26 August, 2016

Ketua MPR: Pembangunan Harus Melibatkan Masyarakat Adat

Jumat, 26 Agustus 2016 , 12:01:00

Ketua MPR: Pembangunan Harus Melibatkan Masyarakat Adat

JAKARTA - Ketua MPR Zulkifli Hasan mengatakan, penguatan masyarakat hukum adat perlu dilakukan. Sebab, keberadaannya merupakan bagian dari kebudayaan dan identitas Indonesia.
Hal ini disampaikan Zulkifli di sela-sela seminar nasional bertajuk 'Pemberdayaan Sistem Pemerintahan Desa Adat dalam Penataan Sistem Ketatanegaraan Indonesia', yang diadakan DPN Kerukunan Masyarakat Hukum Adat Nusantara (Kermahudatara).
Acara yang diadakan di Gedung Nusantara V kompleks Parlemen, Kamis (25/8), dihadiri juga oleh Wakil Ketua MPR EE Mangindaan, Agum Gumelar dan Ketua Badan Pengkajian MPR Bambang Sadono.
"Saya menilai masyarakat hukum adat perlu dihormati sebagai bagian penting dari sejarah. Saya menyambut baik dan memberikan dukungan penuh," kata Zulkifli di hadapan 300 peserta seminar.
Menurut Zulkifli, keragaman budaya dan suku bangsa sudah sepatutnya dihargai. Sebab, dari berbagai perbedaan itu lah terlahir Pancasila dan UUD 1945. Karena itu berharap keberadaan masyarakat hukum adat jangan lagi dipandang sebelah mata. Tapi harus dilindungi hak-haknya.
"Kita sadar masyarakat hukum adat seringkali berada dalam posisi yang lemah dalam mempertahankan hak-haknya. Tentu jadi tugas kita bersama melindungi. Masyarakat hukum adat juga perlu kita beri dukungan agar mereka turut serta berperan dalam pembangunan," pungkasnya.(fat/jpnn)

25 August, 2016

Olok-olok Pada Islam Dalam Sastra Anonim Kejawen

Kecenderungan menjadikan Islam sebagai bahan hinaan dalam karya sastra, memang ciri khas orientalis yang pada abad XVII – XIX yang didominasi kalangan teolog Kristen termasuk Serat Darmagandhul
Olok-olok Pada Islam Dalam Sastra Anonim Kejawen
Pebenturan antara Jawa dengan Islam dalam kedua serat tersebut, menjadi patokan dalam karya-karya para misionaris seperti Hendrik Kreamer, Schuurman, Van Lith dan Ten Berge
Oleh: Arif Wibowo
Dallikal, yen turu nyengkal wadine nyengkal, tegesipun kitabulla, natap mlebu ala wadi, tegese rahabapi, rahaba kang gawe sampur, hudan lil muttakina, yen wis wuda jalu estri, den mutena jroning ala-jroning ala.” (Serat Darmagandhul).
[Dzalikal: jika tidur kemaluannya nyengkal (bangkit), kitabu la, kemaluan lelaki masuk di kemaluan perempuan dengan tergesa-gesa, raiba fihi : perempuan yang pakai kain, hudan : telanjang (wuda), lil muttaqien : sesudah telanjang, kemaluan lelaki termuat dalam kemaluan wanita (diterjemahkan oleh Prof. Dr. H.M. Rasyidi dalam Islam dan Kebatinan, hal. 17)]

MENJADIKAN Islam sebagai bahan olok-olokan adalah ciri utama dalam Serat Darmagandul, sebuah sastra anonim yang ditulis abad Misi, sebuah masa dimana politik asosiasi atau yang lebih tepat westernisasi dan politik kristenisasi berjalan sangat intens. Istilah-istilah kunci dalam agama Islam, diputar balikkan maknanya oleh Darmagandhul dengan metode othak-athik gathuk (mengait-ngaitkan) seperti istilah sadat sarengat (syhadat dan syari’at) di artikan dengan yen sare wadine njengat (kalau tidur kemaluannya berdiri), tarekat itu taren kang estri (mengajak istri bersetubuh), sedangkan lafal Muhammad diartikan sebagai makam, kuburan segala rasa, yang berarti memuja diri sendiri, bukan memuji Muhammad yang lahir di tanah arab.
Selain Darmagandul, juga ada serat Gatoloco, dimana dalam serat yang juga anonim ini, istilah-istilah inti dalam Islam diasosiasikan dengan hal-hal yang bersifat cabul. Seperti kata Allah diartikan ala, yang rupanya jelek, yang dimaksud adalah wujud kemaluan laki-laki, sedangkan naik haji ke Makkah diartikan sebagai proses persetubuhan dimana poisisi istri saat bersetubuh mekakah (Rasjidi, 1967 : hal. 9-39).
Merebaknya sastra anonim di kalangan elit Jawa, tidak terlepas dari kekalahan Pangeran Diponegoro pada perang Jawa 1825 – 1830. Meskipun Belanda memenangkan perang besar ini, namun biaya yang ditanggung sangat besar. Kondisi keuangan Kerajaan Belanda hampir bangkrut karenanya. Untuk menutupi kerugian tersebut, pemerintah Belanda menerapkan kebijakan politik tanam paksa (Cultuur Stelsel). Sistem tanam paksa mengharuskan para menanami seperlima lahan yang dimiliki dengan tanaman komersial yang sudah ditentukan pemerintah Belanda. Untuk menjalankan politik tanam paksa ini, pemerintah kolonial Belanda menaikkan derajat para bupati mejadi ningrat, dengan syarat para bupati harus melaksanakan kehendak residen Belanda. Sedangkan penduduk pribumi dituntut kepatuhan mutlak sebagai budak (Kahin, 2013 : 12). Belanda menangguk untuk yang besar dengan politik tanam paksa ini, utang VOC sebesar 35.500.000 gulden berhasil dilunasi, bahkan kas negeri Belanda bertambah sebesar 664.500.000 gulden.
Proses penganakemasan kalangan bupati dan para ningrat yang lazim disebut priyayi ini, akhirnya menjadikan para priyayi sebagai kelas tersendiri dalam masyarakat Jawa. Bukan hanya kelas sosial tetapi juga orientasi spiritualnya. Berkaca dari kekalahan Pangeran Diponegoro, bagi para priyayi tersebut, menandakan takluknya seluruh Jawa kepada pemerintah kolonial Hindia Belanda, sehingga ketaatan bukan lagi tertuju pada kewibawaan Islam, melainkan kepada apa yang disebut kewibawaan Kristen (Akkeren, 1995 : 56).
Benih-benih sentimen anti Islam pun mulai bermunculan. Para priyayi tersebut beranggapan bahwa peralihan keyakinan masyarakat Jawa ke agama Islam Islam adalah sebuah kesalahan peradaban dan bahwa kunci kepada modernitas yang sesungguhnya terletak pada penggabungan pengetahuan modern ala eropa dengan restorasi kebudayaan Hindu Jawa. Apa yang menjadi pandangan kaum priyayi Jawa tersebut berasal dari Snouck Hurgronje, dimana menurut Snouck dengan penetrasi pendidikan model Baratlah pengaruh Islam di Indonesia bisa disingkirkan atau sedikitnya dikurangi. Pendidikan juga akan menghilangkan jarak kultural orang Belanda dengan para bangsawan dan kaum aristokrat Indonesia. Selain itu posisi mereka yang relatif “bersih” dari pengaruh Islam, para priyayi tersebut merupakan kelompok sosial yang paling cocok untuk ditarik masuk ke dalam orbit kebudayaan Barat dan dijadikan sebagai rekanan (Shihab, 1998 : 86)
Islam dipandang sebagai penyebab mundurnya wujud paling agung dari kebudayaan tersebut, Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1870-an para penulis dari Kediri meramu gagasan-gagasan semacam ini di dalam tiga karya sastra yang mengagumkan, Babad Kedhiri, Suluk Gatholoco dan Serat Darmogandhul, yang merendahkan dan mengolok-olok Islam. Karya yang disebut terakhir ini meramalkan bahwa penolakan terhadap Islam akan terjadi empat abad setelah kejatuhan Majapahit –ini mungkin ditulis untuk memperingati sebuah sekolah milik pemerintah bagi kaum elite di Probolinggo pada tahun 1878, atau 400 tahun setelah runtuhnya Majapahit sebagaimana secara tradisional diyakini dan bahkan orang Jawa akan menjadi pemeluk Kristen. (Ricklefs, 2012 : 53-54).
Pemilihan Kejawen bukannya Kristen sebagai jalan spiritual oleh para priyayi tersebut disebabkan dalam pandangan masyarakat Jawa pada umumnya, kekristenan identik dengan penjajahan yang menyengsarakan rakyat banyak. Orang-orang Kristen Jawa sering dicemooh dengan ungkapan londo wurung jowo tanggung (belum berhasil menjadi Belanda dan tanggung/tidak sepenuhnya menjadi orang Jawa, lali jawane (orang jawa yang lupa akan kejawaannya), dan sebagainya. Mereka juga sering dijuluki toewan gendjah (tuan yang belum matang) (Aritonang, 2006 : 99). Agar tidak berhadapan dengan masyarakat pada umumnya, para priyayi tersebut menolak untuk dikristenkan, seperti yang digambarkan Ricklefs;
“Sekitar tahun 1870, seorang Bupati menegaskan komitmennya untuk tetap memeluk Islam dalam pengertian yang lebih instrumentalis daripada spiritual. Dia telah menunjukkan antusiasismenya terhadap segala sesuatu yang berbau Belanda. Karenanya seorang kenalan Belanda bertanya kepadanya, bilakan ini berarti bahwa dia akan beralih menjadi Kristen. Bupati tersebut menjawab, “Ah, ….. sejujurnya, saya lebih senang memiliki empat orang istri dan satu Tuhan dariapada satu istri dan tiga Tuhan.” (Ricklefs, 2012:52)
Sastra Kejawen, Penginjilan Jalan Memutar
Sistem tanam paksa dijalankan pada era Gubernur Jendral Van den Bosch. Selain sebagai gubernur, ia juga merupaka ketua di Nederland Bijbelgenootschap. Pada tanggal 27 Februari 1932, Van den Bosch mendirikan Instituut voor het Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa). pada 27 Februari 1832. Selain untuk mempelajari bahasa dan seluk beluk Jawa, lembaga ini diharapkan berfungsi sebagai institusi pendamping penerjemahan Bible ke dalam Bahasa Jawa. (Simbolon, 2007 :127). Lembaga ini merupakan tempat berkumpul para ahli-ahli Jawa berkebangsaan Belanda. Para javanolog Belanda ini lebih jauh menggali kesusastraan, bahasa dan sejarah Jawa kuno yang telah lama menghilang di kalangan orang Jawa. Para Javanolog Belanda mengembalikan tradisi Jawa kuno (Jawa pra Islam) dan menghubungkannya dengan Surakarta.  Javanolog Belanda lah yang “menemukan”, “mengembalikan” dan “memberikan makna terhadap Jawa masa lalu. Jika orang Jawa ingin kembali ke masa lalunya, mereka harus melalui screening pemikiran Javanolog Belanda (Shiraishi, 1997 : 7-9)
Apa yang dilakukan oleh para Javanolog Belanda dalam mengolah sastra Jawa tersebut mirip dengan kisah pertemuan Flaubert dengan Kuchuk Hanum, pelacur Mesir yang dikisahkan oleh Erward Said, dalam magnum opusnya, Orientalisme.
Sastra Jawa sekedar menjadi boneka timur para Javanolog, dan semuanya dibuat tanpa ada kesepakatan bersama. Kuchuk Hanum, si pelacur, tidak pernah berbicara tentang dirinya, tidak pernah mengungkapkan perasaannya, kehadirannya, atau riwayat hidupnya kepada Flaubert. Akan tetapi, kondisi Kuchuk Hanum yang lemah dan miskin secara material tidak berdaya, menjadikan Falubertlah yang justru berbicara atas nama dan mewakili dirinya. (Said, 2010 : 8) Kartini memandang resah fenomena ini, sebagaimana tertuang dalam salah satu suratnya kepada temannya di Eropa.
“Ada banyak, ya banyak, pejabat (Belanda) yang membiarkan para pemimpin pribumi mencium kaki dan dengkul mereka. Dalam banyak cara yang halusm mereka menjadikan kami merasa bahwa kami berbeda dari mereka. Seakan-akan mereka berkata “Saya orang Eropa, kamu orang Jawa,” atau “Saya tuan, kamu hamba.” Dan bahkan banyak orang Belanda yang tidak begitu suka berbicara kepada kami dalam bahasa mereka. Bahasa Belanda terlalu indah untuk diucapkan oleh mulut berwarna coklat” (Alwi Shihab, 1998 : 96)
Dan arah dari sastra anonim seperti Darmagandhul ini, oleh Susiyanto, dosen IAIN Surakarta yang meneliti serat Darmagandul menunjukkan beberapa paragraf yang secara eksplisit mencita-citakan kekristenan orang-orang Jawa. [Baca: Menyibak Misi Kristen di Balik Darmagandul]
Serat ‘Arab djaman wektu niki,sampun mboten kanggo,resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis, Serate Djeng Nabi,Isa Rahu’llahu.(Anonim, 1955:6) (Serat Arab jaman waktu ini sudah tidak terpakai, hukumnya meresahkan dan tidak adil, yang digunakan untuk memutusi perkara Serat Kanjeng Nabi Isa Rahullah).
 ”Wong Djawa ganti agama,  akeh tinggal agama Islam bendjing,  aganti agama kawruh, ….”(Anonim, 1955:93). (Artinya, “Orang Jawa ganti agama, besok banyak yang meninggalkan Islam, berganti (menganut) agama kawruh (agama budi, nasrani)”)
Kecenderungan menjadikan Islam sebagai bahan hinaan dalam karya sastra, memang ciri khas orientalis yang pada abad XVII – XIX yang didominasi kalangan teolog Kristen. Di Eropa misalnya, kita bisa  mengambil contoh karya Dante, The Divine Comedy. Maometto –Muhammad- oleh Dante ditempatkan pada lapisan kesembilan dan sepuluh lapisan Bogias of Maleboge, gugusan parit kelam yang mengelilingi kubu setan di neraka. Dalam pandangan Dante, Muhammad dikategorikan penyebar skandal dan perpecahan, dengan hukuman tubuhnya terus menerus dibelah dua dari dagu hingga ke anus, bagaikan, kata Dante, sepotong kayu yang papan-papannya dirobek-robek. (Said, 2010 : 101-102).
Penutup
Meskipun sebagai sastra anonim yang tentu saja tidak bisa dipertanggung jawabkan, akan tetapi sampai hari ini, baik Darmagandul maupun Gatoloco masih terus direproduksi. Bukan hanya bukunya yang terus mengalami cetak ulang, namun tasfir atas kedua serat tersebut juga ditulis oleh banyak pihak.
Pebenturan antara Jawa dengan Islam dalam kedua serat tersebut, menjadi patokan dalam karya-karya para misionaris seperti Hendrik Kreamer, Schuurman, Van Lith dan Ten Berge di masa kolonial, dan beberapa nama penting di masa sekarang seperti Jan Bakker, Frans Magnis Suseno, J.B. Banawiratmaja, SJ dan Harun Hadiwiyono. Hal ini menurut Azyumardi Azra merupakan strategi misionaris Kristen untuk menghadapi Islam di Indonesia. Dengan menggali unsur pra Islam dalam kebudayaan lokal, untuk kemudian memisahkannya secara oposisional, seperti Syari’at dengan kebatinan, etika Islam dengan etika Jawa, mengikuti argumen William Roff, guru besar Emiritus Columbia University, bukan hanya untuk menjadikan Islam menjadi kabur (obscure) tapi juga memberi peluang lebih besar bagi keberhasilan misionaris (Steenbrink, 1995 :xxii).
Namun, sayangnya, bidang sastra dan kebudayaan, menjadi anak tiri dalam wacana dakwah Islam. Umat Islam, baik awam maupun para cendekiawannya, tidak mempunyai skema relasi Islam dengan kebudayaan lokal, ataupun strategi Islamisasi kebudayaan sebagaimana para pendahulunya. Dari hari ke hari, kebudayaan Jawa makin menjauh dari kaum muslimin, sehingga dari hari ke hari, kebudayaan makin menjadi milik kaum Kejawen dan Kristen. Proses kreatif Islamisasi budaya Jawa seperti mandeg, Kemandegan ini akan merugikan dakwah Islam di tanah Jawa. Karena itu, dakwah di bidang kebudayaan harus menjadi agenda serius mulai sekarang, bila umat Islam tetap ingin sebagai tuan rumah di tanah Jawa.*
Penulis adalah peniliti pada Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) Solo
Daftar Pustaka
Alwi Shihab, Membendung Arus, Respon Muhammadiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Bandung : Mizan, 1998)
Anonim, Darmagandul. Cetakan IV. (Kediri : Penerbit Tan Khoen Swie, 1955)
Erdward Said, Orientalisme, Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur Sebagai Subjek, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2010).
George McTurnan Kahin, Nasionalisme dan Revolusi Indonesia, (Jakarta : Komunitas Bambu, 2013)
H.M. Rasjidi, Prof. Dr, Islam dan Kebatinan, (Jakarta : Bulan Bintang, 1967)
Jans Aritonang, Pdt. Dr, Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2006)
Karel Steenbrink, Kawan Dalam Pertikaian, Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942), (Bandung : Mizan, 1995)
M.C. Ricklefs, Mengislamkan Jawa, Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai sekarang,  (Jakarta : Serambi, 2013)
Parakitri Simbolon, Menjadi Indonesia, Cetakan III, (Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 20017)
Philip van Akkeren, Dewi Sri dan Kristus, Sebuah Kajian Tentang Gereja Pribumi di Jawa Timur, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1995)
Susiyanto (Tesis), Misi Kristen dan Orientalisme dalam Serat Darmagandhul, (Surakarta : Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2010).
Takashi Shiraisi, Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, (Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 1997).*

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

CERAMAH BAPAK SUBUH KEPADA PARA CALON ANGGOTA SUBUD

  "Dalam Subud tidak ada perbedaan antara agama satu dan lainnya, karena yang tumbuh ialah kesejatiannya, yaitu apa yang sudah ada di dalam masing-masing manusianya. Jadi, jika seorang Kristen, dia akan menemui sejatinya Kristus, bila seorang Buddhis, ia akan menemui sejatinya Buddha di alam rohaninya. Demikian juga untuk seorang Muslim, tentu akan bertemu dengan kemurnian Islam.
Lalu, kalau kita sungguh-sungguh sudah benar-benar dapat mengenal aspek halus kita, maka di dalam segala hal kita akan dituntun oleh Kekuasaan Tuhan, sebab Kekuasaan Tuhanlah yang bekerja di dalam dan di luar kita, sehingga di mana saja, di kantor atau sedang menyetir mobil, atau melakukan apa saja, kita akan selalu dituntun oleh Kekuasaan Tuhan.
Sungguh jelas apa yang tersabda di dalam Alquran, "Sebelum bertindak, ucapkanlah bismillaahir rahmaanir rahiim" 
Dengan Jelas bahwa SUBUD adalah bagian dari ISLAM. Pertanyaanya apakah mereka di terima ISLAM" Silahkan yang beragama Islam memperdebatkannya. Tentunya ada yang menerima ada yang tidak."

Singapura, 16 April 1960 (60 SIN 1)
-----
[Pada masa yang telah lampau Bapak tidak pernah memberikan ceramah kepada saudara-saudara yang belum dibuka. Namun tujuan ceramah di bawah ini ialah agar mereka yang sudah tertarik hatinya kepada latihan dapat dibantu memahami pengalamannya pada saat itu dan pengalamannya pada masa yang mendatang. Ceramah di bawah ini diberikan oleh Bapak pada bulan April 1960 kepada mereka yang sudah berkecenderungan hati melakukan latihan. Catatannya dikirim oleh Sekretaris Subud Singapura.]
[Ceramah tersebut tidak direkam dengan tape recorder. Terjemahan Dr. Zakir dicatat oleh seorang stenografer. Kami senang sekali dapat menerbitkan ceramah di bawah ini. Mudah-mudahan ceramah tersebut dapat saja menolong mereka yang akan menerangkan Subud kepada para peminat.]
Saudara-Saudara pria dan wanita, Subud adalah singkatan kata Susila Budhi Dharma. Subud bukanlah agama baru, juga bukan sebagian agama yang sudah ada, apalagi suatu ilmu. Subud hanya merupakan lambang cara hidup manusia sempurna.
Susila berarti hidup dengan menepati apa yang dikehendaki Tuhan, menepati panggilan-Nya untuk menjadi manusia sejati. Budhi melambangkan kenyataan bahwa segala makhluk ciptaan Tuhan, termasuk manusia, dilengkapi dengan Kekuasaan-Nya yang berkarya baik di dalam maupun di luarnya.
Dharma mengandung arti bahwa segala makhluk, termasuk manusia, diwajibkan oleh Tuhan menyerah kepada segala titah-Nya, harus menyerah kepada segala Kehendak Penciptanya.
Susila Budhi Dharma mengandung arti memenuhi Kehendak Tuhan bersendikan Kekuasaan-Nya, yang berkarya baik di dalam maupun di luar diri kita, sambil menyerah kepada Kehendak Tuhan Yang Mahakuasa.
Susila Budhi Dharma merupakan lambang tindak-tanduk kita di dalam latihan kejiwaan Subud, artinya apa saja yang terjadi di dalam latihan kejiwaan Subud sungguh-sungguh merupakan Kehendak Tuhan dan terjadi karena memang demikianlah Kehendak Tuhan atas diri kita. Itu amat cocok dengan sabda-sabda kitab suci Alquran, Injil, dan lain-lainya, bahwa Tuhan selalu dekat pada manusia, atau bahwa manusia sangat dekat pada Tuhan, bahwa Tuhan memberikan apa saja yang dibutuhkan manusia, dan bahwa manusia dapat menerima apa saja yang diberi oleh Tuhan.
Apa yang harus kita serahkan kepada Tuhan? Bukan harta benda kita, bukan apa yang kita cintai, apalagi apa yang kita miliki, karena Tuhan tidak membutuhkan semua itu.
Yang harus kita serahkan ialah akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena itu semua merupakan alat-alat yang selalu menghalang-halangi kita kalau mau dekat pada Tuhan.
Itu yang dimaksudkan oleh Yesus Kristus saat bersabda bahwa Tuhan selalu dekat pada kita kalau penyerahan kita kepada Tuhan melebihi segala-galanya, termasuk cinta kita kepada diri sendiri. Oleh karena itu, cinta kita melalui hati dan rasa selalu menjadi rintangan yang menghalang-halangi cinta sejati kepada Tuhan. Sebab cinta lahiriah, yang kita anggap cinta, hanya tertuju kepada barang-barang. Cinta kepada Tuhan harus lebih besar dan lebih dalam daripada cinta lahiriah tadi itu.
Diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. bahwa Tuhan sudah ada sebelum segala isi alam diciptakan, dan Tuhan itu akan tetap abadi meskipun segala isi alam sudah musnah. Tuhan lebih jauh daripada apa saja yang paling jauh. Ia lebih dalam daripada apa saja yang ada di dalam kita. Itu berarti bahwa Tuhan sesungguhnya menciptakan segala apa yang ada, dan oleh karena itu segala isi alam dikuasai oleh Penciptanya. Demikianlah Tuhan, Asal-Usul segala alam semesta, pada saatnya juga akan meleburkan seluruh ciptaan-Nya.
Demikianlah disabdakan bahwa Tuhan tidak mempunyai rupa, bahasa, negeri, atau warna, sebab seandainya Ia bernegeri, akan ada lebih dari satu Tuhan, karena tiap-tiap negeri perlu memiliki Tuhan sendiri. Itu sebenarya yang dimaksudkan oleh sabda, "Tuhan hanya satu, dan Ia menguasai segala apa yang ada, rabbil `aalamiin."
Tuhan memerintah tanpa perkakas atau bahan, sedangkan manusia, kalau mau membuat suatu barang, membutuhkan, misalnya, meja, kayu, paku, martil, dan alat-alat lainnya. Untuk bisa membuat bom atom, manusia membutuhkan alat-alat yang lebih banyak lagi untuk mengubah bahan baku menjadi bom atom. Tetapi semua itu tadi tidak diperlukan Tuhan. Tuhan Allah mencipta tanpa perkakas dan bahan. Di sini terang sekali bahwa untuk dapat mengerti Kehendak Tuhan tidak ada jalan lain buat manusia kecuali betul-betul menyerah, karena hati dan akal pikirannya tidak mungkin akan dapat bertemu dengan Tuhan.
Itulah yang kita lakukan dalam latihan kejiwaan. Kita hanya menyerah saja tanpa menggunakan akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena tugas kita ialah hanya sekadar menerima jatah yang Tuhan catukan kepada kita. Demikianlah dapat dimengerti bahwa Subud itu hanya merupakan lambang kehidupan manusia yang wajib menurut Kehendak Tuhan melulu serta melaksanakan Perintah-Nya di dunia, dan demikian pula di akhirat.
Itulah karenanya maka dalam mengikuti latihan kejiwaan Subud kita tidak mempunyai ajaran , tidak ada yang perlu kita pelajari, karena yang dihendaki tidak lain kecuali sungguh-sungguh menyerah.
Siapa saja yang mengatakan bahwa ia tahu di mana jalan menuju ke Tuhan sebenarnya mendahului pemberian Tuhan sebelum ia dapat menerimanya. Tidak ada yang perlu kita lakukan kecuali menerima apa yang diberi-Nya, atau apa yang menjadi Kehendak Tuhan atas diri kita.
Itulah sabda sejati para nabi, "Asal engkau pasrah kepada Tuhan dengan ikhlas dan jujur, Tuhan akan memayungi dan menuntun dirimu." Di dalam latihan kejiwaan kita tidak mempunyai kemauan satu pun.
Kita tidak mempunyai permohonan satu pun. Kita hanya sekadar menerima apa saja yang Tuhan berikan.
Demikianlah keadaan pada masa mendatang. Kekuasaan Tuhan yang akan bekerja di dalam diri kita waktu melakukan latihan dan akan membangkitkan apa yang sudah ada di dalam diri kita. Upamanya, seorang yang mempunyai suara yang besar akan mengeluarkan suara yang besar, sedangkan yang mempunyai suara halus, juga akan bersuara halus. Itu terjadi dengan semua anggota badan kita, segala apa yang ada di dalam kita. Itulah sebabnya, maka latihan itu untuk satu dan lain orang tidak sama, karena semua orang berbeda-beda.
Dengan demikian menjadi lebih jelas bahwa di dalam Subud tidak mungkin memiliki teori atau ajaran kebatinan, sebab orang satu berbeda dengan orang lain. Apa yang dibutuhkan dan diterima oleh satu orang tidak sama dengan yang dibutuhkan dan diterima oleh orang lain. Itulah sebabnya, maka tidak diadakan patokan atau aturan tentang cara Saudara harus bertindak di dalam latihan, karena hal itu pribadi. Semua orang akan menemukan sendiri bagaimana sregnya menghadap Tuhan, dan apa yang sreg buat orang tertentu mungkin akan kisruh buat orang lain. Itulah sebabnya, maka Saudara tidak dibenarkan mengira bahwa Saudara harus sama dengan Muhammad Subuh atau meneladaninya. Kita harus mewujudkan kerohanian kita sendiri bila ingin nanti menemukan jalan menuju Tuhan.
Tidak patut kalau kita meniru atau mencontoh orang lain. Kita masing-masing harus menemukan dan menempuh jalan sendiri ke Tuhan. Biasanya, kalau berguru, seorang murid banyak diajari untuk melakukan persis apa yang dilakukan oleh gurunya, agar ia dapat menggayuh apa yang telah tercapai oleh sang guru. Sebenarnya itu keliru, sebab jangankan di antara guru dan murid-muridnya, di antara saudara kandung saja sudah banyak perbedaannya. Dengan demikian tentunya kita dapat mengerti bahwa jalan yang cocok untuk seorang guru dalam hal menemukan Tuhan, belum tentu cocok untuk murid-muridnya.
Oleh karena itu, maka Bapak mengatakan bahwa Tuhan sendirilah yang akan menuntun kita kepada-Nya sebagaimana benar-benar terjadi di dalam latihan kejiwaan, yaitu kita diajar mengenal jiwa kita, mengenal aku sejati kita. Tidak perlu takut atau khawatir, sebab yang bekerja di dalam latihan itu tidak lain tidak bukan apa yang sudah ada di dalam, dan terjadi sebagai akibat kerohanian kita sendiri, aku sejati kita yang timbul di dalam latihan. Maka kita tidak perlu gelisah atau takut.
Dalam Subud tidak ada perbedaan antara agama satu dan lainnya, karena yang tumbuh ialah kesejatiannya, yaitu apa yang sudah ada di dalam masing-masing manusianya. Jadi, jika seorang Kristen, dia akan menemui sejatinya Kristus, bila seorang Buddhis, ia akan menemui sejatinya Buddha di alam rohaninya. Demikian juga untuk seorang Muslim, tentu akan bertemu dengan kemurnian Islam.
Lalu, kalau kita sungguh-sungguh sudah benar-benar dapat mengenal aspek halus kita, maka di dalam segala hal kita akan dituntun oleh Kekuasaan Tuhan, sebab Kekuasaan Tuhanlah yang bekerja di dalam dan di luar kita, sehingga di mana saja, di kantor atau sedang menyetir mobil, atau melakukan apa saja, kita akan selalu dituntun oleh Kekuasaan Tuhan.
Sungguh jelas apa yang tersabda di dalam Alquran, "Sebelum bertindak, ucapkanlah bismillaahir rahmaanir rahiim
Itu mengandung arti bahwa Saudara mengikuti Tuntunan Tuhan dan hanya akan melakukan apa yang dititahkan-Nya. Saudara tidak akan tergesa-gesa bertindak dan baru setelah itu ingat Tuhan, sehingga menyesal, merasa kecewa dengan apa yang telah Saudara lakukan.
Kalau sebelum kita mulai bekerja Tuhan Allah selalu ada di dalam kesadaran kita, maka segala apa yang kita kerjakan nanti akan benar. Itulah makna perbuatan orang Kristen yang bersujud sebelum makan atau mau tidur. Itu juga mengandung arti bahwa kita tidak boleh bertindak tanpa Tuntunan Tuhan, karena jika Tuhan Allah kita lupakan, kita tidak akan mendapat Pertolongan-Nya kalau ternyata tindakan kita salah. Kekuasaan yang kita saksikan, hanya untuk meyakinkan bahwa Kekuasaan Tuhan Yang Mahakuasa bekerja di dalam kita, tidak ada hanya di dalam diri kita, melainkan juga ada di dalam tiap-tiap ciptaan. Itulah sebabnya, maka di dalam latihan kejiwaan kita tidak akan merugikan agama kita masing-masing. Apa yang kita alami dan lakukan akan berasal dari Kehendak Tuhan, dan kita hanya membuka apa yang sudah ada di dalam kita.
Mereka yang selalu mengandalkan agama akan menerima dalam latihan pengalaman yang cocok baik dengan agamanya maupun dengan apa yang ada di dalam dirinya.
Tentunya di antara Saudara ada yang akan tanya bagaimana Bapak dapat mengerti itu. Saya akan menyampaikan jawaban Bapak begini, "Bapak, pada waktu menerima itu, ada dalam keadaan seperti Saudara pada saat ini. Bapak juga bekerja di kantor melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, dan sudah senang juga melakukannya. Tahu-tahu semua itu berhenti, berakhir. Akalnya tidak bekerja lagi. Kemudian Bapak menerima seperti yang akan Saudara terima di dalam latihan. Bapak tidak mencari ilmu, karena tidak mempunyai guru atau pengajar. Bapak hanya sekadar menerima, dan itu disebut Mukjizat Allah, Anugerah Tuhan. Itu hanya diberikan kepada orang kalau orang itu tidak mencarinya, sepi ing pamrih. Kalau seseorang menyerah dan pasrah dalam menerima Anugerah Tuhan, maka Tuhan akan memberi Anugerah-Nya. Barangkali Saudara mendengar bahwa Eva Bartok, bintang filem tersohor, dapat disembuhkan. Itu bukan Bapak yang menolong atau menyembuhkannya. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti kepada Tuhan Allah, dan dia sembuh. Eva menjadi sehat, dan segala-galanya berakhir dengan baik. Bapak hanya menunjukkan cara berbakti. Kesehatan seseorang adalah perkara antara orang itu dan Tuhan Allah. Orang lain tidak dapat turut campur tangan.
Sekarang mau atau tidaknya mengikuti latihan kejiwaan itu Bapak serahkan saja kepada pendapat Saudara, karena dalam berbakti kepada Tuhan itu tidak boleh ada paksaan. Segala-galanya harus bebas. Tapi siapa saja yang minta wajib diberinya.
Selamat malam. Terima kasih.

 http://www.subud.com/bahasa/sesorah,indo.html

Filsafat Agama dan Tarekat Subud

"Karena itu tarekat Subud tidak memiliki teori kebatinan, meski yang dijalani bentuknya adalah tirakat batin, karena batin setiap orang berbeda. Lebih jelas lagi menurut sumber subud.org, apa yang diterima oleh satu orang tidak sama dengan yang diterima oleh orang lain. Semua orang akan menemukan sendiri bagaimana sregnya menghadap Tuhan, dan apa yang sreg buat orang tertentu mungkin akan kisruh buat orang lain. Itulah sebabnya, tidak dibenarkan mengira bahwa setiap orang harus sama dengan Muhammad Subuh atau meneladaninya. Kita harus mewujudkan kerohanian kita sendiri bila ingin nanti menemukan jalan menuju Tuhan. Dalam Subud tidak ada perbedaan antara agama satu dan lainnya, karena yang tumbuh ialah kesejatiannya, yaitu apa yang sudah ada di dalam masing-masing manusianya. Jadi, jika seorang Kristen, dia akan menemui sejatinya Kristus, bila seorang Buddhis, ia akan menemui sejatinya Buddha di alam rohaninya. Demikian juga untuk seorang Muslim, tentu akan bertemu dengan kemurnian Islam. Subud tidak bermaksud memisahkan manusia dari agamanya, malah kebalikannya. Subud, melalui proses pembersihan diri, memungkinkan para anggotanya mengamalkan ajaran agama masing-masing, karena lambat laun mereka dapat menjadi manusia sejati sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebab, dalam berbakti kepada Tuhan tidak boleh ada paksaan"
 
 
Oleh: Setiadi R. Saleh


Subud bukanlah agama baru, bukan sempalan dari agama yang sudah ada. Inti dari Subud adalah menunjukkan bagaimana jiwa dapat dilatih sesuai dengan tradisi agama besar umat manusia, sesuai pula dengan kondisi batin dari setiap individu pemeluk agama untuk lebih dekat lagi kepada agamanya.

Menurut pendiri “tarekat Subud” almarhum R.M. Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo yang disarikan dalam situs subud.org:Subud merupakan singkatan dari kata-kata Susila—Budhi—Dharma. Susila Budhi Dharma mengandung arti memenuhi kehendak Tuhan bersendikan Kekuasaan-Nya, yang berkarya baik di dalam maupun di luar diri kita, sambil menyerah kepada Kehendak Tuhan Yang Mahakuasa. Susila Budhi Dharma merupakan lambang tindak-tanduk kita di dalam latihan kejiwaan Subud, artinya apa saja yang terjadi di dalam latihan kejiwaan Subud sungguh-sungguh merupakan Kehendak Tuhan. Hal ini cocok dengan kitab suci Alquran, Injil, dan lain-lainya, bahwa Tuhan selalu dekat kepada manusia, bahwa Tuhan memberikan apa saja yang dibutuhkan manusia. Apa yang harus kita serahkan kepada Tuhan? Bukan harta benda kita, bukan apa yang kita cintai, apalagi apa yang kita miliki, karena Tuhan tidak membutuhkan semua itu. Yang harus kita serahkan ialah akal-pikiran, hati, dan nafsu, karena itu semua merupakan alat-alat yang selalu menghalang-halangi kita kalau mau dekat kepada Tuhan. Itu yang dimaksudkan bahwa Tuhan selalu dekat kepada kita kalau penyerahan kita kepada Tuhan melebihi segala-galanya, termasuk cinta kepada diri sendiri. Oleh karena itu, cinta kita melalui hati dan rasa selalu menjadi rintangan yang menghalang-halangi cinta sejati kepada Tuhan. Sebab cinta lahiriah, yang kita anggap cinta, hanya tertuju kepada barang-barang. Cinta kepada Tuhan harus lebih besar dan lebih dalam daripada cinta lahiriah.”

Ini mengingatkan kita bahwa siapa saja yang mengatakan ia tahu di mana jalan menuju ke Tuhan sebenarnya mendahului pemberian Tuhan sebelum ia dapat menerimanya. Sebagian orang bijak berkata: "Asal engkau pasrah kepada Tuhan dengan ikhlas dan jujur, Tuhan akan memayungi dirimu." Sebagian filsuf memberi petunjuk lain, “Jalan menuju Tuhan sebanyak jumlah bintang-bintang di langit. Tetapi, terkadang kita memilih jalan memutar, bukan jalan lurus menuju Tuhan.”

Sejumlah tokoh yang pernah bertemu dengan Bapak, demikian M. Subuh biasa disapa memiliki kesan mendalam. Istimah Week bahkan menuliskannya dalam buku The Man from East. Ia menjelaskan pengalamannya sebagai Katolik bersama keluarganya tinggal di pulau Jawa dengan Pak Subuh. Tersebutlah bahwa sejak bertemu dengan M. Subuh dalam pribadinya terjadi pemurnian, perkembangan kesadaran, dan meningkatkan kesadaran batin yang menuntunnya kepada jalan rohani tanpa harus meninggalkan keyakinannya.

Sejak berdiri tahun 1925, Subud sudah tersebar di antero dunia. Komunitasnya terdapat di hampir seluruh negara dengan 385 grup, dan sudah sering mengadakan kongres bertaraf internasional di bawah Asosiasi Subud Sedunia (World Subud Association, WSA). Kongres-kongres diadakan di Kolombia, Australia, Inggris, Kanada, Jerman, Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat.

Haruskah Manusia Terikat kepada Agama?
Kehilangan motivasi dan lelah berpikir tentang Tuhan menjadi tanda bahwa harapan manusia akan agama mulai berubah-ubah. Kitab agama tidak lagi ‘diperalat’ sebagai sumber mutiara segala ilmu. Tetapi, sebagai ‘sesuatu yang dipakai sekedarnya saja.’ Misalkan, ketika individu atau masyarakat mengalami kungkungan, penindasan dan dibelit persoalan. Tuhan menjadi tempat mengadu. Sedangkan pedoman agama adalah sisi lain yang diasingkan. Seolah tata-laku ibadah ketika berjumpa dengan Allah SWT ditiadakan—dinihilkan. Padahal dalam urutan yang abstrak perjalanan menuju Tuhan dalam pandangan Islam diperlukan syariat, tarekat, hakikat, makrifat, dan terakhir Jalan Cinta (mahabbah). Guru-guru tasawuf menganjurkan agar jangan melampaui makrifat nanti “terbakar.” Hakikat tidak mungkin tercapai tanpa syariat yang benar dan ini diamini oleh Syaikh Abdul Qadir Jaelani.

Idries Shah (1926-1996), penulis tasawuf kelahiran India, dalam hal ini menyatakan Subud adalah bentuk popularisasi dan barangkali polarisasi dari tasawuf dan latihan kejiwaan. Subud tidak ubahnya olah batin cara sufi. Muhammad Subuh muda pernah berguru kepada Kiai Abdurrahmanguru tarekat Naqsabandiyah di Kota Semarang. Maka tak heran, dalam buku Jalâ’ al-Khawâthir karangan Syaikh Abdul Qadir Jaelani pendiri tarekat Naqsabandiyah terdapat cara-cara latihan kejiwaan seperti yang dipraktikkan oleh tarekat Subud.

Mengapa manusia beragama? Menurut Murtadha Muthahhari karena fitrah dalam diri manusia selalu mencari kebenaran hakiki, kebenaran tertinggi yang tidak terbantahkan. Manusia condong kepada kebaikan, keindahan, hati dan cinta.  Hati mempunyai akalnya sendiri yang tidak dimengerti oleh akal.

Agama bagi manusia memiliki fungsi pemenuhan hajat hidup. Max Weber memandang fungsi maknawi sebagai dasar bagi semua agama. Agama menyajikan wawasan kosmos. Karenanya segala ketidakadilan dan penderitaan, kematian dapat dipandang sebagai sesuatu yang penuh makna. Agama berulang kali digugat dan bahkan coba digantikan—dimatikan dengan ideologi sejenis agama. Tetapi, agama malah terus berkembang. Mengapa? Karena agama adalah fitrah.

H.G. Sarwar mengiaskan agama tanpa filsafat bagai kerang yang kosong. Lain hal menurut Gibran yang menganut agama cinta. Cintalah yang memayungi iman, rasio, serta teologi. Orang suci percaya, manusia yang paham cinta murni, ia tidak dimiliki dunia tetapi memiliki dunia. Kebanyakan orang lebih memilih merasa menderita, sedih, kecewa, dan sebagainya daripada merasa gembira dan mengendalikan kemauan guna meruapkan cinta batini.

Karena itu tarekat Subud tidak memiliki teori kebatinan, meski yang dijalani bentuknya adalah tirakat batin, karena batin setiap orang berbeda. Lebih jelas lagi menurut sumber subud.org, apa yang diterima oleh satu orang tidak sama dengan yang diterima oleh orang lain. Semua orang akan menemukan sendiri bagaimana sregnya menghadap Tuhan, dan apa yang sreg buat orang tertentu mungkin akan kisruh buat orang lain. Itulah sebabnya, tidak dibenarkan mengira bahwa setiap orang harus sama dengan Muhammad Subuh atau meneladaninya. Kita harus mewujudkan kerohanian kita sendiri bila ingin nanti menemukan jalan menuju Tuhan. Dalam Subud tidak ada perbedaan antara agama satu dan lainnya, karena yang tumbuh ialah kesejatiannya, yaitu apa yang sudah ada di dalam masing-masing manusianya. Jadi, jika seorang Kristen, dia akan menemui sejatinya Kristus, bila seorang Buddhis, ia akan menemui sejatinya Buddha di alam rohaninya. Demikian juga untuk seorang Muslim, tentu akan bertemu dengan kemurnian Islam. Subud tidak bermaksud memisahkan manusia dari agamanya, malah kebalikannya. Subud, melalui proses pembersihan diri, memungkinkan para anggotanya mengamalkan ajaran agama masing-masing, karena lambat laun mereka dapat menjadi manusia sejati sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebab, dalam berbakti kepada Tuhan tidak boleh ada paksaan.[]