10 June, 2011


Setelah mengikuti Tahun Baru 2011 di Pura Besakih, Tahun Baru Imlek 2562, Tahun Baru Saka 1933 dan Upacara di Bali lainnya, Pagi ini 18 Maret jam 6.oo Wita dari Pura Ibu Majapahit Jimbaran Pratima Sabdopalon yang juga dikenal Semar dan 2007 sempat di Kirap dari Rumah Brahmaraja ke Pendopo Agung Trowulan pada acara Suran, diiring kembali ke Trowulan Rombongan dipimpin Pandita Agung Majapahit GRP, Prawiradipura, Juga di Pura majapahit Garuda Wisnu Kencana [GWK]

Rombongan yang dipimpin Drs. Komang Artanegara SE sedang bersiap berangkat menuju Trowulan dengan membawa Sesaji dan Pandita Siwa Budha untuk melinggihkan kembali Pratima Sabdopalon di Rumah / Puro / Griyo / Dalem Brahmaraja XI Jalan Brawijaya 15 Trowulan yang juga Pusat Informasi Majapahit Brahmaraja, dan sore Rombongan Pura majapahit GWK ini akan menyusul.

Pratima Sabdopalon dipakai Simbul oleh Sri Gautama dari Pare Kadhiri yang berada di Bali 1962 untuk Kepercayaan "Sapto Darmo" , Sri Gautama adalah Seorang Pandita Kejawen yang Kondang di Wilayah Kadhiri dan tinggal di Pare yang memiliki Candi Surowono dan Tejo Wangi Peninggalan Majalahit tempat Setana Prabu Jayasabha,

Kepercayaan Sapto Darmo dengan Simbul Sabdopalon atau lebih dikenal Semar di Jawa ini eksis dan Banyak pengikutnya hingga membuka cabang diberbagai Daerah Foto samping Sri Gautama dirumah Brahmaraja XI Banjar Titih [Puri Dangin] difoto oleh Mr. Lee pada tahun 1962 dengan Camera Dorong seberat 1 Ton gambar sesuai besar Film nya yaitu 6X9 cm dan kini Film ini sudah sulit dicari, Untuk Surabaya Jawa Timur diketuai Mbah Puguh dan Sanggarnya di Darmo Kali yang juga bersama Brahmaraja dan 197 Kepercayaan di Jawa Timur dibawah HPK [Himpunan Penghayat Kepercayaan] yang diketuai DR, Djoko Soemono ikut memusatkan Acara Suran tingkat Nasional di Trowulan 1993, Juga ditahun yang sama Rapat di Sanggar Saptodarmo Darmokali, ketika  Hyang Suryo minum Kopi bersama Mbah Mashuri SH di Warung Kumuh tepi jalan Mojopahit depan Universitas Widya Mandala bersama Tukang Becak, Diadakan Rundingan Suran untuk Kota Surabaya yang pertama kalinya, akhirnya berhasil dengan meminjam Gedung Kesenian Cak Durasim di Genteng Kali, Dengan dana awal dari Mr. Charles 500.000 rupiah Acara Sukses dengan dihadiri Direktur Jendral [DIRJEN] Kebudayaan Drs. K. Permadi SH yang langsung menutup biaya kekurangannya Bahkan Gubernur Jawa Timur ikut hadir juga menyumbang dana Suran yang baru pertama kalinya diadakan di Surabaya di Era Orde Baru.
Keberadaan Sri Gautama di Bali juga oleh Brahmaraja XI yang akrab dipanggil Hyang Suryo Sang Resi diajak mengunjungi Meru Brahmaraja di Pura Besakih, Disinilah Beliau menerima Wahyu leluhur dan mendirikan Organisasi Sapto Darmo dengan Simbul Sabdopalon atau di Jawa terkenal dengan nama Semar yang juga dipakai dalam Pagelaran Wayang Kulit di Jawa, sedang Wayang di Bali yang masih Asli mirip Relief Candi di Jawa disebut Ratu Malen dan disingkat Tualen atau Malen dan di Jawa disebut Semar atau Samar [Kelihatan tapi Ada], 

Aliran Kepercayaan Sapto Darmo ini tahun lalu di Jogja dihancurkan Kelompok berbusana ala Arab dengan teriakan Alahu'akbar, Gambar Sri Gautama dan Simbul Sabdopalon dibanting diinjak injak, juga Wanita Penjaga sanggar tak luput dari Tendangan dan Gebukan Tongkat hingga terbaring entah Tewas atau masih hidup tak ada beritanya Gambar Vidio Kebrutalan terhadap Kepercayaan Jawa ini ditayangkan di Trans TV yang menyusul Tayangan Penyerbuan Cikesik Pandeglang Banten yang sangat ngetren. Padahal sejak 1978 Kepercayaan masuk GBHN [Garis Besar Nalauan Negara] dan bukan dibawah Mentri Agama, tapi dibawah Direktur Jendral Kebudayaan dan Mentrinya membawahi Pendidikan dan Kebudayaan, tapi 1999 Mentri Pendidikan pisah dengan Mentri Kebudayaan dan Parawisata, Jadi Kepercayaan malah Punya mentri Kebudayaan sendiri,

Tapi anak buah Mentri Agama tetap mengobok obok Kebudayaan dengan menghancurkan Sapto Darmo dan mengebom Puro Mojopahit Trowulan dan Pemerintahpun bukan melindungi malah Camat yang mewakili Pemerintah Menutup dan melarang Kegiatan Brahmaraja XI yang dikenal Hyang Suryo 2001 yang waktu itu sudah ada Mentri Kebudayaan Mr. Ardhika bahkan sudah ke Trowulan yang belum dikenal Kelompok Islam tukang ngebom. Dianggap Mentri Agamalah yang paling berkuasa di Negeri ini. yang punya MUI {majelis Ulama Indonesia] yang bebas Menyesatkan Kepercayaan yang tidak disukai Kelompoknya dan memicu Anarkisme. Padahal Prof DR. KH. Agil Siraj pada 10 Mei 1998 mengatakan dihadapan Ribuan masa di Aula Gereja Darmo Permai Surabaya "Kalau Reformasi pertama Departemen Agama harus dibubarkan karena memecah belah" sekarang Beliau malah jadi Ketua NU Organisasi terbesar di Negeri ini.

Bagi Umat Kejawen Sabdopalon atau Semar sangat di Hormati juga sebagai Tokoh Wayang yang paling Sakti dengan senjata "Kentut" nya yang bisa merubah Jadi jadian ke Wujut aslinya seperti dalam cerita "Petruk dadi Ratu" Petruk yang berwajah Ganteng mengenakan Mahkota kena Kentut Semar berubah jadi Petruk dan dijewer kupingnya dibawa oleh Semar ke Padepok'an Karang Tumaritis untuk dihukum. Inilah Lakon dalam Wayang Purwa yang anak kecilpun hafal ditahun sebelum 1965, kini juga dihafal tapi hanya sebagian Orang Tuwa Kejawen saja dan Kalangan Keraton Solo dan Jogja serta Sesepuh di Kadhiri, Blitar dll yang masih ada Kejawennya.

Rombongan Sabdopalon diperkirakan tiba di Trowulan sore ini, Persiapan Penyambutan di Puro Trowulan juga dilakukan, Biku Acun sudah datang jam 17,oo WIB dengan membawa ratusan Nasi Kotak juga Andre Tan Fak Ging dari Klenteng Tuban ikut mempersiapkan Penyambutan Sabdopalon dibantu Raden Panji Gautama serta Umat kejawen sudah membersihkan Tempat Sabdopalon di Pusat Informasi Majapahit, juga Tamu dari Polda [Kepolisian Daerah] Jawa Timur Mr. Sudarsana ikut datang berpakaian biasa Suasana yang biasanya Hujan angin hari ini tidak hujan tapi mendung menggelayut dan tidak ada angin, Pohon Pohon diam membisu.

Tepat jam 18.05 Rombongan Pengantar Sabdopalon tiba Bis dan mobil langsung diparkir di Jalan Sabdopalon dan penumpangnya turun di Pusat Informasi menurunkan Pratima Sabdopalon yang disambut Raden Gautama untuk dilinggihkan ditempatnya semula, Tepat jam 18.18 WIB Pratima Sabdopalon melinggih kembali disebelah Dewi Tangan seribu, Kepulan Dupa memenuhi Pusat informasi yang penuh sesak dengan ratusan Pengiring dan Penerima Sabdopalon termasuk dari Blitar, Krian, Surabya dll, Kemudian Acara Naglinggihan diadakan dengan Do'a bersama dipimpin Mangku GWK, Jero Purnama Besakih, Bikuni Takaki dari Jepang dll,

Banten Odalan dan Ngenteg Linggih dibawakan dari Bali yang dibuat Eka Group, Hadir Mangku GWK, Bikuni Takaki, Jero Purnama, dll yang akan Upacara ngalinggihan .Mr, lakon utusan Bendesa Adat jimbaran juga sibuk menurunkan Banten Upacara, Mobil Banten / Sesaji odalan giliran masuk parkir di Puri Surya Majapahit Jalan Brawijaya 13 karena hanya bisa 1 mobil yang masuk itupun harus Mobil Suci yang membawa Sesaji Odalan dan Ngenteg Linggih. Brahmaraja XI juga dengan melangkahi Sesaji Penyambutan langsung melihat Sabdopalon yang sudah Melinggih dengan benar ditempat semula

Pagi 19/3 Komang Sopir dan Jero Purnama dari Besakih ke Pasar Maja Agung untuk belanja kekurangan Sesaji Upacara odalan dan Ngenteg Linggih Sabdopalon, Mangku GWK juga sibuk mengatur Dupa dan Sesaji Sabdopalon, Ibu Gusti Kampial juga sibuk memeberi Tirta pada Para Gadis yang akan membantu membuat Sesaji agar terjaga Kesuciannya, Jero Gede Istri Lanang Dauhpuri juga sibuk membuatkan Brahmaraja XI Kopi, Teh dan Jajan serta diletakkan diatas Dulang dan diberi Dupa untuk Makan Pagi, juga mebuat Dapur Umum dengan membawa Kompor dan peralatan dari Bali sedang Mr. Lakon membeli Peralatan masak dan membuat Air Panas tenaga Listrik di Maja Agung. Kadek Moyo sibuk mendokumentasi dengan peralatan digital.

Untuk pertama kalinya sejak ditutup 2001 Gapura paduraksa yang menghadap Segaran dan dipinggir Jalan Brawijaya - Dara Jingga 13 Tempat Sesajinya dibersihkan Mangku GWK dan dibuatkan Sesaji Baru. Dan aneh suasana hanya Mendung tapi tidak hujan. Gusti Kampial juga sibuk menaruh Sesaji dalam besek / keben ditiap Leluhur sebuah Sesaji langka yang sudah hilang 500 tahun sejak Keruntuhan majapahit di Trowulan, Tepat jam 16.oo Wib Kentongan di Bale Kul Kul dibunyikan oleh Gusti Kampial dan Hujan langsung turun selama 5 menit, Kentongan ini baru pertama kalinya dibunyikan sejak 2001 ketika Puro Majaphit ditutup.

Diteruskan Upacara Ngenteg Linggih dan Odalan, Ketua Pura Ibu Majapahit Jenggala juga hadir, Juga Mbah Tondonegoro Trowulan Sesepuh Punden Arya Belok [Tan Bi Lok / Alok] didesa Beloh nyumbang Tumpeng Arya Belok terkenal jadi Anglurah di Puri Kaba Bali juga Tan Wi Kang, Tan Kawur, Tan Mundur dan Tan Kober ke Bali, Tumpeng dibawa Darto Ambon dan Kusaini masing masing satu Tampah dikirap dari Padepok'an Tondonegoro menuju Puro Brahmaraja dengan diiringi Warga Krian Keturunan Rakyan Mahapatih Gajah Mada yang kini jadi desa Mada Pura, Tumpeng ini khusus menggunakan Ayam hitam [Cemani].

Djoko Umbaran dari Sidoarjo dan Groupnya membuat Caru dengan 108 Contong berisi 9 nasi golong dan 1000 Canang Agung menambah semarak Upacara Ngenteg Linggih ini, Juga Para Gadis Penari Rejang Dewa melengkapi Acara ini. Suasana rumah Brahmaraja XI penuh sesak ditambah datangnya Rombongan dari Garuda Wisnu Kencana Bali dipimpin Drs Komang Aratanegara SE yang juga membawa Sesaji hingga Meja Upacara penuh Sesaji dan menambah Meja baru, Upacara Lengkap dipimpin Pandita Siwa dan Budha serta Sepiritualis SARA [Suku, Ras dan Agama] dan ada yang nyumbang Tari Kejawen "Sekar Jagad" dan Tarian ini baru pertama kalinya di Tampilkan di Trowulan sejak 500 tahun keruntuhan Majapahit.

Demikianlah Acara Ngenteg Linggih selesai jam 20,oo Wib dengan sukses dan Para Pengantar Sabdopalon pulang kembali ke Bali, Padahal Pihak Kepolisian Trowulan menahan agar menginap saja, Tapi Rombongan yang 1 X 24 Jam berada di Trowulan menghindari Kesulitan harus Lapor karena sebagian istirahat di Jalan Sabdopalon harus lapor Ketua RT [Rukun Tangga] biasanya Para Tamu mendapat sambutan penduduk setempat, Tapi kali ini ada Provokator yaitu Srikandi istri Supeno [ngaku Spy Polisi] yang pernah mengusir Rombongan dari Sukawati Bali tahun lalu Srikandi mendatangi Romo Yanto di Jalan Sabdopalon 6 temapat sebagian Orang Bali istirahat, yang menanyakan apakah Orang Bali sudah Lapor RT dengan membawa beberapa Pemuda luar daerah Sabdopalon. Pihak Kepolisian akhirnya mendatangi Tempat Upacara di Jalan Brawijaya dan Upacara sudah selesai kebetulan ada juga Polisi dari Bali yang ikut Upacara dan pernah Dinas di Trowulan 1980,

Akhirnya ada saling pengertian dan Para Tamu dari Bali Pulang dalam tempo 1 X 24 jam saja karena memang Upacara Ngalinggihan Sabdopalon di tempatnya semula telah selesai, Dan Pihak masyarakat sekitar Jalan Brawijaya juga menyatakan tidak ada masalah malah Mantan Ketua RT memberi tempat parkir gratis, hanya lain kali agar Lapor saja bagi Orang Bali khusus yang di Jalan Sabdopalon yang tidak ngerti Sabdopalon Pulang ke Jalan Brawijaya 15 yang RT nya lain dengan Jalan Sabdopalon, sedang kalau Orang Jawa bebas seperti menginap di Makam Putri Cempa dan Kubur Dowo Jalan Dara Jingga / Brawijaya juga bebas, ke Troloyo juga bebas karena Trowulan menarik Parawisata Bahkan Brahmaraja XI juga diajak kerjasama menarik Pengunjung ke Trowulan yang menjadi Kendala Orang Bali saja dipersulit kalau tidak Lapor Supeno yang mengangkat dirinya sebagai Mangku Majapahit dan SP [Sepion Polisi]. Pihak Anggota Koramil [Komando Daerah Militer] Trowulan juga menyarankan bila banyak Tamu bisa nginap di Pendopo Agung Trowulan yang milik Kodam [Komando Daerah Militer] Brawijaya yang parkirnya luas dan aman dari gangguan Supeno yang dulu buka Warung di pendopo Agung tapi di Usir Koramil karena ulahnya, hal menginap di Pendopo Agung Brawijaya ini juga didukung Kepolisian.



[ Pandangan Mata Team Reporter Independent]

Foto Upacara bisa dilihat di FB Pura majapahit Wilatikta Trowulan bisa diunduh dan diunggahkan.

27 April, 2011

Tahun Jawa sebelum datangnya agama hindu/budha tidak menyebutkan urutan angka untuk menunjukan tahun ,yang dikenal hanya ganti tahun setiap 12 Bulan/mangsa.yang disebut pranata mangsa.dan terdiri 5 hari yang disebut pasaran yaitu paing,pon,wage,kliwon dan legi.

Baru pada pada tahun 1855 masehi ,oleh Mangkunegoro IV tahun jawa dikembalikan lagi untuk mulai berdiri sendiri,karena apa yang di lakukan oleh Sultan agung dengan menggabungkan bulan dan pasaran hari jawa dengan tahun Hijriyah (tahun Islam) tidak bisa sesuai dengan iklim alam jawa ,Sultan Agung semata mata hanya agar tahun baru jawa dan Islam sama waktunya ,akan tetapi banyak ketidak cocokan iklim yang terjadi sebagai patokan bercocok tanam. oleh karena itu pada hari selasa paing tanggal 23 Juni tahun 1855 masehi Mangkunegoro IV berinisiatif mengembalikan tahun 1 bulan 1 tanggal 1 Jawa memisah dengan tahun Islam dan sering di sebut Pranata mangsa

Dengan begitu sesungguhnya tahun baru jawa bukan 1 sura/1 muharam atau juga bukan 1 saka tetapi setiap tanggal 23 Juni masehi karena sama sama menggunakan perputaran bumi mengelilingi matahari sebagai patokannya. sehingga untuk tanggal 23 juni 2007 adalah tahun baru jawa yang ke 152.(semoga menjadi hari libur nasional kelak,sbg th.baru jawa)

12 bulan yang merupakan pranata mangsa yaitu,:

Bulan 1 (wulan siji) namanya kasa terdiri 41 hari(tanggal 1 sd tanggal 41),23 juni sd 2 ags

-tanda tandanya a. Musim kemarau

b. Petani menanam palawija

c. Angin dari timur laut ke barat daya

Bulan 2 (wulan loro) namanya karo terdiri 23 hari(tanggal 1 sd tanggal 23) ,3 ags sd 25 ags

-tanda tandanya a. Musim kemarau

b. Petani menanam dan panen palawija

c. Angin dari barat laut ke barat daya

Bulan 3 (wulan telu) namanya katiga terdiri 23 hari(tanggal 1 sd tanggal 23),26 ags sd 18 sept

-tanda tandanya a. Musim kemarau

b. Petani panen palawija

c. Angin dari utara ke selatan

Bulan 4 (wulan papat) namanya kapat terdiri 25 hari(tanggal 1 sd tanggal 25),19 sept sd 13 okt

-tanda tandanya a. Masuk musim hujan

b. Petani menata tanah

c. Angin dari barat laut ke tenggara

Bulan 5 (wulan lima) namanya kalima terdiri 27 hari(tanggal 1 sd tanggal 27),14 okt sd 9 nov

-tanda tandanya a. Musim hujan

b. Petani menyiapkan benih padi

c. Angin dari barat laut ke tenggara

Bulan 6 (wulan nem) namanya kanem terdiri 43 hari(tanggal 1 sd tanggal 43),10 nov sd 22 des

-tanda tandanya a. Musim Hujan

b. Petani membajak sawah

c. Angin dari barat ke timur

Bulan 7 (wulan pitu) namanya kapitu terdiri 43 hari(tanggal 1 sd tanggal 43),23 des sd 3 feb

-tanda tandanya a. Musim hujan/banyak penyakit

b. Petani menanam padi

c. Angin dari barat ke mana mana

Bulan 8 (wulan wolu) namanya kawolu terdiri 27 hari(tanggal 1 sd tanggal 27)4 feb sd 1 maret

-tanda tandanya a. Musim hujan sampai banjir

b. Padi berbuah

c. Angin dari barat laut ke timur dan kemana mana

Bulan 9 (wulan sanga) namanya kasanga terdiri 25 hari(tanggal 1 sd tanggal 25)2 mar sd 26 mar

-tanda tandanya a. Musim hujan sampai hujan es

b. Padi menguning

c. Angin dari selatan ke utara

Bulan 10 (wulan sepuluh) namanya kasadasa terdiri 24 hari(tanggal 1 sd tanggal 24)27 mar sd 19 apr

-tanda tandanya a. Musim peralihan

b. Panen padi,nelayan melaut

c. Angin kuat dari tenggara

Bulan 11 (wulan sawelas) namanya hapit lemah terdiri 24 hari(tanggal 1 sd tanggal 24)20 apr sd 12 mei

-tanda tandanya a. Musim kemarau

b. Petani panen padi

c. Angin dari tenggara ketimur laut

Bulan 12 (wulan rolas) namanya hapit kayu terdiri 41 hari(tanggal 1 sd tanggal 41)13 mei sd 22 juni

-tanda tandanya a. Musim kemarau,udara dingin

b. Petani menanam palawija,panen buah

c. Angin dari timur ke barat
Kejawen maneges adalah agama perilaku bukan agama upacara namun demikian ,...Dalam masyarakat Jawa sejak dahulu sudah dikenal tentang perhitungan weton angka-angka dan tata cara memulai sesuatu. Pada umumnya aliran maneges tidak berbeda jauh dengan perhitungan yang sudah ada,

Pada setiap weton hari dan tanggal kelahiran sendiri maka selalu ada acara samadhi dilanjutkan puasa mutih dari matahari terbenam sampai terbenam kembali dan ditutup dengan samadhi kembali.

Puasa mutih adalah puasa yang di dahului dengan makan nasi putih sekepal dan minum air putih segelas, selanjutnya tetap makan nasi putih sekepal pagi siang dan sore menjelang buka dengan tetap membiarkan minum air putih selama puasa.

Tata cara samadhi adalah duduk bersila,menutup kedua tangan di dada kurang lebih 15-30 menit atau lebih dan berkonsentrasi terhadap kebaikan, ketenangan dan kebahagiaan apapun keadaan yang sedang kita alami.dan mengingat apa perbuatan kita untuk menghindari perbuatan buruk yang menimbulkan kesusahan.

Puasa mutih sangat berguna bagi kesehatan tubuh, membersihkan aliran darah selama sebulan lebih mengkonsumsi makanan bebas, mambuka cakra dan aura badan jasmani, memberi ketenangan jiwa dan membuat arah kepastian hidup dengan kunci kebahagiaan.untuk mempermudah datangnya keberuntungan

Samadhi apabila dilakukan dengan benar maka akan menghindarkan dari kecemasan dan ketakutan dan menjadikan jiwa selalu pasrah, sehingga muncul kebahagiaan jiwa dan batin yang sebenarnya.

Samadhi juga bisa diartikan manunggaling badan dan jiwa sehingga jiwa yang merupakan percikan Tuhan dapat menyatu dengan tubuh yang di diami. Karena jiwa mengenali tubuh.
Tentang angka angka kepercayaan Kejawen Maneges bahwa angka di sesuaikan dengan perputaran hari jawa dalam seminggu yang terdiri dari 5 hari,sehingga keberuntungan angka juga selalu dibagi 5 dengan cara di baca bukan di jumlah dengan urutan
angka 1 dibaca sri yaitu keberuntungan
angka 2 di baca lungguh yaitu kedudukan,keabadian atau kelanggengan
angka 3 di baca dunya yaitu rejeki,menuju kekayaan duniawi
angka 4 di baca lara yaitu penderitaan
angka 5 di baca pati yaitu kematian,kesialan,menimbulkan ketidak baikan di kemudian hari
angka 6 kembali ke atas lagi sampai 10 ,angka 0 di baca sama dengan 10
tidak berlaku untuk angka hasil undian,atau pemberian yang memaksa

17 November, 2010



Oleh : Soeroso M. P.
Peninggalan di Sepanjang Sungai Batanghari
Ketika tahun 1820 Kapten S. C. Crooke yang berkebangsaan Inggris pertama kali mengunjungi peninggalan-peninggalan di Muara Jambi, ia melaporkan bahwa "Muara Jambi merupakan bekas kota, yang memiliki sejumlah runtuhan bangunan bata dan batu yang berisi sejumlah arca dan relief lainnya". Dalam jangka waktu 117 tahun kemudian, catatan S. C. Crooke tersebut dikutip kembali oleh Schnitger pada saat ia mengunjungi situs ini sekitar tahun 1936. Dalam laporan Schnitger juga disebutkan temuan lain, di antaranya sebuah arca gajah yang telah patah gadingnya. Meskipun dari peninjauan T. Adam tahun 1921-1922 juga dicatat peninggalan yang ada di wilayah seperti Candi Astano (Stano), Candi Gedong I dan Candi Gedong II, serta Candi Tinggi, tetapi karya Schnitger yang berjudul The Archaeology of Hindoo Sumatra, yang ditulis tahun 1937, dianggap sebagai catatan terlengkap untuk peninggalan di situs ini.
Selain mencatat temuan-temuan yang terdapat di permukaan, Schnitger juga melakukan sejumlah penggalian. Hasil dari penggalian di Candi Gumpung misalnya dilaporkan tentang temuan pintu masuk di bagian sisi timur, serta sebuah ruangan dengan tangga naik yang telah runtuh dan sebuah teras di depan. Dengan melihat detil-detil bagian bangunan yang masih melekat, Schnitger memperkirakan bangunan-bangunan tersebut paling tidak didirikan pada abad ke-9 atau ke-12 M (Schnitger, 1937: 6).
Keterangan lain yang menarik dari Schnitger juga mengenai temuan kepala arca Buddha dari Muara Jambi pada tahun 1906 yang pada tahun 1920 dipindahkan ke Penang. Arca tersebut dinilai sangat indah dan memiliki kemiripan dengan yang ditemukan di Vieng Sa, bergaya seperti arca-arca India Utara. Lebih lanjut juga dicatat adanya sebuah arca Nandi. Dari yang bersifat Hindu itu akhirnya ia berpendapat adanya penganut Siwaisme di Kompleks Percandian Muara Jambi(ibid.: 5).
Delapan belas tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1954, sebuah rombongan dari Dinas Purbakala diketuai oleh Drs. R. Soekmono kembali melakukan perjalanan penting ke wilayah Sumatra Selatan dan Jambi. Dari kunjungan singkat mereka di Muara Jambi, selain sisa bangunan Candi Gumpung, Candi Tinggi, serta Candi Astano, juga ditemukan dua buah batu yang disebut “batu catur”, karena bentuknya yang tinggi seperti buah catur. Dapat dipastikan bahwa batu tersebut adalah lapik arca. Dari hiasannya yang berbentuk teratai, mudah diduga bahwa lapik semacam itu berasal dari masa Singasari (Puslit Arkenas, 1985: 15). Berangkat dari kemiripan-kemiripan tersebut akhirnya berkembang pendapat bahwa bangunan-bangunan di Muara Jambi berasal, atau setidak-tidaknya berkembang sejaman dengan berkembangnya kerajaan Singasari di Jawa Timur pada sekitar abad ke- 13. Pandangan tersebut telah menggeser waktu sedikit lebih muda dari pendapat yang diajukan oleh Schnitger tujuh belas tahun sebelumnya yang memperkirakan bahwa bangunan-bangunan Muara Jambi berasal dari abad ke-11 atau ke-12 (Schnitger, 1937: 6).
Upaya Schnitger melakukan ekskavasi yang tidak sistematis terhadap Candi Gumpung, Candi Astano, Candi Tinggi, dan Candi Gedong, meskipun hanya sebagian kecil yang dibuka, tetapi telah meruntuhkan dinding-dindingnya sehingga makin mengacaukan gambaran tentang denah candi yang sesungguhnya. Keadaan ini diperparah oleh sejumlah lubang-lubang bekas penggalian liar khususnya di Candi Astano beberapa waktu kemudian. Dilaporkan pula oleh penduduk setempat bahwa sejumlah besar batu-batu candi pernah pula diangkut ke desa seberang Muara Jambi untuk pembangunan salah satu bangunan umum.
Setelah 25 tahun sejak kunjungan R. Soekmono tahun 1956, barulah mulai tahun 1980 peninggalan- peninggalan yang terdapat di Muara Jambi ini diperhatikan kembali. Upaya membersihkan gundukan- gundukan tanah, baik yang jelas merupakan sisa bangunan, ataupun gundukan-gundukan tanah yang tertutup semak belukar dan dicurigai merupakan sisa bangunan, berhasil meyakinkan bahwa situs Muara Jambi merupakan kompleks yang sangat luas dan padat dengan tinggalan-tinggalan bangunan keagamaannya. Jika penggalian Schnitger pada tahun 1936 hanya tercatat tidak lebih dari 6 hingga 8 bangunan, ternyata jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibanding dengan yang tercatat hingga saat ini, yaitu tidak kurang dari 40 sisa bangunan, baik besar maupun kecil. Gugusan-gugusan bangunan tersebut ada yang berdiri sendiri terpisah dari yang lain, dan ada pula yang mengelompok membentuk kesatuan atau gugusan.
Masyarakat setempat menyebut bangunan-bangunan itu dengan nama “Manapo”, tidak jauh berbeda seperti halnya masayarakat Tapanuli menyebut “Biaro” untuk bangunan-bangunan kuno yang terdapat di dataran Padang Lawas, Tapanuli Selatan. Kalau “Biaro” dalam pengertian ini dapat dicari padanannya dengan “biara” atau “wihara” yang berarti “bangunan suci berlatar belakang agama Buddha”, maka mungkinkah kata “Manapo” juga dapat dikembalikan pada asal katanya yaitu “Mandapa” yang juga berarti “kuil”, atau “paviliun”? (Monier Williams, 1899: 775; Acharya, 1927: 53).
Tidak jauh berseberangan dengan situs Muara Jambi, juga terdapat peninggalan lain, yaitu Candi Teluk. Dibandingkan dengan candi yang ada di Muara Jambi, Candi Teluk, yang terletak di Desa Kemingking Luar, Kecamatan Marosebo, saat ini nyaris hilang dari peta kepurbakalaan karena terlanggar oleh bangunan pabrik baja yang ada di dekatnya. Suatu upaya untuk menyelamatkan situs ini dari kerusakan yang lebih parah tampaknya sia-sia, padahal dari hasil survai menunjukkan bahwa telah ditemukan ribuan pecahan keramik dan gerabah yang hampir sebagian besar berasal dari sekitar abad ke-13.
Menyusuri Sungai Batanghari ke arah hulu, tepatnya di wilayah Kotamadya Jambi juga ditemukan sisa-sisa bangunan bata yang lebih umum dikenal dengan nama Candi Solok Sipin. Penggalian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional pada tahun 1982 berhasil menampakkan seluruh sisa yang ada. Dapat diketahui bahwa situs ini hampir 90% telah hilang atau rusak, sehingga tidak mungkin denahnya dikenali kembali. Adanya sisa bangunan di Solok Sipin tidaklah mengherankan karena di daerah ini pernah ditemukan sebuah makara yang berangka tahun 1064 M, dan menyebut seseorang yang bernama Mpu Dharmmawira, sebuahstambha setinggi 1,40 meter, serta sebuah arca Buddha berdiri (kini disimpan di Museum Nasional) yang di bagian belakangnya menyebut nama “̣daŋ ācāryya syụta” (Suleiman, 1985: 100). Dari temuan-temuan tersebut jelas bahwa Candi Solok Sipin merupakan bangunan keagamaan yang bernafaskan agama Buddha.
Perjalanan lebih ke hulu membawa kita memasuki wilayah Sumatra Barat, tepatnya di Padang Roco. Dalam perspektif arkeologi, dari Padang Roco inilah dahulu ditemukan arca Bhairawa setinggi 4,41 meter yang lebih dikenal dengan nama Bhairawa Sungai Langsat (kini disimpan di Museum Nasional) yang dianggap sebagai arca perwujudan Raja Ādityawarman.
Hanya beberapa meter dari tempat ditemukannya arca tersebut juga ditemukan sisa sebuah bangunan
bata, dan beberapa puluh meter agak ke pedalaman juga terdapat sebuah gundukan tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan permukaan tanah di sekitarnya. Dari penggalian Schnitger pada tahun 1935 dapat ditampakkan denah sebuah bangunan yang berukuran 20 x 20 meter dengan 4 pintu masuk di keempat sisinya. Hal yang paling menarik dari laporan Schnitger itu adalah tentang adanya dua lapisan dinding bangunan, yang melekat antara yang satu terhadap yang lain sehingga diduga bahwa candi ini dibangun dalam dua tahap. Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sekitar tahun 1994 juga berhasil menemukan dua candi yang lain di dekatnya, yang diperkirakan sebagai candi perwara. Agak lebih ke hulu dari Padang Roco, dengan menyusur hulu Sungai Batanghari, sampailah kita di Desa Kampung Sawah, Sinjunjung, Sumatra Barat. Di tempat inilah baru-baru ini ditemukan sejumlah sisa bangunan bata yang diperkirakan juga merupakan bangunan candi.
Agak ke hulu lagi, tepatnya di Desa Siguntur juga ditemukan gundukan-gundukan tanah yang oleh penduduk setempat disebut dengan nama “munggu”, yang artinya ‘tanah yang tinggi‘. Penggalian yang dilakukan oleh Suaka Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakaka Sumatra Barat pada dua buah gundukan yang ada, dapat membuktikan bahwa gundukan-gundukan tanah tersebut merupakan sisa bangunan candi. Munggu I misalnya meskipun tinggal bagian fondasi dan sebagian kecil bagian kaki candi, namun dapat diketahui bahwa bangunan itu menghadap ke timur dengan denah berukuran 7,40 x 6,60 meter. Pada Munggu IV meskipun hanya menemukan bata-bata yang telah runtuh tidak beraturan tetapi mudah diduga bahwa bata-bata tersebut merupakan sisa bangunan sehingga ‘munggu-munggu‘ yang lain pun tentunya juga merupakan sisa bangunan. Bahkan perjalanan lebih ke hulu lagi akan sampai ke Rambahan, tempat ditemukannya arca Amoghapāśha yang diduga juga menyisakan sisa-sisa bangunan candi.
Dengan menyusuri daerah aliran Sungai Batanghari dari hulu hingga muara tanpa dibatasi oleh batas- batas administratif, telah membawa fantasi kita pada peta daerah aliran Sungai Batanghari di masa lalu yang banyak terisi titik-titik penting yang pernah menjadi pusat-pusat kegiatan manusia. Mengapa manusia masa lalu cenderung memilih dekat sungai sebagai lokasi dalam menjalankan kegiatannya, antara lain karena adanya sumber daya alam yang sangat penting bagi komoditi masa itu, yaitu emas, sebagaimana masih dapat disaksikan di Sungai Dareh. Hingga saat ini masih banyak penduduk di desa ini yang pekerjaannya melakukan pendulangan butiran-butiran emas.
Apabila diperhatikan secara keseluruhan, terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara candi- candi di Sumatra dan di Jawa. Di Jawa misalnya hampir sebagian besar bangunan-bangunan didirikan dengan menggunakan batu andesit, memiliki ruang/kamaran candi serta jauh dari tanggul sungai. Sebaliknya di Sumatra hampir sebagian besar bangunannya terletak di dekat tanggul sungai, tanpa kamar candi dan hampir seluruhnya dibangun dengan batu bata. Dengan demikian hampir sebagian besar sebaran situs di Sumatra rata-rata tidak memiliki pola konsentris melainkan linear mengikuti aliran sungainya. Konfigurasi persebaran situs-situs yang secara umum memperlihatkan kecenderungan pola sejajar dengan pola aliran sungai itu merupakan bukti betapa kuatnya faktor lingkungan dalam memberikan arah dan bentuk kebudayaan masyarakat Jambi khususnya dan masyarakat Sumatra secara keseluruhan.
Arsitektur Bangunan Kayu di Muara Jambi
Dapat dikatakan bahwa hampir tidak ada satu pun jejak yang dapat diketahui mengenai bentuk bangunan kayu pada masa lalu di Muara Jambi. Meskipun kita memperoleh sejumlah bukti berupa lubang-lubang simetris yang dipahatkan pada lantai bangunan Candi Kembarbatu misalnya, atau http://htmlimg2.scribdassets.com/ax12m6khoncty4g/images/4-f7481efcdf/000.jpghttp://htmlimg2.scribdassets.com/ax12m6khoncty4g/images/4-f7481efcdf/000.jpg
sejumlah umpak yang ditemukan di Candi Gedong I dan II, tetapi tidak diketahui pasti bagaimana denah atau bentuk bangunannya. Oleh karena itu kita hanya dapat menduga bahwa dengan melihat struktur candi yang bentuk atasnya rata, dimungkinkan bahwa pada bagian itulah terdapat bangunan- bangunan kayu. Sejumlah goresan bata yang ditemukan di Candi Gumpung dan Candi Tinggi, beberapa di antara mencerminkan bentuk-bentuk bangunan kayu (Foto nomor 1-3). Pada umumnya bangunan-bangunan itu berbentuk rumah panggung yang memiliki atap berbentuk gonjong menyerupai bentuk rumah-rumah adat Sumatra Barat. Namun kemudian apakah bangunan-bangunan kayu yang dahulu menaungi bagian atap candi di Muara Jambi seperti bangunan-bangunan tersebut, tidak diketahui pasti.  http://htmlimg2.scribdassets.com/ax12m6khoncty4g/images/5-9c22f1acb8/000.jpg
Bentuk rumah dengan bagian depan semacam kanopi
Teknik arsitektur bangunan kayu di wilayah Jambi yang diangkat berdasarkan tradisi-tradisi lokal tersebut tampaknya mencapai tingkat yang lebih kompleks dengan masuknya anasir kebudayaan Hindu dan Buddha di wilayah ini. Sejak saat itu pula berbagai bentuk, jenis dan fungsi bangunan diberikan arti yang lebih spesifik lagi. Teknologi kayu yang telah berkembang selama ribuan tahun masih tetap dipertahankan kendatipun suatu inovasi baru telah diperkenalkan, yaitu dimulainya teknik konstruksi bangunan batu atau bata. Meskipun belum ditemukan bukti yang lebih pasti, namun dapat diduga bahwa upacara-upacara yang bersifat tradisi seperti penegakkan tiang utama, pemilihan lahan, serta arah hadap bangunan masih diperhitungkan, dan bahkan makin dipertegas pada periode berikutnya.
Arsitektur Bangunan Bata di Muara Jambi
Tata Letak
Arsitektur Muara Jambi muncul dan berkembang dari latar belakang keadaan lingkungan alam dan ildim di Sumatra secara keseluruhan. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Sumbagsel di Jambi mengisyaratkan bahwa banyak di antara situs-situs “manapo” di Muara Jambi yang memiliki parit-parit keliling. Parit-parit tersebut dibuat selain untuk memenuhi ketentuan sebagaimana diatur di dalam agama, juga berfungsi teknis yaitu untuk mengalirkan air agar tidak menggenangi halaman candi.
Apabila dicermati lebih jauh akan terlihat bahwa percandian di wilayah ini terbagi menjadi tiga kelompok utama. Kelompok yang pertama terdiri dari Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Kembar- batu, dan Candi Astano yang dipisahkan oleh Sungai Melayu di bagian barat dan utara serta Sungai Buluran di bagian selatan. Kelompok kedua terdiri dari Candi Gedong I, Candi Gedong II, dan Candi Kedaton yang dipisahkan oleh Sungai Melayu di bagian timur dan Sungai Terusan di bagian barat. Sedangkan kelompok ketiga terdiri dari Candi Mahligai dengan batas Sungai Berembang di bagian barat. Kecenderungan yang dapat dilihat dari sungai atau terusan yang memisahkan candi-candi tersebut menunjukkan bahwa sungai ataupun terusan itu merupakan sungai buatan (Soeroso, 1988: 184).
Dapat diperkirakan bahwa upaya mengubah lingkungan itu tidaklah dilakukan secara semena-mena apalagi diperuntukkan bagi bangunan suci. Berbagai persyaratan dan tahapan dalam melaksanakan kegiatan haruslah dilaksanakan secara tepat sesuai dengan norma-norma yang berlaku pada masa itu. Hal itu mulai pada saat memilih lokasi, membersihkan tanah, menggali tanah, perletakan batu pertama hingga upacara peresmiannya. Di India berbagai aturan dan tata cara dalam mendirikan bangunan seperti itu banyak jumlahnya. Naskah-naskah Śilpaśāstra, Śilpaprakāśs, Wāśtuśāstra,
Nạ̄tyaśāstra merupakan contoh dari buku-buku pegangan yang sangat terkenal dan dianggap suci bagi
para śilpin sthapaka atau ahli tentang bangunan pada masa lampau.
Meskipun pada dasarnya, bangunan dan ungkapannya merupakan perlambang-perlambang yang mengabtraksikan gagasan-gagasan yang sifatnya sangat dogmatis, akan tetapi para arsitek dan juga masyarakat pemakainya tidak dapat terlepas dari kendala-kendala ekonomi, lingkungan serta model- model arsitektural yang berkembang pada jamannya. Model-model arsitektural tersebut diterapkan pada bangunan keagamaan maupun bangunan rumah tinggal dengan teknik-teknik orisinil yang berkembang, yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang dipertahankan karena dianggap bernilai atau bermakna. Suatu teknologi baru tampak dikembangkan dalam memperoleh bahan yang lebih keras dan tahan lama. Setelah teknologi bangunan kayu, dikembangkan teknik bangunan bata.
Sejak kapan penggunaan bata sebagai bahan bangunan, belum diketahui pasti. Hasil penelitian arkeologi hingga saat ini tampaknya belum pernah diarahkan terhadap analisis kimia terhadap sejumlah bangunan bata kuno di wilayah Jambi, meskipun hal semacam itu sangat penting.
Denah dan Tata Ruang
Dalam dimensi horisontal, salah satu ciri yang terpenting dari bangunan-bangunan di Jambi, terutama di Muara Jambi dapat ditemukan pada pola penempatannya. Meskipun belum diperoleh gambaran yang lebih lengkap dan menyeluruh akan tetapi dengan mengamati Candi Gumpung dan Candi Tinggi, para ahli berpendapat bahwa sebagian besar bangunan-bangunan utama selalu ditempatkan bergeser ke belakang, dengan memberikan ruang yang lebih luas pada halaman bagian depan. Candi Gumpung dan Candi Tinggi misalnya, candi utamanya terletak sangat dekat dengan pagar utama bagian belakang. Dan kecenderungan itu akhirnya berkembang suatu pendapat bahwa candi-candi di Muara Jambi dilihat dari tata letaknya sangat besar dipengaruhi oleh gaya bangunan masa Jawa Timur, khususnya dari masa Singasari dan Majapahit. Candi Tinggi misalnya yang memiliki susunan berteras, dianggap identik dengan denah Candi Jago di daerah Malang, Jawa Timur, yang diperkirakan berasal dari abad ke-13 M.
Namun demikian suatu pengamatan lebih lanjut memperlihatkan bahwa apa yang tampak saat ini sebenarnya merupakan perkembangan lebih lanjut dari bangunan yang lebih tua yang ada di bagian dalamnya. Suatu pencermatan pada saat pembongkaran Candi Tinggi maupun Candi Gumpung dan bahkan masih terlihat pada Candi Astano, memperlihatkan adanya denah yang lain yang sangat berbeda dengan denah yang ada saat ini. Pengamatan terhadap sejumlah huruf yang digoreskan pada bata di Candi Gumpung menunjukkan bahwa secara paleografis tulisan-tulisan itu berasal dari abad ke-9 M. Dugaan seperti itu sangat cocok pula dengan tulisan-tulisan pada lempengan emas yang ditemukan pada peripih di bagian fondasi Candi Gumpung. Meskipun sedikit mengalami kesulitan oleh karena cara penanganan temuan yang kurang cermat saat pengangkatan, namun dari nama-nama dewa yang disebut akhirnya Boechari berpendapat bahwa nama-nama dewa yang disebutkan itu menggambarkan dewa-dewa Vajradhātu-mandala. Secara lebih rinci seharusnya dewa-dewa tersebut terdiri dari 5 Tathāgata, 16 Vajrabodhisattva, serta 16 Vajratārā (Boechari, 1985: 237). Sebuah
lempengan emas yang lain baru-baru ini juga dilaporkan ditemukan di Candi Gedong. Meskipun pembacaan secara lengkap belum dilakukan akan tetapi dari beberapa huruf yang dapat dibaca juga menyebutkan katavajra sehingga dapat disimpulkan bahwa baik Candi Gumpung maupun Candi Gedong dibangun pada masa yang sama.
Masalah pembangunan kembali candi yang telah rusak, perluasan bangunan yang ada, baik karena alasan teknis maupun alasan ideologis, bukanlah hal yang baru dalam khazanah kebudayaan kita. Sudah tentu dalam upaya perluasan tersebut akan mengubah desain bangunan yang lama selaras dengan maksud dan tujuan yang dikehendaki. Salah satu contoh yang secara tegas menyebutkan tentang perluasan bangunan itu misalnya dituliskan pada prasasti Candi Sewu, Jawa Tengah, yang menyebut “Mañjuśrīg̣rha maẉrddhi” (Soekmono, 1979: 464; catatan kaki 2, hlm. 475).
Berdasarkan hal-hal yang disampaikan di atas kiranya dapatlah diterima apabila candi-candi di Muara Jambi yang sebenarnya telah dibangun pada abad ke-9 M, atau setidak-tidaknya awal abad ke-10 M itu, telah diperbesar pada masa kemudian. Alasan ideologis yang melatarbelakangi perluasan itu antara lain dapat dikaitkan dengan konsepdharma dalam agama Buddha, sedangkan alasan teknis tampaknya merupakan solusi untuk mengoptimalkan ruang yang tersedia karena keterbatasan lingkungan tanggul alam yang sangat sempit di wilayah ini.
Ciri lain yang menonjol yang teramati di lapangan ialah tidak ditemukannya arah hadap yang sama antara candi yang satu dengan candi yang lain. Candi Gumpung misalnya menghadap ke timur, Candi Tinggi menghadap ke selatan sedangkan Candi Kedaton menghadap ke utara. Candi Astano yang terletak di ujung paling timur tidak ketahuan arah hadapnya, karena bagian sisi selatan, timur dan barat telah diubah dari bentuk aslinya dengan memberikan tambahan struktur yang baru sedangkan Candi Gedong I dan II kedua-duanya menghadap ke timur.
Dengan segala keterbatasan data yang ada di lapangan, diperoleh gambaran bahwa denah halaman bangunan rata-rata memiliki bentuk segi empat dengan batas-batas pagar keliling. Di luar pagar keliling umumnya terdapat parit keliling. Pada bagian dalam kompleks, dan terutama pada Candi Gumpung dan Candi Gedong, masih terdapat pembagian ruangan-ruangan tertentu yang mestinya diperuntukkan bagi fungsi-fungsi ruang yang khusus pula. Permasalahan yang perlu dipikirkan ialah apakah dengan adanya struktur yang berbeda-beda itu sudah dapat dipastikan menjadi petunjuk tentang adanya perbedaan kronologi pembangunan ataukah hal itu memang merupakan suatu teknik tersendiri khususnya bagi bangunan-bangunan bata?
Struktur Bangunan
Di antara sekian banyak pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha yang dibawa dari India ke Jambi, tidak ada satupun yang lebih menonjol bila dibandingkan dengan seni arsitekturnya. Dapat diyakini bahwa teknik-teknik bangunan kayu yang berkembang selama itu masih terus dipertahankan dan bahkan terus dikembangkan dan diadaptasikan pada bentuk-bentuk bangunan bata. Teknik-teknik orisinil yang berkembang jauh sebelum masuknya pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha yaitu bangunan dengan tiang kayu yang ditopang oleh umpak-umpak batu tetap dipertahankan bahkan telah mengisi kekosongan komponen-komponen atau bagian-bagian bangunan yang belum/tidak direncanakan. Sejumlah umpak batu yang ditemukan di sekitar Candi Gedong misalnya, merupakan sisa-sisa dari bangunan kayu yang tetap digunakan pada saat pembangunan Candi Gedong.
Salah satu ciri khas yang menarik betapa kuatnya teknik-teknik kayu tersebut mempengaruhi dalam teknik bangunan batu dapat pula dilihat pada serangkaian bentuk pilaster yang menggantikan bentuk tiang bangunan kayu seperti ditemukan di Candi Gumpung. Demikian pula bentuk-bentuk balok yang membentang dan menghubungkan antara pilaster-pilaster memberikan suatu kesan mengenai peng- adopsian konstruksi bangunan kayu yang telah berkembang sebelumnya.
Kesimpulan
Sepanjang pengamatan terhadap sejumlah besar peninggalan arsitektur di Jambi dan sekitarnya memperlihatkan sejumlah keseragaman dan keanekaragaman. Secara khusus bangunan-bangunan di Sumatra bagian Selatan dan secara umum di wilayah Sumatra, pada dasarnya terlahir dari kondisi lingkungan yang hampir sama dan oleh karenanya memilikisetting yang hampir sama pula. Pada umumnya bangunan-bangunan itu didirikan pada lahan tanggul alam yang terbentuk oleh proses alamiah yang telah berjalan selama ribuan tahun serta memiliki kecenderungan yang kira-kira hampir sama yaitu linear sejajar dengan pola aliran sungainya.
Suatu kendala lingkungan yang umum dihadapi ialah keterbatasan lahan yang mampu mengakomodasi sejumlah kepentingan. Untuk memecahkan masalah tersebut maka aturan-aturan dogmatis sering diterjemahkan dalam ungkapan-ungkapan arsitektural. Arah hadap bangunan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang baku merupakan salah satu contoh bagaimana para arsitek masa lalu mengintegrasikan antara kepentingan agama dengan kondisi lingkungan yang terbatas.
Di balik keanekaragaman baik bentuk, arah hadap, seni hias dan latar belakang keagamaan yang tampil, tercermin adanya suatu keseragaman yang mengekpresikan persamaan latar belakang sejarah dan budaya mereka yang unik dan spesifik. Arsitektur Jambi lahir dan tumbuh dari latar belakang lingkungan Sumatra yang berbeda dengan arsitektur di Jawa atau di lain tempat. Dengan mengenali perbedaan dan persamaan ciri masing-masing bangunan akan membawa pada pemahaman tentang kebinekaan dan ketunggalikaan budaya bangsa.
     

   

   
 

Copyright 2010 Kejawen New religion in New World.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.