18 January, 2015


Rabu, 19 November 2014 , 08:36:00 WIB

Laporan: Muhamad Ridlo Susanto

FOTO:NET
  


RMOL. Badan Koordinasi Organisasi Kepercayaan (BKOK) Cilacap, Jawa Tengah mendorong agar kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP) Indonesi dihapus. Hal ini terkait dengan tidak dicantumkannya ‘kepercayaan’ sebagai sebuah agama.

Sekretaris BKOK Cilacap, Basuki Raharja kepada RMOL mengatakan penghayat kepercayaan sesuai dengan UU 23 tahun 2006 memang ditandai dengan tanda ‘strip’. Strip dalam KTP ini mahfum diartikan sebagai penghayat kepercayaan. Namun bagi yang tidak memahami undang-undang, tanda ‘strip’ dalam kolom agama ini bisa menimbulkan kesalahan penafsiran.

"Saya pernah dituduh atheis karena di kolom agama KTP saya tidak dicantumkan agama apapun," tuturnya, Rabu (19/11).

Paguyuban organisasi aliran kepercayaan, lanjut Basuki, saat ini sudah memiliki perwakilan yang disebut sebagai Majelis Luhur yang salah satu tugasnya adalah mengkaji perlu tidaknya pencantuman agama di KTP.

"Kesimpulannya adalah tidak perlu dicantumkan. Atau jika dicantumkan maka kolom agama dan kepercayaan ada sendiri-sendiri sehingga tidak ambigu," ujarnya.

Kendati demikian, Basuki mengakui untuk mengakomodir seluruh aliran kepercayaan di Indonesia membutuhkan pembaruan sistem administrasi data kependudukan. Pasalnya, jenis aliran kepercayaan yang hidup di Indonesia sangat banyak.

Di Cilacap saja, dalam data BKOK setidaknya terdapat 28 aliran kepercayaan dengan 99 ribu penghayat (anggota).

"Jumlahnya ratusan kalau dijumlah seluruh Indonesia," jelasnya,

Basuki menolak dengan tegas opsi menggabungkan aliran kepercayaan dengan agama lain agar kolom agama tidak kosong. Sebab Agama dan kepercayaan menurut Basuki adalah sesuatu yang hakiki sehingga tidak bisa digabung-gabungkan dengan agama lain. [rus]
http://www.rmol.co/read/2014/11/19/180348/BKOK-Cilacap-Dorong-Penghapusan-Kolom-Agama-di-KTP-

Tuesday, 11 Nov 2014 | 08:38:05 WIB
LANGENSARI,(KP).- Jika pemerintah pusat khususnya di Kementerian Dalam Negeri diramaikan oleh wacana opsi mengosongkan kolom agama pada KTP warga Indonesia yang memeluk agama selain dari 6 agama yang diakui, maka di Kota Banjar pengosongan kolom agama itu sudah lama terjadi. Ratusan warga di Desa Kujangsari dan Kelurahan Bojongkantong Kecamatan Langensari Kota Banjar, justru sudah sejak lama mengosongkan kolom agama di KTP mereka.
Saat mengajukan pembuatan e-KTP tempo lalu, mereka su­dah secara terang-terangan me­minta agar kolom agama diko­songkan.
Selidik punya selidik, rupanya ratusan warga tersebut ada­l­ah pemeluk aliran kepercayaan yang tergabung dalam Pagu­yuban Budaya Bangsa. Ke­percayaan yang sangat kental oleh adat dan budaya Jawa ini telah berkembang di wila­yah tersebut dan sebagian wila­yah Ciamis selatan, sejak puluhan tahun silam.
“Ya saya memang sengaja me­ngosongkan kolom agama di KTP,” kata Sandiarjo warga Du­sun Kalapasabrang Desa Ku­jangsari Kecamatan Langen­sari, kemarin. Pria kelahiran 1947 ini mengaku kepercayaan yang dianutnya itu merupakan warisan dari lelulurnya. Bahkan pengosongan kolom agama di KTP itu juga sudah dilakukannya sejak lama.
Dia mengaku tidak mengalami kesulitan atau kendala apa­pun, kendati kolom agama di KTP nya dalam keadaan ko­song. Sandiarjo menuturkan dia bersama anggota pagu­yu­ban rutin melaksanakan pertemuan untuk menjalankan ritual dan bertukar pikiran atau informasi. Meski keyakinan riligi­us­nya tidak termasuk dalam 6 agama yang diakui pemerintah, dia menegaskan bahwa dia mengakui dan percaya terhadap Tuhan yang maha esa.

Menyebar
Kepala Desa Kujangsari, Ny. Aisyah mengakui bahwa ada warganya yang meminta kolom agama di KTP-nya diko­song­kan. “Ya memang benar, tapi jumlahnya tidak lebih dari 50 Kepala Keluarga,” katanya. Me­nurut dia penganut keperca­yaan itu tidak hanya berdo­misili di desa Kujangsari saja me­lainkan menyebar di wila­yah Langensari.
Dia juga membenarkan jika kepercayaan itu sudah berlangsung lama dan turun temurun sehingga pihaknya tidak bisa melakukan intervensi. “Ini kan berkaitan dengan keyakinan seseorang, jadi kami tak bisa berbuat banyak,” katanya. Se­pan­jang tidak mengganggu ke­tertiban umum, tidak menyesatkan dan tidak menodai aga­ma yang sudah diakui oleh pemerintah, pihaknya mengaku tidak terlalu mempermasalahkan, karena itu merupakan pilihan keyakinan warganya. E-10***
Author : Irman Sukmana Dibaca : 213 kali
http://www.kabar-priangan.com/news/detail/15517

Siswa Sapto Dharmo Dipaksa Ikuti Pelajaran Agama


[Semarang, elsaonline.com] – Siswa penganut kepercayaan Sapto Dharmo di Kabupaten Brebes mendapat perlakuan tak adil di sekolah umum. Anak-anak keturunan penganut Sapto Dharmo dipaksa untuk mengikuti mata pelajaran agama Islam berikut dengan praktiknya.
“Hal paling penting adalah hak pendidikan. Namun anak-anak kami, yang mengenyam pendidikan dipaksa mengikuti pelajaran agama resmi negara. Langsung saja, agama Islam,” tutur Ketua Yayasan Sapto Dharmo Brebes, Charlim, disela acara “Haul Gus Dur dan Evaluasi Keberagamaan di Jateng 2014,” Selasa (30/12/14) di Hotel Siliwangi Semarang.
Ketua Yayasan Sapto Dharmo Brebes, Charlim, memaparkan kasus yang mereka alami disela acara “Haul Gus Dur dan Evaluasi Keberagamaan di Jateng 2014, Selasa (30/12/14) di Hotel Siliwangi Semarang. Foto: Ceprudin
Ketua Yayasan Sapto Dharmo Brebes, Charlim, memaparkan kasus yang mereka alami disela acara “Haul Gus Dur dan Evaluasi Keberagamaan di Jateng 2014, Selasa (30/12/14) di Hotel Siliwangi Semarang. Foto: Ceprudin
Paksaan untuk mengikuti mata pelajaran agama kepada anak-anak Sapto Dharmo di sekolah hampir merata terjadi di Brebes. Anaka-anak Sapto Dharmo yang melanjutkan sekolah di sekolah umum, mereka rata-rata mendapat perlakuan yang sama. Perlakuan itu datang dari pihak sekolah baik guru agama atau pun kepala sekolah. Mereka memaksakan pelajaran agama Islam kepada siswa Sapto Dharmi dengan dalih pelajaran tentang keyakinan penghayat tak ada dalam kurikulum. Karena itu, sebagai syarat kelulusan harus mengikuti pelajaran salah satu agama resmi.
”Setelah mengikuti pelajaran agama Islam, kemudian anak-anak kami dipaksa untuk mengikuti praktik pelajaran agama Islam. Ya semua tata cara ritual Islam seperti wudlu, sholat, dan lainya. Ini kami merasa diperlakukan tidak adil. Hak kami tidak diberikan,” sesalnya, di hadapan hadirin berbagai unsur pemerintahan.
Terancam Tak Lulus
Charlim mengungkapkan, sejatinya siswa Sapto Dharmo engggan mengikuti pelajaran agama Islam. Itu karena berbeda dengan keyakinan yang mereka dapatkan dari orang tua dan tetua adanya. Namun apalah daya, meskipun tak ingin mengikuti pelajaran agama, demi lulus mereka mengikutinya.
”Anak-anak akhirnya mengikuti pelajaran agama Islam. Ya ikut praktik sholat dan lainnya. Namun itu karena mereka takut tidak lulus. Karena jika tidak mengikuti mata pelajaran itu mereka diancam tidak lulus ketika ujian. Ini dimana letak keadilan bagi kami yang minoritas,” keluh Charlim.
Seperti diketahui diketahui, kasus paling baru menimpa penganut Sapto Dharmo adalah penolakan pemakaman. Jenazah Jaodah (55) warga Sapto Dharmo di desa Siandong, Kecamatan Larangan ditolak dimakamkan di pemakaman umum oleh perangkat desa setempat.
Selain persoalan pemakaman, penganut Sapto Dharmo juga mengalami persoalan ketika hendak membangun tempat ibadah. Mereka mengalami kendala ketika membangunan sanggar. Penolakan itu datang dari warga, bahkan sempat mengalami pembakaran.
”Kami rindu dengan pemimpin seperti Gus Dur. Dalam pandangan saya Islam yang dikembangkan oleh Gus Dur sangat Indonesia banget. Itu sangat sesuai dengan apa yang di amanatkan undang-undang,” pungkasnya. [elsa-ol/Ceprudin-@Ceprudin]
 http://elsaonline.com/?p=3992


SEMARANG- Sudah jatuh tertimpa tangga, kiasan ini sepertinya tepat bagi penganut aliran kepercayaan di Jawa Tengah. Kelompok ini sering kali mendapat perlakuan diskriminasi di lingkungan mereka tinggal.
Rasa takut pun mulai timbul, bahkan, mereka tidak berani meminta hak mereka sebagai warga negara, seperti pembuatan KTP atau mengurus surat-surat lainnya.
Padahal hak dan kewajiban mereka sudah diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor 41/2009 dan Nomor 43/2009.
Informasi terkait perlakuan diskriminasi terhadap kelompok penghayat kepercayaan terungkap saat dilaksanakan pertemuan di Kementerian Dalam Negeri beberapa waktu lalu.
Kepala Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Jateng, Agus Tusono menegaskan semua terkait kepercayaan sudah diatur pemerintah. “Sesuai dengan PBM Nomor 41 dan 43 Tahun 2009 menyebutkan penganut kepercayaan mendapatkan hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara lainnya,” jelas Agus, Senin (30/5/2011).
Menurut Agus, ada kasus penolakan pemakaman seorang penganut kepercayaan sehingga mereka harus menguburkan jenazah di halaman rumah mereka. “Kenyataannya dalam beberapa kasus banyak penganut kepercayaan yang belum memperoleh hak dan kewajibannya sesuai PBM tersebut. Seperti kasus di Brebes, ketika seorang penganut kepercayaan meninggal jenazahnya ditolak dimakamkan di pemakaman umum, sehingga keluarga terpaksa memakamkan jenazah di rumah. Hal yang sama diduga juga terjadi di Demak dan Rembang,” beber Agus.
Untuk itu, lanjut dia, Kesbangpolinmas akan menindaklanjuti implementasi PBM tersebut baik di kalangan Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah di Kabupaten/Kota ke 35 DATI II di Jateng.
Disebutkan juga dalam pertemuan yang dilakukan di Jakarta tersebut juga terungkap tidak hanya soal pemakaman yang didiskreditkan, namun termasuk pembuatan KTP, izin pernikahan atau tempat berkumpul di sanggar atau di padepokan juga dipermasalahkan. Bahkan sampai kasus dalam mencari pekerjaan.
“Karena itu implementasi PBM No 41 dan 43 ini akan segera dilakukan sehingga baik Pemerintahan Provinsi, Kota, dan Kabupaten bisa mengerti dan mengimplementasikan sehingga tidak terjadi ketakutan atau phobia para pengikut penghayat,” ucapnya.
Agus menjelaskan, di Jateng terdapat lebih dari 100 organisasi penghayat kepercayaan, namun mereka enggan menonjolkan diri sehingga yang tercatat secara resmi baru sekira 24 organisasi.
“Ini mungkin karena mereka masih ketakutan,” tutupnya.
(ton)
 
http://news.okezone.com/read/2011/05/30/340/462318/jenazah-penganut-aliran-kepercayaan-ditolak-di-tpu 


BANJAR - Keberadaan aliran Paghoiban Budaya Bangsa (PBB) di Kabupaten Banjaran� hingga saat ini masih terus hidup. Organisasi yang baru didirikan satu tahun lalu itu dianggap belum menimbulkan gejolak di masyarakat.
Kepala Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kabupaten Banjaran, Jawa Barat Rudiyanto, meyakini aliran tersebut tidak termasuk aliran sesat karena sudah ada secara turun temurun.
"Selama tidak mengganggu dan mereka rukun dengan warga sekitar ya kami tidak bisa berbuat apa-apa kami saling menghormati saja," jelas Rudiyanto.
Mengenai status agama di KTP para pengikut aliran PBB yang dikosongkan menurutnya hal itu lumrah, karena dalam formulir pengisian pembuatan KTP terdapat dua kolom pilihan.
"Dan mereka pilih kolom nonagama. Tidak masalah," terang dia.
Organisasi aliran PBB di Banjaran mulai didirikan pada Agustus 2008 lalu. Aliran yang bermarkas di Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari itu memiliki ritual doa semedi. Biasanya para pengikut aliran PBB melakukan ritual secara individu pada pukul 21.00 WIB. Doa semedi dilakukan dengan membaca-baca doa dalam bahasa Jawa.
Sementara itu para pengikut mengikuti ritual secara berjemaah seminggu sekali pada hari Sabtu yang disebut Sabtu Manis. Selain membaca doa mereka juga membakar kemenyan yang dimaksudkan sebagai perantara antara manusia dan Tuhan.

 http://news.okezone.com/read/2009/05/18/1/220830/kades-wajar-ktp-pengikut-pbb-nonagama
Penulis: Andreas Kristianto 00:00 WIB | Senin, 05 Januari 2015


SATUHARAPAN.COM – Seorang teolog katolik, Hans Kung, pernah mengungkapkan, tidak ada perdamaian antarbangsa tanpa perdamaian antaragama, tidak ada perdamaian antaragama tanpa dialog antaragama. Ucapan Hans Kung mengingatkan kita bahwa agama memiliki peran dan tanggung jawab yang besar di dalam membangun peradaban dunia. Agama mejadi mati dan ‘mandul’, apabila hidup dalam sekat-sekat primodialisme. Dia (baca: agama) menjadi kering, tanpa ruh, tanpa napas, kaku, apabila tidak bersinggungan dengan dunia. Agama bisa menjadi cahaya lampu yang redup, atau bisa saja lenyap dan pelan-pelan tenggelam. Sejatinya, Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan pekat.
Gus Dur adalah ‘lilin’ dan sekaligus ‘obor’ yang kiprah perjuangannya tidak akan pernah pudar. Beliau sadar bahwa tugas dan tanggung jawab sebagai orang Indonesia adalah menyepakati Pancasila yang merupakan satu-satunya falsafah negara yang mempersatukan masyarakat umat beragama dalam bingkai NKRI. Gus Dur seperti ‘lilin’ dan ‘obor’ yang menerangi perjuangan masyarakat Indonesia untuk tetap mempertahankan kebhinekaan. Dia mengedepankan keteladanan yang santun, mengedepankan persatuan dan kesatuan agar umat tetap rukun dan harmonis dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Tanggal 30 desember kemarin, kita memperingati Haul Gus Dur yang ke-5. Beliau adalah perancang keberagaman Indonesia yang semua kiprahnya adalah untuk membimbing umat ke arah yang lebih baik terutama dalam kerukunan, persatuan dan kesatuan. Sebab faktor konflik dan disharmonisasi selama ini diakibatkan karena munculnya ketidaksepahaman yaitu banyak orang yang memuliakan Tuhan, tetapi tidak menyayangi sesama manusia.
Gus Dur adalah tokoh yang menjadi pelopor di dalam dialog antaragama/ antariman. Selama ini memang dialog-dialog agama sudah banyak dan sering dilakukan. Tetapi kalau diamati dengan benar-benar, apakah hasilnya sudah nampak, terutama dalam kehidupan umat? Pantas dicatat bahwa yang sering terjadi dalam dialog-dialog tersebut ialah dialog mengenai ajaran agama, mencari kebenaran dan hal-hal yang bersifat pembenaran semata, mencari tahu siapa yang lebih benar. Memang harus diakui bahwa pasti ada perbedaan dalam ajaran/doktrin agama, meskipun ada juga titik-titik temunya. Gus Dur pernah mengatakan, justru di tengah perbedaan itulah, kita dapat mengetahui dimana letak titik persatuan kita.
Pada hemat saya, Gus Dur memberlakukan “dialog antariman” di tengah realitas masyarakat Indonesia yang plural ini. Bukan hanya dialog “inter-religions ” saja tetapi “inter-faith” yang lebih mendalam sifatnya. Melalui dialog antariman, umat akan dibawa ke arah yang bukan semata-mata ”having religion ” tetapi lebih dalam lagi yaitu ”being religious ”, yang nanti akan memuncak pada ”being inter religious”. Inilah situasi ideal yang kita kehendaki dalam kehidupan bersama umat beragama, yang sekaligus juga umat berbangsa dan bernegara Indonesia. Tentu ini menjadi harapan Gus Dur untuk masa depan Indonesia yang cinta damai.
Gus Dur, yang selama hidupnya telah banyak menanamkan budi, beliau seperti bunga mawar, yang harum, berwarna merah dan indah dilihat. Kalau toh, mawar itu mati dan lisut, harumnya tidak akan pernah sirna. Beliau tidak akan pudar, kenangan, berjuta perjuangan, pembelaan terhadap ’wong cilik’ menjadikannya seperti angin yang mengelana. Dia (baca: Gus Dur) juga seperti api yang kenangannya ’menyala’ dan menghangatkan jiwa para penerusnya. Dia melakukan tindakan saleh dengan hati tulus, tanpa pamrih bak ksatria yang melakukan semua itu karena dia mencintai Indonesia.
Di tepi makam, saya masih berujar demikian, benarkah dia sudah dimakamkan? Karena sebaiknya dan seharusnya dia masih hidup di bumi pertiwi ini. Perjuangan kemanusiaan, demokrasi dan keadilan belum selesai. Hatinya menyala-nyala bagai obor yang hidup, mencoba menelisik kembali jejak guru bangsa, dan sekaligus guru spiritual. Kata kunci untuk mengenang dirinya adalah ’tulus’ ’nirpamrih’, ’menolong’ dan ’manusia’. Meskipun raga sudah tiada, tetapi nilai-nilai yang diwariskannya tetap lestari dan diperjuangkan oleh penerusnya. Ingatan manusia tidak akan lupa sosok guru bangsa yang toleran ini.
Banyak pesantren di Jawa Timur yang terus menerus hingga hari ini, mengadakan tahlilan, doa bersama lintas iman untuk mengenang Alm. Gus Dur. Tidak ada paksaan, tidak ada yang menyuruh, dan tidak ada yang membayar. Semua itu di lakukan demi cintanya kepada Gus Dur dan cintanya kepada Indonesia. Ketaatan itu murni, tidak digerakkan dan diiming-imingi ’hadiah’ tertentu, tetapi semua itu buah dan budi perjuangan Gus Dur. Kepergiannya memberi kita pelajaran: ketulusan dibayar dengan ketulusan. Kebaikan dibalas dengan kebaikan.
Gus Dur memberikan kita sebuah contoh bagaimana kita hidup sebagai agama di Indonesia ini. Beliau mengajarkan dialog kehidupan yaitu dialog yang terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Selain dialog kehidupan, beliau juga mengajarkan dialog karya, yaitu bekerjasama untuk masalah-masalah sosial dan tujuan tertentu di masyarakat dan yang terakhir, dialog autentik, yaitu dimana partner-partner yang dialog itu duduk bersama, mendialogkan hal-hal yang sudah disepakati sebelumnya dengan hati yang tulus, ikhlas dan penuh cinta kasih.
Mengapa kita harus berdialog? Karena dasarnya jelas bahwa Allah itu adalah Allah yang dialogis. Allah yang memanggil ciptaan-Nya, manusia untuk menjadi mitra-Nya, menjadi hamba-Nya, menjadi pelayan-Nya. Sama seperti penciptaan Adam yang artinya manusia dalam kebersamaan.
Find your Gus Dur’s spirit and be an instrument of peace!
Gus Dur mengajarkan kepada kita bahwa dialog harus lebih mengutamakan manusia (’people to people dialogue’) daripada wakil suatu agama dengan wakil agama lain. Sama seperti di dalam ajaran Islam, yang dikenal istilah ”dalihan na tolu” yang di dalamnya ada kebersamaan, percakapan, makan bersama dan semuanya itu berintikan komunikasi/ dialog. Dengan dialog, manusia menyadari bahwa dirinya tidak sendiri, tetapi hidup bersama dengan yang lain. Karena manusia adalah khalifah Allah (Q.S. 2 : 30) yang menyadari bahwa dirinya selalu ada pihak lain di samping dirinya, yang kepadanya ia harus berdialog. Semua umat manusia dan mengaku dirinya beragama mempunyai panggilan untuk berdialog sesuai dengan hakekat kemanusiaannya dan juga hakekatnya di tengah masyarakat.
Bagi Gus Dur, hidup bukan sekadar soal aturan/ ”apa aturan mainnya”, namun bagaimana ”bermain” dengan hati yang terarah pada TUHAN dalam suasana batin penuh syukur dan karya bening penuh kebajikan moral. Itulah buah-buah spiritualitas sang guru bangsa. Jadi mendidik orang di jalan damai bukan sekedar soal ”lakukan ini dan itu sebagai pendidik” namun ”lakukan ini dan itu dalam kesadaran akan penghayatan TUHAN atas hidup si pendidik dalam segala lembah dan gunungnya, sehingga membuah dalam ucapan dan tindakan yang gembira, bersih dan menghadirkan pengaruh positif bagi orang/anak/murid sedemikian rupa sehingga tercipta sistem yang kondusif bagi mekarnya potensi perdamaian di dalam diri nara didik”. Ada Adagium yang mengatakan begini, ”si vis pacem para orthodoxy, orthopraxy et orthospiritus?” : ”Jika menginginkan damai, siapkanlah ajaran yang benar, tindakan yang benar dan spiritualitas yang benar”.
Dimulai dan diteladankan dari dan oleh diri sendiri, dan dibagikan kepada sesama dalam segala realitas, di rumah, sekolah, di tempat kerja dan di ladang dunia ini. Memang sulit, tidak mudah tapi bukan mustahil, bukan khayalan. Yang diperlukan adalah kesungguhan memperjuangan nilai perdamaian dengan hati penuh syukur, bukan dengan hati muram. Yang diperlukan adalah memperjuangan perdamaian dengan keteladanan dalam segala aspek kehidupan dan bukan dengan keahlian retorika. Ingat, perdamaian bukan soal jualan pepesan kosong. Yang diperlukan bukan kepandaian mempengaruhi orang lain dengan segala macam janji dan orasi, melainkan dengan bukti dalam buah kehidupan sendiri dan memeliharanya dalam sistem edukasi.
Di mana semua itu di mulai? Jawabnya adalah, Find your Gus Dur’s spirit in your heart. Banyak orang datang ke makamnya, menaburkan bunga, berdoa, tetapi tidak menemukan spiritnya. Tidak mendapatkan semangat dan daya juangnya. Ia (baca : Gus Dur) mengingkan para GUSDUR-ian dimanapun berada mewarisi keteladannya dan dunia ini membutuhkan karya damai.
Temukan itu. Mungkin saja tempat itu tak jauh dari tempat Anda. Malah mungkin saja, tempat itu adalah di rumah Anda sendiri, di tempat di mana Anda sendiri kini berada. Di situlah panggilan hidup sebagai pendamai yang penuh syukur dan menjaga kualitas moral di butuhkan. Find your Gus Dur’s spirit and be an instrument of peace!

Penulis adalah calon pendeta GKI Jombang dan menjadi aktivis GUSDUR-ian Jombang

 http://www.satuharapan.com/read-detail/read/mengenang-gus-dur-jejak-guru-perdamaian


Pernyataan Sikap
“Mendukung Langkah Kementrian Agama Menegakkan Keadilan Beragama”
Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
Berdasarkan beberapa pemberitaan di media massa, Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin telah membuat langkah-langkah konkret yang menunjukkan sikap keadilan dalam pembangunan bidang agama di Indonesia. Antara lain, menyatakan bahwa agama Baha’i adalah salah satu agama yang dilindungi konstitusi dan berhak mendapatkan pelayanan kependudukan. Kemudian, beliau melakukan dialog-agama dengan para pemuka berbagai agama yang tumbuh di negeri ini; dan melakukan pendataan terhadap kepercayaan-kepercayaan lokal di seluruh Indonesia.
Kami dari Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) mendukung langkah-langkah positif dan konstrukstif Menteri Agama tersebut dan mendorong agar beliau sungguh-sungguh menerapkan prinsip keadilan bagi semua penganut agama tanpa kecuali sesuai pesan-pesan Konstitusi dan nilai-nilai luhur Pancasila, serta motto bhinneka tunggal ika.
Kebebasan beragama dan berkeyakinan merupakan hak dasar warga negara, konstitusi telah memberikan jaminan kemerdekaan kepada tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu (Pasal 29 UUD 1945).
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) menyatakan sikap sebagai berikut:‎
  1. Mendukung penuh Menteri Agama untuk membuat kebijakan publik terkait kehidupan beragama yang berpihak pada prinsip-prinsip Konstitusi yang menghormati keberagaman agama dan keyakinan warga negara.‎ Hukum Indonesia tidak membenarkan adanya diskriminasi terhadap kelompok agama atau keyakinan tertentu. Dalam pasal 29 ayat (2) UUD 1945, ditegaskan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Oleh sebab itu, upaya-upaya diskriminasi berbasis agama merupakan tindakan melanggar hukum dan inkonstitusional.
  2. Mendorong langkah konkret Menteri Agama memberikan pelayanan terhadap semua penganut agama tanpa diskriminasi sedikit pun, terutama pelayanan terhadap pemenuhan hak-hak asasi manusia dan warga negara Indonesia, khususnya terkait hak-hak sipil dan politik mereka.
  3. Mendesak Menteri Agama untuk segera menyelesaikan kasus-kasus diskriminasi dan kekerasan terhadap warga Ahmadiyah, Syiah, HKBP Filadelfia Bekasi, dan Jemaat GKI Yasmin Bogor. Berlarutnya persoalan-persoalan diskriminasi agama menunjukkan ketidakseriusan pemerintah dalam melindungi hak asasi warga negaranya. Hal tersebut sesuai dengan pasal 71 UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, ditegaskan bahwa “Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam Undang-undang ini, peraturan perundang-undangan lain, dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang diterima oleh negara Republik Indonesia.”
  4. Mendesak Menteri Agama untuk melakukan revisi tentang Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri tentang izin mendirikan rumah Ibadah, dan juga revisi aturan-aturan sejenis di tingkat lokal. ICRP menilai, untuk mendirikan rumah ibadah cukup mempertimbangkan aspek ketertiban, keindahan dan tata kelola bangunan secara umum.
Semoga misi perdamaian, misi suci agama-agama, masih menjadi spirit kita semua dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri tercinta ini.
Jakarta, 01 Oktober 2014
Mengetahui,

Musdah Mulia                                                   M. Imdadun Rahmat
Ketua Umum ICRP                                         Sekretaris Umum ICRP


 http://icrp-online.org/2014/10/05/mendukung-langkah-kementrian-agama-menegakkan-keadilan-beragama/

Bahwa ada sekian catatan krusial atas rencana inisiasi KEMENAG untuk mengajukan RUU Perlindunggan Umat Beragama (RUU PUB).Bila masalah-masalah krusial tersebut tidak selesai, ICRP menolak hadirnya RUU yang bersifat gincu dan basa-basi semata.
1. Pertama, ICRP sedang menunggu Naskah Akademis (NA) dan Drafting RUU PUB yang sedang diinisiasi oleh KEMENAG.Kami tentu berharap di dalamnya ada paparan yang menyeluruh, konstitusional, yuridis, filosofis, teologis, sosiologis, antropologis, dan sosial-ekonomi-politik berbagai konflik keagamaan yang terjadi di bumi yang ditakdirkan Bhinneka Tungga Ika ini. Tetapi, sikap dan aksi-aksi intoleransi dan kekerasan atas nama agama terus meningkat dan terlihat berlangsung dan dibiarkan. Bangsa ini dirajut berdasar tenunan kebangsaan yang indah. Ada banyak bahasa, suku, tradisi, budaya dan agama.
2. Kedua, hemat kami, persoalan mendasar relasi keagamaan di Indonesia terletak pada tidak adilnya perlakuan pemerintah. Bahkan, jelas sekali pada ketidakberanian pemerintah untuk menegakkan konstitusi dan menjamin implementasi hukum (Law Enforcement). Selama era SBY, kami melihat pemerintah takut dan tidak bernyali terhadap ormas–ormas pelaku intoleransi dan aksi-aksi kriminal mengatasnamakan agama. Pemerintah selalu melakukan kalkulasi resiko politik. Bukan berpikir pada tanggung jawab penegakan konstitusi.
3. Ketiga, pemerintah sengaja berlaku diskriminatif terhadap hak-hak minoritas, bahkan saat mereka sebagai korban. Kaum minoritas terintimidasi dan diperlakukan sewenang-wenang. Jadi persoalannya bukan relasi antar-agama. Tetapi adanya aksi dan tindakan diskriminatif, sewenang-wenang dan tidak adil. Saat itu kami mengajukan terminologi-terminologi sebagai berikut: RUU Kebebasan atau Kemerdekaan Umat Beragama dan Berkepercayaan (RUU KUBB) sebagai ganti dari RUU KUB. Bahkan, muncul juga nama RUU Anti Diskriminasi Agama-Agama dan Kepercayaan. Untuk itu, rencana pengajuan RUU Perlindungan Umat Beragama (RUU PUB) yang disedang digulirkan inipun bila tidak jelas, tidak visioner dan tidak antipatif terhadap masalah-masalah, kita harus membicarakannya berulang-ulang dan harus matang dan mendalam. Bila tidak, kami akan menolaknya.
4. Keempat, ICRP ingat, dalam RUU Kerukunan Umat Beragama jaman itu, dalam Naskah Akademisnya sudah dibicarakan berbagai instrument-instrumen HAM, baik secara konstitusi, falsafah bangsa, peraturan dan kovenan-kovenan internasional yang telah diratifikasi. Tapi nyata-nyata semangat dan upaya implementasinya dalam pasal-pasal RUU tidak nampak. Kami melihat pada RUU KUB yang lalu, memang secara konstitusi berpondamen UUD 1945 dikutip pasal-pasal dari UUD 45. Misalnya, Pasal 28E dan Pasal 29 Ayat 2, dan selanjutnya kovenan-kovenan internasional:International Covenant
on Economic, Social and Cultural Rights (ICESCR) dan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) yang sudah menjadi instrumen yang legal melalui UU No.11 dan 12 tahun 2005. Tetapi, yang terasa, hal itu tidak lebih sekedar pemanis dan gincu semata. Bila sekedar diratifikasi tanpa implementasi, apa guna dan manfaatnya. Kami mendesak harus ada proses reformasi dan sinkronisasi hukum secara serius dan total. Semua UU dan peraturan dibawahnya, mesti direvisi agar searah dengan nafas kovenan-kovenan di atas. Lebih jauh, kami menilai sampai saat ini, upaya sosialisasi pemerintah atau KOMNAS HAM untuk mendiseminasi dan penumbuhan kesadaran dan implementasi nilai-nilai HAM terhadap masyarakat masih sangat rendah.
5. Kelima, yaitu hal kegagalan civil society dalam kaji ulang (judicial review) atas UU.No.1/PNPS/1965 di Mahkamah Konstitusi (MK). Kandasnya ikhtiar hukum ini merupakan sinyal buruk abadi bagi sehat dan harmonisnya relasi-relasi antar agama dan kepercayaan. Hal teranyar adalah kaji ulang atas UU No.1 Perkawinan tahun 1974. Pada sidang pertama di MK, pada tanggal 4 dan juga sidang kedua pada 14 Oktober berlalu, nyata-nyata pemerintah (KEMENKUMHAM dan KEMENAG) menolak argumentasi pemohon dan meminta MK menolak permohonan kami. Apalagi ormas-ormas model FPI, MUI dan Muhammadiyah. Tak kalah pentingnya untuk kita tahu posisi 2 SKB 3 Menteri tentang Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Peraturan tentang Pendirian Rumah Ibadah. Nah, bagaimana posisi dan korelasi RUU Perlindungan Umat Beragama (RUU PUB) dengan kedua sumber hukum di atas? Mengapa pemohon dan pihak terkait melakukan uji ulang UU No.1 (Pernikahan) tahun 1974? Harus disadari, pasangan nikah beda agama itu adalah warga negara yang harus dilindungi hak-hak dan kewajibannya. Bila mereka menikah, pemerintah sejatinya harus mencatat dan mengakui legalitas hukum pernikahan beda agama ini. Mereka harus memperoleh akta nikah. Dan itu jelas bagian dari pelayananan dan perlindungan umat beragama. Bila kedua sumber hukum di atas belum ada perubahan, sudah jelas merupakan hal buruk, tidak adilnya hukum dan bencana dalam hal pelayananan umat beragama. Masih ada diskriminasi dan ketidakadilan. Bahkan bila mau sungguh-sungguh sadar, kedua UU di atas merupakan akar konflik, kekerasan dan aksi-aksi kriminal dan pelanggaran prinsip keadilan dan kemanusian universal. Sangat terasa sekali, justru pemerintah melakukan pemanjaan dan memberikan legitimasi kepada sekelompok dan gerombolan minoritas anarkhis melakukan kekerasan dan kekejaman terhadap kaum minoritas. Karena itu nantinya menjadi aneh bila kedua UU dan SKB 3 Menteri termaksud masih bercokol dalam tatanan hukum nasional dan RUU PUB masih menjadikannya sebagai landasan yuridis dan masuk dalam naskah akademisnya.
6. Ketujuh, ICRP ingin menegaskan, nanti dalam Naskah Akademis RUU PUB harus mengelaborasi fakta-fakta sosilogis, antropologis dan teologis adanya ragam agama dan kepercayaan di Indonesia. Yang paling krusial dalam hal ini adalah definisi atau makna agama. Bagaimana entitas keyakinan itu dalam konsep RUU di atas nantinya dijelaskan?Harus dihindari dalam draft RUU ini definisi agama yang hanya mengarah kepada agama-agama besar semata. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu. Harus diayomi fakta adanya berbagai macam aliran kepercayaan yang ada di Indonesia seperti Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten), Agama Djawa Sunda (kungingan,
Jabar), Buhun (Jabar), Kejawen (Jateng dan Jatim), Parmalim (Sumut), Kaharingan (Kalimantan), Tonaas Walian (Minahasa Sulut), Wetu Telu (Lombok), Marapu (Sumba) Budi Luhur, Purwoduksino, Naurus (Pulau Seram, Maluku), Pahkampetan, Bolim, Basora, Samawi dsb. Bila gagal mengadopsi dan memposisikan berbagai macam aliran kepercayaan ini, akan menjadi tangga dan celah lebar perlakukan diskriminatif dan rasis dalam masyarakat. Kita kuatir bila itu terjadi, RUU ini tetap merupakan masalah bagi nasib kaum minoritas. Inilah agama-agama asli bumi Nusantara sebelum kehadiran agama-agama besar dari Asia.
7. Kedelapan, dalam hal pemenuhan hak-hak sipil warga negara dan sejalan dengan bunyi pasal 27 pada UU No. 12/2005 tentang hak-hak minoritas yang harus dilindungi, maka RUU PUB nantinya harus merefleksikan komitmen pemerintah dalam melindungi semua minoritas yang eksis di negeri ini dengan memberikan pengakuan (recognition), keterwakilan (representation), dan kesejahteraan (refistribution). Sebab, bila terjadi ketidakjelasan pembahasan tentang posisi kaum minoritas dalam RUU KUB, itu akan berdampak pada ketidakjelasan peran FKUB yang banyak didominasi oleh perwakilan agama-agama yang diakui oleh Negara, terutama dominasi Muslim. Di lembaga yang dibentuk dan didanai operasional dan gaji anggotanya dari pajak ini, miskin representasi agama lokal dan aliran kepercayaan. Kaum minoritas tidak terwakili dalam FKUB. Bagaimana suara, perspektif dan pembelaan hak-hak mereka muncul dalam kebijakan yang dirumuskan? ICRP menguatirkan RUU PUB juga belum tuntas membahas hal ini. Hal paling krusial dan genting untuk dibahas secara mendalam dalam RUU PUB ini adalah persoalan perseorang/lembaga/ormas sosial-keagamaan yang sering membuat ulah dan melakukan aksi-aksi perusak keharmonisan kehidupan dan relasi antar agama. Bukan rahasia lagi bila publik akan menunjuk hidung FPI, FUI dan MUI atau ormas-ormas lain manapun. Agitasi dan provokasi sengaja atau tidak sengaja rajin muncul dari lembaga-lembaga di atas. Karena itu, kami berani menuduh pemerintah berkhianat kepada rakyat dan konstitusi. Sudah selayaknya masyarakat dan sipil society melakukan class action. Harus dibicarakan dalam bagaimana bila negara mengabaikan dan memelihara keabadian intoleransi dan membiarkan kekerasan atas nama agama itu terjadi. Maka, bila itu terus terjadi sebagaimana pada 10 tahun rezim SBY, kami bernyali untuk mengatakan: bahwa pelanggaran dan pengabaian itu secara nyata dilakukan oleh negara (by comission). Jadi negaralah/pemerintah lah pelaku kekerasan dan pelanggaran terhadap nilai-nilai HAM itu.
8. Kedelapan, hal yang penting untuk muncul dan dijadikan mainstreaming program dalam Naskah Akademis RUU PUB itu adalah pentingnya kita beragama yang sehat, penuh toleransi terhadap perbedaan dan sikap rational dan tidak diskriminatif terhadap agama-agama dan kepercayaan apapun. Harus muncul dalam Draft RUU PUB ini bagaimana seharusnya pemerintah mendewasakan cara pandangan rakyat atau warga Negara terhadap agama-agama di bumi Indonesia.
Terakhir, dalam pemahaman ICRP, esensi dan substansi sebuah UU ataupun peraturan-peraturan adalah kebaikan/keamanan/keadilan/kesehatan public. Sebuah UU atau pun peraturan diproduksi untuk mengantisipasi berbagai masalah dan diproyeksi untuk masa yang panjang. Nah, kami berharap besar RUU PUB ini benar-benar berikhtiar untuk menyelesaikan masalah dalam relasi lintas agama yang terus membesar angka dan menguatirkan kesatuan bangsa. Padahal kita semua membutuhkan kualitas beragama yang sehat, damai dan harmonis serta benar-benar mendudukkan semua warga Negara secara terhormat dan adil di depan hukum. Law enforcement benar-benar ditegakkan dan dilaksanakan. Itulah modal utama dan mendasar kerukunan umat beragama.
===================

http://icrp-online.org/wp-content/uploads/2014/11/Pernyataan-Sikap-ICRP-terkait-RUU-PUB.pdf


JAKARTA, ICRP -Merebaknya intoleransi di tanah air diduga masif berkembang di sekolah-sekolah negeri. Fakta tersebut merupakan temuan beberapa tahun ke belakang dari Yayasan Cahaya Guru. Hal tersebut membantah asumsi publik yang menuding bahwa di sekolah berbasis agama seperti sekolah milik kristen, katolik, pesantren atau madrasah menjadi pusat radikalisme.
Temuan Yayasan Cahaya Guru itu ditegaskan kembali oleh Peneliti Senior Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Ahmad Nurcholish dalam acara Anggoro kasih di Sasana Adirasa Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Senin (5/1). ”Di sekolah-sekolah milik kristen misalnya tidak ditemukan guru yang menolak untuk menghormati bendera merah putih atau menyanyikan lagu Indonesia raya,” ucap Nurcholish.
Dalam acara yang diadakan komunitas penghayat kepercayaan ini,  Nurcholish juga menyinggung pentingnya para penghayat kepercayaan untuk segera membangun institusi pendidikan. “Sayang sekali, saya belum melihat adanya perguruan tinggi milik penghayat kepercayaan,” kata Nurcholish.
Menurut Nurcholish pendirian institusi pendidikan menjadi sangat penting bagi penganut kepercayaan. Salah satu tujuannya yakni, sambung Nurcholish,  untuk  mengembangkan nilai-nilai luhur Ketuhanan Yang Maha Esa yang senantiasa diperjuangkan penghayat kepercayaan. Dengan dikembangkannya nilai-nilai luhur Ketuhanan Yang Maha Esa itu, Nurcholish berharap mampu menangkal pemahaman keagamaan yang radikal.
Selain itu, lembaga pendidikan menurut tokoh yang telah lama bergelut dalam isu toleransi antar umat beragama ini, memiliki fungsi eksistensialistis.  Nurcholish meyakini, masyarakat di tanah air akan mengingat warisan cita-cita luhur agama-agama di nusantara jika penghayat kepercayaan berhasil membangun institusi pendidikan hingga ke tingkat perguruan tinggi.
Berkaitan dengan masalah pudarnya wacana keagamaan penghayat kepercayaan, Nurcholish menyoroti minimnya publikasi. “Karena itu kami di ICRP bersama Mang Engkus merasa penting untuk membuat publikasi mengenai agama-agama lokal. Saat ini kami tengah merumuskan pembentukan ensiklopedia yang di dalamnya juga memuat mengenai agama-agama lokal agar warisan luhur ini tetap eksis dan diingat oleh anak bangsa,” jelasnya di hadapan para penghayat kepercayaan.

http://icrp-online.org/2015/01/06/nurcholish-harap-penghayat-kepercayaan-segera-dirikan-lembaga-pendidikan/

Kembalinya Agama Nusantara ke Pangkuan Ibu Pertiwi

11 Jan 2015 | 11:27
1420950260954247644


Kalau aturan main dalam kontestasi penyebaran agama di Indonesia diatur secara adil dengan yang adil juga, kemudian dibiarkan agama lokal untuk mengekpresikan keagamaannya sesuai dengan jaminan konstiusi, menurut saya jumlah Muslim di Indonesia tidak 87,18 % lagi (berdasarkan sensus penduduk tahun 2010) melainkan berkisar 50-65 % saja... analogi itungan saya paling paling tinggal 35 % saja. justru karena itu lah ada usaha untuk menghalangi agar kolom agama boleh dikosongkan atau diisi dengan kepercayaan diluar 6 agama yang sudah diakui. contoh di Sumut ada Parmalim, di Jawa Barat ada Sunda wiwitan yang jumlahnya puluhan juta, Kaharingan di Kalimantan dll.

Ini List lengkapnya yg terdaftar resmi di pemerintahanNAMA AGAMA ASLI NUSANTARA

01. Agama Bali (sering disebut Hindu Bali atau Hindu Dharma)

02. Sunda Wiwitan (Kanekes, Banten)

03. Agama Djawa Sunda (Kuningan, Jawa Barat)

04. Buhun (Jawa Barat)

05. Kejawen (Jawa Tengah dan Jawa Timur)

06. Parmalim (Sumatera Utara)

07. Kaharingan (Kalimantan)

08. Tonaas Walian (Minahasa, Sulawesi Utara)

09. Tolottang (Sulawesi Selatan)

10. Wetu Telu (Lombok)

11. Naurus (Pulau Seram, Maluku)

12. Aliran Mulajadi Nabolon

13. Marapu (Sumba)

14. Purwoduksino

15. Budi Luhur

16. Pahkampetan

17. Bolim

18. Basora

19. Samawi

20. Sirnagalih

NAMA ALIRAN PENGHAYAT KEPERCAYAAN DI NUSANTARA

JAWA TIMUR

01. Aliran Kebatinan Tak Bernama

02. Aliran Seni dan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

03. Babagan Kasampurnan

04. Badan Kebatinan Rila

05. Budi Rahayu

06. Cakramanggilingan

07. Dasa Sila

08. Himpunan Murid dan Wakil Murid Ilmu sejati R. Rawiro Utomo (HIMUWIS RAPRA)

09. Induk Wargo Kawruh Utomo

10. Jawi Wisnu

11. Jendra Hayuningrat Widada Tunggal (PANDHAWA)

12. Kahuripan

13. Kapitayan

14. Kapribaden Upasana

15. Kasampurnan Ketuhanan Awal dan Akhir

16. Kepercayaan Sapta Dharma Indonesia

17. Ketuhanan Kasampurnan

18. Kodratullah Manembah Ghoibing Pangeran

19. Margo Suci Rahayu

20. Paguyuban Darma Bhakti

21. Paguyuban Ilmu Sangkan Paraning Dumadi Sanggar Kencono

22. Paguyuban Kawruh Bathin “101”

23. Paguyuban Kawruh Bathin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan

24. Paguyuban Kawruh Bathin Jiwo Lugu

25. Paguyuban Kawruh Murti Utomo Wasito Tunggal

26. Paguyuban Kawruh Sangkan Paran Kasampurnan

27. Paguyuban Kawruh Sasongko

28. Paguyuban Lebdho Guno Gumelar

29. Paguyuban Manunggaling Karso

30. Paguyuban Ngesti Budi Sejati

31. Paguyuban Pangudi Katentreman (PATREM)

32. Paguyuban Satriyo Mangun Mardiko Dununge Urip

33. Paham Jiwa Diri Pribadi

34. Panembah Jati

35. Pangrukti Memetri Kasucian Sejati (PAMEKAS)

36. Pelajar Kawruh Jiwo

37. Perguruan Ilmu Sejati

38. Perhimpunan Kamanungsan

39. Perhimpunan Kepribadian Indonesia

40. Purwaning Dumadi Kautaman

41. Rasa Manunggal

42. Sujud Manembah Bekti

43. Tri Murti Naluri Majapahit

44. Urip Sejati

JAWA TENGAH

01. Badan Kebatinan Indonesia

02. Badan Keluarga Kebatinan Wisnu

03. Elang Mangkunegara

04. Hak (Kawruh Hak)

05. Hidayat Jati Ranggawarsita

06. Hidup Betul

07. Himpunan Kebatinan Rukun Wargo

08. Ilmu Kasampurnan Jati

09. Jaya Sampurna (Pamungkas Jati Titi Jaya Sampurna)

10. Kalimasada Rasa Sejati

11. Kapribaden (Kawruh Kapribaden)

12. Kasampurnan

13. Kawruh Naluri Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan Jati

14. Kawruh Roso Sejati

15. Kawruh Urip Sejati

16. Kejaten

17. Kejawen

18. Kejiwaan

19. Langgeng Suci

20. Mustiko Sejati

21. Ngudi Utomo

22. Paguyuban Anggayuh Katentremaning Urip (AKU)

23. Paguyuban Budi Sejati

24. Paguyuban Hasto Broto

25. Paguyuban Kawruh Kodrating Pangeran

26. Paguyuban Kaluwargo Kapribaden

27. Paguyuban Muda Dharma Indonesia

28. Paguyuban Ngesti Jati

29. Paguyuban Olah Rasa Mulat Sarira Ngesti Tunggal

30. Paguyuban Pangudi Kawruh Kasuksman Panunggalan

31. Paguyuban Trijaya

32. Paguyuban Ulah Rasa Batin (PURBA)

33. Paguyuban Jawa Naluri

34. Pangudi Rahayuning Budhi (PRABU)

35. Pangudi Rahayuning Bawana (PARABA)

36. Papandaya

37. Pembagunan Kebatinan Kepribadian Rakyat Indonesia Badan Kejawan (PERKRI)

38. Penghayat Kepercayaan Paguyuban Noermanto (PKPN)

39. Perjalanan Tri Luhur

40. Persatuan Resik Kubur Jero Tengah

41. Pirukunan Kawulo Manembah Gusti (PKMG)

42. Pramono Sejati

43. Pribadi

44. Purwo Ayu Mardi Utomo

45. Ratu Adil

46. Saserepan Kepribadian Intisari (SKI’45)

47. Saserepan’45

48. Sentana Darma Majapahit dan Pancasila (SADHAR MAPAN)

49. Setia Budi Perjanjian 45 (SBP 45)

50. Sukma Sejati

51. Tujuh Mulya

52. Waspodo

53. Wayah Kaki

54. Wratama Wedyanantama Karya

55. Wringin Seta

DIY YOGYAKARTA

01. Angesti Sampurnaning Kautaman

02. Anggayuh Panglereming Napsu (APN)

03. Hak Sejati

04. Hangudi Bawana Tata Lahir dan Batin

05. Imbal Wacono

06. Kasampurnan Jati

07. Kelompok Setu Pahing

08. Mardi Santosaning Busi (MSB)

09. Minggu Kliwon

10. Ngesti Roso sejati

11. Ngesti Roso

12. Paguyuban Jawi Lugu

13. Paguyuban Kawruh Hardo Puruso

14. Paguyuban Kebudayaan Djawi (PKD)

15. Paguyuban Keluarga Besar Keris Mataram

16. Paguyuban Keluarga Besar Sri Sadono

17. Paguyuban Rabo Wage

18. Paguyuban Sangkara Muda

19. Paguyuban Tata Tentrem (Patrem Indonesia)

20. Paguyuban Traju Mas

21. Perguruan Das

22. Persatuan Eklasing Budi Murko

23. Sumarah Purbo

24. Tuntunan Kerohanian Sapta Darma

25. Yayasan Sosrokartono

JAWA BARAT

01. Aliran Kepercayaan Aji Dipa

02. Aliran Kepercayaan Lebak Cawene

03. Budi Rahayu

04. Paguyuban Adat Cara Karuhun

05. Perjalanan Budi Daya

DKI JAKARTA

01. Aliran Kebatinan Perjalanan

02. Budi Luhur (Kawruh Kasampurnan Sangkan Paran Budi Luhur)

03. Forum Sawyo Tunggal

04. Urip Utami (Gautamai)

05. Himpunan Amanat Rakyat Indonesia (HARI)

06. Mersudi Kaluhuring Budi Pekerti (Mekar Budi)

07. Musyawarah Agung Warna

08. Ngudi Kawruh Rasa Jati

09. Organisasi Kebatinan Satuan Rakyat Indonesia Murni (Sri Murni)

10. Paguyuban Kebatinan Ilmu Hak

11. Paguyuban Ki Ageng Selo

12. Paguyuban Penghayat Kapribaden

13. Paguyuban Sumarah

14. Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal)

15. Pangudi Ilmu Kebatinan Intisarining Rasa (PIKIR)

16. Pangudi Ilmu Kepercayaan Hidup Sempurna (PIKHS)

17. Perhimpunan Peri Kemanusiaan

18. Persatuan Warga Theosofi Indonesia

19. Pran-Suh (Ngesti Kasampurnan)

20. Purbaning Lampang Sejati

21. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruktining

22. Sri Langgeng

23. Susila Budhi Dharma (SUBUD)

24. Tri Sabda Tunggal

25. Tunggal Sabda Jati

26. Wisma Tata Naluri

LUAR JAWA

01. Adat Lawas (Kalimantan Timur)

02. Aliran Mulajadi Nabolon 3 (Sumatera Utara)

03. Ata Kahfi (Nusa Tenggara Timur)

04. Babolin (Kalimantan Tengah)

05. Bakubung (Kalimantan Tengah)

06. Basora (Kalimantan Tengah)

07. Bolin (Kalimantan Tengah)

08. Budi Suci (Bali)

09. Cahaya Kusuma (Sumatera Utara)

10. Era Mula Watu Tana (Nusa Tenggara Timur)

11. Galih Puji Rahayu (Sumatera Utara)

12. Golongan Si Raja Batak (Sumatera Utara)

13. Guna Lero Wulan Dewa Tanah Ekan (Nusa Tenggara Timur)

14. Habonaron Do Bona (Sumatera Utara)

15. Hajatan (Kalimantan Tengah)

16. Hidup Sejati (Nusa Tenggara Barat)

17. Ilmu Ghoib (Lampung)

18. Ilmu Ghoib Kodrat Alam (Lampung)

19. Jingitiu (Nusa Tenggara Timur)

20. Kaharingan Dayak Luwangan (Kalimantan Tengah)

21. Kaharingan Dayak Maanyan Banna 5, Paju 4 dan Paju 10 (Kalimantan Selatan)

22. Kaharingan Dayak Maanyan Piumbung (Kalimantan Tengah)

23. Kakeluargaan (Bali)

24. Kepercayaan A. Halu (Kalimantan Tengah)

25. Kepercayaan G. Adat Musi (Sulawesi Utara)

26. Lera Wulan Tana Ekan (Nusa Tenggara Timur)

27. Magapokan (Bali)

28. Mangimang Sumabu Duata (Sulawesi Utara)

29. Marapu (Nusa Tenggara Timur)

30. Ngoja (Kalimantan Tengah)

31. Paguyuban Pendidikan Ilmu Kerohanian – PPIK (Lampung)

32. Paompungan (Sulawesi Utara)

33. Persatuan Aliran Kepercayaan Krida Sempurna (Sumatera Selatan)

34. Pompungan Waya Si Opo Ompung (Sulawesi Utara)

35. Purwo Deksono (Lampung)

36. Purwo Madio Wasono (Sumatera Utara)

37. Ramuat Ali Marie, Ayas, Ilfried – RAMAI (Sulawesi Utara)

38. Silima / Pamena (Sumatera Utara)

39. Ugamo Parmalin Budaya Adat Batak (Sumatera Utara)

40. Wisnu Budha / Eka Adnyana (Bali)

LAIN-LAIN

01. Agama Jawa Asli Republik Indonesia

02. Dununge Urip

03. Ilmu Sejati

04. Ilmu Sejati Prawiro Sudarso

05. Kawruh Budhi Jati

06. Kawruh Guru Sejati Kawedar (KGSK)

07. Kawruh Kasunyatan Kasumpurnan Pusoko Budi Utomo

08. Kawruh Kebatinan Gunung Jati

09. Kawruh Panggayuh Esti

10. Kawula Warga Naluri

11. Kebatinan 9 Pambuka Jiwa

12. Maneges

13. Memayu Hayuning Bawono

14. Ngelmu Beja-Mulur Mungkret

15. Paguyuban Pambuka Das Sanga

16. Pamengku

17. Pana Majapahit

18. Podo Bongso

19. Purbokayun

20. Sangkan Paraning Dumadi (Sri Jayabaya)

21. Tri Tunggal Bayu

Salah satu penyebab kurang populernya agama lokal ini adalah tidak lepas karena pengaturan atau kebijakan pemerintah, yaitu tidak mengakui sebagai agama resmi tetapi menggolongkannya sebagai kepercayaan semata. Kemudian situasinya menjadi semakin sulit karena masyarakat sendiri nyaris tidak memberi peluang untuk tumbuh dan berkembangnya agama lama ini bahkan tidak jarang menganggapnya sebagai bukan suatu agama atau bahkan dituduh sebagai aliran sesat. Sebenarnya mereka jelas bukan ajaran sesat, karena keberadaan mereka sudah dijamin oleh Undang-undang. Namun Undang-undang tetaplah hanya sebatas teks dan kata-kata semata, karena kenyataan keberadaannya terpinggirkan atau bahkan lebih tepat disebut dicurigai.

Dari sekian banyak agama lokal yang ada, bisa dikatakan sudah punah walaupun kenyataannya masih bisa ditemukan di suatu wilayah namun dianggap “tidak pernah ada”. Buktinya “agama resmi” yang diakui dan masuk kolom KTP hanya 6 agama saja, dan tidak ada satupun yang termasuk agama lokal alias semuanya import, dengan demikian keberadaan agama lokal sudah dianggap punah.

Untuk mendapatkan legalitas resmi, beberapa agama tertentu seperti Kaharingan “terpaksa” harus bergabung dengan agama Hindu. Kemudian agama Parmalim di Batak memilih tetap bertahan dengan agama lamanya, namun untuk urusan KTP nya, terpaksa harus memilih agama lain sebagai identitasnya.

Dan sudah seharusnya kita mendukung dan memberi tempat agar saudara2 luhur nusantara mendapat tempat yang adil dan layak dalam menjalankan ibadah dalam keyakinannya.
~ Salam Kompasiana
http://m.kompasiana.com/post/read/695972/3/kembalinya-agama-nusantara-ke-pangkuan-ibu-pertiwi.html

10 December, 2014

Puasa



Apapun nama dan pelaksanaannya, bila dilakukan dengan niat yang tulus, maka tak mungkin akan membuat manusia yang melakoninya akan celaka. Intinya adalah, ketika seseorang berpuasa dengan ikhlas, maka orang tersebut akan terbersihkan tubuh fisik dan eteriknya dari segala macam kotoran.

Bahkan medis mampu membuktikan, betapa puasa memberikan efek yang baik bagi tubuh, terutama untuk mengistirahatkan organ-organ pencernaan.

Berbagai Macam Puasa bagi seorang Kejawen

1. Mutih
Dalam puasa mutih ini, kita tidak boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Nasi putihnya pun tidak boleh ditambah apa-apa lagi (seperti gula, garam dll.) jadi betul-betul hanya nasi putih dan air putih saja. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dulu sebelumnya, dan membaca doa : “niat ingsun mutih, mutihaken awak kang reged, putih kaya bocah mentas lahirdipun semua karena Gusti.”

2. Ngeruh
Dalam melakoni puasa ini, kita hanya boleh memakan Sayuran / Buah-buahan saja. Tidak diperbolehkan makan Daging, Ikan, Telur dsb.

3. Ngebleng
Puasa Ngebleng adalah menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari. Seseorang yang melakoni puasa Ngebleng tidak boleh Makan, Minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual. Waktu tidur pun harus dikurangi. Biasanya seseorang yang melakukan puasa Ngebleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam (24 jam). Pada saat menjelang malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahaya pun yang menerangi kamar tersebut. Kamarnya harus gelap gulita tanpa ada cahaya sedikitpun. Dalam melakoni puasa ini diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.

4. Patigeni
Puasa Patigeni hampir sama dengan puasa Ngebleng. Perbedaannya adalah, tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yang melakukannya 3 hari, 7 hari dst. Jika seseorang yang melakukan puasa Patigeni ingin buang air maka, harus dilakukan didalam kamar (dengan memakai pispot atau yang lainnya). Ini adalah doa puasa patigeni : “niat ingsun patigeni, amateni hawa panas ing badan ingsun, amateni genine napsu angkara murka karena Gusti”.

5. Ngelowong
Puasa ini lebih mudah dibanding puasa-puasa diatas. Seseorang yang melakoni puasa Ngelowong, dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja (dalam 24 jam). Diperbolehkan keluar rumah.

6. Ngrowot
Puasa ini adalah puasa yang lengkap dilakukan dari jam 3 pagi sampai jam 18. Saat sahur seseorang yang melakukan puasa Ngrowot ini, hanya boleh makan buah-buahan saja! Diperbolehkan untuk memakan buah lebih dari satu, tetapi hanya boleh satu jenis yang sama, misalnya pisang 3 buah saja. Dalam puasa ini diperbolehkan untuk tidur.

7. Nganyep
Puasa ini adalah puasa yang hanya memperbolehkan memakan yang tidak ada rasanya. Hampir sama dengan Mutih, perbedaanya makanannya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak mempunyai rasa.

8. Ngidang
Hanya diperbolehkan memakan dedaunan saja, dan air putih saja. Selain daripada itu tidak diperbolehkan.

9. Ngepel
Ngepel berarti satu kepal penuh. Puasa ini mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja. Terkadang diperbolehkan sampai dua atau tiga kepal nasi sehari.

10. Ngasrep
Hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja sehari.

11. Senin-Kamis
Puasa ini dilakukan hanya pada hari senin dan kamis saja seperti namanya. Dari jam 3 pagi sampai jam 18.

12. Wungon
Puasa ini adalah puasa pamungkas, tidak boleh makan, minum dan tidur selama 24 jam.




copas:
http://kejawenonline.blogspot.com/2011/03/puasa.html













Pengalaman Spiritualku

Dari kecil, saya memang orang yang tidak mudah percaya dengan hal-hal diluar logika, apalagi yang menentang logika. Iman dan dogma, jelas-jelas bagi saya adalah sebuah pembodohan. Dimana untuk memudahkan pemuka agama, agar dapat berlindung di balik ketidak sanggupannya untuk menjelaskan hal-hal yang memang tidak ada. Dari kecil pula, saya adalah orang yang sangat tidak senang dengan standar ganda. Sementara di beberapa agama (tidak semua), melakukan standar ganda. Juga hal yang saya paling benci adalah, orang-orang yang berpenampilan agamis, tetapi amoralis.

Keluarga saya sebenarnya, mayoritas memeluk agama Islam (abad ke-7), dan sebagian memeluk Kristen Katolik (abad ke-1). Tetapi spiritual saya mencoba untuk mengikuti dan mempelajari agama Hindu (40 abad sebelum Masehi) yang artinya Kebenaran Abadi, agama yang diyakini sebagai agama pertama di dunia, dan baru mempelajari agama-agama Rasul. Dari perjalanan spriritual saya tersebut, saya terus terpanggil oleh agama lokal yang pernah saya pelajari secara sekilas, yakni agami Jawi yang eksis pada tahun 4425 (44 abad sebelum Masehi).

Tetapi memang, agama yang juga disebut sebagai kepercayaan atau keyakinan, kalau tidak percaya dan tidak yakin apalagi tidak cocok di hati, selalu saja mengganggu pikiran di hati pemeluknya. Sehingga pada 12 Oktober 2007 (Idul Fitri) saya telah bulat memutuskan untuk menjadi seorang Kejawen Sejati, dan meninggalkan agama yang tertera di KTP saya.

Sebelum benar-benar ingin memeluk Agami Jawi, saya mohon izin kepada ibu saya, kalau saya akan menjadi atau menjalani Agami Jawi secara utuh, yakni sebagai seorang Kejawen Sejati atau Kejawen tanpa embel-embel agama lain (Islam Kejawen, Kristen Kejawen, Hindu Kejawen, dll), seperti yang banyak dianut oleh orang-orang Indonesia saat ini. Pesan ibu saya, “Kalau kamu mau jadi seorang Kejawen Sejati, jangan pernah belajar pada orang lain.” Pesan singkat itu, pada awalnya membuat saya terus bertanya-tanya. Tetapi setelah kurang lebih tiga bulan saya lakoni semua dengan Olah Roso, maka mulai berdatangan jawaban-jawaban. Hal ini menjawab semua pertanyaan, mengapa saya tidak boleh belajar pada orang lain.

Dari waktu ke waktu saya mulai mendapatkan pencerahan, sampai-sampai hal yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya, muncul dengan sendirinya. Dari mulai dasar-dasar ucapan do’a kepadaNya hingga cara sembahyang.

Saya akan bagi pengalaman saya ini si sini, tetapi saya yakin kalau anda ingin menjadi seorang Kejawen Sejati, anda pun dapat melakukannya dengan cara Olah Roso. Filosofi dasar Olah Roso adalah empati, yakni kalau kamu tidak mau disakiti jangan menyakiti, dan kalau kamu ingin dihormati orang lain kamu pun harus menghormati orang lain pula.

Karena tidak satu manusiapun di dunia ini yang dapat mendikte pola hubungan seseorang dengan Sang Pencipta, karena setiap orang memiliki hubungan yang khusus dan unik langsung kepada Sang Pencipta. Jadi tidak satu orang pun, yang berhak mengaku-aku dirinya dapat menyeragamkan pola hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Sebagai analogi, Kedjawen memberikan anda pancing dan bukan ikannya, dengan demikian anda akan mendapatkan pemahaman yang hakiki mengenai Sang Pencipta dalam diri anda (Manunggaling Kawulo Gusti).



Etimologi

Di dalam tulisan ini bila ditemukan kata Kedjawen itu adalah sebuah agama lokal pertama yang lahir di Indonesia (Nusantara), yang dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa, dan suku bangsa lainnya yang tinggal atau menetap di pulau Jawa. Artinya Kedjawen (dengan huruf d) adalah sebuah agama atau kepercayaan atau keyakinan.

Sedangkan kata Kejawen, yangberasal dari kata Jawi, adalah sebagai kata benda yang memiliki arti dalam bahasa Indonesia, yaitu seorang yang berbudi luhur. Sehingga Kejawen juga sebagai sebutan/predikat bagi pemeluk Kedjawen (agama Jawi), sebagai contoh, pemeluk agama Islam disebut sebagai Muslim, pemeluk agama Kristen sering disebut Nasrani.

Dalam konteks umum, Kejawen merupakan agama lokal Indonesia. Seorang ahli antropologi Amerika Serikat, Clifford Geertz pernah menulis tentang ini, dalam bukunya yang ternama The Religion of Java atau dalam bahasa lain, Kejawen disebut Agami Jawi. Penganut Kejawen biasanya menganggap ajarannya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah perilaku orang yang beradap. Ajaran kejawen biasanya bertumpu pada konsep keseimbangan. Dalam pandangan demikian, Kejawen memiliki kemiripan dengan Konfusianisme atau Taoisme, namun tidak sama pada ajaran-ajarannya.

Tetapi kini bagi Kejawen Sejati, dengan Olah Roso dapat dipahami bahwa untuk berkomunikasi dengan Gusti, kita dapat menggunakan suara hati dan apapun bahasanya. Sebenarnya Agami Jawi (Kedjawen), tidak menjadi monopoli orang-orang Jawa semata. Kedjawen adalah agamanya orang-orang yang ingin dapat berbudi luhur, bahkan Agami Jawi ini dapat diterapkan di belahan dunia manapun.


Kejawen Bukan Aliran Kebatinan

Agama pendatang selalu membuat opini, bahwa Kejawen itu adalah Aliran Kebatinan. Hal ini dilakukan oleh agama pendatang, agar para penganut Kejawen yang masih muda dan tidak tahu apa-apa merasa malu untuk mengatakan bahwa dirinya adalah Seorang Kejawen. Sebab jika Kejawen itu benar-benar Ilmu Kebatinan, pernyataan diri sebagai Seorang Kejawen merupakan pernyataan yang setara dengan saya adalah dukun.

Dengan opini tersebut, agama pendatang berhasil membuat orang-orang Jawa yang dikenal sangat mempunyai sifat merendah tersebut enggan menyatakan dirinya sebagai Seorang Kejawen. Padahal pada kenyataanyam, dari penelitian kecil seorang dosen saya, yang seorang Profesor Doktor, menyatakan bahwa dari 100 responden (yang paranormal), tidak ada satupun (dari paranormal tersebut) yang membacakan mantra-mantranya dengan bahasa Jawa. Mereka membacakan mantra-mantranya dengan bahasa dan tulisan Arab. Kejawen adalah sebutan bagi penganut Agami Jawi, seperti orang Kristen disebut sebagai Kristiani atau Nasrani, sedang orang Islam disebut sebagai Muslim, dan lain sebagainya.

Seorang Kejawen adalah orang yang mempunyai niat dari dalam dirinya, untuk melakukan apa-apa yang tidak menyakiti pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb), karena dalam falsafah Agami Jawi adalah berbudi luhur, yang artinya memiliki pikiran dan prilaku yang luhur.

Kebanyakan agama yang ada, sadar atau tidak mereka selalu diajak kepada struktur dari pemahaman agama itu sendiri. Bagi sebagian agama, justru ada kursus-kursus atau sekolah (di luar sekolah formal) yang memberi pengajaran atau pendalaman. Tentunya tidak gratis. Bagi Seorang Kejawen, mereka hanya disarankan untuk memperdalam Olah Roso yang akan dengan mudah dapat dipelajarinya melalui puasa mutih Senen – Kamis. Setelah seorang Kejawen dapat merasakan manfaat Olah Roso, ia pasti sudah dapat naik lagi ke tahap selanjutnya.

Bagi beberapa agama menyarankan atau bahkan diharuskan jika mampu, untuk melakukan napak tilas secara fisik, yakni dengan diiming-imingi hadiah (penghapusan dosa) bagi yang melakukan hal tersebut. Dengan logika ini (penghapusan dosa), dapat dikatakan justru mendiskriditkan Tuhan Yang Maha Esa, yang seolah-olah memiliki pola berbisnis terhadap mahluk ciptaanNya sendiri.

Kasihan ya yang nggak mampu, karena seolah Tuhan Yang Maha Esa membedakan orang kaya dan orang miskin. Semakin miskin seseorang di dunia, mereka pun tidak mendapatkan kesempatan untuk masuk surga. Karena tidak memiliki biaya yang besar untuk napak tilas tersebut.

Bagi seorang Kejawen hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Karena seorang Kejawen yang telah benar-benar melakoni puasa mutih dan Olah Roso dengan pasrah dan ikhlas, mereka pasti sudah dapat napak tilas secara nonragawi. Tidak seperti agama-agama lain yang harus melakukan napak tilas secara fisik.

Dalam Kejawen maka peribahasa “Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian”
adalah sangat cocok. Peribahasa di atas menggambarkan, bedanya Agami Jawi dengan agama-agama pendatang lainnya.

Agami Jawi memang tidak memiliki Kitab Suci. Mengapa? Karena dengan Manunggaling Kawulo Gusti, semua sudah terjawab. Jadi seorang Kejawen, tidak perlu belajar menghafal untuk mengerti semua itu. Dengan banyaknya ayat yang harus dihafalkan, menjadikan orang banyak alasan untuk dirinya tidak dalam kondisi eling lan waspodo.

Di dalam Kejawen, maka Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah menghukum ciptaannya sendiri. Hal ini dikarenakan, bahwa semua agama di dunia meyakini bahwa Tuhan Yang Maha Esa bisa membuat apa saja, dan sempurna. Begitu juga yang diyakini oleh seorang Kejawen. Jadi intinya, buat apa Tuhan Yang Maha Esa harus menghukum mahluk ciptaanNya sendiri? Karena Tuhan Yang Maha Esa sesungguhnya dapat membuat manusia sempurna. Memangnya Tuhan Yang Maha Esa, seperti orang Belanda yang menggagas madurodam.

Selain itu, kita sama-sama yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa tahu apa saja yang akan terjadi, atau akan menimpa dunia. Tetapi mengapa ada malapetaka? Malapetaka itu ada karena pola interaksi kita tidak harmonis dengan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb).

Bagi kebanyakan orang, Kejawen hanya dianggap sebagai kebudayaan, sehingga pada akhirnya pun pengurusan Kejawen dimasukan kepada Departemen Kebudayaan. Hal ini memang merupakan pembusukan yang terstruktur terhadap Agami Jawi itu sendiri. Agama Jawi merupakan agama yang bertumpu pada Olah Roso, atau dengan kata lain, bertumpu pada pengolahan bathin.

Banyak pembodohan yang dilakukan oleh agama-agama pendatang, karena mereka sangat berkepentingan bagi perluasan agama mereka sendiri, yang pada akhirnya mereka pun memiliki kepentingan bagi perluasan secara ekonomi.

Istilah batin dan Kebatinan adalah dua hal yang sangat berbeda. Tetapi dengan kepintaran agama pendatang memelintir itu semua, membuat nasib Kejawen seperti sekarang ini. Olah batin itu memiliki ruang yang luas, ada yang untuk mengenali diri sendiri yakni Olah Roso, sementara ada juga yang untuk pengobatan seperti Reiki misalnya.

Reiki saja yang jelas-jelas bukan sebuah agama, saya pernah menanyakan kepada beberapa anggota dari komunitas mereka. Apakah Reiki itu adalah Kebatinan? Mereka dengan tegas menyatakan Olah Batin bukanlah Kebatinan, seperti yang sering dikatakan oleh orang-orang dari agama import.



Malu Mengaku Kejawen

Kalau kita membaca kliping-kliping tahun 70-an (tepatnya sekitar tahun 1975 - 1979), terasa benar pada saat itu masyarakat Indonesia malu mengaku produk dalam negeri. Hal ini bukan hal yang kebetulan, tetapi ada kekuatan luar yang membawa dampak ini. Kekuatan luar tersebut, tentunya tidak dapat berjalan secara mulus, kalau tidak ada penghianat-penghianat bangsa ini yang membantu masuknya produk asing, dan mempersulit berkembangnya produk dalam negeri.

Hal tersebut mengingatkan kita pada pristiwa penghianatan Raden Patah YTPHN, terhadap ayah kandungnya sendiri demi membantu penyebaran agama pendatang. Pada priode tersebut, mulailah terasa bahwa banyaknya opini negatif terhadap penganut Agami Jawi yang dibuat oleh kelompok agama pendatang tersebut. Mulai dari konsep syirik, yang tadinya tidak dikenal kosa kata tersebut di Tanah Jawa ini, karena memang sebenarnya Agami Jawi tidak menyembah berhala / Mahluk Halus / Jin atau roh-roh lainnya, seperti yang selalu dituduhkan agama pendatang kepada pemeluk Kedjawen.

Di lain pihak, sifat orang Jawa secara mayoritas adalah orang tidak senang berkonflik, maka tuduhan tersebut tidak ditanggapi secara serius. Akibatnya, dari generasi ke generasi selanjutnya, terkikislah pemeluk Agami Jawi. Yang terjebak dalam opini agama pendatang.

Yang perlu diingat, semua agama di dunia ini pasti mempunyai atau memiliki satu titik fokus untuk mereka melalukan ritual Sembah Hyang. Agama Hindu dengan patung-patung sucinya, Agama Budha juga demikian, Agama Kristen dengan patung Bunda Maria dan Tuhan Yesus, Agama Islam dengan Ka’bah-nya. Bagaimanapun mereka berkelit, semua benda-benda tersebut adalah sebagai sarana arah konsentrasi dan pembentukan imajinasi mereka. Lagi-lagi masalah ke-Iman-an dan Dogma yang ditonjolkan dalam mengkunci definisi benda yang mereka Sembah sebagai arah imajinasi dan konsentrasi, sebagai definisi yang mereka terjemahkan menurut keyakinan pendahulunya. Memang, pemeluk agama dimanapun, mungkin hanya segelintir saja dari pemeluknya yang mau benar-benar mengerti makna yang terkandung dalam ritual-ritualnya.

Kedjawen, sebenar-benarnya adalah satu-satunya agama di muka bumi ini, yang tidak membutuhkan benda apapun untuk melakukan ritual. Hanya saja, tidak setiap orang memilki daya konsentrasi yang tinggi, sehingga bagi mereka inilah dibutuhkan sebuah benda untuk arah konsentrasinya. Hal ini dikarenakan tidak setiap orang dapat melakukan Olah Roso dengan penuh rasa pasrah kepadaNya.

Sementara banyak ilmu beladiri di Nusantara ini, yang menggunakan kekuatan Ghaib. Seperti di semua dan setiap bangsa yang ada di Dunia ini, memiliki ilmu-ilmu beladiri yang berkekuatan Ghaib pula.


Orang Modern Percaya Adanya Dunia Gaib

Saya perlu mengatakan bahwa saya pernah berdomisili dan mengunjungi negara-negara Jerman, Belanda, Belgia, Luxemburg, Italia, Taiwan, Singapura, Malaysia, Filipina. Hal ini dikarenakan untuk mengetahui bahwa dari pengalaman saya, saya mendapat beberapa kejutan kepercayaan dari negara-negara modern di Eropa.

Satu saat (tahun 1982) saya pernah kerja di pinggiran kota Hamburg. Karena saya jenuh, bekerja sendiri di pojokan gudang, maka untuk menyemangati, saya bekerja sambil bersiul (singsot). Tanpa diduga, saya didatangi oleh seorang ibu-ibu setengah baya (Supervisor), ia berkata kepada saya, "Sie durfen hier nicht pfeifen, weil es eine Menge von Dämonen, die kommen werden" Artinya, kamu nggak boleh siul di sini, karena nanti akan banyak setan yang datang. Kalau dulu Eyang saya selalu bilang, "Ojo singsot mbengi-mbengi, ngundang setan". Dari pengalaman saya di atas, di negara yang modern dan selogis Jerman, hal itu masih dipercayai oleh masyarakatnya.

Jadi kalau para tokoh agama mengatakan bahwa itu tahayul, dan di negara modern hal itu sudah tidak ada lagi. Dapat dipastikan si tokoh agama tadi, tidak memiliki pengalaman seperti di atas, atau bahkan ia mengatakan hal itu berdasarkan pesanan dari negara asal agama yang diwakilinya.

Tahun 2004 kebetulan saya harus bekerja di Berlin, dan saya mencari tempat tinggal di wilayah penduduk yang masih Asri. Hari-hari pertama saya harus melengkapi bumbu dapur, sehingga saya harus ke supermarket besar terdekat. Saat saya sudah membeli berbagai kebutuhan, saya melihat roncean bawang lanang (rangkaian bawang putih tunggal helai) dan saya pun mengambilnya. Ketika saat saya berada di depan Kasir, saya pun menanyakan, “Bawang putih semacam ini untuk memasak apa?” Kasir yang saat itu, wanita muda yang masih berumuran 20 tahunan menjelaskan kepada saya, bahwa rangkaian bawang semacam  itu untuk digantungkan di depan pintu masuk, atau di dapur yang gunanya untuk menolak mara bahaya yang datang dari mahluk halus.

Dari dua pengalaman saya di atas, jelas bahwa orang-orang di negara modern masih mempercayai adanya Dunia Gaib.

Dari mayoritas blog yang mengatasnamakan untuk kepentingan Kejawen, ternyata mereka adalah milik orang-orang beragama Rasul, yang intinya ingin memutarbalikan fakta Agami Jawi. Bagi yang ingin memeluk Agami Jawi apapun suku bangsa anda, anda hanya perlu dengan mencoba dengan Olah Roso.

Agami Jawi adalah agama yang benar-benar mempercayai dan meyakini kebesaran Gusti.
Sesungguhnya tidak ada yang namanya Kejawen Hindu, Kejawen Budha, Kejawen Islam ataupun Kejawen Kristen. Nilai-nilai Agami Jawi memang sudah digeser oleh agama-agama pendatang. Agami Jawi adalah agama yang sudah tumbuh berkembang, jauh sebelum agama-agama import itu datang ke Indonesia.

Mengapa begitu? Orang Jawa yang terkenal dengan sifatnya yang senkretis, sehingga hal ini dimanfaatkan oleh orang-orang pembawa agama import tersebut, agar nilai-nilai mereka dapat diterima oleh Agami Jawi, maka mereka mencoba untuk mengawinkan agama mereka dengan Agami Jawi yang sudah tumbuh jauh lebih lama dari agama mereka.

Dan, setelah Soeharto jatuh, mereka menganggap sudah sangat kuat, sehingga mereka berniat untuk menggeser Agami Jawi dari Bumi Nusantara ini. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya ancaman, baik fisik maupun non fisik yang mereka lakukan kepada orang-orang awam di Indonesia. Dengan keteguhan Para Kejawen Sejati sepertia anda, saya yakin Agami Jawi lambat laun akan menjadi tuan rumah kembali di tanah kelahirannya sendiri.



Evolusi Dalam Kejawen

Bicara mengenai evolusi bagi orang yang beragama, maka dapat dilihat ada tiga kubu, yakni:

Kubu pertama yaitu yang meyakini agama-agama Rasul. Dalam dogma dan keimanan beberapa agama mengkisahkan awal mulanya kehidupan manusia adalah dikarenakan adanya kutukan terhadap Adam dan Hawa, yang artinya mereka turun ke bumi sudah berbentuk atau dengan wujud manusia seutuhnya, seperti manusia sekarang ini.

Kubu kedua yaitu yang ditentang oleh agama-agama Rasul. Dalam pemahaman Generatio Spontanea, bahwa evolusi dimulai dari munculnya kehidupan secara kebetulan, yang lalu berevolusi menjadi manusia seutuhnya. Atau faham teori tersebut, berkeyakinan bahwa awalnya mahluk hidup, muncul dari benda mati, dan berkembang terus. Hingga penyempurnaannya melalui evolusi.

Kubu ketiga yang diyakini oleh Agami Jawi. Dalam logika seorang Kejawen, bahwa Tuhan Yang Maha Esa memberikan Kehidupan Awal Yang Hakiki, selanjutnya mereka Berevolusi. Logika inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen, sehingga kami tidak memerlukan dogma dan keimanan, karena semuanya logis adanya.

Setelah pemberian nyawa atau kehidupan yang merupakan hak absolut Tuhan Yang Maha Esa, untuk memberikan kehidupan. Dari sinilah, atau pemahaman inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen sebagai awal permulaan terbentuknya mahluk hidup, dan kemudian terbentuklah manusia purba, hingga berevolusi menjadi manusia seutuhnya, seperti sekarang ini.

Hal yang menguatkan logika berfikir seorang Kejawen, adalah kita lupa bahwa Bapak Teori Evolusi adalah Charles Darwin, dimana dalam bukunya The Origin of Species yang diterbitkan tahun 1859, sesungguhnya ia pun mengakui bahwa, kehidupan pada mulanya dihembuskan oleh sang Pencipta ke dalam satu atau beberapa bentuk. Selanjutnya seorang Kejawen melakoni Olah Roso, hingga akhinya seorang Kejawen dapat menemukan atau awalnya hanya merasakan adanya Tuhan Yang Maha Esa.


Mencari Tuhan

Ketika saya kecil saya sering dengar bahwa Agami Jawi itu agama yang tidak mempunyai Tuhan atau agama yang Tuhannya belum diketemukan, karena mereka adalah orang-orang yang mencari Tuhan. Memang kalau kita hanya menterjemahkannya sebatas kalimatnya saja terkesan memang demikian.

Kalau kita bertanya? Apakah orang-orang yang Mencari Kedamaian adalah orang-orang yang kehilangan akan konsep Kedamaian itu sendiri? Saya pikir anak kecil pun tahu, bahwa bagi orang-orang yang Mencari Kedamaian tersebut adalah orang-orang yang belum mengerti akan arti Kedamaian itu sendiri.

Jadi dalam arti Kejawen, Mencari Tuhan bukan berarti mencari Tuhan, tetapi lebih dalam lagi artinya, yakni bahwa dirinya dalam Olah Roso, belum mendapatkan hubungan yang transendental dengan Gusti. Sehingga seorang Kejawen akan terus melakukan pencarian tersebut, manakala dirinya belum dapat berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa secara transendental.


Gusti Allah

Banyak orang Indonesia yang menyebut Tuhan Yang Maha Esa dengan Gusti Allah. Di sisi lain kita tahu, bahwa hukum Tata Bahasa kita adalah hukum DM (diterangkan menerangkan) sehingga dari kata Gusti Allah jelas bahwa kata Gusti ada sebelum kata Allah (2000 tahun SM), sementara kata Gusti yang digunakan oleh Kedjawen sebagai penghargaan tertinggi dalam menyebut Tuhan Yang Maha Esa sudah ada pada 4425 tahun Sebelum Masehi.

Dari hukum DM dapat dibuktikan bahwa, konsep Tuhan Yang Maha Esa sudah ada terlebih dahulu dalam diri seorang Kejawen, sebelum sebutan Allah disosialisasikan di dunia. Ketika agama pendatang ingin mamasukan pola pikirnya ke dalam masyarakat yang sudah terlebih dahulu mengenal konsep Tuhan Yang Maha Esa dengan sebutannya sendiri. Pertama-tama mereka mencoba menggantikan kata Gusti dengan kata Tiada Tuhan Selain Allah, namun karena orang-orang Indonesia pada saat itu adalah orang-orang yang Internalistik Religius, sehingga sangat sulit untuk menggantikan kata Gusti dengan kata Allah. Untuk itu, mereka merubah strategi dengan menyisipkan kata Allah pada kata Gusti, tetapi lagi-lagi, karena kata Gusti sudah mendarah daging dalam pikiran orang Indonesia, sehingga mereka menurunkan kata Allah itu sendiri menjadi kata sifat. Yakni Gusti Allah, yang dalam terjemahannya Gusti adalah Allah.
Analoginya Jas Merah adalah Jas berwarna Merah.

Setelah kata Gusti Allah diterima oleh penduduk lokal, maka mereka melakukan strategi berikutnya, yakni dengan mensosialisasikan bahwa Gusti adalah sanjungan pada kata Allah. Kemudian Gusti diartikan dengan Sang Pangeran, lagi-lagi ini pemutarbalikan fakta oleh agama pendatang.

Bagi anda yang ingin menjadi Kejawen Sejati, seyogyanya setelah mengerti Jas Merah (jangan suka melupakan sejarah), mulai sekarang hanya menggunakan kata Gusti untuk mengagungkanNYA.

Internalistik Religius adalah sebuah prilaku yang sudah sangat melekat pada motorik orang Indonesia.




Iman dan Dogma

Iman dan dogma adalah sebuah proses pembuntuan yang sistematis bagi pikiran seseorang dalam mengembangkan pola pikirnya yang kritis. Dengan iman dan dogma jelas-jelas orang tidak diperkenankan mengkritisi isi dari ayat-ayat yang tidak masuk akal.

Agami Jawi mengajarkan kita, bahwa segala sesuatu dalam sebuah agama atau kepercayaan haruslah mempunyai landasan logika yang benar dan menyeluruh. Keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, bagi sebagian besar agama merupakan keimanan yang datangnya dari dogma, dan tidak boleh dipertanyakan.

Bagi seorang Kejawen, kita tidak perlu mempercayai yang tidak ada. Tetapi dengan Olah Roso yang benar, seorang Kejawen pasti merasakan adanya Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Jadi dalam Agami Jawi, tidak diajarkan untuk mempercayai yang kita tidak dapat rasakan, apalagi kita tidak tahu.

Jelas dengan proses Cuci Otak yang dilandasi dari ayat-ayat Kitab Suci agama tertentu. Saat ini banyak sekali kejahatan yang mengatasnamakan demi keimanan sebuah agama, dirinya rela melakukan pembunuhan.

Karena saya yakin, orang tersebut tidak tahu akan adanya Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, apalagi merasakannya, yang didapat dari proses Olah Roso. Sebab kalau orang tersebut dapat merasakan adanya Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa di sekelilingnya, dapat dipastikan orang tersebut tidak akan melakukan pembunuhan kepada ciptaanNya.

Akal sehat adalah sebuah proses pemahaman atau proses analisa pikiran yang logis, yang tentunya tidak merugikan pihak lain. Jadi kalau agama itu memang ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, mana mungkin Sang Pencipta Yang Maha Kuasa dan Maha Tahu Segala-galanya membiarkan penganut agama-agama ciptaanNya bertarung sendiri berebut kebenaran. Yang tentunya merugikan pihak lain.

Dengan menggunakan akal sehat maka dalam Agami Jawi, kita tidak memerlukan dogma, seperti yang digunakan oleh agama-agama rosul atau agama-agama import, sebagai alat untuk menegasi pikiran-pikiran yang kritis yang tidak dapat terjawab oleh Kitab Suci mereka.

Secara psikologis, pikiran yang dikooptasi memerlukan apa yang disebut pengakuan eksistensi dari eksistensinya yang hilang karenanya. Oleh sebab itu, maka dogma perlu memberikan pengakuan kepada yang memberikan komitmen kepadanya. Untuk kepentingan itu, iman adalah predikat yang diberikan kepada orang-orang yang mengikatkan diri pada dogma itu sendiri.

Pahlawan adalah orang yang berjuang demi membela Bangsa dan Negara (Kerajaan), sementara penghianat adalah orang yang tidak setia kepada Bangsa dan Negara (Kerajaan), dan bahkan menghalalkan segala cara (machiavellian) untuk menelikung teman, saudara atau bahkan orang-tuanya sendiri.

Dalam mayoritas agama yang ada di dunia, iman adalah senjata ampuh ketika penganut atau calon penganut agama tersebut mulai bertanya dengan logika. Kaitan-kaitan ayat-ayat yang ada di kitab sucinya, dengan membandingkan dengan kehidupan sehari-hari.

Kedjawen adalah agama yang logis, karena keyakinan harus dibarengi dengan logika yang masuk akal. Karena keberadaan Dzat yang disebut Gusti tersebut eksistensinya dalam pikiran manusia didapat dari Olah Roso.

Banyak agama yang memulai dari Adam dan Hawa, di satu sisi, tetapi di sisi lain mereka tahu adanya proses evolusi manusia purba ke manusia modern. Di sinilah senjata ke-imanan dipermainkan oleh agama-agama yang mengandalkan kitab suci.

Bagi Kedjawen, kontradiksi itu tidak perlu terjadi. Karena proses evolusi terjadi di pulau Jawa, atau di lokal tempat Agami Jawi berkembang. Jadi proses adanya Tuhan Yang Maha Esa dalam pikiran Manusia adalah sebuah proses pencarian Olah Roso, yang sudah dimulai sekitar 4425 tahun Sebelum Masehi. Di sinilah mengapa Agami Jawi adalah agama yang logis dan dapat dibuktikan, tanpa perlu adanya dogma yang dipaksakan kepada penganutnya.





Manunggaling Kawula Gusti

Manunggaling Kawula Gusti, merupakan makna yang dalam bagi seorang Kejawen. Oleh karenanya banyak pemuka-pemuka agama yang non Kejawen, memelintir esensi dari makna Manunggaling Kawula Gusti itu sendiri. Hal ini tidak lain dan tidak bukan, untuk memuluskan pemasaran agama import yang dibawanya ke dalam masyarakat Jawa yang sengkretis. (Mudah-mudahan di kemudian hari masyarakat Jawa lebih waspada dengan pengaruh budaya asing)

Manunggaling Kawula Gusti sama sekali bukan bermakna bersatunya kita dengan Tuhan Yang Maha Esa. Makna sebenarnya dari Manunggaling Kawula Gusti adalah, bahwa hubungan seorang Kejawen dengan Tuhan Yang Maha Esa, tidak melalui perantara apapun seperti yang dilakukan oleh agama-agama Rasul.

Dalam pemahaman Kejawen, hubungan setiap orang kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah hubungan yang unik, karena pada awalnya setiap orang yang lahir di muka bumi adalah Titipan Tuhan Yang Maha Esa. Pemelintiran tersebut, jelas untuk kepentingan penyebaran agama impor tersebut.

Unik adalah tidak ada duanya. Seperti dot com misalnya, tidak ada dot com yang kembar. Lebih mudahnya: blokkejawen.blogspot.com sementara secara formal ini milik saya, tidak ada orang lain secara formal yang dapat mengakui bahwa ini miliknya.

Analogi lain, jika kita mencintai dan menyayangi ibu kandung kita, dan mengatakan bahwa ibuku ada dalam diriku (hatiku) dan segenap aliran darahku. Apakah berarti badan ibu kita ada dalam badan kita? Itulah yang juga dimaksud dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Adalah sebuah rasa yang mendalam, dan komitmen untuk berprilaku dengan segenap hati yang bersih. Bukan seperti yang diartikan: mempersatukan Tuhan dengan diri kita. Lagi-lagi ini adalah sebuah pemelintiran dari agama import.

Banyak orang memvonis bahwa Kedjawen bukanlah agama, melainkan hanya kepercayaan semata. Dalilnya, karena Kedjawen tidak memiliki kitab sebagai rujukan. Bagi agama rasul, kitab menjadi penting karena memang agar para penganut agama mereka, tidak dapat atau tidak diizinkan berinteraksi langsung dengan sang Penciptanya.

Ibarat pancing dan ikan, dalam agama rasul, para penganutnya langsung diberi ikan. Sehingga para penganutnya seolah akan dapat lebih mudah untuk mengerti kaidah-kaidah komunikasi dengan sang Pencipta, dengan pola menghafal. Sementara pada Kejawen, kita diberi pancing untuk mencari tahu bagaimana heningnya berkomunikasi dengan sang Pencipta, hal ini tidak perlu dihafal. Karena Olah Roso membuat kita berinteraksi sesungguhnya dengan sang Pencipta.



Agama = Ideologi?

Sejarah bukanlah sebuah dongeng, banyak agama yang berkisah berdasarkan dogma, dan akhirnya menuntut keimanan seseorang. Hal ini dikarenakan sulit untuk membuktikannya, atau mungkin memang tidak ada buktinya.

Seorang Kejawen harus selalu bertanya secara logika, agama yang dianutnya (Agami Jawi), sehingga ia tidak merasa atau mengalami pembodohan. Dengan adanya sejarah yang benar, dimana selalu ada waktu dan tempat kejadiannya, seorang Kejawen tidak memiliki keimanan yang dipaksakan oleh dogma. Karena menjadi seorang Kejawen, kita selalu dituntut kejujuran. Maka keimanan adalah sebuah ketidak jujuran kepada diri sendiri. Hal ini dikarenakan adanya percaya yang dipaksakan.

Agama adalah bukan sesuatu yang perlu diperlihatkan dalam kaitannya dengan eksistensi seseorang. Memang, ada agama yang memiliki fashion sendiri, untuk mencirikan agama mereka. Kalau hal itu yang menjadi esensi dari orang-orang yang memeluknya, itu sama saja orang-orang tersebut membeli barang abal-abal, yang penting seolah-olah mereka memiliki barang yang asli.

Berpakaianlah yang sopan dan bertutur katalah yang santun, kalau kita ingin menjadi seorang Kejawen Sejati. Dari sopan santun kita, tentunya kita akan memperkecil kemungkinan menyakiti pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). Dengan menjaga sopan santun tadi, sesungguhnya itu merupakan hal dasar, kalau kita ingin mengakui dalam hati bahwa kita adalah seorang Kejawen Sejati.

Agama Tuhan adalah, agama yang berorientasi pada satu Tuhan, atau yang disebut Tuhan Yang Maha Esa, dalam Kedjawen disebut sebagai Gusti. Proses adanya Tuhan dalam pikiran manusia, adalah karena adanya Olah Roso, dimana seorang Kejawen menemukan hubungan perasaan yang unik dengan zat yang dinamakan orang-orang di dunia ini: Allah, Tuhan, God, Gusti.

Jadi jelas, tidak ada satu agama pun di dunia ini, yang dibuat oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dikarenakan beberapa nalar matahati kita. Kita saja sebagai orang tua, tidak akan membiarkan atau merelakan anak-anak kita bertengkar satu sama lain. Apalagi Tuhan Yang Maha Esa.

Banyak agama yang mengklaim sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, tapi mereka bertengkar, bahkan sampai saling bunuh antar agama yang mengklaim ciptaan Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Jadi, kalau memang ada agama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, kita pasti hidup aman dan tentram.

Kalau benar ada agama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, maka pasti tidak perlu dipelajari oleh manusia. Karena pasti sudah inheren didalam pikiran kita, semenjak lahir.

Agama adalah Roso, bukan matematis, sehingga tidak ada penyeragaman yang strik terhadap sebuah aturan yang dihitung secara matematis. Hubungan setiap manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa memiliki hubungan yang unik, jadi setiap orang memiliki rasa kedekatannya sendiri masing-masing. Di sinilah keimanan seseorang kepada Tuhan Yang Maha Esa diuji. Apakah ia benar-benar ikhlas mengimani Tuhan Yang Maha Esa, tanpa harus ada perantaranya.

Di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, kita ini memang semua sama. Hubungan itu justru tergantung dari bagaimana kita mengimani Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Dengan keikhlasan dan kepasrahan kita dalam mengimani Tuhan Yang Maha Esa, dalam saat yang bersamaan rasa tentram di hati kita akan muncul.

Semua agama di dunia berawal, atau lahir dari nilai-nilai tradisi setempat yang selanjutnya dilaksanakan dengan kepercayaan-kepercayaan yang diritualkan sejalan dengan tradisi lokal tersebut, sehingga tidak mengherankan kalau para pakar sosiologi menyatakan, bahwa semua agama di dunia lahir pada awalnya dari agama local. Sementara ideologi lahir dari pemikiran-pemikiran melalui proses thesis anti-thesis, yang pada akhirnya melahirkan aturan-aturan sosial yang komplit pula.  

Perbedaan esensial antara agama dengan ideology, adalah terletak pada pola hukuman dan penghargaannya (reward and punishment). Agama menerapkan hitungan hukuman dengan dosa, yang masih sangat imajinatif dan harus dipercayai dengan melalui iman dan dogma (kebalikan dari fakta dan data). Sementara ideologi menerapkan hukumannya dengan hukum positif setempat yang berlaku, dan harus dilaksanakan dengan fakta dan data (kebalikan dari iman dan dogma).

Persamaan antara agama dan ideology, adalah untuk dapat mengerti aturan-aturan agama atau ideologi secara ceteris paribus, orang harus membaca dan menghafalkannya terlebih dahulu. Sehingga, tidak mengherankan ketika seseorang yang hafal dan eksis di lingkungannya karena pengetahuannya terhadap agama atau ideologi tertentu, secara psikologis orang tersebut akan ketagihan untuk terus membaca dan menghafalkan segala sesuatunya, agar dia dapat tetap eksis sebagai narasumber.

Ketagihan untuk menjadi seorang ahli dalam sebuah agama atau ideologi tertentu, membuat seseorang menjadi seorang yang fanatik terhadap apa yang ia baca dan percayai. Kefanatikan seseorang inilah yang dapat dipergunakan oleh orang-orang ahli cuci otak untuk menjadikan targetnya menjadi seorang teroris.

Agami Jawi bukan agama yang perlu dihafalkan, tetapi agama yang perlu dirasakan dengan perasaan. Dengan proses Olah Roso. Seorang Kejawen Sejati sudah menemukan surga dan nerakanya, jadi dirinya tidak lagi perlu percaya dengan bacaan-bacaan yang menyesatkan. Dengan Olah Roso seseorang akan merasakan Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, sehingga ia tidak perlu menjadi orang yang fanatik. Karena Tuhan Yang Maha Esa ada karena kita memang merasakannya. Jadi seorang Kejawen Sejati tidak berangan-angan masuk ke surga, karena ia sudah menemukan kedamaian ketika ia dapat berinteraksi langsung tanpa perantara (seperti agama rosul, yang menggunakan rosul sebagai perantaranya) kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi dapat dipastikan pemeluk Agami Jawi, tidak akan pernah terjerumus menjadi seorang teroris. Karena ia sudah menadapat ketenangan yang hakiki melalui Mangunggaling Kawulo Ghusti.

Cuci otak merupakan tindakan subyek mempengaruhi obyek dengan cara, membawa logika berfikir obyek ke pola pikir yang diingini oleh subyek. Prosesnya adalah: subyek dan obyek pertama-tama memiliki satu pijakan nara-sumber yang sama. Nara-sumber dapat berupa kitab suci, atau buku-buku yang diterjemahkan dengan merujuk pada kitab suci tersebut, dengan beberapa ayat-ayat yang meyakinkan. Bagi orang-orang yang berambisi untuk masuk surga, yang notabene belum ada bukti, bahwa orang yang meninggal dengan menyakiti dirinya sendiri, maupun orang lain, bisa masuk surga.

Bagi seorang Kejawen, dimana perasaan surgawi dan kejamnya neraka yang hakiki ada dalam hatinya sendiri. Mengapa perasaan surgawi ada dalam hati kita sendiri? Surga adalah sebuah perasaan yang membahagiakan, yang mana dirinya sudah berhasil menikmati hidupnya yang bermanfaat, yang mana sekaligus prilakunya dapat bermanfaat juga bagi pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb).

Mengapa kejamnya neraka ada dalam hati kita sendiri? Neraka adalah sebuah perasaan bersalah, karena merugikan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). Perasaan benar dan bersalah bagi seorang Kejawen, didapat dari hasil Olah Roso. Sehingga ketika perasaan kejamnya neraka muncul dalam dirinya, maka seorang Kejawen tidak henti-hentinya untuk meminta ampun pada Gusti, untuk memohon tuntunanNya.

Kalau perasaan surgawi tersebut sudah ada dalam diri seseorang, maka seorang yang berbudi luhur, tidak akan lagi terpengaruh untuk berambisi masuk surga. Tetapi bagi seorang Kejawen yang masih terlalu merasa bersalah, dengan Olah Roso (tidak memerlukan nara-sumber apapun selain dirinya) dirinya akan dapat menemukan jalan keluarnya sendiri.

Dengan penjelasan tersebut di atas, jadi boleh dibilang seorang Kejawen Sejati tidak mungkin untuk dicuci otaknya dalam konteks hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dikarenakan, seorang Kejawen Sejati sudah memiliki hubungan yang unik dengan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga orang lain tidak dapat mencampurinya atau mempengaruhinya, pola hubungan tersebut kepada janji-janji untuk masuk surga.

Dosa merupakan hukuman kepada seseorang dari perbuatan buruknya kepada pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). Siapakah yang berhak untuk menilai itu dosa atau tidak? Jawabannya absolut, hanya Tuhan Yang Maha Esa.

Ada pepatah, ketidaktahuan membuat orang lebih merasa nyaman dalam pikirannya, karena dosa seseorang, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang mengetahuinya. Jadi sebenarnya, semua orang tidak akan terusik pikirannya jika dirinya berbuat kejahatan, kalau memang ia lahir dan tumbuh dibesarkan di lingkungan yang jahat.

Tetapi perlu diingat, sebagai keluarga normal, dari kecil kita selalu diajari oleh orang tua kita, untuk menjadi orang yang berbudi luhur. Dengan nilai-nilai, atau horma-norma yang baik, akan menumbuhkan cognitif, affektif dan motorik pikiran yang positif. Sehingga jika kita berbuat menyimpang dari norma yang diajarkan oleh orang tua kita, maka dalam pikiran kita timbul rasa bersalah.

Sedangkan rasa berdosa adalah, perasaan yang selalu menghantui kita, karena perbuatan buruk kita sendiri kepada pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). Bagaimana seseorang dapat merasa berdosa? Hanya jika ia mengerti makna dari do’a yang diucapkan.

Beruntunglah bagi anda yang berdo’a dengan bahasa yang anda sendiri tidak mengerti, karena anda tidak pernah merasa bersalah. Tetapi, semakin banyak orang yang seperti anda, maka semakin cepat pulalahh dunia ini akan hancur.

Bagaimana seorang Kejawen melihat dosa? Dosa adalah perasaan yang timbul sebagai hasil dari perbuatan yang merugikan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb)

Bagaimana kita bisa merasa berdosa? Dalam Budi Jawi yang dipentingkan adalah Olah Roso, karena dari Olah Roso maka kita tahu apakah sebuah perbuatan itu benar atau salah. Untuk memudahkan, perasaan seseorang selalu dikembalikan kepada dirinya sendiri. Sebagai contoh, jika kita memukul orang lain, bagaimana kalau kita dipukul oleh orang lain? Karena rasa sakit itu akan ada kesamaannya, jika kita yang dipukul.

Apakah dosa dicatat oleh Gusti? Gusti tidak mencatat dosa kita. Yang mencatat adalah diri kita sendiri (Kalau dianalogikan saat ini, setiap manusia membawa Smart Chipsnya masing-masing). Semua berpulang pada keikhlasan kita masing-masing. Apakah kita dapat berbuat ikhlas dalam kondisi yang dibalik? Jawabannya ada pada Olah Roso.

Apa itu Roso dalam Budi Jawi? Roso merupakan sebuah atmosfir dalam diri seseorang yang diterjemahkan oleh hati, panca indra, dan pikiran kita sendiri.

Dapatkah Roso kita bohongi atau berbohong kepada kita? Kalau kita menjalankan dengan baik dan ikhlas, serta menggunakan hati nurani, panca indra dan pikiran kita sendiri, maka Roso itu tidak dapat berbohong atau dibohongi. Jadi jelas bahwa Seorang Kejawen harus menjaga keseimbangan sopan-santun dengan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb)

Persamaan dan perbedaan Agami Jawi dengan beberapa agama-agama di dunia, adalah bahwa: Tuhan Yang Maha Esa berada di atas segala-galanya. Artinya sama-sama menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan perbedaan Kedjawen tidak mempunyai standar ganda terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Agami Jawi, Tuhan Maha Segala-galanya dan Maha Menyayangi ciptaannya. Karena Maha Segala-galanya, Tuhan Yang Maha Esa tidak bodoh, seperti yang dituduhkan agama pendatang, dimana Tuhan Yang Maha Esa hanya mengerti satu bahasa untuk menerima do’a dari manusia ciptaannya. Kalau memang Tuhan Yang Maha Esa hanya bisa mengerti satu bahasa atau hanya mau mengerti satu bahasa, maka sama saja mereka mengatakan bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak lagi maha segala-galanya dan Maha Menyayangi ciptaannya.
Bagi seorang Kejawen Sejati, yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah menghukum. Oleh karenanya, seorang Kejawen Sejati terus menjalani Olah Roso untuk dapat ikhlas, memuji, menyembah, beryukur, berpasrah, memohon ditunjukan kebaikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Mengukum demi kebaikan itu hanya ada dalam sudut pandang pikiran Manusia, sementara Tuhan Yang Maha Esa bukanlah manusia.

Pujian dan menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan bahasa, gerak, pikiran, dan hati nurani, tidak dapat diseragamkan, seperti gerak tertentu dan bahasa tertentu. Bagi seorang Kejawen, berdoa selalu dengan bahasa ibu. Karena, kita sama-sama tahu bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah maha tahu dan maha segala-galanya, sehingga Tuhan Yang Maha Esa sudah tahu sebelum kita tahu dan mengungkapkannya dengan kata-kata. Dengan keyakinan niat yang positif, didapat dengan Olah Roso, berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Esa, tidak diperlukan perantaraan apa dan siapapun. Hubungan komunikasi inilah, yang justru akan menciptakan ketenangan yang lebih esensial. Sementara beberapa agama di dunia menempatkan Nabi/Rasul sebagai perantaranya.

Pujian dan rasa terimakasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, juga dibarengi dengan menghormati pihak lain (alam, mahluk halus, sesepuh, orang lain, dsb). Karena Kedjawen tidak menempatkan manusia (dirinya) sebagai mahluk yang paling sempurna dibanding dengan lainnya. Sementara, beberapa agama di dunia menempatkan manusia sebagai mahluk sempurna, dibanding maluk lainnya di dunia ini.

Berderma tidak bisa dihitung dengan matematis, tetapi dengan keikhlasan. Sebagai mahluk yang tumbuh dari titipan Tuhan, maka keikhlasan bisa diperoleh dengan cara OlahRoso. Sementara, beberapa agama di dunia menempatkan hukum matematis, untuk berderma.

Agama lain menggunakan Kitab Suci sebagai acuan bagi penganutnya untuk berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan bagi Agami Jawi, seorang Kejawen justru dituntut untuk mendekatkan dirinya sendiri kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan cara Olah Roso yang ikhlas, agar mendapatkan jalan menuju Manunggaling Kawulo Gusti. Sementara, agama di dunia mengatakan bahwa kitab suci adalah buatan Tuhan Yang Maha Esa.

Kalau diibaratkan mainan, esensinya, semua orang pada saat kecilnya mempunyai kecintaan pada sesuatu (bisa konkrit maupun imajinatif) melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri, maka ibarat beberapa agama-agama di dunia lainnya adalah sebuah rumah-rumahan yang sudah jadi (si anak tinggal memainkannya), sementara Agama Jawi adalah rumah-rumahan yang dibuat dari lego (atas kreasi keseimbangan anak itu sendiri,  antara pikiran dan hatinya). Lagi-lagi yang perlu untuk diingat, Tuhan Yang Maha Esa, adalah maha tahu dan maha segala-galanya, sehingga Tuhan Yang Maha Esa sudah tahu sebelum kita ingin memberitahukan kepada Nya.



Empat Sila Utama Pola Hubungan

1. Eling Lan Bekti marang Ghusti Kang Murbeng Dumadi: artinya, kita yang ingat, seyogyanya harus selalu mengingat dan menyembah Gusti (Tuhan Yang Maha Esa) dalam setiap tarikan nafas kita. Dimana Gusti Yang Esa telah memberikan kesempatan bagi kita untuk hidup dan berkarya di alam yang indah ini.

2. Setyo marang Penggede Negoro: artinya, sebagai manusia yang tinggal dan hidup di suatu wilayah, maka adalah wajar dan wajib untuk menghormati dan mengikuti semua peraturan yang di keluarkan pemimpinnya yang baik dan bijaksana.

3. Bekti marang Bhumi Nuswantoro: artinya, sebagai manusia yang tinggal dan hidup di bumi nusantara ini, wajar dan wajib untuk merawat dan memperlakukan bumi ini dengan baik, dimana bumi ini telah memberikan kemakmuran bagi penduduk yang mendiaminya. Dengan berbakti dan menjaga kelestarian alam, maka alam akan memberikan yang terbaik untuk kita yang hidup di atasnya.

4. Bekti Marang Wong Tuwo: artinya, kita tidak dengan serta merta ada di dunia ini, tetapi melalui perantara ibu dan ayah, maka hormatilah, mulyakanlah orang tua yang telah merawat kita. Berbakti kepada ayah dan ibu yang telah memberikan kita jalan untuk meraih kehidupan disini.

5. Bekti Marang Sedulur Tuwo: artinya, menghormati saudara yang lebih tua dan lebih mengerti dari pada kita, baik tua secara umur, secara derajat, pengetahuan maupun kemampuannya.

6. Tresno Marang Kabeh Kawulo Mudo: artinya, menyayangi orang yang lebih muda, memberikan bimbingan, dan menularkan pengalaman dan pengetahuan kepada yang muda. Dengan harapan, yang muda ini akan dapat menjadi generasi pengganti yang tangguh dan bertanggung jawab.

7. Tresno Marang Sepepadaning Manungso: artinya, yang perlu diingat dan dicamkan dalam hati yang terdalam adalah, bahwa semua manusia sama nilainya dihadapan Gusti. Karenanya, hormatilah sesamamu, dimana mereka memiliki harkat dan martabat yang sama denganmu, dan sederajat dengan manusia lainnya. Cintailah sesamamu dengan tulus ikhlas.

8. Tresno Marang Sepepadaning Urip: artinya, semua yang di ciptakan Ghusti adalah mahluk yang ada karena kehendak Gusti yang Kuasa, karena mereka memiliki fungsi masing-masing, dalam melestarikan kita bersama alam ini. Dengan menghormati semua ciptaanNya, maka kitapun telah menghargai dan menghormatiNya.

9. Hormat Marang Kabeh Agomo: artinya, hormatilah semua agama atau aliran, dan para penganutnya. Agama adalah ageming aji, yang mengatur dan menata diri meng-Olah Roso untuk menjadikan manusia-manusia yang berbudi pekerti luhur.

10. Percoyo Marang Hukum Alam: artinya, selain Gusti menurunkan kehidupan, Gusti juga menurunkan hukum alam dan menjadi hukum sebab akibat, siapa yang menanam maka dia yang menuai. Kita ini hidup di alam dualitas, dan akan terikat dengan hukum-hukum yang ada selama masih berdiam di pangkuan alam tersebut, dan hormatilah alam dan hukumnya.

11. Percoyo Marang Kepribaden Dhewe Tan Owah Gingsir: artinya, manusia ini rapuh, dan hatinya berubah-ubah, maka hendaklah menyadarinya dan dapat menempatkan diri di hadapan Gusti, agar selalu mendapat lindungan dan rahmatNya dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Dengan terus melakukan Olah Roso, berarti kita terus menata diri demi meraih pribadi yang berbudi pekerti luhur memayu hayuning bawono.

12. Bekti Marang Mahluk Liane: artinya, menghormati mahluk lain ciptaanNya juga, seperti ia menghormati manusia lainnya Tresno marang sepepadaning manungso.

Duabelas (12) makna di atas sebenarnya merupakan penjabaran, bagaimana sebaiknya seorang Kejawen harus berprilaku dengan 4 Sila Dasar Utama Pola Hubungan dengan apa yang ada di luar dirinya:

1. Hubungan Manusia dengan Ghusti (Tuhan Yang Maha Esa)
2. Hubungan Manusia dengan Alam Semesta
3. Hubungan Manusia dengan Mahluk lain
4. Hubungan Manusia dengan sesama Manusia

Dalam urutan di atas, jelas bahwa hubungan manusia dengan sesama manusia adalah hubungan yang paling rendah. Di sinilah filosofinya, bahwa manusia harus menyayangi semua kehidupan, agar hidup ini bahagia. Jadi seorang Kejawen Sejati, jangan pernah mengatakan bahwa manusialah mahluk yang paling sempurna, karena pikiran itu hanya akan membuat diri ini ingin menang sendiri.

Jadi jelas bahwa seorang Kejawen harus menjaga keseimbangan Sopan Santun dengan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb). Menyayangi semua kehidupan bukan berarti memberi toleransi pada kejahatan yang dilakukan oleh pihak lain (orang lain, dan mahluk lain).


Pola Komunikasi

Sesama manusia, maka kita bicara kemudian ditangkap oleh lawan bicara dan dimengerti, lalu dijawab. Kepada Gusti, maka kita akan bicara dengan diri sendiri, apakah benar yang kita rasakan dan pikirkan (sebelum kita sampaikan kepada Gusti) Gusti sudah mengerti dan sudah langsung menjawabnya.

Jadi kalau kita berdo’a atau Sembah Hyang dengan bukan bahasa ibu, dimana yang terjadi antara perasaan dan pikiran kita, mungkin tidak sesuai dengan bahasa yang kita sampaikan. Meskipun demikian Gusti akan tetap mengerti dan menjawab tepat sesuai permohonan perasaan dan pikiran kita, tetapi hal ini justru dapat memperolok-olok Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa? Karena kita tidak paham isinya.

Sebagai contoh, seorang pemuka agama yang paham benar dengan bahasa agama import tertentu, memberikan do’a yang notabene mendoakan dirinya, tetapi kita yang tidak mengerti menggunakan do’a tersebut untuk permohonan kita. Bagaimana?

Jadi untuk tidak memperolok-olok Tuhan Yang Maha Esa, seyogyanya berdo’a atau bersembahyang dengan bahasa ibu. Karena dengan bahasa ibu kita tahu persis, tidak hanya isi dan arti yang terkandung, tetapi makna yang terkandung pun kita paham. Selain itu, kita dapat memilihkan dan menggunakan kosa kata yang pantas kepada Gusti.

Sebagai contoh, kata minta dan mohon mempunyai arti yang sama, tetapi pantaskah kita menggunakan kata minta kepada Tuhan Yang Maha Esa?

Seorang Kejawen Sejati, berbicara dengan sesama manusia saja ada tingkatannya. Usia sebaya atau di bawahnya dan orang yang lebih tua. Jadi untuk berkomunikasi atau menyampaikan perasaan dan pikirannya kepada Gusti, selain pemilihan bahasa yang santun, juga dengan tehnik Olah Roso.

Bahasa ibu seseorang adalah sebuah prilaku yang melekat pada diri orang tersebut. Sehingga apapun yang dikatakan merupakan pengadilan bagi dirinya sendiri. Oleh karenanya ada pribahasa: mulutmu harimaumu. Intinya, jika kita bersembahyang dengan bahasa ibu, hal ini akan mempunyai dampak yang lebih positif, ketimbang kita berdoa dengan bahasa hafalan yang kita tidak mengerti maknanya. Karena dari apa yang kita ucapkan, kita lebih mengerti akan tanggung jawab yang kita emban, yang mana semuanya tercermin dalam rangkaian kosa kata kita dalam berdo’a.

Kita semua tahu, makna sembahyang itu tidak hanya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga bertanggung jawab atas apa yang kita mohonkan. Bagi orang yang punya niat jahat, memang lebih enak sembahyang dengan bahasa yang ia sendiri tidak mengerti, karena (secara psikologis) hal itu tidak menimbulkan rasa tanggung-jawab pada dirinya, yang ada hanyalah harapannya saja yang ia mohonkan. Dengan demikian, bagi orang yang punya niat jahat, sembahyang dengan do’a-do’a yang ia sendiri tidak mengerti maknanya, akan melindungi dirinya dari rasa berdosa.

Sebagai seorang yang berbudi luhur, hendaknya kita dapat bersyukur, sekaligus mempertanggung-jawabkan do’a yang kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bagi seorang Kejawen, dendam adalah suatu yang membebankan dirinya. apalagi, jika dirinya sedang melakukan puasa. Oleh karenanya, seorang Kejawen seyogyanya tidaklah memiliki dendam kepada siapapun. Semua perbuatan yang menyakitkan oleh orang lain kepada dirinya, seyogyanya harus cepat-cepat dimaafkan (diminta atau tidak).

Masuknya agama-agama import, membungkus pemaafan kepada seseorang diikuti, keharusan orang itu menerima kembali orang yang menyakitkan dirinya sebagai orang yang seolah baru lahir kembali tanpa kesalahan. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang lokal lengah terhadap pembusukan nilai-nilai lokal oleh para tokoh-tokoh agama import tadi. Mengingat budaya orang-orang lokal yang sangat sengkretis, hal ini dimanfaatkan untuk merusak nilai-nilai yang sudah ada.

Sekarang, sebagai orang Kejawen yang belajar dari pengalaman buruk, dari pengaruh buruk budaya asing (yang dibawa oleh agama-agama import), kita harus mengasah Kewaspadaan yang bukan dendam, sehingga orang tadi tidak bisa serta-merta membodohi lagi, perasaan orang lokal yang sangat luhur (salah satunya tanpa prasangka buruk).

Banyak apologi yang mengatakan bahwa tidak baik memutus tali silahturahmi kepada siapapun. Tetapi demi kewaspadaan memutus tali silahturahmi kepada orang jahat adalah suatu keharusan. Sebagai contoh: waspada terhadap orang yang pernah menipu/ merampok kita, adalah langkah yang benar agar kita tidak tertipu untuk kedua kalinya.



Kedjawen Tidak Perlu Guru Agama

Mengapa Kedjawen tidak perlu guru? Hal ini karena di satu sisi Empat Sila Utama Pola Hubungan bisa didapat dari Olah Roso, di sisi lain pola hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa adalah pola hubungan yang unik. Sehingga tidak ada guru yang lebih paham dari diri kita sendiri, dalam konteks hubungan diri kita sendiri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Alasan lain, Guru Agama cenderung membodohi muridnya demi keuntungan dirinya sendiri.

Di negara berkembang, Guru Agama menjadi profesi untuk cari makan. Jadi, Kedjawen adalah hal yang mengancam bagi mereka yang mencari makan dari mengakali silabus pengajaran agama menjadi semakin panjang.

Dari penelitian kecil saya, selama saya berkunjung ke berbagai negara-negara maju di seluruh dunia. Di sana tidak yang namanya Guru Agama, karena agama adalah hal yang sangat pribadi, atau yang saya selalu sebut sebagai Hubungan Manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa adalah Hubungan Yang Unik

Mengapa Kedjawen tidak mempunyai Rasul? Dalam pemahaman Kedjawen, kita semua ini UtusanNya, jadi kita tidak memerlukan Rasul atau perantara untuk dapat berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa. Inti dari Kejawen adalah Manunggaling Kawulo Gusti, Karena dengan Manunggaling Kawulo Gusti, kita mengerti arti kebenaran yang sesungguhnya dan seutuhnya.

Seorang Kejawen memiliki hubungan yang khusus kepada sang Pencipta, tidak perlu memakai perantara untuk mencapainya. Oleh karenanya, untuk menjadi seorang Kejawen Sejati kita memerlukan usaha yang ekstra untuk memahaminya, melalui Olah Roso. Tetapi, ketika kita sudah mendapatkan pola interaksi yang sakral tersebut, semuanya akan lebih mudah, dibanding dengan ritual semua agama yang ada di dunia ini.



Do’a Dasar

Yang dimaksud do’a dasar adalah, do’a yang dapat dilakukan dalam berbagai kesempatan. Bacaannya: Gusti, hanya padaMu aku berpasrah, hanya padaMu aku berterimakasih, hanya padaMu aku memohon. Setelah itu sebutkan niat kita berdo’a. Contohnya, kita ingin memohon kesembuhan.

Gusti, hanya padaMu aku berpasrah, hanya padaMu aku berterimakasih, hanya padaMu aku memohon. Gusti, saya/aku/hamba memohon atas kesembuhan penyakit yang sudah saya/aku/hamba derita selama ini, dsb.

Do’a tersebut di atas hanyalah contoh. Bukan berarti anda harus meniru 100%. Seperti kesepakatan, bahwa hubungan setiap individu dengan Gusti memiliki hubungan yang unik. Yang perlu benar-benar diingat adalah, do’a seorang Kejawen tidaklah sama seperti doa agama-agama import yang gemar menggunakan kalimat perintah kepada Tuhan Yang Maha Esa, adalah perasaan dan pikiran kita yang ingin kita sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam tradisi Jawa, seseorang dapat mewujudkan do’a dalam bentuk lambang atau simbol. Lambang dan simbol dilengkapi dengan sarana ubo rampe sebagai pelengkap kesempurnaan dalam berdo’a.

Lambang dan simbol mengartikan secara kiasan bahasa alam yang dipercaya manusia Jawa sebagai bentuk isyarat akan kehendak Tuhan Yang Maha Esa (Gusti). Manusia Jawa akan merasa lebih dekat dengan Tuhan jika do’anya tidak sekedar diucapkan di mulut saja (NATO), melainkan dengan diwujudkan dalam bentuk, seperti: tumpeng, sesaji dan sebagainya, sebagai simbol kemanunggalan tekad bulat.

Oleh karenanya, manusia Jawa dalam berdo’a melibatkan empat unsur tekad bulat yakni: hati, fikiran, ucapan, dan tindakan. Upacara-upacara tradisional sebagai bentuk kepedulian pada lingkungannya, baik kepada lingkungan masyarakat manusia, maupun masyarakat ghaib yang hidup berdampingan, agar selaras dan harmonis dalam melakukan penyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa (Gusti).

Bagi manusia Jawa, setiap rasa syukur dan do’a harus diwujudkan dalam bentuk tindakan riil (atau diiringi dengan usaha), sebagai bentuk ketabahan dan kebulatan tekad yang diyakini dapat membuat do’anya dikabulkan.


Tapa

Apapun nama dan pelaksanaannya, bila dilakukan dengan niat yang tulus, maka tak mungkin akan membuat manusia yang melakoninya akan celaka. Intinya adalah, ketika seseorang melakoni tapa dengan ikhlas, maka orang tersebut akan terbersihkan tubuh fisik dan eteriknya dari segala macam kotoran. Berikut ini beberapa macam topo:

1.      Topo Jejeg, tidak duduk selama 12 jam.

2.      Topo Lelono, melakukan perjalanan (jalan kaki) dari jam 12 malam sampai jam 3 pagi (waktu ini dipergunakan sebagai waktu instropeksi diri).

3.      Topo Kungkum, masuk kedalam air sungai dengan tanpa pakaian selembarpun dan posisi duduk bersila didalam air dengan kedalaman setinggi leher. Biasanya di pertemuan dua buah sungai, menghadang arus, namun demikian diperbolehkan memilih tempat yang baik, yang arusnya tidak terlalu deras serta tidak berlumpur. Lingkungan harus sepi, dan diusahakan tidak ada orang lain ditempat itu. Dilaksanakan mulai jam 12 malam (jam 10 keatas) sampai kurang lebih tiga jam (beberapa orang hanya 15 menit), tidak boleh tertidur dan tidak boleh banyak bergerak. Disarankan mandi terlebih dahulu sebelum melakukan ritual ini. Do’a sesaat sebelum masuk sungai: “Putih-putih mripatku, ireng-ireng mripatku, telenging mripatku, semua krana Gusti.” Pada saat masuk air, mata harus tertutup dan tangan disilangkan di dada serta nafas teratur. Kungkum dilakukan selama 7 malam.

4.      Topo Ngalong, yaitu bertindak seperti kalong (kelelawar besar) dengan posisi tubuh kepala dibawah dan kaki diatas (sungsang). Pada tahap tertentu, topo ini dilakukan dengan kaki yang menggantung di dahan pohon, dan posisi kepala di bawah. Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak. Secara fisik bagi yang melakukan, topo ini melatih keteraturan nafas. Biasanya puasa ini dibarengi dengan puasa ngrowot.

5.      Topo Ngeluwang, adalah tapa paling menakutkan bagi orang-orang awam, dan membutuhkan keberanian yang sangat besar. Topo Ngeluwang disebut-sebut sebagai cara untuk mendapatkan daya penglihatan ghaib dan menghilangkan sesuatu. Topo Ngeluwang adalah topo dengan dikubur di suatu pekuburan atau tempat yang sangat sepi. Setelah seseorang selesai dari topo ini biasanya keluar dari kubur maka akan melihat hal-hal yang mengerikan (seperti arwah gentayangan, jin dsb). Sebelum masuk kekubur, disarankan membaca doa: “Niat ingsun Ngelowong, anutupi badan kang bolong siro mara siro mati, kang ganggu marang jiwa ingsun, lebur kaya dene banyu krana Gusti.


Puasa (Poso)

Berbagai macam puasa bagi seorang Kejawen:

1.      Poso Mutih, yaitu tidak boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja. Nasi putihnya pun tidak boleh ditambah apa-apa lagi (seperti gula, garam dll.) jadi betul-betul hanya nasi putih dan air putih saja. Sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku puasa harus mandi keramas dulu sebelumnya, dan membaca do’a: “Niat ingsun mutih, mutihaken awak kang reged, putih kaya bocah mentas lahir, kabeh krana Gusti.

2.      Poso Ngeruh, yaitu hanya boleh makan sayuran / buah-buahan saja. Tidak diperbolehkan makan daging, ikan, telur dsb (vegetarian).

3.      Poso Ngebleng, adalah menghentikan segala aktifitas normal sehari-hari. Seseorang yang menjalani Poso Ngebleng tidak boleh makan, minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktifitas seksual. Waktu tidur pun harus dikurangi. Biasanya seseorang yang melakukan poso ngebleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam (24 jam). Pada saat menjelang malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahaya pun yang menerangi kamar tersebut. Kamarnya harus gelap-gulita tanpa ada cahaya sedikitpun. Dalam melakukan puasa ini diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.

4.      Poso Patigeni, hampir sama dengan Poso Ngebleng. Perbedaannya adalah, tidak boleh keluar kamar dengan alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekali. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada juga yang melakukannya 3 hari, 7 hari dst. Jika seseorang yang melakukan Poso Patigeni ingin buang air, maka harus dilakukan didalam kamar (dengan memakai pispot atau yang lainnya). Do’anya : “Niat ingsun patigeni, amateni hawa panas ing badan ingsun, amateni genine napsu angkara murka krana Gusti”.

5.      Poso Ngelowong, lebih mudah dibanding puasa-puasa diatas. Seseorang yang melakukan Poso Ngelowong dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu. Hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja (dalam 24 jam). Diperbolehkan keluar rumah.

6.      Poso Ngrowot, adalah puasa yang lengkap dilakukan dari jam 3 pagi sampai jam 18. Saat sahur seseorang yang melakukan Poso Ngrowot ini, hanya boleh makan buah-buahan saja. Diperbolehkan untuk memakan buah lebih dari satu, tetapi hanya boleh satu jenis yang sama, misalnya pisang 3 buah saja. Dalam puasa ini diperbolehkan untuk tidur.

7.      Poso Nganyep, adalah puasa yang hanya memperbolehkan makan yang tidak ada rasanya. Hampir sama dengan Poso Mutih, perbedaanya makanannya lebih beragam asal dengan ketentuan tidak mempunyai rasa.

8.      Poso Ngidang, hanya diperbolehkan memakan dedaunan dan air putih saja. Selain daripada itu tidak diperbolehkan.

9.      Poso Ngepel, mengharuskan seseorang untuk memakan dalam sehari satu kepal nasi saja. Terkadang diperbolehkan sampai dua atau tiga kepal nasi sehari.

10.    Poso Ngasrep, hanya diperbolehkan makan dan minum yang tidak ada rasanya, minumnya hanya diperbolehkan 3 kali saja dalam sehari.

11.    Poso Senin-Kemis, puasa yang dilakukan setiap hari Senin dan Kamis saja seperti namanya. Dari jam 3 pagi sampai jam 18.

12.    Poso Wungon, adalah puasa pamungkas, tidak boleh makan, minum dan tidur selama 24 jam.



Sembah Hyang

Bagaimana sembahyang? Untuk sembahyang sehari-hari bisa dilakukan pada saat bangun tidur dan ketika menjelang tidur. Maknanya, orang lahir (bangun tidur) dan meninggal (tidur).

Bagaimana posisi sembahyang? Cukup terlentang layaknya orang tidur, dengan telapak tangan kiri diletakan tepat di atas jantung, dan telapak tangan kanan diletakan tepat di atas puser. Maknanya, jantug adalah organ vital kehidupan yang membersihkan darah  dan puser adalah tali kehidupan ketika kita di dalam kandungan.

Do’a ketika sembahyang bangun tidur: “Terimakasih Gusti, saya diberi kesempatan kembali untuk hidup hari ini. Sedulur papat limo pancer, mari kita sama-sama menikmati hari ini dengan baik, semoga hidup kita juga bermanfaat bagi Gusti dan pihak lain (alam, mahluk halus, sesepuh, orang lain, dsb).

Do’a sembahyang menjelang tidur: “Gusti, terimakasih untuk hari ini. Niat saya tidur, ikhlas dan pasrah pada Gusti. Sedulur papat limo pancer, selamat tidur, badan tidur hati tetap bangun. Terimakasih, sudah bersama-sama dengan saya dari bangun tidur hingga tidur kembali.

Sebelum melakukan segala sesuatu, sebagai seorang Kejawen harus Eling lan Waspodo. Arti kekiniannya, kita harus selalu sadar dan konsentrasi pada apa yang kita akan lakukan. Tetapi arti yang sebenarnya, kita harus selalu ingat dengan Gusti, dan bahwa segala sesuatu kejadian tidak lepas dari interaksi kita dengan segala sesuatu di sekitar kita termasuk alam, sesepuh, dan mahluk halus lainnya.

Sembayang lainnya, dapat dilakukan dalam keadaan duduk bersila, berdiri, maupun terlentang. Selain sembahyang wajib, akan lebih baik dilakukan dalam keadaan duduk atau sila, telapak tangan kiri menempel di dada, dan telapak tangan kanan menempel pada puser, atau dengan tangan kanan di bawah tangan kiri. Makna tangan kanan di bawah tangan kiri adalah, yang kotor di bawah yang bersih (darah bersih dari jantung mengalir pada bagian tubuh sebelah kiri, sementara aliran darah kotor mengalir pada bagian tubuh sebelah kanan).


Mahluk Halus, Jin, dan Setan

Mereka adalah mahluk yang hidup di dunia ini juga. Cuma bedanya, mereka memiliki frequensi yang berbeda dengan frequensi manusia. Selain itu, zat badan mereka pun, tidak terdiri dari zat-zat yang kasar, seperti yang kita biasa temui di dunia nyata kita ini. Sehingga tidak mengherankan, jika mereka disebut dengan mahluk halus. Tetapi pada prinsipnya, pola kehiduan sosial mereka secara umum, sama seperti kehidupan kita-kita di dunia nyata ini. Singkat kata, mereka ada yang baik dan ada yang jahat, ada yang pintar dan ada pula yang bodoh. Pola pergaulannya pun hampir sama dengan pola pergaulan manusia secara umum.

Jin adalah jenis mahluk halus yang termasuk dalam kategori pintar dan pintar sekali, sehingga ada sebagian dari mereka yang dapat berubah wujud, menjadi berpenampilan seperti manusia normal. Dalam kehidupan Jinpun ada yang punya sifat baik dan ada yang memiliki sifat buruk.

Jadi tidak ada alasan memusuhi jin yang bersifat baik. Tetapi seperti manusia pula, dimana di dalam kehidupan nyata sehari-hari kitapun dapat terkecoh oleh copet yang ber-jaz dan berdasi. Seperti dalam kehidupan sehari-hari, kitapun ingat pepatah Don't See a Book from the Cover. Hal inilah yang membuat kita harus terus menjadi lebih waspada terhadap siapapun juga, baik itu jin atau manusia sekalipun.

Banyak sekali para tokoh agama import yang menyalah-artikan mahluk halus dengan menyamaratakan semua mahluk halus tersebut dengan sebutan syetan. Hal ini sebenarnya adalah untuk mengelabuhi orang-orang awam, agar tidak bisa bergaul (ingat, bukan menyembah) dengan mahluk halus yang baik, dan mau saling tolong-menolong dengan manusia.

Jadi bagi seorang Kejawen, seyogyanya tidak boleh cepat-cepat menghakimi bahwa mereka semua adalah syetan,  karena syetan sesungguhnya adalah sifat yang paling buruk dalam kehidupan di tiga dunia ini (dunia nyata, dunia mahluk halus, dan dunia maya).

Tokoh agama import tersebut sebenarnya, ingin mengeliminasi pergaulan manusia awam dengan mahluk halus (ada yang baik dan ada yang jahat). Hal ini dikarenakan, agar tokoh agama tersebut dapat memanfaatkan pertolongan mahluk halus tersebut lebih leluasa, untuk kepentingan dan keuntungan tokoh agama import itu sendiri.

Jadi keterangan mereka atau pembelajaran mereka kepada pengikutnya, adalah terbalik dengan apa yang mereka perbuat di balik itu semua. Romo (seorang tokoh Agami Jawi) selalu menasehati kita, bahwa jangan pernah buat janji pada mahluk halus. Makna tersebut sebenarnya sama dengan "Jangan gampang membuat janji kepada orang lain, karena janji itu hutang".

Kalau seseorang berjanji kepada orang lain, pasti orang yang mendapat janji tersebut akan menagih janji jika dia butuh janji tersebut. Tetapi karena manusia terikat dengan dimensi waktu dan tempat, maka si penagih janji tidak dapat setiap saat muncul di hadapan orang yang memberi janji tersebut. Sementara mahluk halus tidak mengenal dimensi tempat, sehingga mereka bisa setiap saat menagih janji tersebut. Inilah yang sangat mengganggu manusia yang mudah membuat janji tersebut.



Sesaji atau Sajen

Mengapa seorang Kejawen Sejati memberikan sajen? Hal ini dikarenakan oleh tata krama sopan santun kepada pihak lain (alam, mahluk halus, sesepuh, orang lain, dsb) yang harus dicerminkan oleh seorang Kejawen. Analoginya, dengan kita menyembah Gusti, tidak berarti kita tidak menyuguhkan kenalan atau tetangga kita yang berkunjung ke rumah kita. Dalam kehidupan ini, agama mana yang tidak mempercayai alam gaib, atau kehidupan lain di bumi ini? Dalam Kedjawen, kepercayaan itu dituangkan pula dalam pola sopan santun kepada mahluk halus yang termasuk dalam kategori pihak lain (alam, mahluk halus, sesepuh, orang lain, dsb) yang ada di sekitar kita.

Atau sebaliknya, jika kita menyuguhkan sajian kepada tamu kita yang datang ke rumah kita, apakah artinya kita menyembah tamu kita tersebut? Jawabnya tentu tidak bukan?

Mengapa malam Jum’at? Seorang Kejawen mempercayai bahwa malam Jum’at adalah malam dimana para sesepuh (baik itu mahluk halus maupun orang tua/saudara/kerabat yang sudah tidak ada) mengunjungi anak wayahnya.

Apa yang disuguhkan? Untuk menghormati para sesepuh, kita sebaiknya menyuguhkan hidangan seperti layaknya menyuguhkan tamu kita, minuman teh atau kopi (tidak menutup kemungkinan jika kita juga ingin menyediakan rokok, bunga melati sebagai wangi-wangian, dsb) sebagai simbol penghormatan kita kepada para sesepuh atau tamu kita. Jadi, hal ini merupakan bentuk sopan santun kita kepada para sesepuh, maupun mahluk halus yang kita rasa sering berkunjung ke rumah kita.

Mengapa disebut sesepuh? Karena mereka umumnya mempunyai umur yang jauh di atas kita. Sehingga mereka layak disebut sesepuh. Begitu juga kakek buyut kita atau orang tua kita yang sudah meninggal. Dimana mereka selalu menengok anak-cucunya pada malam Jum’at.

Jadi kita tidak menyembah sesepuh kita melebihi Gusti? Absolut tidak, kalau dibalik dengan pertanyaan, apakah anda menyuguhkan kenalan anda waktu mereka bertamu ke rumah anda, berarti anda menyembah tamu anda?

Mengapa waktu memberikan sesajen, bersikap seolah menyembah? Ini memang ada kesalahan gesture antara menyembah Gusti dengan memberi hormat kepada sesepuh. Sebenarnya dalam Kejawen menjembah Gusti, tangan diletakan di atas kepala atau bersentuhan dengan dahi. Yang memiliki makna, posisi Gusti adalah absolut di atas segala-galanya. Sedangkan untuk memberi salam hormat kepada sesepuh tangan/jempol menyentuh dagu, yang memiliki makna bahwa seorang Kejawen tidak boleh berbuat sembrono/sembarangan (baik prilaku maupun bertutur kata), kepada orang atau mahluk yang lebih sepuh.

Sementara memberi salam hormat kepada sesama adalah dengan tangan/jempol menyentuh dada, yang memiliki makna, bahwa seorang Kejawen menghormati sesamanya dengan hati yang tulus dan ikhlas.

Jadi jelas bahwa Seorang Kejawen harus menjaga keseimbangan sopan santun dengan pihak lain (alam, mahluk halus, sesepuh, orang lain, dsb)



Kanuragan

Ilmu kanuragan dalam babad nusantara, khususnya tanah Jawa, menjadi hal penting dan menjadi bagian budaya jaman Jawa kuno. Kita telah mengenal beberapa ilmu metafisika yang dalam kebudayaan Jawa disebut Kanuragan, seperti: Aji Gendam (hampir sama dengan Hipnotis), Aji Pameling (hampir sama dengan telepati), Aji kijang kencana, Aji Bayu Bajra, Aji Bandung Bondowoso dan lain-lain. Ilmu Kanuragan tersebut sempat mencapai kejayaannya pada masa kerajaan kuno, terutama era Majapahit dan Sriwijaya.

Orang-orang yang ingin menyesatkan pemahaman Agami Jawi, mereka memutarbalikan fakta, dengan menyisipkan kedalam ajaran Kejawen, yakni metode praktis untuk melatih ilmu tenaga dalam. Padahal ilmu tersebut adalah ilmu bela diri tradisional orang-orang Jawa yang disebut Kanuragan. Jadi Kanuragan sama sekali bukan bagian dari Agama Jawi, karena Agama Jawi tidak mengajarkan seseorang untuk perang.

Seorang Kejawen Sejati tidak boleh memiliki rasa dendam, apalagi berfikir untuk berperang, logikanya, kalau Tuhan Yang Maha Esa yang Maha Kuasa menganggap perlu memusnahkan sesuatu yang merugikan, maka dalam sekejap hal tersebut dapat terlaksana, sehingga proses tersebut tidak perlu adanya campur tangan manusia.

Kalau logika berperang adalah untuk pembenaran, maka apa bedanya agama tersebut dengan pola pikir negara-negara Barat yang sering melakukan penyerangan atas nama pembenaran.

Bedanya, pembenaran negara-negara Barat dengan melakukan sosialisasi logika mereka. Di lain pihak, orang-orang yang mengaku baragama, bahkan mengklaim pembenaran mereka untuk menyerang sesama mereka sendiri dengan ayat-ayat agama kepercayaannya. Kalau dipikir lagi, apakah Tuhan Yang Maha Esa akan memberikan ayat-ayat untuk membunuh?



Ujian dari Tuhan Yang Maha Esa

Di agama lain, mungkin mempercayai bahwa kesusahan atau penderitaan merupakan ujian dari Tuhan. Bagi Agami Jawi, Gusti hanya memutuskan  2 (dua) hal absolut (yang disebut takdir), yakni kehidupan (lahir di bumi), dan kematian (meninggalkan bumi). Selain itu, Gusti memberikan kita pilihan.

Pada saat kita dilahirkan, dapat dianalogikan kita berada di depan sejuta persimpangan jalan. Pada saat itu memang kita belum dapat memilih jalan mana yang akan kita tempuh. Di sinilah peran orang tua kita yang memberikan warna samar-samar pada arah jalan hidup kita kemudian. Namun pada saatnya kita menginjak besar/puber, seyogyanya kita sudah mempuyai kapabilitas untuk menentukan jalan mana yang akan kita tempuh. Saat itulah, kita menentukan nasib kita sendiri.

Dua pilihan besarnya adalah, apakah kita ingin menjadi orang baik atau orang jahat. Dari dua pilihan besar itu, kita pun masih harus memilah-milah deferensiasinya dalam menjalankan pilihan itu sendiri. Yang perlu diingat adalah, jika kita sedang dalam masa-masa sulit atau kesusahan, maka itu artinya kita sedang berada dalam jalan yang salah. Bukan ujian dari Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan kita mengatakan bahwa kesulitan itu adalah ujian dari Tuhan Yang Maha Esa, maka tak ubahnya kita mengecilkan Tuhan kita sendiri. Hal ini yang banyak dilakukan oleh agama-agama import/pendatang. Menurut mereka Tuhan tak ubahnya seperti satpam, hal ini pulalah yang membuat bangsa kita selalu terpuruk dari eksistensi negara-negara lain. Ingatlah, Tuhan ada di atas segala-galanya. Ketika kita mengecilkanNya, maka alam dan seisinya yang akan mengecilkan kita.

Mungkin banyak dari anda, mempertanyakan tentang sangat berbedanya pola pikir Agama Lokal Nusantara ini, dengan agama-agama import lainnya. Hal ini dikarenakan, Agami Jawi tumbuh di alam yang bersahabat, sehingga seorang Kejawen Sejati terbiasa melihat di luar dirinya adalah hal-hal yang baik. Jadi, justru dirinyalah yang harus menyesuaikan dengan kebaikan itu sendiri. Hal ini anda dapat memahaminya pada Empat Sila Utama Pola Hubungan.


Berdosakah karena pindah Agama?

Berdosa karena pindah agama, atau apapun sebutannya, banyak agama mengutuk umatnya yang keluar dari agamanya. Bagi seorang Kejawen Sejati yang berasal dari ajaran turun-temurun keluarganya, bersyukurlah dirinya, karena ia tidak perlu mengalami pindah-pindah agama.

Tetapi, bagi seorang yang baru sadar akan keluhuran Agami Jawi setelah dirinya dewasa, dan ingin kembali lagi sebagai seorang Kejawen Sejati. Percayalah, Gusti / Tuhan Yang Maha Esa tidak akan pernah menghukumnya. Karena, ketika dirinya menganut agama rosul yang menempatkan dirinya tidak lagi sebagai titipan Tuhan Yang Maha Esa, dimana hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa harus melalui Perantara untuk menyampaikan do’a atau pujian kepadaNya.

Tidak sedikitpun Tuhan Yang Maha Esa menghukumnya, apalagi ketika ia sadar dan ingin memperbaiki kesalahan masa lalunya, dan kembali ke keyakinan Agami Jawi yang hakiki tersebut. Di lain pihak, mengakui dan meyakini bahwa kehidupan dirinya adalah pinjaman dari Gusti, yang pada awalnya dititipakan kepada orang tua mereka yang melahirkannya.



Dosakah seorang Kejawen pindah ke Agama lain?

Tidak ada satu orang pun yang berhak untuk menghakimi seorang Kejawen, yang pindah ke agama lain. Karena Tuhan Yang Maha Esa memberikan kita hati dan pikiran, yang mana itu semua sudah diserahkannya sejak kita lahir di muka bumi.

Dengan kepindahannya dari Agama Jawi ke agama lain, ini berarti ia memilih pola hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, dan bagaimana dirinya menempatkan Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri. Apakah dirinya ingin memiliki hubungan yang langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa (tetap pada keyakinan Agama Jawi), atau dengan Perantara (pindah ke agama Rasul).

Agama Rasul menempatkan Rasul sebagai Perantara komunikasi, antara dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karenanya, dalam sembahyang atau do’a mereka, mereka tidak lupa menyebutkan atau bahkan mendo’akan para Perantara mereka terlebih dahulu, sebelum memberikan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di lain pihak, hal tersebut sebagai wujud eksistensi mereka, bahwa mereka ada di jalur Perantara yang mana.


Kearifan Lokal

Mengapa Indonesia terpuruk? Karena manusia yang mayoritas menganut agama import tidak mengenal Kearifan Lokal seutuhnya. Sedangkan dalam Agami Jawi, hal tersebut sudah termasuk di dalamnya, bagaimana seorang Kejawen memperlakukan pihak lain (orang lain, alam, mahluk halus, sesepuh, dsb).

Dalam keyakinan alam bawah sadar orang-orang yang hidup di wilayah Indonesia, mempelakukan alam selayaknya kita memperlakukan orang lain (dalam konteks Agami Jawi). Kalau perlakuan terhadap pihak lain, kita lakukan dengan benar, maka masyarakat Indonesia tidaklah menderita seperti sekarang ini.
copy from:





Ref:
http://kejawenonline.blogspot.com
 

Copyright 2010 Kejawen New religion in New World.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.