnya.
.
Karena pada diri kita ada Atman, yang tak lain adalah cahaya atau pancaran energi Tuhan, maka hakekat Atman adalah juga “kekosongan yang padat energi itu”. Dengan demikian apabila dalam diri kita hanya ada Atman, tanpa ada muatan yang lain, misalnya nafsu dan keinginan, maka “energi Atman” itu akan berhubungan atau menyatu dengan sang “sumber energi”. Untuk itu yang diperlukan dalam usaha pencarian adalah mempelajari proses “penyatuan” antara Atman dengan Brahman itu. Logikanya, apabila hakekat Tuhan adalah “kekosongan” maka untuk menyatukan diri, maka diri kita pun harus “kosong”, Sebab hanya “yang kosonglah yang dapat menyatu dengan sang maha kosong”. Caranya dengan berusaha “mengosongkan diri” atau “membersihkan diri” dengan “menghilangan muatan-muatan yang membebani Atman” yang berupa berbagai nafsu dan keinginan. Dengan kata lain berusaha membangkitkan energi Atman agar tersambung dengan energi Brahman. Dengan uraian di atas maka cara yang harus ditempuh adalah melaksanakan “yoga samadi”, yang intinya adalah menghentikan segala aktifitas pikiran beserta semua nafsu dan keinginan yang membebaninya. Sebab pikiran yang selalu bekerja tak akan pernah menjadikan diri “kosong”. Karena itu salah satu caranya adalah dengan “Amati Karya”, menghentikan segala aktifitas kerja. Apabila “kekosongan” merupakan hakekat Tuhan, apakah Padmasana, yang di bagian atasnya berbentuk “kursi kosong”, dan dianggap sebagai simbol singgasana “Sang Maha Kosong” itu adalah perwujudan dalam bentuk lain dari apa yang dicari orang Jawa lewat kidung-kidung kuna itu? Apa sebabnya di Jawa tidak ada dan baru diwujudkan dalam bentuk bangunan ketika leluhur Jawa berada di Bali? Mungkin saat itu di Jawa memang tidak membutuhkan hal itu, karena masyarakat Jawa lebih mementingkan “pemujaan leluhur”, yang dianggap sebagai “pengejawantahan Tuhan”. Kata-kata Wong tuwa iku Pangeran katon atau Orang tua (leluhur) itu Tuhan yang nampak, adalah bukti adanya kepercayaan tersebut. Itulah sebabnya di Jawa tidak ditemukan Padmasana, tetapi “lingga yoni”. Baru setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, Padmasama mulai ada di Bali. Konon sementara sejarawan berpendapat bahwa Padmasana adalah karya monumental Danghyang Dwijendra, seorang Pandita Hindu yang pindah dari Jawa ke Bali, setelah jatuhnya Kerajaan Majapahit.
.
Sebenarnya tujuan umat Hindu ketika bersembahyang di pura, adalah untuk menjalani “proses” penyatuan diri dengan Tuhan dengan melaksanakan “yoga” secara sederhana. Karena itu setiap sembahyang tentu diawali dengan “pranayama” yang merupakan salah satu cara untuk “mengosongkan diri” dengan “mengatur irama pernafasan” Hasil minimal yang dicapai adalah “mempertenang diri” ketika “memuja Tuhan” dengan bersimpuh di hadapan Padmasana, yang diyakini sebagai tahta “Sang Hyang Widhi”. Ketika memuja itulah mereka berusaha “mengosongkan diri” dengan berkonsentrasi untuk menyatukan diri dengan “Sang Maha Kosong”. Dengan demikian mereka berharap dapat menyatu dalam rasa, yaitu rasa damai sebenarnya. Menurut orang Jawa, apabila tujuan “samadi” itu berhasil, terdapat tanda-tanda khusus. Konon, ketika puncak ke “hening” an tercapai, orang serasa terjun ke suasana “heneng” atau “sunya”, tenggelam dalam suasana “kedamaian batin sejati, rasa damai yang akut”, yang dikatakan “manjing jroning sepi”, atau “rasa damai yang tak terkatakan”. Suasana demikian terjadi hanya sesaat, yang oleh orang Jawa digambarkan secara indah dengan kata-kata “tarlen saking liyep layaping aluyup, pindha pesating supena sumusup ing rasa jati” (ketika tiba di ambang batas kesadaran, hanya seperti kilasan mimpi, kita seolah menyelinap ke dalam rasa sejati). Di sini makna kedamaian adalah “kekosongan sejati di mana jiwa terbebas dari beban apa pun”, yang diistilahkan dengan suasana “hening heneng” atau “kedamaian sejati”. Mungkin suasana demikian itulah yang dalam agama Hindu disebut “sukha tan pawali dukha”. Kebahagian abadi yang tanpa sedikitpun rasa duka. Terbebas dari hukum rwa bhinneda.
.
Kini masalahnya adalah siapa saja yang terlibat dalam proses penyatuan tersebut? Pertanyaan ini akan dijawab dengan tegas bahwa Sang Atmanlah diminta membimbingnya. Atman adalah cahaya Brahman, Ia Maha Energi yang ada pada diri setiap manusia, karena itu oleh orang Jawa diberi sebutan “Pangeraningsun” atau “Tuhan yang ada dalam diriku”. Karena itulah ketika kita mengawali proses “kramaning sembah” dengan pertama-tama menyebut “OM Atma Tattvatma”, orang Jawa menganggapnya sebagai ganti dari kata-kata “Duh Pangeraningsun”, yang sebelumnya amat dikenal. Namun sebelum Atman kita jadikan kawan utama dalam usaha penyatuan itu, terlebih dulu kita harus yakin bahwa ia adalah energi luar biasa. Kehebatan energi Atman itu secara simbolis digambarkan sebagai berikut: Gedhene amung sak mrica binubut nanging lamun ginelar angebegi jagad, artinya: Ia hanya sebesar serbuk merica, namun bila dikembangkan (triwikrama) seluruh jagad raya akan tergenggam olehnya. Pengertian energi ini dalam istilah Jawa disebut “geter”. Namun untuk memanfaatkannya orang harus mengenalnya lebih jauh.
.
Lebih lanjut ajaran ini menyebutkan bahwa pada diri manusia pun terdapat 4 (empat) kekuatan yang selalu menjadi kawan dalam perjalanan hidup, di saat suka maupun duka, hingga layak disebut “saudara”. Masing-masing ditandai dengan simbol warna putih, merah, kuning dan hitam (catur sanak). Posisi mereka di dalam jiwa manusia adalah lekat dengan Atman, membuat cahayanya membentuk warna “pelangi”. Gradasi warnanya menunjukkan kadar “karma wasana” seseorang. Konon peranan mereka amat menentukan. Karena itu mereka harus selalu diperhatikan dan dipelihara, sebab bila ditinggalkan dan tak terurus, akan menjadi pengganggu yang amat berbahaya. Bandingkan dengan pengertian sa ba ta a i dalam ajaran Hindu. Dalam setiap “proses” meditasi mereka perlu diberitahu, setidak-tidaknya disebut namanya agar ikut membantu.
.
Pada dasarnya proses penyatuan (meditasi) itu dimaksudkan sebagai usaha memperpendek jarak antara Manusia dengan Tuhan, antara Sira dengan Ingsun, atau antara Brahman dengan Atman, yang dalam istilah Jawa disebut ngudi cinaket ing Widhi, artinya berusaha agar semakin dekat dengan Tuhan (caket=dekat). Di sini jelas bahwa pemanfaatan energi Atman mutlak perlu, tetapi ternyata sebagian orang ada yang tidak mengetahui bahwa pada diri kita ada Atman, Sang Maha Energi itu. Mungkin karena dasar filsafatnya memang berbeda. Kepada mereka, yang tidak mempercayai adanya Atman itu, sebuah kidung sengaja diciptakan Apek banyu pikulane warih, apek geni dedamaran, kodhok ngemuli elenge, tanpa suku lumaku, tanpa una lan tanpa uni, dst. Artinya terlihat ada orang mencari air, padahal ia telah memakai air sebagai pikulan, dan ada yang mencari api, padahal telah membawa lentera, katak menyelimuti liangnya, tanpa kaki ia berjalan, tanpa rasa dan tanpa suara, dst. Rupanya mereka tidak mengerti bahwa Gusti dan Kawula Tunggal, hingga tidak menyadari bahwa yang dicari sebenarnya telah ada dalam dirinya sendiri, meski dengan nama yang berbeda. Mereka tidak tahu bahwa warih adalah air dan damar adalah api, sama halnya dengan Atman adalah Brahman. Ia immanen sekaligus transenden, ia bisa berjalan tanpa kaki, dan tanpa suara maupun rasa. Pendapat bahwa Brahman sama dengan Atman, oleh orang Jawa ditunjukkan dengan perkataan “kana kene padha bae” artinya “sana dan sini sama saja”. Ketidaktahuanlah yang menyebabkan orang kebingungan. Sebuah canda sederhana namun menyengat.
.
Semua hal yang diterangkan di atas adalah ajaran Hindu. Namun bagi mereka, yang tidak mau berusaha mencari “akarnya” dan tidak mau berlajar Hinduisme, menganggapnya sebagai “agama Jawa”. Dan karena “agama Jawa” tidak ada, maka mereka menempatkannya sebatas faham, yaitu faham “kejawen” dan eksis sebagai aliran kepercayaan.

Oleh Adi Suripto
Sebelum menyinggung soal tersebut, ada baiknya mengingat kembali pokok-pokok Kejawen meskipun sepintas dan hanya sebagian kecil saja.

A.Manusia dekat dengan alam murni menyerap inti hukum/hukum alam.

" Sudah sejak dulu kala , tanah Jawa hijo royo-royo, subur kang tinandur, gemahripah loh jinawi , tata tentrem kerta raharja" Demikian selalu yang diucapkan Ki Dalang pewayangan.

Kehidupan manusia zaman PURBA itu tidak ngoyo (sibuk),waktu banyak terluang, melahirkan budayanya berkarakteristik: Sabar, damai, saling menghargai kebebasan masing-masing – toleran, tepo seliro(tenggang rasa), mawas diri. >

B.Manusia percaya isi alam ada Penciptanya.

Khayalan dalam waktu santainya menimbulkan pertanyaan: " kalau aku membuat alat-alat, lalu bertindak mencari bahan-bahan untuk hidup, siapa orangnya yang membuat isi alam semuanya itu".
Kesimpulan sederhananya: " Tentu , pasti, ada orang seperti saya ini yang mempunyai kemampuan yang sangat luar biasa.Sayang dia tidak pernah mau memperlihatkan diri, Dimanakah Ia adanya?. Tentu di ciptaan-ciptaannya itu: pohon-pohon besar, gunung-gunung, lautan……"(Penulis lupa nama atau istilah yang dipakai waktu itu).

Keyakinan inilah yang disalah artikan, terutama oleh kaum Orientalis, bahwa Kejawen itu menyembah BERHALA yang ada di dalam pohon besar atau batu-batuan dan dianggap sebagai Animisme.

Sesungguhnya banyak kesimpulan: kearifan(wisdom) Kejawen lahir dari kehidupan di bumi sendiri. Karena itu kiranya Kejawen hingga kini dikategorikan sebagai suatu Kepercayaan yang dihayati mendalam oleh penghayatnya dalam melahirkan budi pekerti luhur yang bernilai tinggi.Meskipun seorang Nabi dan Buku Suci yang disembah tidak ada.

C. Budaya balas-budi (berterima kasih).

Sebagai terimakasih atas jasa-jasa "pencipta" isi alamnya, pada waktu tertentu penduduk bergotong royong tekun menyampaikan persembahannya berupa makanan dan hasil tanamannya hingga turun- temurun sampai sekarang yang dinamakan NYADRAN. Dan banyak berupa tindakan atau hal-hal simbolik saja yang tidak dapat diartikan secara harfiah.

D.Pertemuan dengan bangsa pendatang.


Dalam abad ke : 3 Masehi, datanglah Hinduisme, disusul dengan Buddhisme satu abad kemudian. Islam datang pada abad ke: 9 dan berkembang luas beberapa abad kemudian.
Pertemuan-pertemuan itu bukan menyulut perang, justru membawa pandangan kearifan Kejawen lebih mendalam yang meluas yang mempengaruhi budayanya juga. Pluralisme Kejawen membawa manfaat dalam pergaulan seterusnya.

Misalnya: dibidang seni pewayangan epos Mahabharata dan Ramayana diserap dalam ceritanya setelah penyesuaian dengan asli pewayangan rakyat.
Demikian juga keterampilan rakyat mampu mendirikan bangunan- bangunan dalam bentuk besar dan kuat seperti candi-candi( Prambanan- Hindhu, Borobudur- Buddha).

mPu Tantular waktu zaman Hinduisme( kerajaan Majapahit) memberi nama puralisme " BHINEKA TUNGGA IKA".
Suatu Penyerapan yang fundamental oleh Kejawen adalah, bahwa Pencipta isi alam itu bukan di pohon, lautan, tetapi " di atas sana ( Ilahi). > Kejawen memberi sebutan Gusti( Sang Pangeran ) dan ada sebutan sinonim lain yang digunakan oleh aliran-aliran Kejawen.
Demikian juga adanya pemahaman, bahwa Gusti ada di dalam diri manusia sendiri. Perbedaan-perbedaan faham tidak membawa pengaruh sedikitpun antara para penghayat dalam pergaulannya. Tahun baru kalender Jawa( 1 Syuro ) disamankan jatuhnya dengan Tahu Baru kalender Islam( 1 Hijriah ). Hanya kelender Jawa tetap lebih tua.


E.Visi dan Misi Kejawen.

Dari banyak bentuk wayang yang ada salah satu ada yang bentuknya seperti gunung. Maka itu namanya gunungan yang ditancapkan di tengah tabir pada pemulaan dan akhir pertunjukan . Di kulitnya terdapat lukisan gapura yang dijaga raksasa bersenjata pemukul besar berdiri di kanan dan kiri pintu masuk.
Di belakang gapura ( masuk taman ) ada flora-fauna, ciptaan Gusti, terkesan indah,aman damai.Itulah gambaran kehidupan di bumi.

Oleh karenanya menurut Kejawen, waktu manusia dilahirkan masuk kehidupan di bumi , misi terpokok adalah: MEMAYU HAYUNE BAWONO
Memperindah kehidupan di bumi yang indah( Bawono = kehidupan, bumi_ = buwono ).
Kehidupan selalu membawa perubahan ( bentuk manusia kini lain dengan manusia purba.Semua bentuk kehidupan, kebiasaan hidup, ilmu pengetahuan, seni dsb). Kehidupan adalah "KADYO CAKRA MANGGILINGAN" yaitu seperti roda berputar. Dapat ke atas dapat ke bawah.

Meskipun Kejawen itu mempunyai banyak aliran, tetapi boleh dikata semuanya berpegang teguh kepada MISI POKOK tersebut.
Untuk mengamankan terlaksananya tuga pokok tersebut, sejak lahir manusia sudah diberi (given) yaitu "senjata"( percikan ) Gusti sebagai berikut:

NALURI ( perasaan, etos ),

NALAR ( otak,rasio ) dan

NALURI (spiritualitas, ketuhanan).

Ketiga unsur itu tidak terpisahkan, karena saling menopang.

Percikan ini disampaikan langsung kepada manusia sebagai budi luhur yang "Build In" dalam diri manusia tanpa perantara manusia lain atau kitab suci. Dengan demikian maka penghayat Kejawen adalah MANDIRI menghadapi plus dan minusnya perputaran penghidupannya di bumi. Maka itu manusia Kejawen selalu harus ingat kepada Pencipta(Gusti), apalagi bila menghadapi kesulitan atau kegagalan, dan manekung (samadi ) : mohon ampun kepada yang memberi percikan(Gusti ) karena menghadapi kesulitan atas keteledorannya dan mohon diberi kesadaran dan kewaspadaan yang kuat (ELING LAN WASPODO) serta kemampuan menyesaikan persoalannya sesuai keinginan Gusti. Semangat sejalan keinginan atau bersatu dengan sifat dan kehendak Gusti itu oleh Kejawen disebut: " MANUNGGALING KAWULO GUSTI ".

Perlu diingat bahwa siapa yang menekuni " manunggaling kawulo Gusti ", nuraninya harus disokong oleh naluri dan nalar tersebut. Karena ajaran Kejawin lahir dari ciri-cirinya alam ( yang juga ciptaan Gusti), ajarannya banyak diperlukan untuk memperoleh keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan sesudahnya ,dengan latihan kejiwaan untuk memperkuat diri yang dinamakan NGLAKONI atau tirakat, yaitu antara lain, hangurangi dahar lan guling,(tidak tergantung waktu tertentu maupun lamanya):
- berpuasa
- ngrowot ( hanya makan sayuran dan buah-buahan)
- mutih (tidak makan garam)
- ngebleng (berjaga/ tidak tidur) dalam ruangan kecil yang terbatas yang gelap tanpa suara.

Meskiupn demikian ajaran Kejawen juga berisi tentang kehidupan sesudah kematian yang disebut ( BAWONO LANGGENG ), yaitu antaranya :
" Sangkan Parane Dumadi " ( dari dan Kemana yang telah diciptakan Gusti itu).
Petunjuk-petunjuk atau petuah dalam Kejawen disampaikan berupa Tembang yaitu lagu atau nyanyian beserta syairnya atau pantun, yang sekarang tidak begitu lazim digunakan. Meskupun begitu banyak juga yang berupa " kata mutiara " seperti: "Sepi ing Pamrih, rame ing gawe ( bertindak baik atau menurut petunjuk Gusti, tanpa mengharap imbalan atau hadiah ), "Aja Dumeh (jangan sombong), Wani Ngalah Luhur Wekasane ( berani mundur demi membuahkan Kemenangan)" dsb.

F. Musibah.

Tiada penyakit yang tiba-tiba datang lalu sudah sangat kgawat. Tentunya penyakit itu sudah lama diderita, tetapi tidak dirasa atau diperhatikan.Demikian juga musibah.
Ajaran Kejawen menyatakan :" Musibah wajib diterima dengan ikhlas, karena peristiwa itu adalah suatu teguran " NGUNDUH TAN TINANDUR" yang artinya "menuai yang ditanam".Hendaknya ditanggapi langsung dengan nalar,tekad, dan kesediaan menerima akibatnya. Maka itu sadar dan waspada harus dibiasakan.

http://www.nabble.com/Re:-Kejawen-meneropong-musibah-p15080824.html
Bencana Alam dalam Tatanan Filsafat Kejawen
Radio Nederland Wereldomroep
14-09-2007
Dengarkan wawancara dengan pakar kejawen
Gempa, tsunami dan berbagai bencana alam lain secara beruntun melanda Indonesia. Bagaimana mengartikannya? Filsafat Jawa kejawen memberi sudut pandang lain dari gejala alam ini, bukan saja dari segi rasional namun juga secara spiritual. Radio Nederland Wereldomroep menjumpai dua pakar kejawen Dr. Budya Pradipta serta Dr. Singgih Wibisono.
Tidak meluhurkan ajaran ketuhananGempa adalah dampak pergeseran lempengan bumi, demikian pakar kejawen Budya Pradipta menjelaskan. Manusia yang sering berbuat tidak baik itu buminya kurang kuat. Lalu bagaimana dengan posisi pemerintah dan pemimpin nasional di tengah terjadinya pelbagai gempa dan berbagai bencana alam di Nusantara?Pakar kejawen Singgih Wibisono: Tugas seorang pemimpin adalah mengurangi kesengsaraan rakyatnya. Dalam kaitan ini presiden SBY tidak menanggung masalah ini sendiri. Ia juga didukung oleh kekuatan-kekuatan lain.
Dalam kaitan ini mencolok juga bahwa rentetan bencana alam ini terjadi semasa pemerintahan presiden SBY mulai, apa komentar Budya Pradipta? Pertanyaan yang peka, demikian Budya Pradipta, setiap orang memiliki kekuataan dan kelemahan, misalnya kelemahan yang mendorong orang melakukan huru-hara. Dampaknya juga terasa dalam alam, alam akan lemah kalau banyak orang tidak berbuat baik. Dalam periode SBY ini banyak orang yang tidak meluhurkan ajaran-ajaran ketuhanan.
Yang penting adalah mengerti bagaimana gempa itu dilihat dari sudut pandang spiritual, demikian Budya Pradipta. Secara rasional orang bisa mengatakan apa itu gempa, itu adalah alam dan tidak perlu dikait-kaitkan dengan spiritual. Kalau dikaitkan secara spiritual maka pertanyaannya: ada apa gerangan dengan kita. Kita kurang teguh memainkan aturan-aturan ketuhanan.
RuwatanLalu bagaimana dengan pemecahan masalah ini menurut filsafat kejawen? Singgih Wibisono menyatakan yang perlu adalah kerjasama bukannya perpecahan seperti sekarang. Kalau ini terjadi maka ada keadilan dan kedamaian.
Jalan akhir adalah pengadaan ruwatan, demikian Singgih Wibisosno melanjutkan. Siapapun pemimpinnya kalau tidak mendapat dukungan maka masyarakat akan tetap kacau. Dan sebagai peringatan, lewat bencana alam diberberkan peringai orang belum baik. Tanda-tanda jaman.
KesadaranHikmah yang bisa dipetik dari rentetan bencana alam ini adalah kesadaran, demikian Budya Pradipta. Tuhan berbicara lewat alam, dan kita harus membaca artinya: ini mau apa Tuhan dengan kita?
Demikian penjelasan dua pakar kejawen Dr. Budya Pradipta dan dr. Singgih Wibisono sekitar rentetan bencana alam di Indonesia sejak pemerintahan SBY.Dengarkan wawancara selengkapnya melalui MP3
Kata Kunci: bencana alam, filsafat kejawen, gempa, ruwatan, Tuhan

http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/bencana_alam_kejawen070914
Hakekat dari Manunggaling Kawulo Gusti

Manunggaling Kawulo Gusti adalah meniadakan sosok manusia itu menjadikan sebuah kehampaan diri yang tampak hanyalah Allah Swt semata.
Jika kita lihat dari segi penciptaan, manusia tercipta atas rahmat Allah Swt, tumbuh atas rahmat Allah Swt, dapat berbicara atas kehendak Allah, dapat melihat atas kehendak Allah Swt, mendengar atas kehendak Allah Swt, hidup dan bernafas atas kehandak Allah Swt, dan manusia tak memiliki satu apapun di dunia ini melainkan Allah Yang Maha Memiliki, manusia tak memiliki hak apapun, maka dari itu hidup manusia ini juga bukan milik dirinya, bagaimana manusia dapat menyebut bahwa dirinya itu ada dan mempunyai hak? Bagaimana manusia itu dapat menyebut bahwa manusia dapat menghidupi dirinya sendiri? Allahlah satu-satunya yang berkuasa dan berhak menyebut bahwa Allah Swt benar-benar ada.
Manusia adalah se-onggok daging yang lemah, lumpuh, tak berdaya dan mati. Allah Swt telah menghidupkannya, Allah Swt telah meminjamkan Ruh-Nya dan itu bukan hak dan milik kita.
Semua yang ada didunia ini adalah milik-Nya. Kita tak berhak mengatakan bahwa kita memiliki sesuatu. Hidup kita adalah milik-Nya dan kita tidak berhak untuk mengambil dan memilikinya. Kita hanya diwajibkan menjaga milik-Nya. Maka dari itu apakah kita masih bisa berkata bahwa kita itu ada, bahwa kita itu exsis, bahwa kita itu berhak? Kita adalah sebuah kekosongan, dan yang hidup hanyalah Allah Swt.
Maka kembalikanlah diri kita kepada Allah. Kembalikanlah Ruh kita kepada Allah Swt dengan bersih sama ketika kita diberikan pinjaman Ruh yang suci oleh-Nya. Maka disaat kita telah siap untuk mengembalikan Ruh kita kepada Allah Swt saat itu kita akan merasakan kemanunggalan dengan Allah Swt.
Akhirnya kita bertanya : Siapakah Saya? dan Siapakah Allah? Dapatkah Manunggaling Kawulo Gusti?
(Dikutip dari: tulisan Mas Ario di netlog.wordpress.com)
http://imam77.multiply.com/journal/item/16
Tradisi Makna Kesatuan Perbedaan Komunitas Kejawen Menoreh
Jalan menanjak menuju Gunung Suroloyo, pada Kamis (14/9) sore, terasa jauh. Gunung itu adalah salah satu puncak bukit yang ada di deretan perbukitan Menoreh, di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
Jalan cadas dan terjal harus dilalui oleh tubuh yang berbalut kain jarik. Tangan menggenggam secawan penuh lembaran kelopak bunga, yang di sela-selanya disematkan sebatang dupa.
Hidup sebagai petani di lereng Bukit Menoreh telah membiasakan para pengikut keyakinan Kejawen Urip Sejati, di Dusun Onggosoro, Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, sekitar perbukitan Menoreh, melalui terjalnya jalan setapak di bukit itu.
Rapal puja-puji bagi Sang Hyang Widhi menyertai prosesi menuju Gunung Suroloyo.
Prosesi puja-puji yang diselenggarakan sebagai kegiatan ritual rutin mereka setiap bulan itu diawali oleh barisan gadis pembawa cawan-cawan berisi lembaran bunga dan diikuti oleh sejumlah orang yang membawa hasil bumi dalam suatu bentuk persembahan.
Di Tuk Onggosoro, salah satu mata air yang dilalui jalan setapak menuju Gunung Suroloyo, para peserta prosesi berhenti sejenak untuk menyucikan diri. Beberapa penari Grasak Butha mengelilingi peserta prosesi saat menyucikan diri di mata air itu sebagai simbol godaan dan halang rintang yang selalu dihadapi manusia.
Namun, para gadis pembawa cawan-cawan bunga terus saja berlalu. Dalam dunia batin pengikut keyakinan kejawen, bunga menempati makna ajaran yang cukup kuat. Menurut Ki Kamijan, sesepuh Kejawen Urip Sejati, bunga dan dupa merupakan satu kesatuan simbolik bermakna kesatuan dari berbagai perbedaan untuk menyampaikan puja-puji kepada Tuhan.
"Lewat dupa dan bunga ini, hidup kita pun akan seharum bunga, meski bunga itu berbeda-beda warna dan baunya. Dalam keyakinan kejawen, menghargai perbedaan itu adalah yang utama," kata Kamijan. (Madina Nusrat)
Petikan Sekilas
Sunan Muria secara umum sebenarnya bukan seorang yang Islam 100 % tetapi mengambil esensi ajaran dasar kehidupan, hidup dan mati,setelah mati dalam suatu tatanan Jawa yang sudah memiliki tradisi yang luhur dan diambil begitu saja ajaran-ajaran luhur itu untuk menyebarkan Islam.Sebenarnya umat Hindu kalau sekarang mungkin akan marah namun umat Hindu itu tidak menyukai pertikaian , pertengkaran namun dengan hati cepet gumun (gampang gumunan marang ilmu kang anyar) sebenarnya ilmu Kejawen yang dimiliki orang jawa lebih luhur dan baik untuk mengembalikan jati diri orang jawa.

Asmak Malaikat adalah sebuah ajaran spiritual jawa yang inti ajarannya adalah memohon kepada Tuhan agar kita diberi pertolongan melalui perantara malaikat-Nya. Asmak Malaikat yang berasal dari Sunan Muria ini bukanlah ajaran agama tertentu, melainkan sebuah tradisi yang mengajarkan suatu teknik olah batin dan usaha spiritual yang diyakini bisa menjadi jalan meraih tujuan tertentu.

Apabila dibenarkan menggunakan istilah "ilmu" untuk menyebut tradisi ini, maka Asmak Malaikat bisa disebut sebagai salah satu bentuk dari ilmu metafisika, ilmu supranatural, ilmu paranormal, ilmu spiritual, ilmu kasepuhan (kejawen), ilmu batin, ilmu mistik, ilmu esoterik, atau ilmu gaib. Dalam bahasa kita sehari-hari, tidak ada kesepakatan mengenai definisi berbagai istilah ilmu non-ilmiah ini. Setiap praktisi spiritual mempunyai pengertian yang berbeda-beda. Namun kami rasa, semua orang bisa memahami dengan mudah bahwa yang dimaksud dengan ilmu metafisika dan semacamnya itu adalah sebuah ajaran tentang perilaku-perilaku tertentu untuk melatih kekuatan spirit (energi jiwa/roh) atau energi yang tidak terlihat.

Menurut arti bahasa, Asmak Malaikat terdiri dari dua kata dari bahasa arab, yaitu Asmak (asma') yang artinya nama dan Malaikat adalah makhluk gaib dari cahaya yang bertugas mengurusi perputaran kehidupan dunia, termasuk memberi bantuan kepada manusia yang dikehendaki Tuhan. Malaikat merupakan ciptaan Tuhan yang terpelihara daripada perbuatan jahat. Mereka tidak bernafsu, tidak punya keinginan, tidak berjenis kelamin, tidak bersuami atau isteri, tercipta tanpa proses seksual ayah-ibu dan tidak beranak.

Para Malaikat tidak tidur, tidak makam serta tidak minum dan selalu mematuhi perintah Tuhan. Mereka mampu menjelma dalam bentuk apa saja yang dikehendaki dengan izin Tuhan. Sebenarnya, jumlah malaikat banyak sekali. Tidak ada yang tahu secara pasti berapa jumlahnya. Namun umumnya orang hanya mengenal beberapa nama malaikat yang disebutkan dalam kitab suci.

Menurut keterangan Mbah Ahmad Anshori (penemu Asmak Malaikat), setiap orang yang mengamalkan Asmak Malaikat -untuk selanjutnya kami sebut "Praktisi Asmak Malaikat" atau "praktisi" saja-, maka dirinya selalu dilindungi oleh beberapa malaikat. Nama-nama malaikat yang diyakini membantu praktisi Asmak Malaikat disebutkan satu per satu dalam kalimat afirmasi Asmak Malaikat Tingkat Tiga. Namun karena indera manusia secara "default" tidak dirancang untuk bisa melihat dan berkomunikasi dengan malaikat, maka umumnya hanya pancaran energi dari malaikat saja yang bisa dirasakan manusia. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan, apabila seorang Praktisi Asmak Malaikat akan bisa melihat dan berkomunikasi dengan Malaikat. Semua itu tentunya dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa.

Asmak Malaikat terdiri dari 5 tingkatan. Tingkat 1, 2 dan 3 adalah tingkatan murid yang boleh dipelajari semua orang tanpa persyaratan khusus. Sedangkan tingkat 4 dan 5 hanya diturunkan kepada murid yang dianggap cukup bijaksana untuk menjadi seorang Master / Guru. Setiap tingkatan Asmak Malaikat memiliki kalimat afirmasi masing-masing yang isinya mencerminkan ajaran dan manfat Asmak Malaikat. Kalimat afirmasi bisa diibaratkan sebagai kunci untuk membuka sebuah pintu energi.

Seseorang yang tahu atau bisa mengucapkan kalimat afirmasi Asmak Malaikat, belum tentu bisa mengambil manfaat dari bacaan afirmasi tersebut, kecuali orang tersebut sudah mendapatkan mendapat restu dari seorang Master melalui proses yang kita sebut attunement (pembukaan/penyelarasan energi).

Dewasa ini, Asmak Malaikat telah diamalkan oleh ratusan (atau mungkin ribuan) pelaku spiritual yang belajar langsung dari Mbah Anshori maupun dari murid-murid Mbah Anshori yang dipercaya untuk mengetahui rahasia tertinggi Asmak Malaikat. Murid-murid Mbah Anshori ini pun ada yang mengembangkan sendiri Asmak Malaikat untuk berbagai keperluan. Anda jangan heran, jika suatu saat Anda mendapatkan ajaran yang mirip atau sama dengan Asmak Malaikat, tetapi guru yang mengajarkannya menyebutnya dengan nama yang berbeda. Guru yang demikian itu tentu punya tujuan dan alasannya masing-masing. Sedangkan bagi Pak Narendra lebih senang menjelaskan Asmak Malaikat secara apa adanya kepada murid.

Sebagian orang menganggap bahwa Asmak Malaikat adalah ilmu spiritual yang hanya berfungsi untuk keselamatan, atau ada yang malah menilainya sangat rendah dengan menyebut Asmak Malaikat sebagai "Ilmu Kebal". Menurut kami, Asmak Malaikat adalah ajaran spiritual yang mengajarkan kita untuk mendapatkan potensi spiritual tidak terbatas. Sejauh Tuhan masih menghendaki, maka berbagai kemampuan spiritual bisa kita dapatkan dengan perantaraan ajaran Sunan Muria ini.

Sampai saat ini, atas pertolongan Tuhan, kami telah berhasil mengembangkan Asmak Malaikat untuk berbagai keperluan selain untuk keselamatan. Diantaranya yang paling populer adalah untuk pengobatan berbagai penyakit yang dianggap tidak bisa disembuhkan secara medis, meningkatkan kepercayaan diri, ketenangan batin, kesadaran spiritual, dan kepekaan rasa untuk menerima isyarat dari alam.

Asmak Malaikat yang kami ajarkan kepada murid sangat unik karena sudah berkembang sedemikian rupa sehingga cara mempelajarinya menjadi lebih mudah. Manfaatnya pun berkembang menjadi lebih banyak dan dinamis. Manfaat Asmak Malaikat selalu bertambah sejalan dengan pengalaman para praktisinya. Kami yakin, masih banyak manfaat Asmak Malaikat yang belum terungkap. Kelak Anda pun bisa menemukan manfaat Asmak Malaikat yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Murid yang mempelajari Asmak Malaikat tetap boleh mempelajari ajaran mistik, spiritual atau ilmu metafisika lain. Tidak akan ada pertentangan dan tidak akan menimbulkan efek samping negatif. Yang ada, semua latihan akan saling mendukung. Kabar baik bagi praktisi olah nafas, tenaga dalam, yoga, Rei Ki dan orang yang gemar meditasi, bahwa Asmak Malaikat sangat mudah dan cepat dirasakan oleh mereka yang sebelumnya sudah pernah menjalankan berbagai latihan metafisika.


Apakah ini termasuk "Ilmu Khodam Malaikat" ?

Jawabnya bisa "YA" dan bisa juga TIDAK, tergantung apa pengertian Anda tentang istilah "khodam". Apabila yang Anda maksud "khodam" adalah makhluk yang bersedia membantu/melayani semua keinginan dan pertintah Anda - tidak perduli itu perintah baik atau buruk - maka kami tegaskan bahwa Asmak Malaikat bukanlah Ilmu Khodam Malaikat. Dan kami tegaskan pula, bahwa Malaikat tidak diciptakan untuk "diperbudak" oleh manusia. Malaikat tidak akan membantu manusia dalam keburukan dan tidak bisa diperintah sesuka hati manusia, sesakti apapun manusia itu. Apabila ada seseorang yang menawarkan kepada Anda sebuah ilmu agar Anda bisa "memperbudak" malaikat, maka sudah pasti ini kebohongan besar.

Akan tetapi, Apabila yang Anda maksud "khodam" adalah makhluk gaib yang membantu Anda secara sukarela (tanpa meminta imbalan), dan Anda tidak berhak memerintah sesuka hati Anda, melaikan karena doa yang Anda haturkan diabulkan oleh Tuhan, dan kemudian Tuhan mengutus makhluk tersebut sebagai penolong Anda, maka Asmak Malaikat boleh disebut sebagai "ILMU KHODAM MALAIKAT".


Sekilas Sejarah Asmak Malaikat

Hamba Tuhan yang mendapatkan anugerah sebagai penyampai Asmak Malaikat adalah Mbah Ahmad Anshori yang lahir di Jepara pada tahun 1931. Awalnya beliau tidak menyangka dan tidak berharap bisa bertemu dengan roh Sunan Muria yang membimbingnya menguasai Asmak Malaikat. Karena maksud meditasi-nya di Gunung Muria hanya untuk menenangkan batin. Beliau berpuasa setiap hari, beribadah, dan banyak menyebut Nama Tuhan setiap saat. Beliau hanya ingin melepaskan emosi-emosi negatif yang timbul akibat masalah kehidupan yang selalu membuatnya tidak bahagia.

Awalnya Mbah Anshori berniat melakukan meditasi di dekat Makam Sunan Muria, tetapi karena banyaknya peziarah, maka meditasinya terasa kurang tenang. Akhirnya beliau memutuskan untuk melakukan meditasi di dekat makam Raden Gadung Sorso Kusumo(beliau beragama Hindu) yang merupakan Paman Sunan Muria. Letak makam Raden Gadung sekiatar 500 meter dari makam Sunan Muria.

Singkatnya, setelah sekitar dua tahun Mbah Anshori melakukan meditasi, pada suatu malam di tahun 1978, beliau ditemui seseorang yang memperkenalkan diri sebagai Pangeran Gadung Sosro Kusumo dan menawarkan untuk mempertemukan Mbah Anshori dengan Sunan Muria. Mbah Anshori menegaskan bahwa saat itu beliau tidak bermimpi. Beliau sadar sepenuhnya ketika berjalan mengikuti Pageran Gadung dari makam Pangeran Gadung menuju makam Sunan Muria. Bahkan dia juga bisa mendengar suara langkah kaki Raden Gadung, menandakan perwujudan Roh Raden Gadung adalah asli, bukan penjelmaan dari jin.

Selanjutnya, Mbah Ansori dipertemukan pada Sunan Muria. Pada pertemuan awal itu, tidak banyak yang disampaikan Sunan Muria kepada Mbah Anshori. Sunan Muria hanya berpesan jika Mbah Anshori hendak menemuinya, ucapkan salam saja dari jarak jauh dengan suara lirih.

Mbah Anshori pun kembali ke makam Pageran Gadung guna meneruskan meditasinya. Hingga suatu saat ada petunjuk untuk ziarah ke makam Sunan Muria lagi. Maka, beliau ingat pesan Kanjeng Sunan agar mengucapkan salam dari kejauhan. Yang kemudian terjadi, Sunan Muria menjawab salamnya. Kemudian beliau melihat dan berdialog dengan roh Sunan Muria. Pada kesempatan kedua itu, Kanjeng Sunan Muria mengajarkan Mbah Anshori tentang Asmak Malaikat Tingkat 1.

Makam Sunan Muria (Bagian Dalam)
Makam Pangeran Gadung Sosro Kusumo

Afirmasi atau doa yang diucapkan oleh Sunan Muria, begitu terdengar oleh Mbah Anshori, menjadikan beliau langsung hafal tanpa harus ada usaha untuk mengingat. Setelah mendapatkan ajaran Asmak Malaikat Tingkat 1, Mbah Anshori turun gunung untuk mengamalkan ilmunya di masyarakat. Meskipun waktu itu Mbah Anshori belum tahu secara pasti apa manfaat afirmasi yang diajarkan oleh Sunan Muria.

Mbah Anshori kemudian mengajarkan afirmasi Asmak Malaikat Tingkat 1 kepada beberapa orang di desa Bengkal, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Seperti telah direncanakan Tuhan, Mereka yang mendapatkan pelajaran dari Mbah Anshori kemudian mendapatkan ujian untuk membuktikan manfaat Asmak Malaikat. Sebagian dari mereka dengan tidak sengaja, terlibat perkelahian dengan orang yang menggunakan senjata tajam. Dengan pertolongan Tuhan, serangan senjata tajam tidak melukai murid Mbah Anshori tersebut.

Kejadian aneh ini kemudian dilaporkan kepada Mbah Anshori. Kejadian itu membuat Mbah Anshori menduga bahwa wejangan dari Sunan Muria adalah ilmu untuk keselamatan. Merasa mendapatkan ilmu baru yang belum sempurna, Mbah Anshori kembali ke Gunung Muria untuk melakukan meditasi. Hari demi hari, Petunjuk Kanjeng Sunan Muria terus membimbingnya. Dalam kurun waktu sekitar dua bulan, Mbah Ahmad Anshori telah sempurna menguasai Asmak Malaikat tingkat 1 sampai 5 dan Sahadat Pamungkas. Kanjeng Sunan Muria pun mengajarkan bagaimana cara menurunkan Asmak Malaikat kepada orang lain.

Setelah selesai semua pelajaran yang diberikan oleh Sunan Muria, Mbah Anshori menguasai 5 tingkatan ilmu Asmak Malaikat, dan satu ilmu sebagai penutup yang diberi nama Sahadad Pamungkas atau "kesaksian terakhir". Sifat Asmak Malaikat lebih cenderung pada pertahanan (defensif), sedangkan Sahadad Pamungkas bersifat ageresif (menyerang dan mempengaruhi fisik dan pikiran). Sahadat Pamungkas adalah suatu ilmu yang berdiri sendiri, bukan termasuk tingkatan Asmak Malaikat. Akan tetapi, menurut tradisi, seorang murid sebaiknya sudah belajar Asmak Malaikat Tingkat 3 sebelum mempelajari Sahadat Pamungkas.

Catatan : Dalam ajaran kejawen, khususnya Asmak Malaikat yang diajarkan oleh Mbah Ahmad Anshori, memang tidak pernah dibahas adanya cakra-cakra yang diaktifkan dan diselaraskan ketika proses attunement. Akan tetapi bukan berarti Asmak Malaikat tidak berpengaruh terhadap cakra, aura, tubuh eterik (tubuh halus atau tubuh energi), nadi (saluran energi), dan energi kundalini. Setiap jenis energi eterik (energi metafisik), apapun orang menamakannya, disadari ataupun tidak, pasti akan berhubungan dengan sistem cakra - atau lebih tepatnya sistem tubuh eterik - yang ada pada setiap manusia. Cakra merupakan organ metafisik yang mengolah berbagai jenis energi untuk tubuh fisik, jiwa, dan roh manusia.

Diantara para guru Asmak Malaikat, sepertinya Master Narendra-lah yang pertama kali membahas hubungan Asmak Malaikat dengan cakra. Mungkin karena dari sejumlah guru Asmak Malaikat, hanya Master Narendra yang sempat mempelajari secara mendalam tentang reiki, yoga, dan kundalini. Penjelasan tentang sitem cakra bisa Anda baca secara lengkap di website kami yang lain www.kursusreiki.com

Secara ringkas manfaat setiap tingkatan Asmak Malaikat adalah:

Membuka dan mengaktifkan cakra mahkota sebagai jalan masuknya energi malaikat. Manfaat Asmak Malaikat bagi diri sendiri untuk keselamatan, pengobatan, pembersihan energi negatif, kebangkitan tenaga dalam dasar, kepercayaan diri, ketenangan batin dan sebagainya. Menurut keterangan Mbah Anshori, seorang yang baru mempelajari Asmak Malaikat tingkat 1, masih bisa diserang oleh orang lain yang ingin melukai, tetapi serangan apapun tidak akan menimbulkan rasa sakit atau luka.

Membuka dan mengaktifkan cakra telapak tangan untuk menyalurkan energi kepada orang lain. Membuka dan mengaktifkan cakra jantung untuk kelancaran penyaluran Energi Malaikat. Mulai bisa memanfaatkan Asmak Malaikat untuk melindungi dan mengobati penyakit orang lain. Melumpuhkan orang yang beniat jahat dalam jarak sekitar 1-5 meter dari tubuh Anda. Dengan demikian, tidak ada serangan yang menyentuh kulit Anda.

Pembukaan dan pengaktifan cakra pusar dan cakra tantien (pusat tenaga dalam) untuk memaksimalkan proses pembentukan Tenaga Dalam. Pembersihan menyeluruh pada tubuh eterik, pemurnian energi, dan pembersihan seluruh cakra utama, cakra minor, dan saluran-saluran energi untuk persiapan menjadi Master Asmak Malaikat. Energi perlindungan tingkat tinggi, menarik energi berbagai unsur logam untuk pertahanan, menangani gangguan sihir tingkat tinggi. Mengobati penyaki kronis.

Mendapatkan hak untuk memberi attunement tingkat 1 sampai 3. Menguasai teknik penyaluran energi malaikat kepada benda mati atau makhluk hidup untuk perlindungan dan pengobatan jarak dekat maupun jarak jauh. Meningkatkan kepekaan telapak tangan (pembersihan dan pengaktifan sempurna untuk cakra telapak tangan) untuk deteksi energi.

Mendapatkan hak untuk memberi attunement tingkat 1 sampai 4. Penyempurna Asmak Malaikat. Mengobati gangguan otot dan tulang. Tanpa disentuh, posisi otot dan tulang yang salah akan dibetulkan oleh Energi Malaikat. Membuka cakra ajna dan cakra mahkota lebih aktif, meningkatkan kesadaran diri, mepertajam intuisi, lebih peka pada isyarat alam, menjadi manusia yang bahagia dan tenang batinnya dalam kondisi apapun, dan berbagai manfaat lainnya. Meditasi afirmasi tingkat 5 secara bertahap akan mengaktifkan seluruh cakra mayor dan minor, memunculkan berbagai potensi spiritual yang bisa Anda manfaatkan.

Sahadat Pamungkas
Membangkitkan tenaga dalam tingkat tinggi, pukulan jarak jauh kepada orang berniat jahat atau marah. Memantulkan (mengembalikan) kejahatan kepada pelakunya, memberi pelajaran kepada orang yang jahat agar bertobat, meredam amarah, meluluhkan hati, menjinakkan binatang buas, orang yang menghina menjadi hormat, rasa benci menjadi kasih kaming dan sebagianya.

Manfaat Asmak Malaikat dan Sahadat Pamungkas terus berkembang, seiring pengembangan dan pengalaman para praktisi selama mempelajari Asmak Malaikat. Banyak manfaat yang kemudian diketahui setelah terjadi suatu peristiwa. Terus terang kami tidak bisa memberi batasan manfaat apa saja yang bisa didapat dengan mempelajari Asmak Malaikat. Kami rasa, terbuka bagi siapapun untuk mengembangkan potensi Asmak Malaikat yang masih menjadi misteri. Sejauh Tuhan berkehendak, sejauh itulah kemampuan spiritual yang bisa kita dapatkan dari Asmak Malaikat.


Orang Pertama Yang Mendapatkan Asmak Malaikat

Sejauh pengetahuan kami, hanya Mbah Ahmad Anshori yang mendapatkan pelajaran langsung dari Sunan Muria tentang Asmak Malaikat ini. Kami tidak memastikan bahwa Mbah Anshori adalah satu-satu-nya, tetapi perlu diwaspadai dan ditelusuri kejujurannya jika suatu saat Anda bertemu orang yang mengaku mendapatkan Asmak Malaikat langsung dari Sunan Muria. Mbah Anshori mengajarkan Asmak Malaikat kepada ratusan atau mungkin ribuan murid. Sebagian murid Mbah Anshori juga mengajarkannya kepada murid lain, begitu seterusnya. Jadi tidak heran, jika suatu saat Anda mendapatkan ajaran Asmak Malaikat yang kurang lengkap atau bahkan diselewengkan, dikarenakan sifat, pemahaman dan tujuan manusia (baca : murid Mbah Anshori) yang berbeda-beda.

Waktu Mbah Anshori mendapatkan Asmak Malaikat (tahun 1978), Sunan Muria secara fisik memang sudah meninggal dunia. Namun para pelaku spiritual dan sebagian besar orang beragama meyakini bahwa "roh orang suci" tetap bisa memberikan bimbingan kepada manusia di dunia.

Mungkinkah Asmak Malaikat pernah diajarkan Sunan Muria saat masih hidup di dunia ? Kami tidak tahu pasti mengenai hal ini. Sejauh pengetahuan kami dan pencarian informasi selama ini, belum ada orang yang mengaku mendapatkan Asmak Malaikat secara turun-temurun yang mana ajaran tersebut disampaikan oleh Sunan Muria saat masih hidup di dunia.


Pantangan Pemilik Asmak Malaikat

Mbah Anshori pernah menjelaskan, bahwa praktisi Asmak Malaikat tidak boleh melakukan 3 hal dengan sengaja seumur hidupnya. Jika hal itu dilanggar, maka kemampuan spiritual yang dimilikinya akan luntur, dan untuk mengembalikannya dia harus mendapatkan attunement dari gurunya lagi. Tiga hal tersebut adalah:
Tidak boleh memakan daun atau buah mengkudu.
Tidak boleh memengang kendi (teko atau tempat air minum dari tanah khas jawa) yang sedang dipegang orang lain.
Tidak boleh menyatukan/menempelkan telapak kaki kanan dengan kiri.
Tanpa maksud meremehkan tradisi dan keyakinan guru kami (Mbah Anshori), kami memperbolehkan murid untuk melakukan 3 hal di atas. Dengan syarat murid tidak punya keyakinan bahwa melakukan 3 hal di atas bisa menghilangkan kemampuan spiritualnya. Sebenarnya, apa yang terjadi pada diri kita adalah dari buah pikiran dan keyakinan kita sendiri. Kami mengatakan demikian bukan asal bicara. Kami telah melakukan percobaan kepada beberapa murid. Kepada sebagian murid kami beri pantangan seperti di atas, dan kepada sebagian lagi kami mengatakan bahwa Asmak Malaikat tidak ada pantangan.

Setelah beberapa lama, kami perintahkan semua murid untuk memakan buah mengkudu. Kami tidak menjelaskan alasan apapun ketika memerintah mereka memakan buah yang dilarang tersebut. Apa yang terjadi kemudian? Murid yang kami beritahu tentang adanya pantangan, seketika hilang kepercayaan dirinya, dan kemampuan spiritualnya pun menurun drastis. Baru setelah kami lakukan attunement ulang kemampuan spiritual mereka kembali normal. Di lain pihak, murid yang belum tahu adanya pantang tersebut tidak mengalami penurunan kemampuan spiritual.

Jadi kesimpulan kami, mengenai 3 pantang di atas adalah tergantung pikiran Anda meyakininya. Kami tidak memberi pantangan apapun kepada murid yang belajar Asmak Malaikat. Namun bagi yang meyakini 3 hal di atas bisa membuat kemampuan spiritual Anda berkurang, sebaiknya Anda mematuhi pantangan tersebut.

Kalau memang boleh dilanggar, Apa tujuan diberlakukannya larangan atau pantangan di atas? - Pantangan merupakan salah satu cara guru-guru ilmu kejawen untuk mendidik murid agar bersifat mawas diri (waspada) dan sebagai tanda penghargaan terhadap ilmunya. Dengan adanya pantangan, maka seumur hidupnya, murid akan berhati-hati, waspada, menjaga perbuatan agar jangan sampai melanggar pantangan. Karena adanya pantangan pula, akan terlihat manakah murid yang sungguh-sungguh dalam belajar dan menghargai ilmu. Murid yang meremehkan ilmu dan tidak serius ingin belajar, suatu saat pasti akan berani melanggar pantangan.

Kalau Pak Narendra bagaimana? - Sebenarnya Bapak Narendra tidak meyakini, bahwa melakukan tiga hal yang dilarang tersebut akan menyebabkan hilangnya bantuan dari para Malaikat yang menjadi "khodam" Ilmu Asmak Malaikat. Namun, ada satu ucapan (yang bisa dikatakan sebagai janji) kepada guru Bapak Narendra, Mbah Ahmad Anshori. Sebelum Bapak Narendra menerima Asmak Malaikat, Mbah Anshori menjelaskan tiga pantangan tersebut. Bapak Narendra kemudian menyanggupi untuk tidak melakukan pantangan itu seumur hidup kami, kecuali dalam kondisi terpaksa. Maka bisa dikatakan Bapk Narendra juga mematuhi tiga pantangan Asmak Malaikat tersebut.

Anda sudah mengerti sekarang. Pantangan hanyalah salah satu bentuk latihan kewaspadaan dan cara menghargai subuah ilmu spiritual jawa. Nah, Anda sebagai orang yang berpikiran maju, silakan mengolah sendiri. Apakah Anda akan mematuhi pantangan Asmak Malaikat atau memilih belajar Asmak Malaikat tanpa pantangan.

http://asmakmalaikat.com/asmak_malaikat.htm
Ilmu Kejawen - 21st January 2008
Mengenai alih bahasa, silahkan Bang Damme yang menjelaskan

Dasar:
1. Sabar
2. Eling
3. Narimo
4. Sepi Ing Pamrih
5. Rame Ing Gawe

Dasar iku mau majarmo dadi "SENSER" kang kanggo kode tumrap aliran pecinta alam dan binatang berbisa terutama ular.

Tujuan:Arso gesang ayem tentrem kalis ing rubedo, ing alam bebrayan sarta ngudi biso sampurna ing titiwanci tinimbalan Gusti Kang Maha Agung sarta pinaringan kanikmatan ing alam kelanggengan.

Kanthi tansah: Mesu budi ing ati manembang ing Gusti tresna asing mring sesami.
Pantangan.
1. Ora kena sikara marang ulo
2. Ora keno mateni ulo
3. Ora kena dhahar iwak ulo
4. Ing dina tingalane dhewe ora kena kanggo kegiatan apa wae wiwit jam 12.00 tumeko jan 12.00 dina tingalane.
5. Ing dina tingalane dhewe oran kena dolanan ulo
6. Ira kena natoni atine liyan.

Kewajiban/amalan:
1. Welas asih mring sesami.
2. Dhemen tetulung marang sapa wai kanthi dhasar sepi ing pamrih.

Kompas/Pasaran
1. Wage = Lor
2. Legi = Wetan
3. Pahing = Kidul
4. Pon = Kulon
5. Kliwon = Tengah


http://www.ikastara.org/forums/showthread.php?t=3241
Posted ByAlfonsus on July 27, 2000 at 02:15:23:
In Reply to: aliran kejawen ( Semar ) posted byRiki on July 25, 2000 at 03:41:19:
: saya ada pertanyaan nih, bagaimana sih tentang aliran kejawen ajaran untuk mengikuti Semar, tokoh wayang .menurut Katolik apakah itu sesat?
Setahu saya, adalah sesat jika seorang yang beriman Kristen terlibat dalam aliran kejawen begini. Setiap orang yang mengimani Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya sudah selayaknya terikat pada Yesus, dan mengikuti Yesus saja.Jadi jika Kristus harus menjadi segalanya dan diatas segalanya. Jangan sampai digantikan oleh Semar.Umumnya penganut aliran macam kejawen ini dimasukkan dalam golongan Penganut kepercayaan kepada Tuhan YME. Selayaknya kita menghormati keyakinan mereka, karena merekapun dalam perjalanan mencari kebenaran.
: ada seorang pria di Weleri, jateng yg menjadi medium Semar dan setelah dirinya dimasuki roh Semar dia bisa ditanyai tentang berbagai hal: tentang penyakit, kesusahan,dsb .memang bukan untuk minta kekayaan tapi kadang kepada orang yg sering bertanya kepadanya, ia bisa memberi cincin yg ada semacam batu akiknya yg harus direndam pakai mawar & minyak wangi setiap hari Kamis malam dan kemenyan untuk membantu kepercayaan diri.: Saya dengar pria itu sendiri Kristen tetapi kenapa begitu? Ada tempat ziarahnya di Srandil, dekat Cilacap Jateng dan setiap malam Jumat Kliwon banyak pengunjungnya dari Jkt, Sby, Smg,dan kota lainnya: Agar mereka dilindungi, mereka biasa memasang kode 1610 di mobil atau rumah (dilindungi oleh Sang Semar). Tapi pada saat ziarah di Srandil itu, org-org di sana juga diminta berdoa menurut agamanya masing-masing: Saya tahu karena mama saya pernah mengikutinya bahkan dia diberi cincin oleh Kaki Semar.
Seseorang boleh saja beragama Kristen tapi belum tentu dia beriman Kristen, ini adalah hal yang sangat penting. Beriman yang dimaksud adalah iman yang hidup, yang tumbuh dalam Roh Kudus, jadi bukan sekedar saya "tahu" Yesus itu Tuhan, saya ikut dengan jadi Kristen, terus...ya udah.Bukan iman begini yang berkenan dihadapan Tuhan. Jadi jangan heran kalau dalam hal-hal semacam aliran kebatinan semacam itu ada banyak orang yang ikut serta dari berbagai agama dan kepercayaan.Bagi seorang Kristen, apa yang ada didepannya harus dihadapi, bukan dihindari. Yesus sudah menjamin segala rahmat yang kita butuhkan, kita bahkan diberi rahmat untuk berseru kepada Tuhan Semesta Alam dengan sebutan "Bapa, Ayah, Papa", suatu hal yang personal sekali dan mencerminkanrelasi yang akrab. Jadi, apapun yang menghadang didepan, kita harus hadapi bersama Yesus (salah kalau berpikir dapat kita hadapi sendiri).Umumnya orang tertarik dengan hal-hal kebatinan semacam ini karena mereka berharap bisa melihat apa yang ada didepan mereka, dan dapat menghindari kesusahan, kesulitan keuangan, dsb.
Dulu saya juga orang yang tertarik dengan hal-hal mistik, misal ramalan dan hal-hal okultisme lainnya. Tapi setelah saya semakin mengerti apa sebenarnya arti menjadi Kristen, dan apa yang disediakan Roh Kudus bagi saya.. saya sudah tidak tertarik lagi akan semua itu.Dalam menghadapi hal-hal semacam itu, ada satu ayat Kitab Suci yang sangat saya senangi: "Roh yang ada di dalam dirimu jauh lebih besar dari segala roh di dunia" (1 Yoh 4, ayatnya lupa). Dan Ekaristi mulai menjadi pusat kehidupan saya.
: Saya ingin sekali agar mama saya bisa lepas darinya dan bisa mengenal Yesus sbg Juru Selamat kita semua yg jauh lebih kuat dan baik. Bagaimana sebaiknya?: Juga apa tanggapan Gereja Katolik mengenai aliran Kejawen semacam itu?
Satu hal yang pasti, anda harus memulainya dengan doa. Bagaimanapun usaha anda untuk membawa orang kepada Tuhan, jika anda tidak bekerja sama dengan Roh Kudus hanya akan sia-sia saja.
Maaf jika ada kesalahan, kiranya teman-teman yang lain dapat memberi masukan lain.Tuhan memberkati.
--Magnificat Anima Mea Dominum--


http://www.st-andreas.org/wwwboard/messages/650.html
 

Copyright 2010 Kejawen New religion in New World.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.